Kepedihan di Ujung Ramadhan




Karya:  Nia Wijaya

Penyesalan selalu datang terlambat.
Terkadang aku membenci perasaan itu, dimana rasa kesal serta sedih menjadi satu membuat dimensi tersendiri didalam hati—memporak-porandakan hati menjadi hancur berkeping-keping. Ini bukan kali pertamanya penyesalan yang kualami, hampir setengah tahun berlalu perasaan menyesal selalu menggelayuti hatiku. Sepotong kenangan pahit selalu menghantui langkahku, ini sangat menyakitkan lebih menyakitkan ketimbang luka yang ditaburi garam.


Takbir berkumandang pertanda hari kemenangan telah tiba, suara teriakan anak kecil silih berganti turut menghiasi malam kegembiraan tahun ini. Tapi aku sama sekali tidak berniat untuk merayakannya semakin aku menginginkan hari kemenangan itu datang hatiku semakin terasa  sakit. Aku tahu ini sangat aneh tapi inilah kenyataanya yang sedang kualami. Aku terjebak dalam sebuah perasaan yang menyakitkan sehingga tidak dapat bangkit dari keterpurukan.
Terlebih untuk menantikan hari esok tiba rasanya aku ingin menghentikan waktu saat ini juga—memperlambat kebahagiaan di akhir bulan Ramadhan. Bahkan aku tidak menginginkan bulan Ramadhan datang lebih cepat daripada yang kubayangkan.

**
Enam bulan yang lalu ketika sebuah kisah pahit mulai menghancurkan perasaanku.
Bagaimana caranya agar aku bisa dekat dengan Ayahku?
Pertanyaan itu kerap sekali memenuhi pikiranku tapi aku tidak menginginkan jawabannya. Banyak hal yang tidak dapat kulakukan agar aku dekat dengan sosok Ayahku. Mungkin sifat kami sama-sama keras sehingga tidak akan pernah bisa bersatu. Sejujurnya aku sedikit canggung dengan Ayahku sendiri—kepribadianku yang dingin cenderung memperburuk suasana.
Entah mengapa aku sangat membenci Ayahku. Sejak aku mengerti sebuah masalah rumah tangga antara kedua orangtuaku aku semakin membencinya—menyalahkan jika itu adalah murni kesalahan Ayahku.
Saat itu aku berumur 12 tahun tepatnya saat acara perpisahan sekolah. Hari sebelumnya aku meminta kedua orangtuaku untuk datang hanya saja saat itu Ibuku masih bekerja sehingga Ayahku yang akan datang. Aku terus menunggunya hingga siang hari tapi aku sama sekali tidak melihat kehadiran Ayahku.
Pak Joko, selaku wali kelasku bertanya tentang keberadaan orangtuaku. Aku hanya menggeleng pelan sesekali mengedarkan pandanganku secara liar—mencari-cari seseorang yang sedang kunantikan.
Hari ini adalah pengumuman juara sekolah. Aku tidak dapat berkonsentrasi kembali, pandanganku sama sekali tidak terlepas dari pintu kelas menanti sosok Ayah yang kunantikan. Hingga sebuah pengumuman mengejutkanku sekaligus membuatku bahagia. Aku mendapat peringkat pertama parallel dan diminta maju kedepan.
Ketika aku menerima piala serta sebuah amplop dengan kedua temanku yang lain dan diminta untuk berfoto dengan kedua orangtua masing-masing aku hanya tersenyum hambar—aku bahkan berdiri sendiri tanpa kedua orangtuaku. Pak Joko menatapku iba, tangannya bergerak mengusap lembut kepalaku seolah menegaskan ‘tidak apa-apa, semuanya akan baik-baik saja’. Beberapa orang dibangku depan terlihat menangis—bahkan disaat itu aku juga ingin menangis, entah untuk alasan apa mereka menangis mungkin mereka bangga sekaligus kasihan kepadaku tapi hari ini aku ingin tersenyum membuang jauh perasaan sakit hatiku.
Sejak saat itu aku mulai membenci Ayahku bahkan aku tidak ingin melihat wajahnya lagi. Hanya karena seorang wanita penghibur ia dapat melupakan hari terpentingku. Bahkan disaat itu keluargaku diambang kehancuran. Seiring dengan berjalannya waktu perasaan itu tidak dapat dihilangkan.
Aku lebih memilih marah ketika Ayahku berusaha menasihatiku—tidak merespon dengan baik segala tutur katanya. Tidak peduli dengan keadaanya bahkan sering kali mengabaikan setiap perkataannya walaupun demi kebaikanku sendiri.
Ini memang keterlaluanaku menyadari jika ini sudah keluar dari batas tapi bagaimanapun aku tidak dapat memperbaiki sesuatu yang sudah terlanjur kulakukan. Aku membenci Ayahku sendiri.

Seperti hari sebelumnya, keluargaku tidak dalam keadaan yang baik. Uang adalah penyebab segalanya. Ayahku yang hanya bekerja sebagai kuli bangunan tidak mendapat gaji yang sesuai sedangkan beban keluarga bertambah apalagi ibuku telah berhenti bekerja semenjak setahun belakangan.
Hari itu aku merasa hari tersialku, moodku tidak dalam keadaan baik. Ditambah lagi panas matahari serasa membakar kulit hingga sedikit menggoyahkan iman berpuasaku. Ini adalah Ramadhan ke-20. Sudah sejauh ini, pikirku sehingga aku akan berjuang hingga akhir.
“Assalamualaikum.” Ucapku nyaris tidak terdengar karena saking lemasnya. Kulihat Ayahku tidak menjawab salamku tapi aku tidak terlalu memedulikannya. Langsung nyelonong masuk ke kamar.
“Dina, nanti kalau capeknya sudah hilang ibu tolong belikan telur seperempat ya nak.” Kata ibuku halus sedangkan aku hanya mengangguk malas sambil berbaring di kasur.
Merasa tidak memberikan jawaban ibu kembali memanggilku akhirnya dengan malas aku berteriak kesal, “Iya, nanti bu.”
Ayahku yang baru saja melewati kamar ikut berbicara, “Sana berangkat! Orang kok kerjaannya Cuma tiduran. Kalau nggak kuat puasa nggak usah puasa.” Bentak Ayahku membuatku terbangun dari ranjang.
“Apaan sih, Yah? Nanti juga Dina beliin, nggak usah sok peduli sama Dina lagipula lebih baik Dina yang mau berpuasa dari pada Ayah!” Teriakku tidak kalah keras.
“Anak jaman sekarang itu memang kurang ajar kalau dikasih tahu bukannya diam tapi mbantah.” Emosiku semakin meluap akhirnya dengan perasaan kesal aku berjalan keluar menuju warung sambil menggerutu tidak jelas. Sekembalinya di rumah aku segera membanting pintu kamarku menguncinya dan mematikan lampu. Samar-samar aku mendengar perdebatan kecil Ayah dengan Ibu kemudian disusul suara motor yang semakin menjauh. Aku tahu jika seperti ini Ayahku memilih pergi dari rumah kemudian aku tidak mendengar apapun lagi karena tertidur.
Suara ketukan pintu kamar mengejutkanku dengan mata setengah terbuka aku menatap pintu dengan kening berkerut samar. Suara adzan berkumandang kemudian suara ibu mulai terdengar “Dina bangun nak, buka pintunya.”
Ah, sudah maghrib rupanya. Pikirku masih belum beranjak.
“Bangun, nak. Cepat buka pintunya.” Suara ibu kian mendesak tapi kali ini terdengar berbeda lebih terdengar parau seperti usai menangis, “Dina, Ayah kecelakaan. Ayo buka pintunya nak kita harus ke rumah sakit.” Tubuhku membeku, otakku tidak dapat bekerja sepenuhnya untuk memahami setiap perkataan ibu hingga tanpa sadar airmata menetes dipelupuk mataku.
Suara derap langkah semakin membuat hatiku berdebar—aku takut sesuatu telah terjadi. Kudengar ibuku memanggil nama pamanku bertanya dengan nada khawatir dan sendu, “Piye Di?”
Yadi menghela napas pelan sebelum berbicara, “Mas Adji sampun boten wonten mbak.”
Tenggorokanku tercekat seiring dengan tubuhku yang menegang sempurna bahkan debar jantung terdengar sampai ditelinga, hatiku sakit seperti tertusuk oleh ribuan paku. Aku tidak percaya Ayah pergi begitu cepat bahkan aku masih merasakan kehadirannya disampingku.
Ditengah kegelapan aku memeluk tubuhku sendiri merasakan hawa dingin yang entah sejak kapan mulai menusuk kulit bahkan untuk sekadar menghirup oksigen rasanya menyakitkan.
Ayah, aku bahkan belum meminta maaf kepadamu. Belum menyampaikan rasa terima kasihku atas jasa-jasamu. Sesungguhnya aku sangat menyayangimu lebih dari yang kau pikirkan.

Untuk yang terakhir kalinya aku melihat jasad Ayahku. Melihat beliau yang terlelap dengan damai dan mencium kening keriputnya. Menyesali setiap perbuatan yang telah kulakukan bahkan tidak mampu membahagiakan beliau hingga akhir hayatnya.
Ya Allah haramkan api neraka untuk Ayahku.

***
Ini adalah tahun ketiga setelah kepergian Ayah. Melihat semua orang saling meminta maaf hatiku terasa sakit. Membuka luka lama dihatiku memunculkan perasaan menyesal yang tidak pernah hilang seiring dengan waktu.
Sebuah tangan menyentuh bahuku ketika aku menoleh ibu sedang tersenyum kepadaku. Tangannya beralih membelai rambutku dengan lembut dan penuh kasih sayang.
“Ibu yakin jika Ayah sudah menerima maafmu. Mungkin Ayah sedang tersenyum karena setiap hari mendengar doamu. Bergembiralah nak di akhir Ramadhan ini. Sesungguhnya kita diwajibkan untuk merayakan hari kemenangan dengan kebahagiaan.”
Mata teduh ibu seolah memberiku sebuah kekuatan tersendiri untuk kembali berdiri tegak. Mengembalikan sebuah semangat yang telah menghilang. Bagaimanapun sebuah kehidupan akan tetap berjalan meninggalkan sebuah kenangan didalamnya.

Ayah, mulai sekarang aku akan menjadi anak yang lebih baik lagi. Seperti yang Ayah inginkan. Hanya dengan doa yang dapat kupanjatkan untuk mengiringi langkahmu. Semoga kau tenang disisi-Nya dan ditempatkan dalam surgaNya.

Selesai.

Komentar

share!