MALAM KE-3 RAMADHAN




Karya:  Fadlun Suweleh

Malam ini adalah malam ketiga Ramadhan. Sepertinya tidak ada umat Islam yang tidak bahagia menyambut bulan suci ini. Meskipun aku belum bisa ikut berpuasa karena sedang ada ‘tamu bulanan’, tetap tak ada alasan untuk tak bahagia atas hadirnya bulan yang penuh dengan keberkahan, bulan penuh ampunan. Tapi tidak dengan malam ketiga itu. Aku mengalami hal menakutkan yang belum pernah sekalipun kualami sebelumnya.


Malam itu, lagi-lagi aku pulang jam tujuh malam karena sibuk membantu menyiapkan buka puasa di salah satu masjid dekat kosku. Seperti dua malam sebelumnya, setiap waktu sholat tarawih aku selalu sendiri di kos. Kebetulan dari seluruh teman kosku, hanya aku sendiri yang sedang tidak sholat dan tidak puasa.
“Sarah di kos sendiri lagi ya. Aku berangkat dulu.” Lita teman sekamarku berpamitan untuk sholat terawih ke masjid.
“Lit, pintu depan jangan lupa dikunci ya.”Aku mengingatkan.
“Yuuuhu.Aku kunci dari luar.” Lita lalu pergi dengan teman-teman kosku yang lain.
Aku menuju kamar mandi, seharusnya memang tidak baik mandi jam segini. Kalau saja aku tau apa yang akan kualami, aku pasti tidak akan mandi malam-malam. Awalnya semua berjalan seperti biasa, air keran kunyalakan dan aku memulai aktifitas mandiku. Namun tiba-tiba lampu kamar mandi mati. Saklar lampu kamar mandi di kosku terletak di luar kamar mandi, pas di sebelah kiri pintu, jadi memang harus keluar untuk menyalakan kembali. Aku segera keluar dari kamar mandi untuk memastikan apakah memang mati lampu. Setelah keluar, ternyata hanya lampu kamar mandi yang mati. Sedangkan lampu dapur, ruang tamu dan lampu kamar-kamar lainnya menyala. Aku yang jujur saja memang penakut, mulai panik. Ah, mungkin saklarnya sudah tua jadi bisa saja tiba-tiba tombol saklar bergerak sendiri. Meskipun itu pemikiran yang tidak masuk akal tapi aku mencoba tetap berfikir tenang.
Aku menyalakan saklar kamar mandi lagi dan lampu kamar mandi menyala. Aku masuk lalu memulai aktifitasku yang sempat terhenti tadi. Tak lama kemudian setelah aku hampir selesai mandi, lampu kamar mandi kembali mati. Aku mulai berfikir macam-macam. Segera kuselesaikan dengan cepat dan keluar kamar mandi. Seperti yang pertama, hanya lampu di kamar mandi yang mati. Aku segera menyalakan saklar lampu kamar mandi dan langsung menuju kamarku. Dadaku mulai berdegup kencang. Biasanya Feni yang iseng mematikan lampu, tapi jelas-jelas dia sedang di masjid.
Aku mengambil hp, lalu mengirim pesan untuk temanku yang juga sedang tidak sholat, dan kebetulan kosnya juga tidak jauh dari kosku.
Aku : Niaaaa…. kamu di kos? Atau sudah ke masjid?L
Nia : Aku di kos.Masih nggak sholat.Piye ? Ada apa?
Aku : Barusan pas lagi mandi, lampu kamar mandiku mati 2x. Pdahal yg di kos cm aku. Yang lain pada ke masjid. Aku mrinding bgt e.L
Nia :Rusak mungkin saklarnya. Nggak mungkin kan hantu. Ini bulan puasa, hantu2 dipenjara. Hehehe…
Aku : -_- itu bukannya cm istilah ya?. Buktinya masih banyak yang berbuat dosa, nyolong sandal di masjid, dll.Kesini dong Ni. Aku takut banget.
Nia : Eh, lebih serem kalo itu orang. Coba dicek pintu depan dikunci nggak. aku masih maem, habis ini aku kesitu.
Tiba-tiba aku merasa perkataan Nia benar. Kalau yang iseng tadi manusia justru lebih manakutkan. Sejauh ini tidak ada kasusnya hantu membunuh manusia, kecuali dalam film. Tapi kalau manusia…tiba-tiba bulu kudukku meremang, aku segera menuju pintu depan untuk memastikan bahwa pintu depan sudah terkunci. Baru selangkah dari depan pintu kamarku, aku dikagetkan dengan suara pintu kamar tengah yang tertutup sendiri. Kamar tengah adalah kamar milik Feni dan Ulfa. Kuat sekali suara pintu itu, seperti ada yang sengaja membanting pintu dari dalam kamar. Tak sampai satu detik aku segera berbalik arah masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kamarku.
“Siapa?..Pp..Puus… Pus, Pus.” Aku hanya asal memanggil, padahal selama ini tidak pernah ada kucing di kosku tapi aku harus tetap berusaha mencairkan suasana, meskipun keringat dingin mulai menjalar. Namun beberapa saat kemudian entah kenapa aku justru berfikir iseng untuk memanggil sebuah nama lagi.
“Susan?” aku memanggil sebuah nama yang sama sekali tak kukenal. Tidak ada satupun teman kosku yang bernama Susan. Bahkan aku tidak pernah punya teman yang namanya Susan. Satu-satunya Susan yang kuingat hanya nama sebuah Boneka yang bisa menyanyi.
“Iya.” Suara itu menyaut sangat lembut, hampir tak terdengar. Hanya satu kata yang kudengar tapi sudah membuat jantungku berdegup sangat kencang, dadaku sesak. Siapa Susan? Ah, aku hanya bisa megutuk tindakan bodohku tadi. Seharusnya aku diam saja, tak usah memanggil-manggil nama yang tak kukenal.
Aku masih menunggu dengan tegang di dalam kamarku. Anehnya aku tak mendengar suara apapun lagi setelah suara lembut itu kudengar, hening sekali di luar kamar dan ini justru membuatku semakin penasaran. Pelan-pelan kubuka pintu kamarku, aku sudah menggunakan baju lengkap dengan jilbab untuk berjaga-jaga kalau aku harus berlari keluar, tangan kananku juga memegang sebuah sapu, lagi-lagi untuk berjaga-jaga.
Pintu kamarku terbuka sedikit demi sedikit. Bulu kudukku semakin meremang. Pintu kamar tengah yang tadi tertutup kuat sekarang justru terbuka lebar. Aku melihat sekeliling kosku, lalu mataku berhenti pada sebuah cermin di ruang tamu. Lho, Feni. Bukannya dia tadi sudah ke masjid dengan Lita dan yang lainnya. Aku baru mau menyapanya tapi tiba-tiba wajah dan tubuh Feni berubah menjadi sangat menyeramkan. Aku masih tak percaya, kini bukan Feni tapi sesosok hantu yang berdiri dengan anggun disana, wanita berjubah putih dengan rambutnya yang sangat panjang. Walapun sosok itu tak asing karena aku sering melihat sosok kuntilanak di TV, tetap saja rasanya mau pingsan kalau bisa bertemu langsung seperti ini. Aku seperti kehilangan akal, segera lari menuju pintu depan yang sebenarnya justru mendekati sosok putih itu karena letak cermin dan pintu depan sangat dekat.
Belum sempat memegang gagang pintu depan kos, tanganku seperti ada yang menarik lalu tubuhku terdorong ke lantai degan sndirinya. Sosok putih itu mendekatiku dan semakin mendekatiku. Rambut panjangnya sedikit demi sedikit tersibak ke belakang, tapi tak satupun panca indra yang dapat kulihat dari wajah putih itu. Wajahnya benar-benar rata, tidak ada mata, alis, hidung, telinga ataupun mulut. Aku berteriak minta tolong, tapi suaraku hilang. Aku tak bisa mengeluarkan suara apapun. Tangan hantu itu mulai mencekik leherku, tangannya dingin seperti es dan lagi dadaku tiba-tiba seperti tertindih batu sehingga sulit untuk bernafas. Oh Tuhan, dosa apa yang kuperbuat. Mengapa di bulan suci ini justru aku mengalami hal mengerikan seperti ini. Dengan sisa tenagaku aku masih berusaha berteriak dan meronta. Tanganku berusaha menggapai wajahnya yang tak berbentuk itu.
“Sarah… Sarah. Bangun Ra.” Suara Lita seperti menyadarkanku. Aku membuka mataku perlahan, kepalaku pening sekali.
“Kamu mimpi buruk ? Tanganmu itu lho kayak mau ngapain. Aku sampe merinding.” Kalimat Lita membuatku tersadar kalau aku tertidur sebelum magrib tadi.
“Masya Allah, aku mimpi buruk Lit. Mimpi dicekik kuntilanak.” Aku dengan sedikit malu menjelaskan mimpiku.
“Yaelah, kamu sih magrib-magrib malah tidur mentang-mentang lagi nggak sholat. Kecapekan ngurusi catering ya?. Yowes aku sama yang lain mau ke masjid dulu. Kamu sendiri di kos jadi pintunya kukunci dari luar ya.” Lita berpamitan padaku, seperti di mimpiku barusan.
“Eh Lit Lit… Sek sek, bentar tunggu aku. Aku mau ikut kalian saja.” Aku dengan cepat mencegahnya. Aku tak mau ditinggal sendiri seperti di mimpi.
“Lho bukane kamu lagi nggak sholat ya?” Lita bertanya heran.
“Iya, tapi aku ikut pokoknya. Disana bisa ndengerin ceramah kan, nanti pas kalian sholat aku tak mlipir ke belakang shaf sambil baca-baca apa gitu. Emm, Lit, sekalian anterin ke belakang dong, aku mau cuci muka.”
“Sarah ih, lebay deh. Masih sore gini juga ke kamar mandi minta di anter.” Lita malah pergi keluar kamar meninggalkanku menuju ruang depan.
“Aku mau ke dapur, ayo sekalian.” Tiba-tiba suara Feni terdengar dari pintu dapur.
“Ayo, ayo..” Aku bergegas mengikutinya ke belakang, tapi beberapa detik kemudian langkahku terhenti karena aku teringat dengan mimpiku tadi. Aku lalu mengurungkan niatku untuk mengikuti Feni ke belakang.
“Lho nggak jadi Ra?” Feni bertanya heran.
“Nggak Fen. Aku cuci muka di kamar mandi masjid aja deh. Hehe.” Aku mengambil jilbab dan beberapa buku, lalu mengikuti Lita yang duduk menunggu di ruang tamu.
“Sudah siap?Ayo berangkat?” Lita mengajakku.
“Lho, nggak nunggu Feni?” aku bertanya pada Lita, biasanya kami pergi bersama-sama.
“Feni? Dia kan belum pulang sejak buka puasa tadi. Sekalian sholat tarawih disana katanya makanya belum pulang.” Lita menjawab dengan ringan.
Aku langsung lemas. Segera kutarik tangan Lita dan pergi menuju masjid.

Komentar

share!