Kentut Oh… Kentut




Karya:  Laura Azzahra Purnomo

Dud… singkat, padat, dan jelas bunyi itu sukses membatalkan sholat maghribku. Yak, ini sudah ketiga kalinya aku kentut, rasanya itu sakit banget… bolak – balik wudhu dan akhir – akhirnya tetep sama. Kentut. Ini adalah problematika yang sering kita hadapi ketika sholat, pas sebelum wudhu kita nungguin lama banget “kapan kentutnya keluar?” pas kita yakin kita nggak bakalan kentut, eh pas udah wudhu dengan santainya kentut itu keluar “buss…” tak ada suara, tanpa rasa bersalah, dan sukses membuat kita jengkel. Pliss deh!, SAKITNYA TUH DISINI!!!.


Dengan perasaan masih jengkel, aku berjalan ke arah kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Tak berapa lama, aku kembali lagi dan melanjutkan sholatku yang tadi batal. Rakaat pertama lancar, rakaat kedua juga lancar, rakaat ketiga inilah yang menjadi saat – saat penentuan. Kentut, kentut, aku mau kentut, plis tahan dulu sebentar biar sholatnya selesai dulu. Ya saudara – saudara kentut pun siap untuk keluar, sudah sampai di takhiyat akhir nanggung kalo kentut lagi. Aku pun hanya bisa menahan dan menjerit – jerit dalam hati “kentut pliss, jangan keluar dulu. Kasihanilah aku yang udah empat kali batal”. Setelah berjuang keras melawan kentut, akhirnya sholat maghribku pun selesai. Yak, selesai tanpa dzikir dan doa sesudah sholat, karena habis salam aku langsung kentut.
“Lala!, kamu nggak tarawih?” teriak mamaku entah dari mana karena tiba – tiba sudah terdengar teriakan mamaku. Aku melipat mukenahku, dan tak lupa aku selipkan sebuah buku untuk kubaca nanti di masjid sambil menunggu adzan.
“Iya, ini mau berangkat” aku teriak tapi nggak tau orangnya dimana.
“Kalo berangkat, adikmu diajak juga” ucap mamaku yang ternyata ada di ruang tamu lagi nonton drama korea. Hah! Aku disuruh berangkat bareng adekku. Oh tidak! Ya Allah, ringankanlah cobaan hambamu ini. Kalau dilihat – lihat hubunganku dengan adikku nggak ada harmonisnya sama sekali, kalo ketemu ujung – ujungnya bertengkar. Aku sebagai kakak selalu disuruh mengalah sama orang tua padahal dia yang mulai dulua, dan adikku malah memanfaatkan momen itu untuk mengintimidasiku. Dan aku hanya bisa menghela nafas dan bersabar, dan berkata dalam hatiku “Tunggu saja. nanti jika saatnya tiba aku akan membalas dendam hahaha *ketawa jahat”. Saat orang tuaku sedang pergi berdua, aku dan adikku nggak diajak itulah saat yang tepat untuk membalaskan dendam yang telah lamaku simpan hingga saat ini hahaha *ketawa jahat (lagi). Sayangnya akhir – akhir ini mama dan papaku jarang pergi berdua, dan itu membuatku tidak bisa membalaskan dendamku hiks hiks *nangis sambil nelen tissu sekotak.
Okeh, stop dulu nangisnya karena udah jam setengah tujuh sebentar lagi mau adzan. Dan disinilah aku sekarang berjalan di bawah sinar bulan purnama, dan ditemani oleh sesosok anak kecil bertubuh kurus, pendek, berambut cepak. Tuyul? (yah, bukanlah) tapi adikku yang selalu bertindak seperti bos yang selalu mengintimidasi bawahannya dan aku hanya bisa bersabar, bersabar menunggu saat yang tepat tiba, saat yang tepat untuk membalas dendam tapi sayangnya saat itu tidak pernah datang.
“Mbak, mbak Lala” panggil Adam sambil mencolek – colek pundakku.
“Nggh…” jawabku yang masih terfokus membaca buku sambil berjalan.
“Lihat ke arah sini, deh!” ucapnya sambil menarik – narik bajuku.
“Apa sih!” balasku yang sudah mulai kesal, lalu aku pun menoleh kebelakang
“Ah!!!” teriakku kaget, ketakutan, semua menjadi satu. “Jijik!” Adikku membawa kecoa yang di ayun – ayunkannya ke kanan dan ke kiri, lama kelamaan adikku semakin mendekat. Aku pun langsung lari sekencang kencangnya.
Sesampainya di masjid.
“Huh!, aman” gumamku sambil menoleh ke kanan dan ke ke kiri tukang becak pun lari, kereta tak berhenti becak, becak tolong hati – hati (lho, kok malah nyanyi?) setelah mencari – cari ternyata adikku belum sampai. Aku pun langsung menuju ke atas ke tempat perempuan sholat, aku mengambil tempat yang dekat dengan kipas angin (hehe, biar nggak gerah). Kugelar sajadahku dan tak lupa aku mengambil air wudhu lagi, semoga saja nanti tidak kentut lagi. Amin. Setelah berwudhu kupakai mukenahku, dan kubaca bukuku yang tadi sambil menunggu adzan.
Tak berapa lama, adzan pun berkumandang kututup bukuku dan kutaruh dibalik sajadahku. Kudengarkan baik – baik suara adzan isya’ yang mengalun denga merdu, setelah adzan jamaah masjid melaksanakan sholat sunnah rawatib. Terdengar suara iqomah yang artinya sholat segera dimulai, para jamaah pun berdiri dan membaca niat sholat isya’. Allahu Akbar. Sholat isya’ berjalan dengan lancar dan khidmat, dan yang paling penting aku tidak kentut. Sholat tarawih pun dimulai, rakaat demi rakaat sholat aku lalui dengan lancar tapi kendala terjadi saat rakaat keduapuluh, rakaat terakhir sholat tarawih. Perutku mulai bermasalah lagi, dan kentut pun dengan menggebu – gebu ingin segera keluar. “Aduh nanggung nih!, habis ini kan selesai” ucapku dalam hati. Akhirnya dengan sekuat tenaga aku menahan kentutku sampai sholat tarawih dan witirnya selesai. Setiap detik aku lewati dengan penuh perjuangan menahan kentut, aku hanya bisa menjerit – jerit di dalam hati. “Ya, Allah ringankanlah cobaan hambamu ini hiks hiks” tangisku dalam hati. Sholat witir pun dimulai, aku masih bisa menahan kentut ini tapi saat di tengah – tengah sholat kentut ini menjadi semakin kuat. Aku pun tak bisa menahan kentut ini lagi dan akhirnya.Brot!. Bunyi itu menghancurkan segalanya, bunyi itu sangat nyaring mungkin semua jamaah yang ada di ruangan ini mendengarnya, dan mereka berusaha untuk kembali terfokus pada sholatnya. Ya, Allah cobaan apalagi ini, untung aku berada di tempat paling pojok dan terpencil, aku menoleh ke kanan dan ke kiri. Sepertinya semuanya masih fokus sholat, tiba – tiba tercium bau tidak sedap. “Astaghfirullahaladzhim, baunya nggak enak. Ya, Allah cobaan apa lagi ini” batinku. Baunya pun mulai tercium, aku terdesak sekarang, Lala ayolah gunakan otakmu berpikirlah, otakmu sangat dibutuhkan sekarang. Akhirnya timbul pemikiran yang enggak – enggak dari otakku.
  1. Gimana nanti, kalau semua orang tau kalau aku yang kentut. Tapi mereka pura – pura nggak tau, terus mereka ngomongin aku yang enggak – enggak, dan akhirnya gosipnya sampai ke telinga mamaku, mau di taruh dimana mukaku!.
  2. Gimana kalau mereka memergoki aku yang kentut, terus aku dihujat orang semasjid, terus aku kena serangan jantung dan akhirnya mati, dan besok beritanya masuk koran “Seorang anak ditemukan tewas terkena serangan jantung setelah dipergoki kentut di masjid”.
Tidak!, mau ditaruh dimana nama baik keluargaku. Aku pun hanya bisa pasrah terhadap kenyataan ini, biarlah Allah yang mengatur semuanya. “Assalamuallaikum warohmatullah” setelah selesai salam aku hanya bisa berdoa dan berpura – pura bukan aku pelakunya. Semuanya masih sibuk berdoa, sepertinya mereka nggak tau kalau aku yang kentut, ada kelegaan di hatiku. Lalu ibu – ibu di depanku menoleh kebelakang dan berbisik padaku “Nduk, lain kali kalau kentut kecilin sedikit volumenya”.

Komentar

  1. Lucu nih....
    Semangat terus ya laura
    Ini dari secret admirer mu...
    Hihi

    BalasHapus

Posting Komentar

Silakan berkomentar :)

share!