London’s Sun




Karya:  Anggita Sekar


Jujur saja, sebagai seorang Pengawal Ratu, aku selalu ingin menghajar turis.

Kalian tahu, kan, prajurit berseragam merah bertopi bulu yang berdiri mematung di depan bangunan kerajaan? Sepertinya turis-turis mengemban misi mulia untuk mengganggu kami. Aku sudah melihat berbagai macam wajah konyol dan hinaan yang mereka lakukan untuk melihat kami bereaksi.



Saat itu aku sedang bertugas di depan Buckingham Palace. Tidak biasanya, matahari sedang bersinar di London. Maksudku, ini London, kota yang biasanya berkabut dengan hujan sepanjang hari. Sungguh, rasanya matahari membuat topi bearskin-ku seperti terbakar.

Jalan di depanku agak lengang setelah seorang remaja Rusia lewat sambil mengacungkan jari tengahnya. Kulihat seorang gadis mungil sibuk memanjat tepian kolam air mancur. Dia sedang berusaha mengambil gambar Buckingham Palace dengan cara berjinjit di tepian kolam sambil mengangkat kameranya tinggi-tinggi.

Itu membuatnya kehilangan keseimbangan, dan dia akhirnya terjatuh ke jalan dengan gerakan lucu yang nyaris membuat tawaku tersembur. Nyaris.

Gadis itu berdiri setelah menepuk kedua lututnya. Dia membetulkan topi balaclava dan merapatkan syalnya. Gadis itu pasti sinting. Tidak ada orang yang pakai balaclava dan syal di musim panas.

Dia menghampiri dan berdiri dua langkah jauhnya dariku. Aku cukup yakin dia berasal dari Asia Tenggara. Dia mengamatiku seakan sedang berpikir keras. Beberapa saat kemudian, kerutan di dahinya menghilang, berganti dengan senyuman lebar yang membuat matanya menyabit.

“Oh, halo.” Dia berkata senang. “Izinkan aku mengambil gambarmu!”

Gadis itu kemudian mengambil kamera sakunya dan mulai memotret kami. Setelah selesai melakukannya, dia tersenyum padaku, lantas berkata, “Namaku Lana. Senang bertemu denganmu.”

Baru kali ini ada turis yang mengenalkan diri secara sukarela padaku.

“London bagus, ya,” ocehnya tanpa kuminta. Aku memang tidak bisa meminta, sih. Tapi ya, kalian pasti paham maksudku. “Rapi dan bersih sekali.”

Lana diam selama beberapa saat. “Tapi agak panas, ya?”

Tentu saja, bodoh, kau memakai pakaian musim dingin di hari terpanas London.

“Sepertinya kau juga kepanasan.”

Jelas sekali, kan?

“Baiklah kalau begitu,” katanya. Sekarang dia mengibaskan sesuatu–yang ternyata kipas merah muda bergambar Hello Kitty–diantara kami dan membuat angin kecil tidak berarti.

Baru kali ini juga ada turis yang mengipasiku dengan kipas tangan berwarna merah muda bergambar Hello Kitty.

Rupanya anak ini cukup gigih. Dia mengipasiku dengan kekuatan seakan dia sedang kelaparan di pesta barbekyu. Ini benar-benar lumayan. Coba tiap hari ada turis yang memberiku hiburan begini.

Pada akhirnya, kesenanganku berakhir karena giliran jagaku pada hari itu sudah selesai.

Tunggu, apa tadi aku bilang?

Sebelum bisa benar-benar pulang, Pengawal Ratu harus melakukan patroli keliling selama beberapa saat. Jadi aku dan seorang penjaga lain di pos itu berbaris untuk mulai mengitari Buckingham Palace. Gadis itu sepertinya paham dan memberi kami jalan.

Samar-samar, diantara riuhnya turis aku masih bisa mendengar teriakan Lana si Gadis Hello Kitty berteriak, “Sampai ketemu lagi!”

*

Terkutuklah James dan Aaron yang menyeretku ke bar.

Mereka bilang sudah lama tidak kumpul denganku. Omong kosong. Setelah bosan denganku, mereka sibuk menggoda cewek-cewek yang mereka temukan di sana. Ha, dasar pengkhianat licik!

Sekarang, setelah bergelung nyaman di kasurku, tidak ada yang kuinginkan selain tidur.

Tapi sepertinya tetanggaku tidak sependapat. Berkali-kali dia menjatuhkan perkakas dapur, membuat peralatan makan berdenting keras, dan suara-suara lain yang hanya bisa ditimbulkan oleh amukan sekawanan kuda liar.

Aku bisa gila kalau begini terus. Jadi kuputuskan keluar dari kamar, berniat memprotes tetanggaku.

Setelah beberapa kali mengetuk, seorang gadis membukakan pintu untukku. Gadis dengan piyama kelinci kedodoran, rambut yang dikucir asal, dan jejak air liur di sudut bibirnya.

Mengerikan.

“Aaaah!” gadis itu berteriak dramatis, kemudian membanting pintu beberapa inci dari hidungku.

Apa-apaan itu tadi?

Aku masih berpikir bahwa akulah yang seharusnya lari sambil berteriak.

Aku bergeming hingga akhirnya pintu itu dibuka kembali. Alih-alih mengganti baju atau menyingkirkan jejak liur di pipinya, gadis itu menutupi kepalanya dengan selembar handuk hijau. Sekarang aku mulai meragukan kewarasan gadis ini.

Eh, tunggu dulu...

“Kau!” tudingku tidak percaya.

Dia tersenyum, menyebabkan kedua matanya menyabit. “Halo, Pengawal Ratu!”

Lana si Hello Kitty! “Apa yang kau lakukan di sebelah rumahku?”

“Aku tinggal di sini,” katanya dengan ekspresi sudah-jelas-kan. “Kejam sekali. Padahal kita sudah lama bertetangga. Aku repot-repot menyapa dan memberimu angin sejuk tadi siang!”

Luar biasa. Dari sekian banyak gadis yang pernah kutemui dimana Keira Knightley dan Emma Watson juga termasuk di dalamnya, hidup memilihku bertetangga dengan cewek Asia Tenggara yang aneh ini.

“Baiklah. Terserah kau saja.” Aku memijat kening, lelah. “Tapi tolong jangan mencoba membuat seluruh penghuni apartemen terbangun pukul tiga pagi.”

Akhirnya, Lana menunjukkan ekspresi bersalah. “Aku seberisik itu, ya?”

Aku ingin berkata bahwa hanya helikopter Apache yang bisa mengalahkan kegaduhannya, tapi kemudian perutku angkat bicara. Dia berbunyi, nyaring sekali.

Aku dan gadis itu saling pandang selama beberapa saat.

“Kau mau makan?” Lana bertanya sambil membuka pintu apartemennya sedikit lebih lebar, seketika wangi saus bolognaise menguar keluar. “Aku bikin pasta.”

“Baiklah kalau kau memaksa,” kataku, mengedikkan bahu. Bukan salahku, kan? Dia telah mengganggu tidur indahku dan kebetulan saja aku lapar.

Aku mengikuti Lana berjalan ke dapur. Di atas pantry tersaji sepiring besar spageti. Sejumlah besar spageti yang umumnya hanya bisa dihabiskan lima orang. Di atas kompor, sepanci saus bolognaise sedang dimasak. Aku tidak bisa berhenti mengagumi keanehan cewek ini.

“Kau berusaha memerangi kelaparan di Afrika atau apa, sih?” tuntutku sambil menarik kursi untuk duduk. Lana cuma terkekeh dan menuangkan saus bolognaise ke piring besar, kemudian memberiku piring makan, sendok, dan garpu.

“Makan saja, jangan malu-malu!” katanya lagi.

Aku memang lapar, tapi kalian harus melihat kecepatan makan gadis itu. Kata  ‘mengesankan’ pun tidak bisa mendeskripsikannya. Dia menghabiskan setengah isi spageti di piring besar, minum segelas susu, dan segelas air mineral dalam waktu dua puluh menit. Sudahkah aku bilang bahwa dia masih mengenakan handuk di kepalanya sementara melakukan semua itu?

Aku bilang padanya, “Kau makan seperti orang kesetanan.”

“Oh,” dia tertawa. “Itu karena aku bangun kesiangan. Aku tidak bisa makan setelah pukul tiga pagi.”

Aku makin mengerutkan dahi. “Kenapa?”

“Ini kan Ramadan. Aku sedang sahur.”

“Kau muslim?” tanyaku agak kaget. Muslim yang kulihat selalu mengenakan penutup kepala lebar. Aku menatap gadis itu. Oh, benar. Dia menutup kepalanya. Dengan handuk. Di depan Buckingham Palace, dia menutup kepalanya dengan balaclava dan syal. Yang benar saja.

“Kau menutup kepalamu dengan handuk?” aku berkata, mau tak mau agak terkesan.

“Aku terburu-buru dan tidak bisa menemukan hijabku,” Lana memberengut. “Tapi tetap saja. Kau tidak bisa melihat rambut dan leherku, kan? Jadi kurasa, handuk ini kurang lebih bisa disebut hijab.”

Aku mengangguk saja. “Jalan pikiranmu sederhana sekali.”

“Jangan meledekku,” dia mencebikkan bibirnya.

Aku tidak berteman dengan orang muslim. Selain karena mereka memang minoritas di negara ini, kupikir semua orang muslim itu kaku. Yah, oke, kadang aku tidak menyukai mereka karena kasus-kasus terorisme dan ISIS yang beredar. Kupikir, mereka itu orang-orang yang mengizinkan segala cara termasuk membunuh untuk mencapai tujuan mereka.

“Kau tidak menganggapku teroris hanya karena aku muslim, kan?” dia bertanya seperti membaca pikiranku.

Aku membayangkan gadis ini ada di medan pertempuran, membawa bendera dengan tulisan Arab. Di lehernya tergantung bom dan dia berteriak ‘Allahuakbar!’ seperti yang sering kulihat di televisi.

“Tidak.” Pikiranku barusan menggelikan. Taruhan, dia pasti tersandung duluan dan menyebabkan bom itu malah meledak di markas Al-Qaeda.

“Terima kasih,” katanya lega. Padahal itu tadi bukan pujian. “Kau tahu, Ramadan di Inggris agak berat. Aku baru bisa makan pukul sembilan malam nanti. Di negaraku, kami hanya berpuasa selama dua belas setengah jam.”

“Dan apa yang membuatnya berbeda?”

“Matahari terbenam,” katanya. “Jadi, di musim dingin London nanti bisa saja kami hanya puasa delapan jam.”

“Mengesankan,” aku mengangguk-angguk lagi.

“Kau tidak terlihat terkesan,” kata Lana curiga.

“Tidak juga,” aku jujur. “Aku pernah tidak makan seharian ketika masih menjadi tentara Inggris dan dikirim ke Afghanistan.”

“Oh, ya?” kali ini dia yang tertarik. “Kau tahu, puasa bukan hanya sekadar tidak makan, lho. Kita juga harus tahan untuk tidak marah...”

Mau tidak mau, aku tertawa. Ketika Lana bertanya kenapa, aku menjawab, “Aku dibayar untuk tidak marah, Lana. Kau pasti kaget kalau kubilang berapa banyak turis yang mengacungkan jari tengahnya padaku.”

Mata Lana melebar menatapku, seolah bersimpati. Kemudian dia berkata pelan, “Kau juga tidak boleh melakukan itu.

Aku mengerutkan kening. “Itu?”

Dia mengangkat wajahnya yang kini bersemu. “Itu. Yang sering mereka lakukan di film dewasa.”

Aku tertawa lagi kali ini. Sungguh, gadis ini menghibur sekali. “Umurmu berapa, sih? Sebelas?” Lagi-lagi, Lana membalas dengan cebikan kesal.

“Baiklah, kalau begitu,” kataku. “Aku akan mencoba melakukan puasa yang kalian banggakan itu.”

Dahinya mengerut. “Sungguh?”

“Tentu. Tidak kelihatan sulit, kok. Tidak makan, tidak marah, dan tidak melakukan sesuatu di film dewasa hingga jam sembilan malam nanti.”

Lana nyengir. “Nanti kuajak kau iftar di tempat yang asyik.”

Iftar?”

Lana mengangguk. “Waktu dimana kita boleh makan.”

“Oh. Tapi aku tidak mau tempat yang asyik. Berkelas boleh, mahal oke. Tidak mau yang asyik.

Gadis itu terlihat merana. “Aku ini mahasiswa, lho.”

“Baiklah. Jangan nangis,” ujarku, hampir tertawa lagi. “Tapi tetap saja kau yang bayar.”

“Oke,” dia terlihat girang, seperti anak kecil diberi es krim. Lana mengacungkan garpu bekas spagetinya padaku. “Sepakat?”

Aku menyenggol garpu itu dengan milikku, membuat mereka berdenting. “Sepakat.”

*

Aku hanya menatap bangunan coklat berkubah dengan tulisan Arab entah berbunyi apa di atas pintu masuknya, tidak berani melangkahkan kaki ke dalam.

“Jonathan!”

Lana melambaikan tangannya dari kejauhan, membuatku lega. Sedari tadi aku merasa seperti mau merampok karena berdiri di depan East London Mosque tanpa melakukan apapun.

“Kau yakin akan buka puasa di sini?” aku bertanya sebelum Lana sempat membawaku masuk.

“Memangnya kenapa?” Dia bertanya heran. “Kau bilang uangmu tidak banyak. Kau membuatku bangkrut kemarin. Kita tidak punya tujuan lain dan di dalam ada makanan gratis.”

Aku memutar mata. Aku cukup heran gadis ini pandai mencari sesuatu yang murah dan gratis di tempat yang bukan asalnya.

“Lana, ini masjid. Bagaimana kalau mereka mengusirku?”

“Aku akan mengamuk,” Lana menjawab dengan anggukan yakin. “Serius.”

“Aku tidak meragukan kemampuan mengamukmu, Lana.”

Lana menimbang-nimbang lagi. “Baiklah. Tunggu di sini sebentar.”

Entah bagaimana Lana membujuk orang-orang di masjid itu, tapi akhirnya dia bisa membawa makanan itu keluar dan kami makan di Altab Ali Park.

Lana senang sekali menemukan batu yang menyerupai perosotan di taman itu. Dia duduk di situ dan meluncur girang seperti anak kecil, padahal lintasannya hanya sepanjang satu meter.

“Hei, sudah iftar!” katanya. Dia membagikan sebutir buah kurma padaku, seperti sebelum-sebelumnya. Aku mulai menyukai buah ini.

Aku mulai meneguk air kemasan yang ada di tanganku hingga habis. Setelah menemani Lana berpuasa selama dua minggu, aku bisa mengatasi rasa lapar dengan mudah. Ya, kesepakatan garpu antara aku dan Lana sudah berlangsung selama dua minggu. Dan kami selalu iftar dan sahur bersama, kecuali kalau aku sedang bertugas.

Teman-temanku berpikir Lana sudah menghasutku, mau membuatku menjadi prajurit ISIS berikutnya. Yang benar saja. Ini semua gara-gara suatu malam aku mendapati Lana makan roti sendirian di depan apartemen kami, sambil membagikan remahannya ke burung dara liar.

Ketika aku bertanya apakah dia tidak menghabiskan waktu bersama teman-temannya, dia menjawab sambil tersenyum lebar. “Temanku tidak banyak. Kurasa mereka masih menganggap kami suka memenggal kepala orang.”

Itu tidak adil. Maksudku, Lana tidak suka memenggal kepala orang. Atau menaruh bom di dadanya.

“Hei, Jonathan,” Lana memanggil. Dia menyandarkan punggungnya di lekukan batu perosotan. Wajahnya jingga memantulkan cahaya matahari yang akan tenggelam. “Tiga hari lagi Ramadan berakhir.”

Untuk alasan yang tidak jelas, aku merasa sedih. Mungkin aku akan kehilangan kegembiraan karena bisa berdebat dengan Lana mengenai menu sahur dan iftar. Atau melihatnya marah-marah karena aku sering mengambil lima kurma dari toples meski dia sudah menyembunyikannya.

Aku pasti sudah gila.

“Tahun depan kau masih di London?” tanyaku. Aku tidak tahu kapan Lana akan menyelesaikan studinya.

“Kurasa begitu. Aku berpikir mau bekerja di sini saja setelah lulus kuliah,” jawabnya, kemudian tertawa. “Kenapa, Jonathan? Kau mau puasa lagi tahun depan?”

“Entahlah,” ujarku. Kurasa Ramadan tidak akan begitu menyenangkan kalau tidak ada Lana. “Kau tahu, puasa benar-benar tidak terlalu sulit. Kau harus menyiapkan tantangan lain.”

“Misalnya?”

“Hmm...” aku berpikir, dan mengingat huruf Arab yang tadi kujumpai di pintu masuk East London Mosque. “Aku penasaran bagaimana cara kalian membaca huruf-huruf Arab itu. Siapa tahu, aku salah membedakan tulisan bom dan kurma saat menjaga Ratu.”

Lana tertawa terbahak-bahak. “Oke, tidak masalah. Apa yang membuatmu tertarik belajar lebih?”

Sambil berusaha menyunggingkan senyum sok misterius, aku berkata padanya, “Itu rahasia.”

Harus kuakui, untuk orang yang tidak pernah belajar mengenai kepercayaan apapun sepertiku, Islam tidak terlalu buruk. Tidak seburuk yang kuduga, paling tidak.

Aku mengamati Lana yang kini kembali bermain perosotan.

Oke, sepertinya memang ada faktor lain. Dari beberapa artikel yang kubaca—meski cukup banyak yang melakukan ini—sepertinya pernikahan beda keyakinan tidak disarankan. Kupikir Lana akan sependapat dengan artikel itu.

Tunggu dulu. Pernikahan? Aku pasti benar-benar sudah gila.

“Jonathan.” Lana memanggilku dan menatapku lekat-lekat. “Kenapa mukamu merah?”

“Mataharinya,” kataku, menunjuk langit. “Panas.”


*

Komentar

Posting Komentar

Silakan berkomentar :)

share!