LAMPION | Part 2 (end)

Ilustrasi karya Waskito Widya, hak cipta sepenuhnya milik ilustrator


Karya: April Cahaya

Festival ini digelar tiap tahunnya di Semarang sebagai perayaan HUT kota Semarang. Festival ini sering disebut Festival Banjir Kanal, karena festival ini diadakan di daerah sekitar sungai Banjir Kanal Barat Semarang. Berbagai acara diadakan setiap tahunnya seperti festival kuliner Jawa Tengah, festival mancing, pertunjukan musik, festival perahu hias dan festival lampion.

Disinilah aku sekarang berdiri diantara ratusan bahkan ribuan orang yang datang di festival tahunan ini. Tadi Rana, Edo dan teman-temannya benar-benar menjemputku di rumah. Kulihat semua berboncengan motor saling berpasang-pasangan, kan bener aku terus sama siapa coba.
Tiba-tiba sebuah motor Ninja merah berhenti tepat didepanku dan pemilik motor itu menyodorkan helm ke arahku. “Lo sama gue, nih pake.”kata cowok yang ada di depanku, ya yang itu tadi pemilik motor Ninja merah.
“Eh??,”aku beneran bingung dan cuma menerima helm yang disodorkan cowok itu dengan muka super lebih bingung.
“Ayo cepetan naik, yang lain sudah pada jalan tuh,”cowok itu mengarahkan dagunya ke depan dan benar saja Rana dan Edo sudah jalan lebih dulu.
“Eh, iya.”kemudian aku memakai helm dan duduk di jok belakang yang tingginya masya Allah. Ini tidak pegel apa ya naik motor model begini mending pakai motor matic deh lebih nyaman. Ketahuilah aku tidak begitu tahu bagaimana wajah cowok yang boncengin aku ini, soalnya dia pakai helm yang full face. Aku hanya terdiam di jok belakang dan berdoa semoga cepat sampai. Ini suasananya mencekam. Awkward moment.
Saat sampai di tempat festival aku kehilangan jejak Rana,Edo dan lainnya mungkin saking antusiasnya mereka sampai lupa sama aku yang belum sampai di tempat.
Cowok itu memakirkan motornya terlebih dahulu. Mungkin sekarang ini memang rejeki tukang parkir atau juga tukang parkir dadakan yang dengan semangat mengumpulkan pundi-pundi uang. Bahkan tarif parkir bisa dua kali lipat lebih mahal dari sewajarnya.
“Hey, dilepas dulu helm lo.”celetuk cowok yang kini berdiri di sampingku.
“Hah?? Oh iya.,”aku membuka helmku dan menyodorkan ke cowok itu. Eh tunggu sebentar. Cowok itu berjalan ke arah motor Ninja merah yang tadi aku tumpangi bersama dengan cowok temennya Edo kan??. Jadi ??
Ternyata memang dia cowok yang bersamaku sejak tadi. Seperti yang aku bilang, aku tidak melihatnya karena dia memakai helm full face. Cowok itu berwajah oriental khas dengan mata sipitnya. Dan tidak ketinggalan warna kulitnya yang kelewat putih menurutku, dibandingkan aku jauh sangat berbeda. Meski aku termasuk paling putih diantara teman-temanku termasuk Rana.
“Kenalin gue Reno, anak teknik. Pasti lo baru kali ini kan kenal sama gue. Sebenernya gue teman sekelas Edo, lo aja yang nggak liat gue. Gue sering sama Edo lhoh padahal.”ternyata ini cowok cerewet juga.
“Aku Netta,”kataku memperkenalkan diri. Yang membuatku heran adalah cara cowok ini memperkenalkan diri dengan cara menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Aku takjub, cowok berwajah oriental ini mengerti cara memperkenalkan diri di depan wanita berhijab sepertiku. Apa mungkin dia sedikit tahu tentang bagaimana sikap seorang muslim?? Mungkin nanti bisa aku tanyakan padanya.
Aku berjalan beriringan dengannya, mencari dimana sosok Rana dan kawan-kawan berada. Awas saja si Rana, dia yang mengajakku tapi dia juga yang menelantarkanku. Mana katanya tidak melupakanku, kenyataannya dia asyik berpacaran  malahan. Menyebalkan.
“Itu Edo, Rana dan lainnya.”ucap Reno menunjuk kearah stand dimana di sana disediakan lampion-lampion yang ingin dibeli pengunjung untuk diterbangkan nantinya.
“Na, jahat amat sih. Kok aku ditinggal.”kataku saat aku sudah menghampiri Rana dan Edo yang sedang asyik memilih bentuk-bentuk lampion.
“Hehehehehe. Maaf Net, lagian kan kamu udah ada Reno. Jadi aku nggak khawatir kamu nyasar atau ilang.”jawab Rana sambil biasa cengengesan. Sedangkan aku hanya mencebikkan bibirku.
“Oh ya Netta, lo pilih yang mana nih?,”kata Reno sambil melihat-lihat berbagai bentuk lampion. Aku melihat-lihat sebentar lampion-lampion ini.
“Terserah Reno saja.”kataku akhirnya karena aku benar-benar bingung harus memilih yang mana. Dan Reno membeli dua buah lampion dan membeli korek untuk menyalakan lilin di dalamnya.
Sebentar lagi festival lampion ini akan segera dimulai, semua orang bersiap-siap memegang lampionnya masing-masing. Reno membantuku menyalakan lilin yang ada didalam lampion milikku.
“Lo tau, kenapa lampion di terbangkan ke langit?,”kata Reno disaat dia sudah menyalakan lilin didalam lampionku. Aku hanya menggeleng pelan.
“Lampion diterbangkan ke langit sebagai wujud lampion ini adalah harapan dan doa kita yang akan kita sampaikan ke Tuhan. Semakin tinggi lampion maka semakin besar harapan dan doa kita cepat tersampaikan ke Tuhan,”tutur Reno sambil tersenyum ke arah langit.
Disaat itulah ada sesuatu yang berdesir di dalam diriku. Sesuatu yang sulit untuk sekedar diucapkan bahkan ditorehkan ke media apapun. Sesuatu yang mungkin belum pernah aku rasakan sebelumnya. Sesuatu yang menggelitik di dalam relung terdalam yang disebut perasaan. Perasaan langka yang hanya sang pemilik yang tahu arti dari semuanya.
Jantungpun seperti menerima sinyal dari organ tubuh lainnya hingga kini dia lebih menambah kecepatannya berdenyut hingga sang pemilik merasa mendengar sendiri degup sang jantung. Apa ini sebuah rasa yang disebut cinta??
Ketika itu juga hitungan untuk menerbangkan lampion-lampion itu mulai terdengar, hingga hitungan ketiga aku dan Reno menerbangkan lampion yang semula berada ditangan kami secara bersamaan dengan pengunjung lainnya. Terdengar sorakan yang riuh disekitarku. Dan benda itu kini sudah terbang ke angkasa di bawah langit Semarang yang penuh dengan bintang-bintang yang saling berkedip menyambut lampion-lampion. Seakan bintang-bintang itu mengulurkan tangannya menyambut kedatangan lampion-lampion itu.
Begitu juga dengan hatiku seperti menyambut kedatanganmu, Reno. Mungkin benar jika lampion-lampion itu mewakili harapan dan doa, tetapi hanya lantunan doa dalam sholatlah yang akan disambut Sang Pencipta.
Menurutku sekarang ini hatiku seperti lampion itu begitu bersinar di malam yang gelap tetapi  masih begitu rapuh. Rapuh bagaikan lampion karena hanya terbuat dari kertas yang didalamnya terdapat api yang berkobar. Mungkin saja kertas itu akan terbakar oleh apinya sendiri atau bahkan apinya terlanjur padam tertiup angin.
Setiap hati manusia tidak bisa ditebak, begitupun juga sebuah rasa yang dianggap bernama cinta. Begitu rapuh dan selalu menuai keraguan. Aku tak tahu perasaan apa yang aku rasakan saat ini.
“Netta, kita sholat dulu yuk. Udah jam sembilan nih, gue lupa blom sholat.”tiba-tiba Reno menoleh kearahku dan seketika membuyarkan lamunanku saat memandang lampion-lampion yang bertebangan.
“Eh?? Ka-kamu muslim??,”tanyaku terheran.
“Heum,”jawab Reno hanya dengan deheman dan anggukan dari kepalanya.
“Alhamdulillah,”kataku kemudian mendekap mulutku sendiri. Duh bodohnya kau Netta, apa tadi kamu bersyukur karena Reno muslim?? Tadinya memang aku berpikir mungkin Reno beragama Kristen, Katholik ataupun Kong Hu Chu. Oleh karena itu aku keceplosan mengucap hamdalah. “Tapi apa salahnya sih mengucapkan hamdalah. Bodoh kau Netta,”batinku.
“Kenapa ??,”tanya Reno karena melihatku tiba-tiba mendekap mulutku. Jangan sampai Reno berpikir aku ini aneh.
“Tidak apa-apa kok Ren,”jawabku meyakinkan Reno.
“Ohh, syukurlah. Oh ya Netta, santai ajalah sama gue. Nggak usah pake bahasa seformal gitu yak.”
“Maaf, aku tidak terbiasa.”aku menunduk memandang ujung sepatuku. Kenapa wajahku rasanya memanas saat aku menatap wajahnya. Memalukan.
“Maksudnya nggak terbiasa pake bahasa lo/gue gitu ya??,”tanya Reno lagi kali ini sambil menatap wajahku yang menunduk.... mungkin.
Aku hanya menjawabnya dengan anggukan.
“Jangan menunduk gitu lah Net, gue hantu apa.”ucap Reno dan kemudian terdengar tawa renyah dari cowok itu.
Aku mengangkat kepalaku dan tersenyum melihatnya tertawa begitu bahagia. Kemudian kami berjalan mencari masjid atau minimal musholla untuk bersujud ke Sang Illahi mengadu semua rasa dan keluh kesah tentang kehidupan. Melantunkan doa dan harapan yang tidak mungkin benar-benar tersampaikan lewat lampion-lampion yang baru saja kami terbangkan di langit.

End

--00--

Komentar

share!