Kisah Kopi Cinta Ala Barrista




Karya:  Cemoro Sewu

Apakah kalian percaya dengan kebetulan? Apakah kalian juga percaya dengan cinta pada pandangan pertama? Seperti kalian tiba-tiba jatuh cinta kepada seseorang yang pertama kali kalian jumpa? Entahlah, terdengar konyol memang, awalnya aku juga tidak tahu sebenarnya apa yang terjadi, Namun aku rasa dia mempercayai kedua hal itu. Dia - pada saat itu, mencoba menjelaskan semuanya kepadaku, lewat senyum manisnya, semoga saja aku tidak salah...



Kisah ini bermula setahun yang lalu, di awal bulan Ramadhan, saat aku tiba-tiba disuruh pergi ke Kota Dingin oleh orang tua, kalian tahu kenapa? kata beliau berdua ada calon yang ingin dikenalkan kepadaku, meski aku telah dijodohkan sejak lulus dari pesantren, beliau masih merahasiakannya samapai sekarang, dan karena umurku sekarang sudah memasuki usia yang sudah waktuanya menikah, beliau menyuruhku untuk bertemu dengannya beserta keluarga. Dan ada satu pesan dari orang tua untuk sekalian menjenguk adik perempuanku yang sedang kuliah disana. Oke tidak masalah akan aku jenguk, karena sudah lama juga aku tidak bertemu dengannya.

Seperti arahan dari kedua orang tuaku, meski keluarga si calon ingin bertemu denganku keesokan hari, aku sengaja berangkat satu hari sebelumnya, aku akan memaksimalkan untuk bertemu dengan kedua sahabatku semasa di pesantren sambil menghilangkan penat karena perjalanan seharian yang melelahkan. Setelah aku sms mereka berdua dan mengabari adikku, gayung pun menyambut, Anas dan Mahmud, kedua sahabatku yang berdomisili disana akhirnya mengajak berbuka bersama di salah satu restoran yang terkenal di kota Dingin ini,

Kalian tahu mengapa restoran ini disukai para pengunjung? Sederhana saja, restoran ini memiliki dua rahasia. Pertama, rahasia yang masih misterius bagiku dan yang kedua, rahasia yang sudah menjadi rahasia umum.

Rahasia umumnya? ialah suasana, rasa, serta harga di resto itu sangat nyaman bagi dompet pengunjung, siapa sih orang yang tidak tahu tentang restoran ini? Jadi tidak mengherankan jika resto ini tidak hanya didatangi kaum muda saja, banyak juga pengusaha, orang-orang kantoran, bahkan yang sudah berkeluargapun memilih restoran ini.

Lalu rahasia misteriusnya? Itu tentang sebuah menu kopi spesial, kopi yang cuma disediakan 50 cangkir setiap hari yang cuma ada pada saat bulan Ramadhan. wedang kopi dari biji kopi misterius yang di racik dengan cara yang tidak biasa, sebuah menu yang sangat langka bukan? Nah sebagai penggila kopi, hal itulah yang membuatku tidak berfikir panjang untuk menerima ajakan buka bersama dengan sahabatku.

Aku langsung bertanya kepada Anas dan Mahmud saat itu, mengapa harus 50 cangkir? Mengapa pula cuma ada di bulan Ramadhan? Lalu biji kopi produksi daerah mana dan siapa sih barrista kopi spesial di restoran ini? Dan masih banyak pertanyaan pertanyaan yang timbul diotak.

Konon katanya rasa kopinya ituloh kurang ajar banget! Membuat setiap orang ingin kembali ke tempat ini dan rela mengantri berjam-jam sebelum restoran dibuka, sekedar untuk mencicipinya kembali.

mereka berdua kompak tertawa sambil menepuk-nepuk pundaku.

“bro, kowe ngerti? Iku pertanyaan sing paling sering di tanyakan pengunjung disini, dan sudahlah... Lupakan ae, kita iki wes beruntung bisa mendapat tiga cangkir kopi langka, biasanya dapat satu sudah untung, iki pengorbanan kang Mahamud gawe nyambut kedatangan kowe bro, ngantri dari dua jam yang lalu eh...” kata Anas yang berlogat medok,

Bener juga kata Anas, aku melihat antrian di stan kopi spesial memang sangat panjang seperti ular.

“lagian kowe pasti kalah saingan bro, karo wong-wong sing kesini bawa mobil, podo kepincut kabeh loh...” kata Anas menambahkan, sahabatku yang berasal dari ujung timur ini mencoba meyakinkanku tentang kondisi yang ada.

Ha? Kepincut Nas? Maksudnya?” tanyaku lugu antara penasaran dan tak paham maksud perkataan Anas.

“bro, tahu nggak? ada mitos yang berkembang di restoran ini, bahwa peracik 50 cangkir kopi di restoran ini cuma satu orang! dan kata orang yang sempat melihatnya, ternyata barrista kopi itu seorang wanita, berkacamata, asli katanya cantik banget! orang sekitar percaya, dialah pemilik tunggal restoran ini, makanya banyak yang datang kesini untuk sekedar melihat parasnya, bahkan tidak sedikit yang datang untuk melamar dia” kata Mahmud dengan suara dalam untuk menguatkan omongan si Anas.

“lalu? Sekarang sudah ada yang berhasil mendapatkan hati si barrista sekaligus pemilik restoran ini Nas? Mud?”

“nggak ada bro...” jawab mereka kompak, sambil menghela nafas panjang.

“angel ketemune bro..” Jawab anas sewot.

“iya susah banget...” tambah Mahmud

Aku cuma bisa tersenyum melihat raut muka kecewa bercampur frustasi dari kedua sahabatku itu, ada rasa kasihan juga, sebab sepertinya mereka juga sedikit banyak berharap sama dengan harapan pengunjung yang lain.

Tidak terasa bedug maghrib menggema, azan dari TOA masjid sebelah membuyarkan topik pembicaraan kami tentang restoran dan peracik kopi. Para pelayan masih sibuk melayani sebagian pengunjung yang masih mengantri pesanannya, pengunjung yang lainnya juga sibuk, sibuk untuk membatalkan puasa dengan menu ta’jil yang pasti sangat membahagiakan lambung mereka.

Kami? Kami bertiga juga sibuk, sibuk mencampur tiga porsi nasi menjadi satu nampan untuk berbuka, setelah tercampur, kami satukan lagi tiga macam jenis lauk yang kami pesan dan kami sebar rata diatas nasi.

Beginilah jadinya jika kami makan bersama, kebiasaan makan satu nampan di pesantren dulu masih kami bawa hingga kini, dimanapun tempatnya, serius, dimanapun... Termasuk di restoran ini.

Anas, Mahmud, dan aku memang terkenal sebagai tiga serangkai semenjak di pesantren, bahkan berita ini sampai di pesantren putri. Mulai dari tidur, cuci baju, makan, hingga mandi pun kami selalu bersama, jadi saat ada momen makan besama seperti saat ini, setelah sekian lama berpisah, kami pasti akan maksimalkan untuk mengulangi kebiasaan lama di pesantren.

Ditengah asiknya kami makan dan ber nostalgia, tanpa kami sadari, ada dua orang yang duduk paling pojok sedang mengawasi kami bertiga, iya mereka berdua mengamati meja yang dipakai tiga orang aneh dengan cara makan yang paling aneh. Seluet senyum kecil menggantung di bibir salah satu dari mereka, ia berbisik ketemanya setelah melihat sesuatu yang ada di layar ponsel, lalu ia menyeduh kopi kembali.

Setelah berbuka dan dilanjutkan solat di musolah yang disediakan restoran, aku berencana langsung menikmati kopi spesialku. Anas dan Mahmud? entah dimana aku tidak tahu, mungkin mereka masih mencari toko yang menjual rokok kesukaan mereka berdua. Ada satu kebiasaan yang aku ketahui tentang Anas dan Mahmud , yaitu mereka semenjak dulu sampai sekarang pasti nongkrong di pinggir jalan sambil merokok setelah makan, karena mereka mempunyai satu motto dalam bahasa jawa yang selalu di ucapkan: “parman bacokan dicekel hansip! - mari mangan gak rokokan kurang sip!”

Namun aku terlupa akan satu hal, meski berulang kali aku mendengar cerita tentang kenikmatan kopi ini dari mereka berdua, namun Anas dan Mahmud lupa memberi tahu aku cara mengaduk kopi spesial dengan benar agar rasa secangkir kopi yang ada tambah nikmat. Menunggu mereka kembali? Se jaman lagi pasti, dan bisa-bisa kopiku menjadi dingin. Tanpa berfikir panjang aku langsung mengaduk, namun...

“Maaf, mas... Jangan langsung diaduk, seharusnya sendoknya di ketuk dulu ya, terserah sih berapa kali, tapi agar lebih nimat diketuknya tujuh kali ke cangkir kopi, seperti ini...” seorang wanita muda berjilbab tiba tiba berdiri dihadapanku, sambil mengetuk-ngetuk cangkir kopiku dengan sendok yang dia ambil dari tanganku.

Beberapa detik kemudian aku merasa bahwa waktu benar benar berhenti, garis senyumannya, bola matanya, bau parfumnya ternyata sanggup membuat roda waktu berhenti berpacu. SubhanaAllah...

“Nah, setelah diketuk tujuh kali... Masnya harus ngaduk kopinya lima puluh kali adukan ya, ingat loh ya.. lima puluh kali adukan, jangan dikurangi atau ditambahi adukanya.” aku masih melongo, entah apa yang dia bicarakan aku tidak paham, yang aku pahami, otaku telah nge-blank, jantungku mulai bekerja diluar kebiasaan, diiringi keringat dingin yang keluar membasahi bulu kuduku dan aku mulai merasakan sensasi perut yang seolah olah mual. Waktu itu tubuhku merasakan gejala yang mengerikan, benar benar mengerikan...

“halo... Mas? Masnya tidak apa apakan?” tanya wanita itu tiba tiba, menyadarkan kembali ketegangan seluruh saraf tubuh dan imajinasiku.

“oh iya... Hmm.. Anu... Maaf mbaknya... Seperti itukah nganunya? eh ngaduknya?  baru kali ini bisa incip langsung kopi spesial ini eh, hehe” sahutku dengan suara terbata-bata sambil menggaruk kepala sendiri, padahal tidak ada benjolan yang bermasalah di sana.

Entahlah mungkin aku gugup, atau.. ah, ya Allah, senyuman dari wanita itu terlihat lagi, dan kali ini aku sedikit bisa mengatasi degub jantung yang seolah olah meloncat kegirangan. Aku mencoba merapikan nafasku yang berantakan, air mineral dimeja menjadi tumbal kegugupanku, aku teguk berulang kali, dan sialnya lagi, ternyata wanita itu mengetahui bahwa aku sedang gugup.

“santai saja mas, ndak usah gugup, aku bukan monster” jawabnya halus diiringi secuil senyuman manis.

Perutku mual lagi..

“mbaknya sendiri nggak pesan kopi? Buruan keburu habis loh mbak? Dari tadi mbaknya? Sama siapa? Sendirian apa sama temanya ya? Dimana mereka mbak? Mbak sduah berbuka?.” tanyaku dengan nafas seperti orang yang mau tenggelam. Kulihat dia hanya tersenyum sambil menutupi bibir tipisnya, ada yang salah? Apa pertanyaanku yang salah? Ya Allah... Aku harus bagaimana!!!

Dia hanya tersenyum, dan tersenyum.. Sesaat kemudian dia berkata

“masnya lucu ya, hehe...”

Jantungku nyut nyutan mendengar kata-katanya.

“mbaknya juga lucu...”

Lalu entah siapa yang memulai terlebih dahulu, namun sadarku, aku dan dia, sudah berada di tengah-tengah obrolan yang mengasikan. Kami seperti flashdisk dan colokannya, kaset dengan tape-nya, atau perumpamaan apapun aku tidak perduli lagi. Sebab apapun bahan yang kita obrolkan, kami selalu nyambung.

Anas dan Mahmud? Dimanapun kalian berada, tolong maafkanlah sahabatmu kali ini, sebab aku benar-benar telah terlupa pada kalian beruda, ingatanku terbius dengan wanita yang ada di depanku ini.

Aku mulai bercerita kepadanya tentang mengapa aku berada di kota Dingin, dan rencana orang tua yang ingin menjodohkanku esok hari, tentang kebimbanganku tentang jodoh, tentang pandanganku akan cinta, kehidupan dan agama...

Aku melihat ia menikmati semua ceritaku, sambil berpangku tangan, ia selalu melihatku dengan tersenyum. Entah apa yang ada dalam pikirannya aku tidak tahu, wanita memang makhluk paling aneh bukan? Iya aneh, bukankah sebuah keanehan ada wanita secantik ini tiba-tiba menghampiriku, dan memberitahu cara menimati kopi spesial yang ada disini? Apakah dia salah orang? Gumamku dalam hati.

“enggak mas, aku nggak salah orang koq, menuruku maslah orangnya...” katanya lembut

Sontak aku kaget dan... Hei, apa barusan ia membaca isi hatiku? membaca semua apa yang kupikirkan tentang dia? Aku semakin tidak mengerti. Aku melihatnya lagi dengan wajah penuh tanya, dia malah tersenyum, sebuah senyum yang mendorongku ikut tersenyum juga, dan melupakan kejadian aneh yang barusan terjadi.

Dalam beberapa kesempatan, aku bertanya mengapa dia begitu paham tentang cara menikmati kopi spesial di restoran ini? Sambil merapikan duduk beserta jubah panjang berwarna merah mudanya, dan berhasil membuat perutku muail lagi. dia menjelaskan bahwa ia sebenarnya sangat mengenal si barrista di restoran ini. Wah berita bagus buat Anas dan Mahmud pikirku.

Wanita itu berkata lagi bahwa peracik kopi ini sangat menyukai filsafat, makanya ia filosofis sekali dalam segala hal, apalagi berkaitan dengan kopi, mengapa kopi? Karena kopi menyimpan banyak rahasia yang belum terungkap, banyak pula pemikir besar yang menyukai kopi sebagai teman inspirasinya, terlebih si barrista mengetahui rahasia yang membuatnya semakin mencintai kopi.

“Mas tahu nggak, mengapa si barrista menyarankan untuk mengetuk kopi tujuh kali sebelum diaduk? Karena selain agar gumpalan yang menggunung diatas gelasnya turun, si peracik percaya dengan keutamaan angka tujuh, bukankah di dalam al quran angka tujuh sangat luar biasa kan?” wanita itu menjelaskan.

“oh jadi begitu ya mbak, MasyaAllah, tak pernah terfikirkan olehku, ternyata barrista di restoran ini mengagumkan sekali, ia mengaplikasikan filsafat dan agama di dalam kehidupannya” aku menanggapi penjelasannya.

Dia mengangguk dan tersenyum, kemudian melanjutkan lagi cerita mengapa cuma pada bulan Ramadhan kopi ini tersedia? Dan hanya tersedia lima puluh cangkir?

“si barrista sangat ta’dim sama orang tuanya mas, jadi saat ia mengerti telah dijodohkan semenjak lulus dari pesantren, maka ia cuma mengangguk setuju, ia sangat percaya mas, orang tuanya pasti memilihkan orang yang terbaik, lalu ia berazam kepada dirinya sendiri, untuk membuat lima puluh cangkir di setiap bulan ramadhan sebagai simbol bahwa semua ibadah yang dikerjakanya belum sempurna. Jika mas bertanya tentang arti dari lima puluh adukan, itu barrista yang menambahi sendiri mas, lima puluh adukan merupakan hadiah yang ia berikan kepada calon yang telah dipilihkan oleh orang tuanya, sebagai tambahan untuk menyempurnakan semua amal ibadanya menjadi sempurna”

“mas tahu tidak perasaan si barrista setelah mengetahui bahwa calon yang di pilihkan oleh orang tuanya merupakan pria yang diimpikan semenjak dia di pesantren? pria yang selalu bersama dengan kedua sahabatnya apapun kegiatan saat di pesantren? Pria yang nampak pendiam namun ternyata sangat lucu? Pria berkacamata yang sangat menggilai kopi?”

“ah, mohon maaf mbak, tunggu dulu... aku bingung, aku tidak mengerti perkataan mbak barusan, bukankah mbak tadi yang mengaduk cangkir kopiku sebanyak limapuluh kali? Lalu cerita tentang barrista itu...? Juga tentang cerita yang jodohkan...? Ah, Jangan-jangan mbak...”

Dia mengangguk dan tersenyum manis, ia telah menanggapi dugaanku semenjak pertama kali bertemu dengannya, aku tidak bisa berkata-kata lagi, sebab kali ini senyumannya manis sekali...

...

Belakangan ini aku baru tahu bahwa si Anas dan Mahmud telah bersekongkol dengan adiku untuk mempertemukanku dengan Rahmi, nama si barrista itu.

Komentar

share!