Lika-Liku Si Dudung




Karya:  Aldy Kurnia Santoso

Pagi hari yang cerah di bulan yang penuh berkah banyak berlalu lalang kendaraan mobil, motor, dan sepeda yang sibuk dengan urusan masing-masing. Ada juga pejalan kaki yang wira-wiri menelusuri trotoar di tepi jalan dan tak ketinggalan juga para siswa yang pergi ke sekolah dengan semangatnya untuk menuntut ilmu. Namun dilain sisi ada pemandangan yang berbeda, di sudut marka jalan terlihat seorang anak kecil berpakaian kumuh, berantakan, tidak terawat, rambutnya yang kusut masai dan tidak terurus. Dia memang seorang anak jalanan, namanya Dudung. Dudung adalah anak jalanan yang setiap hari ada di jalanan mencari sekeping uang untuk menghidupi dirinya. Di raut wajahnya juga jelas tergambarkan jika dia sedang kebingungan. Entah apa yang membuatnya bingung, tetapi yang pasti dirinya sedang merana, hidup sebatang kara tanpa ayah dan ibu. Anak jalanan sendirian menanggung pahitnya hidup, dilaluinya semua duka lara kehidupan. Tempat tinggalnya berserakan, berpindah-pindah tanpa arah dan tujuan. Langit bagaikan atap rumahnya dan bumi bagaikan lantainya. Sepahit itukah hidup anak jalanan. 



Hari-hari pun dilaluinya, namun keadaannya tetap sama dan tak banyak pula yang berubah, yang bisa dia lakukan hanya diam mengharap datangnya belas kasih orang lain. Dirinya memang anak jalanan, banyak kicauan orang mengenai dirinya, ada yang postif namun banyak juga yang negatif. Semua orang tau jika Dudung memang anak jalanan, namun apakah semua orang juga tau dan peduli dengan hidupnya? Semua orang berhak beranggapan bahwa anak jalanan itu mengganggu, namun itu juga bukanlah keinginannya, keadaanlah yang memaksanya. Dia tidak bisa bersekolah layaknya kita yang memperoleh pendidikan sejak kecil, jangankan bersekolah untuk makan pun dia masih kebingungan. Bersyukurlah kita yang masih bisa merasakan indahnya bersekolah, masih bisa mendapatkan teman-teman di sekolah, tidak seperti Dudung yang secuil pun tak merasakan nikmatnya bangku sekolah. Kita lihat betapa banyak orang-orang yang tak seberuntung kita, banyak sekali anak-anak di luar sana yang tidak merasakan sesuatu hal yang pernah kita rasakan. Dudung adalah salah satu dari sekian banyaknya anak jalanan yang harus bersusah payah mencari uang untuk menghidupi dirinya. Dia kubur rasa malu, rasa lelah dan letih pun dia abaikan. Lika-liku hidupnya penuh perjuangan. Hingga suatu saat datanglah orang-orang yang hendak memberinya sekeping uang dengan beragam cara yang diberikan untuknya.                        Suatu hari Dudung sedang mencari uang, mengharap belas kasih orang-orang. Dia biasa meminta-minta di lampu merah sambil membawa gelas plastik minuman bekas, dia tidak langsung meminta-minta namun sesekali juga bernyanyi semampu yang dia bisa nyanyikan. Ketika lampu merah menyala dia segera menghampiri kendaraan-kendaraan yang sedang berhenti, usahanya itu tidak langsung membuahkan hasil, namun banyak juga yang dia hadapi untuk memperoleh uang. Saat dia sedang berada di depan jendela mobil untuk meminta sekeping uang, dia bertemu dengan seorang wanita yang mulai membuka kaca jendela mobilnya namun bukannya memberi melainkan cacian dan pengusiran yang Dudung dapatkan dari wanita tersebut. Melihat reaksi wanita tersebut Dudung pun segera pergi dan meninggalkan mobil tersebut, dia beralih ke kendaraan yang lain. Kali ini Dudung memilih untuk meminta pada seorang pengendara motor yang sedang berhenti di lampu merah yang sama. Dengan raut wajah melas Dudung pun mencoba menengadahkan gelas plastik minuman bekas sebagai tempat untuk menerima uang dari orang tersebut, namun yang Dudung peroleh malah hinaan dengan perlakuan kasar orang tersebut yang melemparkan gelas plastik minuman bekas Dudung ke tepi jalan. Sungguh tak seperti yang terbayangkan jika anak-anak jalanan lain dengan mudah mencari, meminta-minta kepada orang lain namun tidak halnya dengan Dudung. Rupanya Dudung adalah anak jalanan yang bernasip tak semulus anak-anak jalanan yang lain, namun Dudung mengerti dan tidak merasa marah karena dia sadar jika dirinya hanyalah seorang anak jalanan yang hanya meminta-minta belas kasih orang lain. Dia segera beranjak mengambil gelas plastik minuman bekas di tepi jalan lalu pergi meninggalkan orang tersebut. Dia berjalan di trotoar tepi jalan melewati gedung-gedung yang tinggi dan salah satunya gedung sekolah yang terdapat banyak anak-anak sebaya dengan dirinya sedang bersekolah menuntut ilmu, sejenak Dudung merasa sedih karena teringat keinginnannya untuk bersekolah harus dibuang jauh-jauh karena ketidakmampuannya untuk bersekolah.   Namun    Dudung    tidak    patah    semangat    dia    harus   bangkit.                        Di lain waktu Dudung mencoba lagi untuk mencari uang, dirinya pun kini tidak meminta-minta di lampu merah melainkan di trotoar depan sebuah pertokoan. Dia sempat melihat betapa megahnya pertokoan itu dan di dalamnya juga terdapat barang-barang bagus yang dijual. Namun segera Dudung kembali untuk melanjutkan niat awalnya berada di tempat itu untuk mendapatkan uang. Setelah beberapa menit dia berada di tempat tersebut, gelas plastik minuman bekas yang dibawa Dudung sudah mulai terisi. Rupanya kini dewi fortuna sedang berada dipihaknya. Beberapa orang yang lewat di depan Dudung rela menyisihkan uang kecilnya untuk mereka berikan kepada Dudung. Namun dibalik itu semua ada juga beberapa orang yang memberikan uangnya dengan beberapa sebab, salah satu orang tersebut adalah Nana. Nana adalah salah seorang dari pengunjung di pertokoan itu yang ternyata adalah orang yang pada saat itu pernah dimintai belas kasihannya untuk memberikan sedikit uang kecilnya kepada Dudung, namun dia malah mencaci Dudung dan mengusirnya. Nana sengaja memberikan uang kepada Dudung karena dilihat oleh orang-orang banyak dan juga ingin dipandang oleh teman-temannya yang pada saat itu sedang bersamanya sebagai orang dermawan yang suka berbagi. Walaupun pada kenyataannya  Nana adalah orang yang tidak  tulus  berbagi  kepada  orang lain. “Ini ada sedikit uang untuk kamu, semoga bermanfaat ya,’’ kata Nana saat memberikan uang kepada Dudung sambil memperlihatkan tindakan Nana tersebut kepada teman-temannya. “Iya Kak terima kasih,” jawab Dudung yang tentu saja merasa senang dan menerima uang tersebut. Hari itu pun berlalu dan pada kesempatan yang lain, seperti biasa Dudung melakukan aktivitasnya untuk mencari uang. Pada kesempatan itu, Dudung mencari uang di terminal karena pada saat itu terminal sedang ramai dikunjungi banyak orang tak seperti biasanya. Di terminal Dudung sudah menyiapkan gelas plastik minuman bekas yang dibuat sebagai tempat menerima uang dari orang-orang. Karena di terminal sedang ramai, tidak lama kemudian Dudung menerima uang dari orang-orang yang lewat di depannya. Hingga suatu ketika Dudung melihat seseorang yang sedang terburu-buru, karena orang tersebut sedang terburu-buru dia tidak menyadari jika dompet yang akan diletakkan di sakunya terjatuh. Melihat kejadian itu, Dudung langsung saja mengambil dompet tersebut dan segera mengembalikan kepada pemiliknya. Namun karena orang tersebut sudah terlalu jauh dan tidak terlihat lagi, akhirnya Dudung memutuskan untuk menyimpannya sementara dan berinisiatif untuk melaporkannya kepada petugas keamanan di terminal. “Permisi Pak saya Dudung mau melaporkan jika saya telah menemukan dompet seseorang,” kata Dudung sambil memberikan dompet tersebut. “Sebentar ya, saya akan memeriksa dompet ini terlebih dahulu, iya ini milik Saudara Efan saya akan segera menghubunginya, terima kasih dik untuk laporannya.” Kemudian Dudung meninggalkan pos petugas tersebut dan kembali lagi beraktivitas seperti biasa. Tidak lama kemudian, pemilik dompet tersebut datang ke pos petugas, dia bernama Efan yaitu orang yang pada waktu itu pernah dimintai belas kasihannya di lampu merah untuk memberikan sedikit uang kecilnya kepada Dudung, namun dia malah melemparkan gelas plastik minuman bekas milik Dudung dan menghinanya. Setelah itu, petugas keamanan memberikan dompet tersebut kepada Efan. “Ini dompet Anda, mohon diperiksa terlebih dahulu untuk memastikan tidak ada sesuatu yang kurang” kata petugas keamanan. “Sudah Pak, tidak terdapat sedikit pun sesuatu yang kurang dari isi dompet saya, terima kasih Pak.” Kemudian petugas tersebut mengatakan yang sebenarnya  jika dompet Efan ditemukan oleh seorang anak kecil peminta-minta bernama Dudung yang melaporkan kepadanya, oleh karena itu seharusnya Efan berterima kasih kepada Dudung. Mendengar penjelasan tersebut, Efan pun mengangguk seraya berpikir bagaimana cara untuk membalasnya.

Komentar

share!