Ketika Cinta Bertanya Tentang Cinta




Karya:  Aang Riana Dewi


Akhirnya Tuhan menghadiahkan sebuah cinta yang lama ku rindukan di bulan Ramadhan ini. aku pun berusaha menjaganya, mempertahankannya hingga tak pernah terbayangkan olehku dialah yang menghancurkan hidupku. 


“Kenapa kau begitu mencintaiku? Sampai pengorbanan terbodoh pun kau lakukan!” ia bertanya padaku. aku pun balik pertanya dalam hati, pengorbanan terbodoh? Bukankah setiap pengorbanan selalu bermakna dan benar adanya?
“Pengorbanan terbodoh? Aku tidak merasa pernah melakukannya.”
“Kau tidak merasa? Kau sampai tertabrak mobil ketika berusaha susah payah mengejar diriku saat kepulanganku ke Palembang? Baru saja seminggu yang lalu. Kau perempuan cerdas, tidak mungkin kau lupa.” Ia asli orang Palembang yang mengais ilmu di kota tempat tinggalku, Kudus.
 “Aku selalu ingat, bahkan tidak bisa lupa. Itu bukan sebuah pengorbanan, hanya kejadian yang tak disengaja.” Aku masih membantah perkataanya. Ia menatapku sebal, diam, menyerah untuk menjelaskan.
***
 Satu bulan dengan sebuah rindu yang tiada guna…
Kudus-Palembang, jauh sekali jarakku dengannya. Tetapi semua itu takkan membuat cinta dengan seperangkat rinduku sirna, justru cintaku semakin kuat untuknya. Terkesan lebay memang, tapi ini kenyataanya. Dengan rentetan doa yang kupanjatkan kepada Tuhan untuk kebaikannya lah, yang semakin memperkuat cintaku untuknya. Namun bagaimakah dengannya? Apa dirinya mempunyai rasa yang sama denganku? Semenjak kepulangan ketanah kelahirannya, ia tak pernah memberiku kabar. Aku mulai khawatir.
“Bagaimana kabarmu? Baik-baik saja bukan?”
“Ketahuilah, aku sangat merindukanmu. Kau pasti juga merindukanku kan?”
“Hatiku perih, rindu untukmu sesak memenuhi ruang hatiku.”
“Apakah terlalu sibuknya dirimu? Hingga tak satu pesan dariku kau balas? Salam dari aku yang menyayangimu, Allea.”
Aku menyerah. Seminggu yang lalu tujuh pesan pun tak terbalas, dan ini untuk yang kedua kalinya aku mengirimnya pesan sekaligus empat pesan, namun tak ada satu balasanpun masuk ke ponselku.
Aku jatuh benar-benar jatuh, rapuh karena rasa sayangku sendiri. aneh? Tetapi inilah yang kurasakan. Aku yang dahulu bagai sekeras batu, kini hanyalah sebutir debu yang mudah tehempas oleh angin. Rentan rapuh. Apa penyebab semua ini?
Pukul 03.00 aku selesai sahur. Aku kembali ke tempat tidur, tetapi tidak untuk tidur. Kubuka ponselku dan membaca pesannya. Dia mengirimku pesan? Tidak. Ini pesan darinya sebulan yang lalu masih tersimpan rapi dalam ponselku, tak kuhapus. Perlahan butiran bening keluar dari mata senduku, menangis. Hatiku teramat perih. Aku tak sanggup lagi jika harus terus begini, maka kuputuskan untuk menceritakan ini ke Vina sahabatku.
“Kau perempuan yang TERLALU bodoh, Allea!” ia menyambutku dengan sebuah perkataan yang amat menyakiti hati dan buatku bingung, padahal aku belum sedikitpun menceritakan masalahku padanya.
“Aku berniat curhat. Jika kutahu pada akhirnya kau memakiku, menjulukiku sebagai perempuan bodoh lebih baik aku tak menceritakan masalahku ini padamu. Aku kecewa!”
“Tak kau ceritakan masalahmu, kau tetap seorang perempuan yang sangat BODOH!” ia berkata dengan nada tinggi. hatiku yang rapuh tambah dirapuhkannya.
     “Apa maksudmu?’ tanyaku lemas dengan menahan butiran bening yang tak sabar ingin membasahi wajahku.
“Sudah, jangan tanya apa maksudku. Sekarang kau pergi dari hadapanku, tunaikan sholat subuh dan kurung dirimu sehari di kamar! Pergi dan lakukan!” ia benar-benar membentakku. Aku tahu benar tentang sosok Vina, ia adalah tipe pendengar yang baik. Tetapi kenapa kali ini sikapnya justru seperti ini? membentakku sesuka hatinya, aku benci!
Di setiap ku menjalankan rakaat demi raka’at air mataku pun mengiringinya. Usai sholat shubuh tiba-tiba saja badanku lemas dan kepalaku pusing. Aku pun duduk, memejamkan mata dan menunduk. Berdiskusi dengan hatiku.
“Aku TERLALU mencintainya.”
“JANGAN terlalu…”
“Aku SANGAT merindukannya.”
“JANGAN terlalu…”
“Mengapa? Padahal rasa ini memang terlalu. Apa aku harus membohongi perasaanku sendiri?”
“Masih ingatkah kamu dengan kepedihan yang ditimbulkan dari cinta dan rindu yang terlalu, Allea?”
Aku pun mengangguk menuruti kata hati dan mulai menerawang masa lalu yang begitu pedih karena cinta dan rinduku sendiri yang terlalu. Menyakitkan. Dalam hal ini, sejatinya tidak cinta yang melukai namun diri kita sendirilah yang melukai diri sendiri dengan mengatasnamakan cinta. Cinta yang terlalu itu tidak baik. Mencintailah secara dewasa.
“Allea, ketika cinta bertanya tentang cinta, maka imanlah yang menjadi jawabannya.”
 “Cinta yang terlalu hanya untuk Sang pemilik cinta sejati. Mencintailah karena Dia semata.” Bisik hatiku lagi. Aku mengangguk, benar. Mungkin dengan merelakannya itu yang terbaik, meski bertentangan dengan keinginan hatiku yang ingin sekali mempertahankannya.
Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)
Terima kasih. Have a wonderful life.
***
*Diselesaikan di Kudus, 16 Juli 2015 pukul 04.30 dengan hati yang lega

Komentar

  1. Kereen.. Alurnya sulit ditebak.
    kukira Dia bakal kembali sama allea. ternyata tidak!

    BalasHapus

Posting Komentar

Silakan berkomentar :)

share!