LELAKI ITU BERNAMA MADHON




Karya:  Ferliana Iranti


Suara lantunan ayat-ayat suci Al Quran itu membangunkanku dan membuatku terhenyak sesaat. Suara itu merdu dan sedikit serak. Aku mengenali suara serak itu. Ya, itu adalah suara ayahku. Aku langsung beranjak dari tempat tidurku karena itu merupakan pertanda bahwa sebentar lagi waktu untuk sahur. Aku berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan segera membantu Ibu menyiapkan santapan sahur.


Hari ini adalah hari pertama puasa, dan semua orang menyambutnya dengan suka cita. Termasuk diriku yang begitu bersemangat untuk bangun sahur. Di bulan suci penuh berkah ini aku bertekad untuk meningkatkan keimanan dan memperbanyak ibadah. “Bismillah, semoga aku bisa istiqomah”, ucapku dalam hati.
Kami bertiga mulai menikmati santapan sahur dengan lahap. Sahur ditemani ayah dan ibu merupakan suatu berkah yang luar biasa bagiku. Mengingat 4 tahun ke belakang, aku selalu sahur sendirian di kost-kostan selama kuliah di kota.
“Tahun ini kita makan sahur bertiga ya Bu. Ayah maunya tahun depan kursi kosong itu ada yang isi, jadi keluarga kita nambah 1 orang lagi”. Ucap ayahku dengan nada bercanda.
“Maksud ayah apa ? keluarga kita kan memang cuma tiga orang. Mau ditambah sama siapa Yah ? atau jangan-jangan ayah mau adopsi anak lagi ?” tanyaku dengan polos.
Aku tidak mengerti maksud perkataan ayah. Ibu dan ayah saling pandang dan mereka kompak tertawa geli. Aku semakin bingung.
“Maksud ayah, kamu itu segera nikah tahun depan, biar nanti kursi kosong itu diisi sama suami kamu.” Ibu menjelasakan maksud ayah kepadaku sambil senyum menggoda.
“Mala kan belum punya pacar bu, lagian Mala juga masih muda, masih mau kerja dulu”. Sahutku sedikit emosi.
“Tak perlu pacaran nak, langsung menikah itu lebih baik. Carilah calon suami yang baik dan siap menikahimu bukan yang hanya mau jadi pacar kamu”.
Perbincangan barusan membuat selera makanku hilang seketika. Ini seperti mimpi buruk di hari pertama puasa. Entah mengapa aku selalu sensitif  jika disinggung masalah pernikahan. Selain karena aku belum pernah pacaran sama sekali, aku juga malu karena sering menjadi bahan ledekan teman sebaya ku karena aku jomblo seumur hidup. Sungguh mengenaskan nasibku.
Berhari-hari aku masih terngiang-ngiang percakapan kami di meja makan waktu itu. Secara tidak langsung, ibu telah menyadarkanku bahwa aku bukan remaja lagi. Mungkin ini resiko anak tunggal yang sudah berumur 22 tahun dan berprofesi sebagai guru seni. Aku masih menganggap diriku sebagai remaja yang masih mau mengejar mimpi-mimpi indah. Sedangkan kedua orang tuaku menganggap bahwa di usiaku yang telah menginjak 22 tahun ini merupakan usia yang pas untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Mungkin ibu dan ayah sudah ingin punya menantu dan cucu. Oh.. tidak, aku masih belum siap untuk menjadi seorang istri.
Semenjak lulus kuliah keluarga besarku mulai mendesakku untuk segera mencari pasangan hidup. Ini merupakan beban tersendiri bagiku. Sejujurnya niat untuk menikah diusia 22 atau 23 itu sudah ada di benakku. Tapi semenjak aku menjadi seorang guru SMA dan sering bergaul dengan siswa-siswi, aku merasa kembali menjadi remaja lagi, pikiran untuk segera menikah itu pun sudah memudar. Tapi perbincangan sahur waktu itu mulai menghantuiku dari pagi hingga malam. Bahkan sebelum tidur pun aku masih memikirkan siapa nanti jodohku, dan apakah aku sudah siap menjadi seorang istri dan ibu dari anak-anak ku nanti ?
***
Seperti sudah menjadi sebuah tradisi di Indonesia, setiap bulan ramadhan masyarakat Indonesia selalu mengadakan buka puasa bersama baik dengan keluarga, sahabat, atau dengan rekan kerja. Hari ini tepat tanggal 10 ramadhan, aku dan teman-teman SMA ku mengadakan reuni sekaligus buka puasa bersama di salah satu restoran yang tak jauh dari SMA kami dulu.
“Bu, kira-kira Mala lebih cocok pakai baju yang mana ?” tanyaku pada Ibu sembari menunjukkan dua baju yang ada di kanan dan kiri tanganku.
“Kamu lebih cantik pakai dress yang warna pink nak. Siapa tahu nanti di sana kamu ketemu jodoh kamu.” Ibu kembali menggodaku dan tersenyum penuh arti.
Aku pura-pura tak mendengar candaan Ibu. Aku tetap sibuk memilih baju yang cocok untuk ku pakai hari ini. Lagi-lagi hatiku kembali menjadi sensitif mendengar kata “jodoh”. Akhirnya aku putuskan untuk menggunakan dress warna pink sesuai dengan saran Ibu. Ku padukan dress warna pink itu dengan cardigan warna putih dan hijab warna pink. Dan aku siap meluncur untuk bertemu dengan teman-teman ku.
Sesampainya disana, kami bernostalgia mengenang masa-masa indah sewaktu di SMA. Ada yang mengingat kejadian-kejadian konyol di kelas, ada yang mengingat guru-guru yang galak, bahkan ada juga yang mengingat mantan pacar mereka. Kalau bicara soal mantan pacar, aku selalu diam karena aku tak punya pacar sewaktu masih sekolah dulu. Sialnya, temanku ada yang menyadari perubahan sikap ku saat teman-teman heboh menceritakan tentang mantan kekasih mereka sewaktu di SMA.
“Mala, kamu kenapa diam ? Oh.. aku tahu kamu tidak punya cerita tentang mantan pacar ya? Sekarang kamu masih jomblo juga ? Mala si jomblo seumur hidup. Hahahaha”.
Sontak candaan temanku itu membuat tawa pun meledak seketika. Mereka semua tertawa, dan aku pun ikut tertawa. Yah.. menertawai diri sendiri. Setidaknya itu cukup menghibur hatiku walaupun diriku sendiri yang jadi bahan candaan mereka.
Setelah hampir satu jam ngobrol dan tertawa bersama, akhirnya terdengar suara adzan dari masjid yang tak jauh dari lokasi kami berbuka puasa. Aku hanya minum air putih saja, karena kami akan shalat magrib berjamaah dulu di masjid baru nanti kembali lagi ke restoran untuk makan malam. Dari restoran kami berjalan kaki sejauh 15 meter menuju masjid. Sekarang dalam shalat ku, aku meminta kepada Allah agar aku didekatkan dengan jodohku. Jodoh dari Allah untukku. Aku tak sabar ingin bertemu dengannya. Aku ingin segera menikah seperti teman-teman ku yang lain. Kali ini doaku agak panjang. Jadi teman-teman harus menungguku selesai berdoa di luar masjid.
“Maaf ya aku doanya agak lama. Maaf karena aku sudah membuat kalian meenunggu.”
“Memangnya isi doa kamu itu apaan sih Mal ?” Tanya salah seorang temanku.
“Doa minta jodoh”. Jawabku dengan wajah polos.
Alhasil, tawa kami pun kembali pecah. Mereka terlihat bahagia sekali karena jawabanku barusan. Memang, diantara kami semua cuma aku yang masih single. Sebagian teman-teman ku sudah menikah. Sebagian lagi belum menikah tapi sudah punya kekasih. Kami masih larut dalam tawa dan masih berdiri di depan masjid itu.
“Maaf mbak, saya mau mengambil sandal saya.” Ucap seorang  lelaki berkacamata. Dia membuatku terkejut, karena muncul tiba-tiba dari belakangku.
“Ya silahkan diambil mas. Cari aja disitu.” Jawabku sembari menunjuk ke arah tumpukan sandal para jamaah masjid yang berserakan. Aku masih bingung kenapa mas berkacamata itu mau mengambil sandal saja mesti izin denganku.
“Sekali lagi maaf mbak, sandal saya ada di bawah kaki mbak.” Ucap lelaki itu dengan sopan.
“Ya Allah.. maaf mas, kenapa mas tidak bilang dari tadi ? saya benar-benar minta maaf mas. Saya tidak sadar telah menginjak sandal mas.” Ucapku dengan rasa bersalah sembari mengembalikan sandalnya.
“Tidak apa-apa mbak.” Jawab lelaki itu sambil tersenyum manis.
Setelah menatap wajahku beberapa detik, ia kembali tertunduk. Aku masih terpesona dengan senyuman manis lelaki berkacamata itu. Lalu ia meminta izin untuk pergi. Aku hanya bisa mengangguk tanpa bisa berkata-kata.
Kami pun kembali berjalan menuju restoran. Sesampainya di restoran, aku terkejut karena melihat lelaki berkacamata itu pun ternyata makan disana bersama teman-temannya. Mereka duduk di meja no 5 yang letaknya persis di depan meja kami. Aku sempat diam beberapa saat, aku menarik nafas panjang. Jantungku berdebar-debar. Aku bingung dengan situasi seperti ini. Aku belum pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Tak lama kemudian lelaki itu sadar dengan keberadaanku. Lagi-lagi ia melemparkan senyum yang manis padaku lalu kembali menunduk. Aku membalas senyumnya. Tanpa ku sadari wajahku memerah. Untungnya teman-teman ku tak ada yang menyadari hal ini.
Selesai makan malam kami pun bersiap untuk pulang. Saat menuju pintu keluar, seseorang menepuk bahuku dengan pelan. Betapa terkejutnya aku, ternyata orang yang menepuk bahuku adalah lelaki berkacamata itu.
“Mbak, maaf kita belum kenalan. Saya Romadhon. Panggil saja Madhon. Nama mbak siapa ?” Tanya lelaki itu dengan lembut.
“Saya Maladiva. Panggil saja saya Mala.” Ucapku sembari berjabat tangan dengannya.
Kami mengobrol beberapa saat di depan pintu keluar itu. Kami pun akhirnya bertukar nomor handphone. Aku sangat senang sekali bisa berkenalan dengan Madhon. Kelihatannya ia lelaki yang baik dan hangat.
Dua hari setelah perkenalan kami, Madhon mengirimiku pesan singkat. Selama dua hari aku menunggu momen-momen ini terjadi. Ia menanyakan kabarku, dan kami pun saling membalas sms dan saling mengenal lebih jauh melalui via sms. Keesokan harinya ia memberanikan diri untuk menelponku, awalnya pembicaraan kami terdengar kaku, tapi lama-lama obrolan kami mulai asyik dan membuatku nyaman. Kami saling bercerita tentang latar keluarga kami masing-masing.
Ternyata Madhon bekerja sebagai pegawai Bank dan dia selalu menceritakan padaku tentang suka dukanya bekerja sebagai pegawai Bank. Aku pun demikian, aku juga menceritakan suka duka ku sebagai seorang guru seni di SMA. Walaupun beda profesi, tapi kami saling merasa nyaman satu sama lain.
Dari pembicaraan kami melalui sms dan telepon, aku dapat menyimpulkan bahwa Madhon adalah lelaki yang pemalu dan pendiam. Tapi dia lelaki baik dan taat beribadah. Kami saling mengingatkan untuk shalat tepat waktu, membaca Al Quran, dan mengingatkan untuk saling berbagi dengan sesama. Apalagi di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini ia mengajakku ikut dalam acara bakti sosial yang diadakan oleh komunitas motornya. Dengan senang hati aku ikut berpartisipasi dalam acara itu. Ia mengenalkanku dengan sahabat-sahabatnya. Dari sahabatnya aku tahu bahwa dia adalah orang baik hati. Ya Allah, aku semakin jatuh hati padanya. Apalagi waktu aku tahu dari sahabatnya bahwa Madhon belum pernah pacaran dan baru pertama kali berani minta nomor handphone seorang wanita secara langsung. Dan wanita itu adalah aku.
Aku merasa senang dan nyaman dengannya. Diam-diam aku menyebutkan namanya dalam doa ku. Aku pun mulai rajin membaca buku dan artikel tentang bagaimana menjadi seorang istri yang baik. Dan bagaimana cara mendapatkan jodoh yang baik. Setelah cukup banyak ilmu yang kudapat akhirnya aku bertekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Ibuku mulai menyadari perubahanku. Aku mulai rajin memasak, hijabku pun telah kusempurnakan, tutur kataku telah lembut dan sopan. Ibu bahagia melihat perubahanku.
Suatu hari saat aku dan Ibuku sedang berdua di dalam kamarku. Ibu menangis dan tiba-tiba memelukku. 
“Ibu melihat banyak perubahan dari dirimu. Kau terlihat sudah siap menjadi seorang istri yang baik. Semoga Allah segera menjodohkanmu dengan lelaki yang baik pula. Dan semoga lelaki itu segera datang untuk menghalalkanmu.” Ibu memelukku dengan erat. Aku membalas pelukannya. Dalam hati aku mengaminkan doa Ibu.
Pelukan kami harus lepas, karena terdengar suara seseorang yang mengucapkan salam dari luar rumah. Ibu berlari membukakan pintu. Dan aku masih tetap di dalam kamar.
“Mala, apakah kau tahu dimana ayahmu ?” Tanya Ibu dari balik pintu kamarku.
“Ayah ada di halaman belakang rumah Bu.”
Siapa yang mencari ayah siang-siang begini. Pasti yang bertamu ada urusan yang penting dengan ayah. Ya setidaknya itu adalah kesimpulanku. Biasanya teman dekat ayah kalau bertamu pasti pada sore hari karena mereka sering kali ngobrol di teras rumah sambil menunggu waktu buka puasa.
Aku mendengar suara Ibu sedang sibuk di dapur. Akhirnya aku memutuskan untuk keluar kamar dan membantu Ibu di dapur.
“Siapa yang bertamu Bu ?” tanyaku sambil membantu membuatkan teh manis.
“Ibu juga tidak tahu, ada seorang pemuda dan kedua orang tuanya. Mungkin pemuda itu mau melamarmu.” Jawab ibu dengan nada bercanda.
“Ibu ada-ada aja. Bisa aja bikin hati anaknya melambung.” Jawabku sambil tertawa.
Aku berjalan menuju ke ruang tamu sambil membawa minuman yang telah aku buat. Seketika aku berhenti dan terdiam. Aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Madhon ada di rumahku dengan kedua orang tuanya. Ibu Madhon tersenyum menatapku yang diam terpaku. Ibunya sangat cantik dan mirip sekali dengan Madhon.
“Mala jangan diam disitu. Sini duduk disamping ayah.” Kata ayahku dengan mata yang berbinar.
Aku meletakkan teh di meja lalu duduk di samping ayah. Tangan dan kakiku dingn. Jantungku berdebar-debar. Apakah aku sedang bermimpi ? mengapa Madhon tiba-tiba ada di rumahku dengan kedua orangtuanya ? pertanyaan itu menghantui otakku.
“Mala, nak Madhon sudah mengutarakan maksudnya datang kesini kepada ayah. Ia ingin melamarmu untuk menjadikanmu istrinya.”
Rasanya seperti mimpi di siang bolong, pada tanggal 21 ramadhan aku dilamar oleh seorang lelaki bernama Romadhon. Lelaki berkacamata yang sandalnya aku injak saat pertama kali bertemu. Pertemuan itu terjadi di masjid dan di bulan suci Ramadhan. Ya Allah.. apakah ini yang namanya berkah Ramadhan ? apakah ini jawaban dari semua doaku di bulan suci ini ? aku selalu menyebut namanya dalam doaku. Dan aku baru saja didoakan oleh ibuku. Begitu cepat Allah menjawab dan mengabulkan doa kami.
Ramadhan tahun ini adalah ramadhan yang tak terduga. Begitu apik rencana Allah untukku. Terima kasih Allah karena selama ini telah menjagaku. Dan aku percaya bahwa wanita yang baik untuk lelaki yang baik pula. Di bulan ramadhan aku dilamar lelaki yang bernama Romadhon sungguh anugrah dari Allah yang luar biasa. Mungkin ini adalah buah kesabaran kami dalam menanti jodoh. Kami sama-sama belum pernah pacaran dan sekarang kami akan segera menikah. Alhamdulillah, bulan ramadhan tahun depan aku akan sahur bersama suami, persis seperti keinginan ayahku yang ia utarakan pada waktu hari pertama sahur. Ya, kursi itu tak akan kosong lagi.
***

Komentar

share!