Kopi Ramadhan




Karya:  Khumayr

Rama berdiri mematung di depan kalender yang menempel di dinding. Terlihat lima lingkaran merah berjajar menghiasinya penanda puasa yang telah terlewat. Selama itu pula dia mulai berakrab dengan rasa pusing yang menjalari kepalanya.


“Dua puluh lima hari lagi,” gumamnya lirih, sembari menghela nafas.
Terasa bagaikan memanggul beban yang teramat berat bagi Rama. Ada hal yang terasa hilang dari dirinya. Lunglai tanpa daya seperti halnya jam kehabisan daya, tak mampu beranjak untuk berdetak.
Hal ini akibat kebiasaan Rama setahun belakangan. Rama sering mengkonsumsi kopi di pagi dan sore hari. Karena pekerjaannya sebagai penulis, kopi merupakan teman akrab yang tak bisa lagi dihindarkan. Sepaket dengan laptop yang menjadi alat wajibnya untuk bekerja. Duduk manis di meja kerjanya dengan secangkir kopi hitam pekat di sampingnya. Dia betah berjam-jam seperti itu, serasa ide mengalir tiada habisnya.
Sesekali sang istri, Yana, menggantikan kopi dengan minuman yang lain, walau terkadang Rama melenguh tanda tak setuju. Kopi tetap menjadi favoritnya, bukan yang lain. Sejujurnya alasan utamanya Yana berbuat demikian adalah karena  khawatir dengan kesehatan suaminya. Utamanya karena sang suami memiliki riwayat penyakit lambung.
Selain itu keadaan Rama sudah pada taraf ketergantungan kopi. Jika sehari saja Rama tidak menenggak kopi, maka pusing yang dirasanya. Dan juga kehilangan semangat untuk berkegiatan yang tentu saja mengganggu pekerjaannya sebagai penulis. Tanpa semangat keadaan Rama bak sungai yang biasanya deras mengalirkan gelegak-gelegak gelora menjadi kering kerontang. Kemarau berkepanjangan.
Badai topan menerjang. Belakangan semenjak bulan puasa datang, Yana berubah galak. Mendadak dia merancang program untuk pemulihan Rama dari ketergantungan kopi. Entah ada angin ribut darimana. Yang pasti keinginan Yana tak bisa diganggu gugat.
“Pokoknya bang Rama harus coba. Sama sekali nggak boleh minum kopi selama puasa.”
“Loh kok kamu mendadak kaya gitu dek? Aku salah apa coba?”pinta Rama memelas.
“Pokoknya kalo abang minum kopi, aku marah. Abang gak sayang sama aku.” Yana merajuk dengan muka ditekuk-tekuk.
Yana kehabisan akal untuk menangani ketergantungan suaminya. Bahkan ketergantungannya sudah makin menjadi. Apa boleh dikata, jurus pamungkas pun mesti dipakai. Terlebih momentum puasa digunakannya untuk melatih kesabaran. Siapa tahu sembari berpuasa suaminya juga bisa sembuh dari ketergantungan, harapnya.
...
“Teh lagi? ” tanya Rama sehabis berbuka puasa.
Rama bermuka masam. Karena beberapa hari tanpa kopi dan juga suasana hatinya sedang kurang baik. Siang tadi dia mendapatkan panggilan dari kantor. Batas pengumpulan tulisannya diajukan menjadi seminggu lagi. Tentu saja Rama kelabakan, terlebih lagi otaknya yang sering macet belakangan ini, tanpa kopi.
“Iya abang. Gapapa ya?” jawab Yana dengan tulus.
Rama hanya bisa terdiam lalu meminum sedikit teh yang ada di hadapannya. Sudah habis kesabarannya.
“Aku keluar dulu, ada urusan.” Dingin saja Rama beranjak dari tempat duduknya sembari menuju ke meja mengambil kunci kendaraannya.
“Abang marah ya? Maaf ya,”
Yana mengekor Rama dari belakang. Dia takut dan bingung dengan sikap suaminya yang mendadak dingin.
Diam. Masih diam. Yana hanya bisa memandangi punggung suaminya yang pergi dengan menaiki mobilnya, entah akan kemana. Hanya jejak asap knalpot yang tersisa.
...
Pelayan membawakannya segelas americano. Jemarinya masih asyik menulis, menyelesaikan naskah yang siang tadi ditagih oleh kantor. Dia mangkir dari perjanjiannya dengan sang istri untuk berusaha mengurangi kebiasannya ngopi. Namun apalah daya pikirannya sedang kalut karena kerjaan. Rama sedang mahsyuk dengan pekerjaannya di sudut kafe langganannya, tempat yang sering digunakannya untuk bekerja dan tentu saja ditemani oleh kopi.
“Sendiri saja mas Rama?” tanya seseorang mendekat ke Rama. Yang rupanya adalah Ferry, sang pemilik kafe yang kebetulan juga teman semasa kuliah dulu.
“Iya mas Ferry. Yana sedang di rumah.”
Memang biasanya Rama ke kafe tersebut selalu ditemani dengan Yana. Walaupun jika kesana pasti Rama sibuk menulis, namun Yana setia menemani dengan melakukan hal lainnya. Seringkali Yana akan membawa buku yang menemaninya selama menunggu. Sesekali jikalah Rama merasa lelah, maka Yana lah yang akan menjadi teman ngobrol dan bertukar pikiran.
Disesapnya americano sekali. Sejujurnya ada yang terasa aneh. Kopi kali ini tidak senikmat biasanya, walau sudah bisa sedikit menyembuhnya sakit kepalanya yang dirasakan belakangan ini. Pikirannya teringat akan sikap dinginnya yang baru saja kepada Yana.
Dia baru saja tersadar, bukan kopi yang sepenuhnya mempengaruhinya. Namun Yana adalah yang paling banyak menghadirkan semangat dalam dirinya. Pikirannya gegabah tidak bisa mencerna baik apa yang selama ini ada di hadapannya. Yana yang tidak pernah mengeluh walaupun harus menemaninya berjam-jam untuk bekerja.Dia juga yakin kalaupun Yana menjadi sedikit tegas akhir-akhir ini, tentu saja itu untuk kebaikan Rama.
Masih teringat jelas dalam ingatannya, beberapa bulan yang lalu, Rama jatuh sakit. Yana dengan sabar merawatnya ketika beberapa waktu yang lalu penyakit lambungnya kambuh. Tanpa mengeluh.
Dikebutnya pekerjaan saat itu juga. Dia ingin segera menuntaskannya, supaya bisa segera pulang dan meluangkan waktu untuk bisa membahagiakan istrinya.  Dia menyesal, sungguh sangat menyesal.
...
Dibukanya pintu depan perlahan. Sepi menyelingkupi. Jam di ruang tengah menunjukkan pukul 11 malam. Dia menduga Yana telah tertidur. Perlahan dilangkahkan kakinya ke arah kamar tidunya.
Namun belum sampai di sana, langkahnya terhenti oleh sesosok yang dilihatnya di ruang makan. Rupanya sang istri dengan setia menunggunya. Menunggu di meja makan hingga jatuh tertidur. Di sampingnya terlihat sebuah gelas yang menarik perhatiannya. Diangkat sedikit gelas tersebut. Terlihat secarik kertas di bawah gelas yang tak lagi hangat. Namun masih menyeruak bau khas yang sudah sangat dikenalnya.
Pandangannya lalu beralih, dibacanya barisan kalimat di kertas itu.

Kopi untuk abang Ramadhan.
Maaf sudah galak belakangan ini.
Boleh kok ngopi, tapi jangan keseringan ya. Aku khawatir abang kenapa-kenapa.
Jangan marah ya. J

Seulas senyum menghiasi bibirnya. Dipandangi wajah teduh yang sudah pulas tertidur. Dikecupnya kening Yana perlahan, terbersit rasa bersalah dan namun ada sedikit kelegaan.
Dihirupnya kopi itu perlahan. Disesap hingga ludas. Sungguh kopi yang ini sungguh terasa luar biasa nikmat. Sangat melegakan. Beberapa waktu Rama terdiam. Menekur diam. Dia merasa bersalah mengkhianati istrinya.
Diusapnya punggung Yana perlahan. Tak lama kemudian Yana membuka matanya. Memandangi Rama dengan khidmat, walau mata sayu berhiaskan kantuk di antara.
“Terimakasih ya sayang.” bisik Rama
Yana mengangguk lemah. Namun sebait senyum manis kini menghiasi bibirnya. Sedikit menggelendot manja Yana bangkit dari posisi menelungkup di meja makan.
“Maaf ya abang,” ucapnya lirih.
“Udah, udah. Ayok sekarang kita sholat tarawih berjamaah sama abang dek.”

Tentang hari ini adalah hari yang penuh hikmah bagi Rama. Kopi Ramadhan. Takkan terlupa, bahkan hingga nanti. Memang terkadang pelajaran bisa datang darimana saja dan bahkan dengan cara yang tak terduga. Janjinya bahwa dia akan lebih bersyukur, menghargai dan menjaga segala yang telah Tuhan hadirkan dalam hidupnya.

Yogyakarta, 10 Juli 2015

Komentar

share!