Mahkota Jiwa




Karya:  Miftamala


Ini adalah Ramadhan. Bulan penuh berkah. Ramadhan berarti membakar. Membakar dosa-dosa yang telah lama hinggap di diri. Saat inilah saat yang paling tepat untuk memulainya. Mulai saling membakar. Tak hanya membakar jiwa tapi juga yang lain. Apakah yang lain itu?


Pagi buta sudah menghampiri. Saatnya melakukan kegiatan yang tak bisa ditinggalkan. Sahur. Suasana sahur saat itu tak seperti biasanya. Jeritan seorang wanita menghentikan suapan-suapan yang akan masuk ke mulut. Tiba-tiba berhenti dan menghilang ditelan malam. Suapan pun kembali masuk teratur. Jeritan itu tak bisa menghentikan nafsu manusia rupanya. Mungkin suara perempuan sebelah yang sering dipukuli suaminya, pikir mereka. Benar-benar mereka bejat! Tak ada yang peduli. Bahkan jika tetangga dirampok, tak peduli mereka nampaknya. Saat mereka yang terampok, mulai mereka memporakporandakan rumah tetangga, mempertanyakan kepedulian mereka.
***
Esok paginya sudah ada tangis wanita yang beradu dengan suara tadarus di masjid sebelah. Baru saat itu para tetangga yang notabene ibu-ibu menghampiri rumah wanita itu. Dan sudah menemukan seorang laki-laki yang ditutupi dengan jarik dan ditidurkan di ruang tamu.
“Apa kamu yang semalam menangis?” tanya Mbok Jum dengan nada kasar yang menusuk hati.
Wanita itu masih menangis dan sekali-kali mengusap air mata dengan kerudung hitamnya.
“Iya... aku melihat suamiku sudah agak tak sadarkan diri di depan pintu. Ia sedang mencari makan untuk sahur, namun ia tak kunjung kembali. Setelah setengah jam aku menunggu tapi ia tak kunjung kembali. Tiba-tiba ia kembali ke rumah dengan demam yang tinggi. Dan ia banyak mempunyai luka bakar di tubuhnya.” Kemudian dilanjut dengan tangisan seperti tadi.
“Ya sudah... aku turut berduka atas kepergian suamimu...” tambah Bu Puji yang sering membantu Marni. Marni: wanita yang kehilangan suaminya itu.
Marni dan keluarganya sering didzalimi oleh tetangganya. Apapun yang ia perbuat terlihat salah di depan para tetangga khususnya ibu-ibu. Selalu saja ibu-ibu menggunjingnya bahkan di bulan Ramadhan. Mungkin ibu-ibu itu iri akan kekayaan Marni yang tiba-tiba. Marni tiba-tiba membangun sebuah kedai kopi dekat kota. Dan kecantikannya yang memikat siapapun yang memandangnya sudah banyak menggoda para suami tetangga. Tapi Marni tetap diam dengan wajah polos dan tak berdosanya.
***
Burung-burung ikut mendengarkan bisik-bisik tetangga di pagi hari. Marni ternyata yang dibicarakan.
“Iya... aku sendiri jengkel sama dia...”
“Bagaimana tidak, dia kan sering menggoda suami kita.”
“Tapi ibu-ibu, sekarang dia kan sudah tidak bersuami, bukankah itu lebih bahaya bagi kita?” Bu Puji yang sedari tadi ikut berkumpul hanya bisa diam, mendengar sahabatnya diberi kesan buruk dihadapannya.
“Benar juga ya...” Pembenaran terdengar dimana-mana. Kekhawatiran merasuk ke jiwa para tetangga dan lagi-lagi yang notabenenya ibu-ibu. Namun tiba-tiba hilang saat Bu Haji datang.
“Ibu-ibu ngapain ngrumpi? Ramadhan lho Bu... Nyebut Bu nyebut... Lebih bagus kalau ngrumpinya bab agama,”
Sekejap mereka bubar. Dan hanya tinggal Bu puji dan Bu haji.
“Looh Ibu-ibu mau kemana? Kok pergi? Mereka ngapain?” tanya bu haji penasaran.
“Itu lagi ngomongin Marni Bu...” jawab Bu Puji.
“Astaghfirullah... Masih saja menggunjing orang, bahkan di Ramadhan.”
***
Malam cepat sekali hinggap. Angin malam yang melambai-lambai membuat ibu-ibu malas untuk memasak. Dinginnya malam telah mematahkan semangat mereka untuk memasak. Hingga memutuskan untuk menyuruh suami mereka membeli makanan di luar. Saat itu Mbok Jum yang menyuruh suaminya untuk membeli makan di luar. Namun setelah lama menunggu bukan makanan yang ia terima, malah mayat suaminya yang sudar terkapar di depan pintu dengan banyak luka bakar. Keadaan mayatnya sama seperti keadaan suami Marni saat meninggal. Itu menimbulkan kecurigaan di hati Mbok Jum. Mungkin ini adalah pembunuhan berantai, pikirnya. Setelah beberapa hari kepergiaan suami Mbok Jum, para tetangga berkumpul untuk merembugkan dan mencari tahu siapa dalang di balik kejadian ini, tak terkecuali Marni.
Sudah lima belas hari kejadian yang sama dialami oleh banyak ibu-ibu di desa tersebut. Maka para suami yang khwatir dirinya menjadi korban selanjutnya, memutuskan untuk tidak membeli makanan sahur di luar. Mereka meminta para istri untuk memasak saja di rumah.
***
Kekhawatiran semakin melanda warga, Pak Lurah yang merasa dirinya harus menjaga warganya, akhirnya turun tangan. Saat itu malam hari. Pak Lurah dan para suami akan mencari tahu siapa kedok di balik kejadian ini.
“Bapak... Bapak! ayo kita tangkap pelaku pembunuhan di desa kita.”
“Ayo Pak... saya sudah gusar semenjak kematian tetangga yang mengerikan. Kalau dilihat, mereka semua meninggal kena luka bakar Pak! Jadi pasti pelakunya sama!”
Angin malam dan suara kepakan sayap kelelawar ikut mengiyakan perkataan Bapak Joko.  Seakan setuju dan mengetahui semua yang terjadi. Bulan dan bintangpun tak ikut urun dengan permasalahan ini. Mereka lebih memilih sembunyi di balik awan. Karena takut jika mereka melihat hal yang mengerikan yang akan terjadi.
Akhirnya Pak Lurah memutuskan untuk mengirim seseorang sebagai umpan si pembunuh. Misi pun dijalankan. Pak Joko yang sebagai umpan mulai keluar rumah dan menyusuri jalanan desa yang sepi. Angin malam lagi-lagi menderu, ia akan menjadi saksi kejadian ini.
Pak Lurah dan bapak-bapak yang lain mengikuti dibelakang langkah Pak Joko. Sesekali mereka bersembunyi di balik pembatas tembok rumah penduduk desa itu.
Menunggu yang ditunggu tak tiba membuat para pemburu lelah. Mereka akhirnya memutuskan untuk beristirahat di warung kopi Marni. Namun Pak Lurah masih memasang aksi burunya. Ia tak bisa lengah sedikitpun. Ia masih mengintai dari kejauhan, sedang para bapak-bapak sudah masuk ke warung kopi.
Tiba-tiba terlihat bayangan besar menghampiri Pak Lurah yang sedang mengintai di balik semak belukar. Bayangannya sudah nampak di hadapan Pak Lurah lantaran badan besarnya terkena cahaya bulan. Bulan sudah muncul rupanya. Tadinya ia bersembunyi di balik awan.
Bayangan itu sudah mendekat, seakan-akan menangkap pundak Pak Lurah. Namun, Pak Lurah tidak sedikitpun lengah. Ia melihat bayangan didepannya. Segera saja ia tangkap tangan orang itu,  dan ia membantingnya ke depan. Dikeluarkannya gerakan silat yang pernah ia pelajari. Alhasil pemilik bayangan itu merintih kesakitan. Ternyata salah satu bapak-bapak yang tadi ikut berburu pembunuh desa.
“Aduh Pak Lurah... Saya mau manggil Pak Lurah kok tambah di banting toh?”
“Lagian Bapak seperti hantu, kenapa ndak panggil saya saja?”
“Lagian Pak Lurah kok ndak ikut ngopi?”
Ndak Pak... Saya ndak boleh lengah Pak... Mari!” sambil mengulur tangannya, seraya membantu berdiri.
Pak Lurah kembali melihat keberadaan para bapak-bapak yang sedang menyeduh kopi. Namun, baru ditinggal sekejap saja mereka sudah raib dimakan masa.
“Pintar betul si pembunuh, aku lengah sedikit sudah pada bergerak.”
“Ada apa Pak Lurah?”
“Itu para warga menghilang, ayo kita ke warung kopi Marni! Aku curiga sama dia.”
Keduanya pun akhirnya menghampiri warung Marni. Mencari tanda-tanda kehidupan, namun tak ada. Mencari makhluk yang masih bernafas, tapi tak ada. Bahkan si pemilik warung pun tak ada. Akhirnya Pak Lurah tak punya pilihan lain selain menggeledah warung itu. Pak Lurah dan kawannya masuk ke dalam warung. Menyusuri ruangan yang mencurigakan. Bukannya menemuka bapak-bapak, Pak Lurah malah menemukan lemari es yang sangat besar. Ia hanya penasaran dengan isinya. Ia buka dengan sekuat tenaga dibantu oleh rekannya. Bau anyir yang ia temukan dan beberapa bongkah daging yang menggantung.
“Ini warung kopi, bukan restoran kan? Cepat kamu panggil warga yang masih sahur di rumah!” sahutnya. Tanpa bertanya, kawan Pak Lurah langsung bergegas pergi.
Akhirnya ia memutuskan untuk masuk kedalam lemari es itu, karena ia yakin bau anyir itu bukan dari bau daging yang menggantung. Itu bau anyir darah manusia!
Setelah terpojokkan, ia menemukan sebuah pintu. Ia buka pintu itu. Dan lalat-lalatpun tiba-tiba menerpa wajah Pak Lurah. Ia masuk ke dalam ruangan itu. Dan ditemukannya mayat korban yang telah meninggal sebelumnya, di dalam almari kaca yang berisi cairan yang berbau formalin. Pak Lurah mendengar bunyi tapak kaki. Ia langsung keluar dari ruangan dan menutup pintunya. Tiba-tiba ada suara wanita yang memanggilnya.
“Sedang apa Pak Lurah disana?” suara Marni memanggil Pak Lurah dari luar.
“Marni... Ndak apa-apa. Saya cari kamu, tapi kamu ndak ada.”
Pak Lurah dengan cerdiknya, bersikap tidak tahu apa-apa. Kalau ia bertanya yang tidak-tidak pada Marni bisa saja dia menjadi sasaran berikutnya. Apalagi ia sendirian. Langsung saja Pak Lurah pulang karena mendengar suara adzan shubuh.
Tak lama kemudian, para polisi datang untuk menangkap Marni dan barang bukti mayat-mayat yang ada di almari kaca.
Desa pun kembali seperti semula, dan para warga bisa menyambut bulan Ramadhan seperti biasa, tanpa ada rasa takut.
Namun cerita tak berhenti disitu. Marni yang akan diinterogasi rupanya meninggal di tengah perjalanan menuju kantor.
***
Saat itu suara sirine terdengar beruntun di barengi suara angin malam yang menderu. Suaminya tak punya rasa sedih sama sekali melihat istrinya ditangkap polisi. Sedang, istrinya hanya memasang muka pasrah. Suami? Suami Marni maksudnya? Bukankah ia sudah meninggal?
Sehari sebelum meninggalnya suami Marni...
Suami Marni yang saat itu berjalan-jalan untuk mencari makan sahur tiba-tiba dikejutkan oleh sesosok bayangan hitam yang berdiri di dekat pohon delima. Ia berkata :
“Hai, kamu terlihat sedih! Apa yang kamu inginkan?”
Sontak mata merah yang dipunya bayangan hitam itu membuat takut setengah mati suami Marni, ia tak bisa bergerak sangking takutnya.
“Aaa kuu.. sedih dengan keadaanku sekarang, Hari Raya akan datang. Dddann kebutuhan akan semakiin bertambah.” Katanya terbata-bata
“Karena ini Ramadhan. Bulan yang membakar. Kumpulkanlah jiwa-jiwa yang terbakar. Dan kumpulkan mayat-mayat mereka sampai berjumlah lima belas. Maka aku akan memberimu keabadian dan kekayaan yang sangat banyak.”
Esoknya suami Marni membeli ampul yang sangat banyak. Sejenis cairan yang dapat menipu orang-orang bahwa dirinya meninggal. Padahal tidak! Itulah yang diberikan pada suami-suami tetangganya. Sebenarnya mereka belum meninggal. Hanya saja suami Marni membakar sedikit tubuh mereka ketika mereka pergi ke warung Marni agar terlihat mereka dalam keadaan sekarat.
Namun meninggalnya Marni, merupakan syarat terakhir yang diberikan bayangan hitam itu. Suami Marni harus mengkorbankan seorang janda yang masih cantik. Semua mayat-mayat pun yang di bawa polisi menghilang. Nampaknya bayangan hitam itu yang mengambilnya. Dan suami Marni pun mengunjungi sosok mata merah di pohon delima.
“Mana janji yang kau berikan? Aku sudah memberimu istriku, dan mayat-mayat itu untuk kau jadikan santapan!”
“Hahaha... sungguh tamak kau ternyata. Karena ketamakanmu aku akan memberi yang pantas untukmu.”
Tiba-tiba pohon delima yang menjulang tinggi itu jatuh dengan sendirinya, dan menimpa suami Marni. Lelaki itu pun meninggal dengan ketamakannya. Dengan mata yang melotot dan mengeluarkan darah, ia sudah tidak dapat bernapas lagi.
“Itulah akibatnya jika kau mengikuti kata-kata ku! Akulah sang pembakar jiwa yang sebenarnya. Hahaha...” Sesosok hitam itu pun menghilang pergi dibarengi jiwa-jiwa yang terbakar. Marni hanya bisa menangisi kematian suaminya dan pergi dengan kecewa.

Komentar

Posting Komentar

Silakan berkomentar :)

share!