Kesenangan di Bulan Ramadhan




Karya:  Rifa Yuliani

Suara-suara anak kecil yang sedang berusaha membangunkan semua orang dari tidur lelapnya itu terdengar keras di telingaku. ‘Sahur sahur sahur sahur’ kurang lebih begitulah aku mendengarnya, tak hanya suara khas anak kecil yang kudengar, namun ada yang memainkan alat musik yang mereka buat sendiri untuk meramaikannya. Karena aku merasa sedikit terusik, aku kemudian berusaha untuk membuka pelan-pelan mataku, menyesuaikan dengan cahaya lampu kamarku. Setelah itu aku berjalan ke kamar mandi untuk membasuh mukaku. Hari ini adalah hari ke-10 di bulan Ramadhan. Dan hari ini akan sama seperti hari sebelumnya, aku akan sahur sendiri. Mungkin pada menebak kalau aku tinggal di kos-kosan atau apartemen, tapi kenyataannya aku tinggal bersama keluarga kecilku. Aku selalu merasa sedih karena keluargaku tak pernah mau berpuasa, sholat, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan agama Islam padahal mereka beragama Islam. Aku bingung mengapa mereka menjadi seperti ini selama 5 tahun kebelakang, padahal dahulu mereka selalu beribadah dan tak pernah meninggalkannya. Dan sekarang kehidupan keluargaku ini menjadi terbalik. Yap, otakku kembali mengingat kejadian 5 tahun lalu yang membuat mereka seperti ini.
*flashback*


“Ayah... gimana ini anak kita? Udah 3 bulan tetap belum sadar dari koma nya.” ucap bundaku.
“Sabar bun. Riski pasti bakal sadar kok.” balas ayahku sambil mengusap lembut pundak bundaku.
“Iya bun. Kak Riski pasti secepatnya akan sadar kok.” tambahku untuk menenangkan bundaku.
“Ini semua gara-gara kamu Devi. Andai kamu tak mengajak Riski bermain-main di danau. Ia gak akan seperti ini.” bunda ku menyalahkanku
Aku hanya bisa terdiam karena dimarahi seperti itu. Aku merasa bersalah pada kakakku. Karna aku, kakakku jadi seperti ini. ‘Maafkan aku kak Riski’ ucapku dalam hati.
4 bulan...
5 bulann...
Kakak ku masih belum sadar dari koma nya. Aku semakin merasa bersalah dengan kakak ku. Andai waktu bisa terulang, aku tak akan mengajak kakak ku bermain ke danau, tak akan menyuruhnya untuk mengejarku yang berlarian dipinggiran danau. Sehingga, kakak ku tidak akan pernah terpeleset lalu terjatuh di danau dan sakit hingga sekarang ini. Sungguh, aku sangat menyesali tingkahku yang dulu.
Saat aku masih menyesali tingkahku. Aku samar-samar mendengar suara ayah dan bundaku sedang berbicara dengan seseorang di ruang tamu. Aku sedikit mengintipnya, betapa kagetnya aku karena seseorang yang berbicara dengan orang tuaku adalah seorang dukun dan mereka sedang membicarakan kakakku.
“Pak tolong anak saya yaa.. anak saya udah 5 bulan ini belum sadar dari koma nya.” aku mendengar bundaku meminta tolong pada seorang dukun
“Saya bisa bantu anda. Namun, anda tidak boleh menyembah Tuhan. Karena semua itu malah akan membuat anak anda semakin sakit dan bisa saja meninggal. Dan anda harus membayar saya 100 juta.” aku kaget mendengar ucapan dukun itu. Saat aku ingin membela bahwa Tuhanku itu tak seperti itu, ayahku dengan semangat mengucapkan
“Iya pak. Kami akan menurutinya, asalkan anak saya sembuh.” seketika aku lemas mendengarnya dan kemudian menangis.
Setelah percakapan itu, beberapa hari kemudian kak Riski benar-benar sembuh. Aku senang melihatnya tapi aku sedih karena kak Riski juga tak diperbolehkan beribadah pada Allah SWT lagi. Padahal yang sesungguhnya bukanlah dukun itu yang menyembuhkan kak Riski, namun Allah-lah yang menyembuhkannya.
Kak Riski sudah kembali ke rumah. Jadi, rumah kami kembali terisi penuh. Namun, entah mengapa semua terasa berbeda. Tak ada yang mengingatkan sholat, mengaji ataupun berpuasa. Aku sedih.
Pada awal ramadhan tahun ini, aku berniat akan membangunkan mereka agar mereka berpuasa dan melaksanakan kewajibannya sebagai umat agama Islam. Namun, aku malah mendapatkan cacian dari mereka. Kesedihanku semakin bertambah.
*flashback off*
‘Imsakkk, Imsakkk.. Bapak-bapak, ibu-ibu, adik-adik. Waktu untuk sahur sudah habis. Segeralah untuk menyelesaikan sahur kemudian bersiap ke masjid untuk sholat subuh.’
Aku tersedak. Secepat mungkin aku minum air putih yang berada di depanku. Aku baru sadar kalau sedari tadi aku melamun hingga makanan yang aku ambil sama sekali belum aku sentuh. Kemudian dengan cepat aku memakan beberapa sendok lalu minum dan setelah itu aku bersiap-siap untuk ke masjid.
“Assalamu’alaikum warahmatullah” sang imam menolehkan kepalanya ke sebelah kiri, dan aku mengikutinya. Sholat subuh sudah aku laksanakan dan aku sudah melangkahkan kakiku keluar masjid. Namun tanpa sengaja aku melihat brosur yang ditempel di papan pengumuman yang ada di masjid.
‘Lomba Tausiyah’ begitulah judul brosur tersebut. Aku merasa tertarik dengan tulisan itu, aku membacanya dan kemudian aku mengambil secarik formulir yang sudah disediakan.
Setelah aku sampai rumah, aku menuliskan beberapa tulisan yang perlu aku tulis didalam formulir itu. Aku sudah bertekad untuk ikut lomba tersebut, karena siapa tau aku bisa mengubah keluargaku seperti dulu.
--^^--
Ini adalah hari dimana aku harus mengikuti lomba itu. Aku merasa sangat gugup, aku belum pernah bertausiyah, belajar bertausiyah pun belum pernah. Berbekal tekad dan keinginan yang perlu aku wujudkan secepatnya, aku meyakini bahwa aku harus bisa memenangkan lomba tausiyah ini.
‘Aku harus bisa!! Bismillahirahmannirohim.’ Kataku dalam hati
Salah seorang panitia memanggil namaku. Tandanya aku harus segera masuk ke suatu ruangan yang didalamnya terdapat beberapa juri yang tak ku kenal dan kemudian aku akan bertausiyah di hadapan mereka.
“Assalamualaikum.” aku mengucap salam saat memasuki ruangan yang sangat asing bagiku.
“Waalaikumsalam.” ketiga juri itu membalas salamku. Aku tersenyum sebagai ucapan terimakasihku karena mereka membalas salamku.
“Coba sebut nama, umur dan asal kamu.” seorang juri yang paling cantik menyuruhku untuk memperkenalkan diri.
“Nama saya Devi Nur Oktaviani. Umur saya 17 tahun dan asal saya dari Semarang.” aku memperkenalkan diriku dan kemudian tersenyum kembali.
“Mengapa kamu mengikuti lomba ini?” tanya juri laki-laki yang berambut putih.
“Karena saya ingin mengembalikan keluarga saya ke jalan Allah.” jawabku dengan perasaan yang sedikit sedih.
“Ohh, tujuannya sangat mulia.” balas juri laki-laki yang lain. Yang menurutku lebih muda dari yang tanya kepadaku tadi.
“Kalau gitu silahkan mulai tausiyahnya.” ucap juri perempuan itu dan aku mengangguk.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh” aku mengucapkan salam untuk memulai tausiyahku yang bertema putus asa. Kurang lebih 5 menit aku menyampaikan tausiyahku. Dan akhirnya aku mengucapkan..
“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh” ini adalah tanda dimana aku sudah selesai bertausiyah. Dan aku sangat kaget karena semua juri bertepuk tangan sambil berdiri dan tersenyum kepadaku.
“Wow. Tausiyah yang bagus.” Pujian dari laki-laki berambut putih itu.
“Ya, Saya setuju. Ia sangat pintar dalam menyampaikannya. Semoga kamu menjadi juara.” Aku mendapat pujian lagi dari juri perempuan.
“Kami sepakat, kamu lolos, kamu masuk 10 besar. Dan lusa kamu akan tampil di depan banyak orang. Jadi, persiapkan dirimu sebaik mungkin.” Sungguh, aku tak pernah menyangka akan mendapatkan ini. Aku berterimakasih kepada mereka dan kemudian pulang ke rumah dengan perasaan yang sangat bahagiaa.
--^^--
Dua hari terasa sangat cepat bagiku. Meskipun aku sudah yakin bahwa aku sudah siap, tapi tetap saja aku merasa gugup. Aku sekarang berada di belakang panggung, aku mengintip dan aku menemukan banyak sekali orang. Tapi aku tak menemukan kedua orang tuaku dan kakakku. Aku merasa sangat sedih, namun aku tak boleh patah semangat karena mereka tak melihatku.
“Mari kita panggil peserta pertama. Devi” pembawa acara diatas panggung sana memanggil namaku.
Aku berjalan menuju panggung dan juga tak lupa aku tersenyum kepada semua penonton serta juri. Saat ini aku benar-benar merasa gugup. Aku berdoa dalam hatiku agar aku dilancarkan dalam bertausiyah kali ini.
“Silahkan Devi.” aku mengangguk saat pembawa acara tersebut mempersilahkanku.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.” seperti biasa, aku mengucapkan salam untuk memulai sebuah tausiyah. Dan kali ini semua orang yang berada disini membalas salamku. Aku merasa senang sekali bisa berada disini.
Dalam 10 besar ini aku membawa tema kemuliaan seorang ibu. Di dalam tausiyah yang aku suguhkan, aku mengambil sepenggal cerita dari bundaku. Cerita ketika aku di didik olehnya dan cerita-cerita tentang kesabaran bundaku saat merawatku.
“Akhirussalam. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh” aku menutup tausiyahku.
Aku terkejut, ini kedua kalinya para juri tepuk tangan sambil berdiri kepadaku. Aku hanya bisa mengucap terimakasih kepada mereka.
--
Semua peserta sudah tampil diatas panggung sana. Sekarang saatnya juri mengumumkan siapa yang akan masuk di Grand Final minggu depan. Aku gemetaran berdiri diatas panggung, tanganku berkeringat, aku takut kalau aku tidak bisa mewujudkan keinginanku. Aku sangat takutt.
“Yang berhak masuk ke Grand Final adalah..” juri perempuan itu memenggal kalimatnya. Dan itu membuat tanganku tambah berkeringat serta jantungku berdetak lebih kencang.
“Devi, Ridho dan Daud. Selamat untuk kalian bertiga dan untuk yang lain jangan berkecil hati, kalian harus tetap bertausiyah dimana saja.”
Aku bersujud mendengar namaku dipanggil. Aku tak menyangka semua ini. Ucapan syukurku hanya untukmu Ya Allah.
--^^--
Keesokan harinya aku melihat bundaku pergi keluar membawa keranjang sayur. Mungkin ia akan berbelanja. Pikirku. Aku ingin membantunya, tapi aku takut kalau ia akan memarahiku, menolak pertolonganku seperti beberapa waktu silam. Aku sangat takut melihat ekspresi wajah bundaku yang memancarkan kemarahan. Akhirnya aku urungkan niatku untuk membantu bundaku berbelanja.
--
Bunda Devi POV
Aku melihat anak perempuanku menatapku, aku tau kalau ia ingin membantuku namun ia takut kalau aku akan memarahinya seperi beberapa waktu yang lalu. Sedikit tak tega melihat anak perempuanku satu-satunya menatapku dengan ekspresi takut. Apakah waktu itu aku sudah melukai hati anakku?? Ya, itu pasti melukai hatinya. Karena saat itu aku benar-benar memarahinya, mengeluarkan berbagai kata-kata kotor yang seharusnya tak aku ucapkan pada anak perempuanku itu. Sekarang aku menyesal, anakku benar-benar takut padaku.
‘Maafkan bundamu nak’ ucapku dalam hati mengingat segala kejadian-kejadian yang melukai anak perempuannya itu.
“Bu, beli sayur sop komplit, tahu sama tempe yaa.” ucapku pada seorang penjual setelah aku sampai di pasar.
“Iya bu. Bentar yaa.” balas penjual itu.
“Kemarin itu Devi bener-bener bagus yaa penampilannya. Aku gak pernah menyangka diumurnya yang masih muda dan kehidupannya yang tak pernah menyenggol pondok pesantren itu penampilannya sangat bagus” aku mendengar beberapa pembeli menggosip. Aku tak tau siapa Devi yang mereka maksud. Apakah itu Devi anak perempuanku atau bukan.
“Eh bu, ibunya Devi kan? Anak ibu pinter banget yaa. Andai aku punya anak seperti Devi. Aku pasti sangat bangga padanya.” ucap salah satu ibu-ibu itu kepadaku. Brarti Devi yang mereka maksud adalah Devi putriku. Apakah dia benar seperti yang ibu-ibu tadi bicarakan? Kalau iya, memang dia mengikuti apa sehingga ia menjadi bahan pembicaraan ibu-ibu ini? Huh, aku memang bunda yang tak perhatian kepada anaknya.
Saat aku berusaha mengingat-ingat. Ahh iya, aku ingat. Kemarin kan anakku memintaku untuk melihat ia bertausiyah di Masjid Agung Semarang. Tapi aku tak tau mengapa ia bisa bertausiyah disana?.
“5 hari lagi Grand Final. Aku bakal ke Masjid Agung lagi untuk melihat penampilan Devi yang sangat menarik itu.” aku mendengar ibu-ibu itu bergosip lagi. 5 hari lagi? Apakah itu semacam lomba tausiyah? Ya, itu pasti lomba. Karena tidak mungkin ada Grand Final kalau itu bukan lomba.
“Bu, ini belanjaannya.” ucap penjual itu mengagetkanku. Aku baru sadar kalau aku melamun. Dengan cepat aku membayar kemudian aku pulang.
--^^--
Lima hari begitu terasa cepat bagiku. Apakah orang tuaku akan datang dan melihatku di Grand Final nanti jika aku memintanya? Aku tak yakin mereka akan datang. Maka aku memutuskan bahwa aku tak akan memintanya untuk datang.
Aku berangkat menaiki taksi menuju Masjid Agung. Sungguh aku begitu kaget. Penontonnya semakin banyak. Namun aku harus tetap semangat, aku harus membuktikan yang terbaik untuk semuanya.
Saat ini waktunya aku tampil, kali ini aku tampil terakhir. Dan seperti seminggu lalu, aku merasa gugup, namun semangatku tak akan luntur karena mengingat diluar sana banyak sekali yang mendukungku.
Aku tampil seperti biasanya, namun kali ini aku membawakan tema ‘Dukun tak bisa mengalahkan kehebatan Allah SWT’. Tausiyahku ini juga aku ambil pada pengalaman hidupku. Dan aku terkejut saat pertengahan tausiyahku, aku melihat ayah bunda dan adikku berdiri diantara penonton-penonton. Aku tersenyum kepada mereka dan aku melihat mereka membalas senyumku. Aku sangat merasa senang.
“Ayah, Bunda, Kak Riski. Devi hanya minta satu hal kepada kalian. Kembalilah ke jalan Allah, kembalilah seperti saat aku kecil dulu. Aku hanya ingin keluarga kita menjadi keluarga yang sholeh dan sholehah.” aku mengucapkan keinginanku diakhir tausiyahku dan tanpa ku sadari, aku meneteskan air mata.
Aku melihat banyak sekali penonton yang juga meneteskan air mata. Mungkin mereka ikut merasakan apa yang aku rasakan. Beberapa detik aku mengusap air mataku, dan saat mataku sudah kembali normal, aku tak melihat orang tua dan kakakku lagi. Mereka kemana? Tanyaku dalam hati.
--
Semua peserta sudah berada diatas panggung, menunggu pengumuman dari para juri. Aku yakin, Ridho dan Daud juga merasakan apa yang aku rasakan.
“The winner is.. Devi Nur Oktaviani.” aku terkejut. Benarkah aku yang menang? Ya Allah Terimakasih. Aku bersujud kurang lebih 2 menit lamanya untuk mengucap rasa syukurku kepada Allah SWT yang telah memberikan nikmat ini kepadaku. Saat aku berdiri, aku melihat 3 orang yang tak asing di mataku berada di samping kanan dan kiriku.
“Ayah, Bunda, Kak Riski” aku memanggil mereka kemudian memeluknya. Sudah lama aku tak memeluk mereka. Aku merasakan ada yang mengusap kepalaku dan aku yakin itu adalah tangan Kak Riski.
“Kita bertiga akan menuruti keinginanmu putriku. Kita sekarang sadar bahwa Allah-lah yang memberi semua nikmat ini. Terimakasih sudah menyadarkan kita.” ucap ayahku dan kemudian ia mencium keningku.
--
‘Di Bulan Ramadhan ini, awalnya aku memang merasa sedih, namun di hari ke 24 ini aku sangat bahagia. Keluargaku sudah kembali seperti dahulu. Terimakasih Ya Allah. Engkau telah memberikanku jalan dalam menghadapi cobaanmu ini. Aku sangat mencintaiMu.’
Aku menuliskan kalimat-kalimat itu di dalam buku diaryku. Sudah lama aku tak menulis di buku itu mengenai perasaanku dan sekarang aku kembali menuliskannya.
Hari-hari setelah hari itu, aku selalu merasa bahagia. Tak pernah ada rasa takut dimarahi ataupun rasa takut lainnya. Yang ada hanya rasa sayang yang terus menerus mereka berikan kepadaku. Mereka sudah kembali seperti dulu.
--Selesai—
‘Tidak akan ada orang yang memiliki kehebatan seperti Allah SWT. Maka janganlah kamu melakukan perbuatan yang dilarang Allah karena itu membuat dirimu sendiri menjadi rugi. Ingatlah, bahwa Allah sudah mengatur segalanya’ –Author-

Komentar

share!