“Kenalkan, namaku, Khofiyya Najma Qomariyya,”




Karya:  Latifah Fika


Papa mengirimku ke rumah nenek liburan satu bulan ini setelah ujian kenaikan kelas. Sudah seperti di sinetron-sinetron saja. Dan benar, aku pun tak menyukai cara papa mengirimku ke desa. Ya! Desa!
“Katanya, kalau Ofi dapat juara pararel akan ada hadiah liburan menarik? Mana Pa? kenapa ke desa. Ya.. enggak papalah ke rumah nenek. Tapi untuk mengunjungi saja, sama Papa, Mama, juga Kak Rey. Tapi ini? Aku sendirian dan tinggal disana selama sebulan? Ayolah Pa, itu liburan lamaku..” protesku sambil merengek sekaligus merayu usai makan malam dan masih di meja makan.


“Ofi, kamu nanti akan tahu, apa menariknya di sana, di desa,” jelas papa singkat. “Hitung-hitung menemani nenek yang sudah ditiinggal kakek,”
“Kenapa kita nggak ke luar negeri aja bareng-bareng? Ofi pengen beli baju sama tas keluaran terbaru di..”
“Kamu tahu, kan sayang? Mama sama Papa akan ke luar negeri,”
“Tuh, kaan?!!!” jelas aku memprotes.
“Untuk ke Arab, Fiy,”
“Mau ngapain? Jadi TKI?”
“Kita akan umroh,”
“Umroh?”
Mama dan papa mengangguk. Aku terkejut bukan main. Tapi kak Rey, biasa saja. Pasti dia sudah tahu semuanya. Aku pernah mendengar kata itu, ya, umroh.. temen muslimku pernah membawakan oleh-oleh setelah orang tuanya umroh.
“Itu kan yang dilakukan orang islam, Ma, Pa,”
“Kami sudah masuk islam, Fiyy, maaf kami belum memberi tahu kamu, kemarin lusa, kami bersyahadat di masjid besar,” kata mama pelan.
“Karena kami ingin memperkenalkan kepadamu terlebih dahlu sebelum mengajak kamu,” tambah papa.
Aku hanya bisa menggelengkan kepala. “What? Masuk islam? Ma, aku sudah membuat orang islam masuk agama kita, kenapa.. Are you sure Ma?”
Mama mengangguk lagi sambil tersenyum. “Besok di liburan hari pertama, Mama sama Papa akan umroh ke Arab, dan kak Rey akan memperdalam agama islam ke sebuah kota pokoknya, lalu akan ke Eropa untuk menjelajahi islam disana, tapi pulang juga harus membawa hasil ilmu,”
“Arab, luar kota, dan Eropaaa?? Ma?” aku tak percaya dengan penuturannya. “Dan, kak Rey juga masuk islam?” tanyaku terheran-heran. Benarkah? Ini keyakinan kita, semudah itukah? Tapi aku sama sekali belum tahu apa itu islam sebenarnya. Yang kupegang ini, ya, ini agamaku, keyakinanku. “Ada apa dengan kalian?”
“Kamu jalani dulu, ya? Setelah itu, terserah kamu,” tambah papa. Tentu aku tak berani berkelit jika dengan papa.
Papa, seorang pengajar dan pembicara di gereja yang selalu mengajariku bernyanyi selama ini, tiba-tiba?
“Tapi ingat! aku bukan……………………….” Semua terdiam. “Ya! Mungkin desa, besok, bisa bikin aku bangun dari mimpi konyol ini!” aku menghentak dan meninggalkan meja makan. Kembali ke kamar.
***
Aku tahu liburan hari pertamaku ini bertepatan dengan dua hari sebelum bulan puasa. Aku tahu itu. Dan pagi ini mama mengetuk pintu kamarku. Aku kaget bukan main, mama memakai jilbab. Apa aku belum bangun, hey?
 “Bawa pakaianmu yang pantas, kamu tahu dong, Fiyy, di desa kan norma dijunjung tinggi,” ujar mama di pintu. Menyuruhku berbenah karena sore ini aku akan segera dikirim ke desa. Bukankah itu terdengar menyebalkan sementara anggota keluargamu pergi ke luar kota dan luar negeri? Sedang aku? Dari kota metropolitan ini dikirim seenaknya ke pelosok?
Aku hanya memandangnya terhenyak. Are you sure, Ma? Baju yang Ofi punya seperti ini semua. Seperti yang kukenakan bangun tidur ini, celana pendek dan baju lengan pendek. Bawahan terpanjangku adalah rok sekolah, di bawah lutut. Itu saja!
“Ma, Ofi nggak punya, yang Ofi punya pakaian trendi, dan ini tuh, fashion Ma! Apa mama lupa? Ini semua dibeli saat belanja dengan mama,” aku sedikit jengkel.
Barang beberapa menit, mama datang membawakan setumpuk pakaian ‘sopan’. Ingin rasanya aku berteriak di telinga mereka. Kalian kemasukan apa? Kesambet apa? Ayo! Bangunlah!
“Apa sudah siap?” tanya papa menyusul ke kamarku yang terdekor keindahan langit. Bulan dan bintang.
Aku menengok. “Masih nanti sore, kan? Apa Ofi boleh main sama temen dulu?” tawarku.
“No! nanti kamu kabur, ini menyenangkan sayang, desa itu rumah papa sewaktu kecil. Ayolah anak pandai,”
“Papa jangan merayu Ofi,” tolakku menghempaskan tubuh ke kasur. Ereka meninggalkanku setelah pesan papa menyuruhku berganti pakaian karena sopir sudah siap. Dengan alasan pula agar tiba tepat waktu. Hello? Tepat waktu apanya?
***
Aku hanya tertidur selama di perjalanan. Kusumpal telingaku dengan headset dan memutar lagu-lagu.
Kumuh, menjijikkan, kamseupay, ternyata di desa nenek ini sedikit mendingan. Mobil dihentikan sopir papa di sebuah gang. Aku dimintanya turun. “Yang benar saja, Pak? Aku nggak tahu rumah nenek, Pak!”
“Emang kalau liburan nggak pernah kesini, Non?”
“Pernah, sih, tapi aku tidur sampai halaman rumah nenek. Pak anterin dong,”
“Non masuk gang ini saja, nanti akan tahu halaman rumah nenek, berarti itu rumah nenek Non,”
Aku menyernyitkan dahi. Sopir ini kenapa sih? Menyebakan!
Aku menarik koperku. Hanya sebuah koper besar, dan baju ‘sopan’ yang kupakai ini. Dan sopir menyebalkan itu membuatku ingin marah! Dia meninggalkanku!!
Mentari hampir tenggelam. Langit mulai menjingga. Sungguh, kau belum pernah melihat pemandangan langit seperti ini. Dan di bawahnya hamparan sawah menambah keondahannya. Biasanya, sore seperti ini aku sudah bersiap jalan keluar sama geng aku.
Halaman dengan banyak bunga, sepertinya aku kenal. Aku mencoba menginjakkan kaki. “Nenek..” panggilku setelah mengenali pintu rumah ini.
Pintu itu terbuka. Ada nenek menyambutku. “Ofi sayang,” nenek langsung memelukku. Ini dia, meski tinggal di desa, nenekku yang satu ini sedikit tgaul dan modis. Terlihat masih segar dan muda. Bisalah, untuk membuatku sedikit nyaman untuk tinggal disini. Nenek mengajakku masuk sambil bercerita panjang lebar tentang kedatanganku yang sudah dikonfirmasi oleh papa. Aku heran dengan orang dewasa.
Aku duduk di ruang tamu. Melonggarkan otot. “Nek, disini banyak masjid apa gimana, sih? Kok suara mau sholatnya kedengar sampai sini? Apa itu namanya? Ofi lupa,”
“Kamu mau ikut ke masjid?”
Aku melongo melihat nenek yang kutanya, justru keluar dari kamarnya memakai pakaian seperti itu.
“Namanya juga desa, masjid ya pasti ada dan pasti terdengar dari setiap rumah.” Jawab nenek. “Ini, nenek mau ke masjid, sholat maghrib, ini namanya mukena,”
“Nek, Ofi nggak sholat, Ofi bukan ke masjid,” kataku pelan.
“Eh, maaf Ofi, nenek kira kamu juga sudah? Hmm..nenek juga sudah menjadi muallaf, nenek pamit dulu, kamu mandi-mandi dulu atau, terserah kamu,”
Ada apa ini? Semua orang masuk islam? Apa lupa atau gimana, sih?
***
Dan dua hari yang kumaksud waktu itu, tiba juga. Tentulah, nenekku sekarang menjalani ibadah puasa. Tapi ingat, aku tidak. Cukup bertoleransi dan menghargai saja.
“Sore seperti ini, coba kamu jalan-jalan, udah liburan dua hari disini nggak keluar-keluar? Nanti tetangga pada menanyakan,”
Aku lupa. Apapun, hal apa saja kalau di desa, kan, selalu dibahas. Jauh sama di kota, terserah saja.
“Iya, Nek, nenek mau ngapain?”
“Mau menyiapkan buka puasa,”
Akhirnya aku memilih untuk keluar rumah.
Berjalan kaki di mall, rasanya berbeda sekali dengan berjalan kaki di jalanan tanha dengan kanan-kiri sawah dan langit yang terlihat cerah seperti sore ini. Beberapa tetangga nenek bertanya tentang aku dan kehidupanku. Kepo sekali bukan?
Untuk keluar dari gang kecil seelum gang besar tempatku pertama kali menginjakkan kaki di desa ini, aku harus melewati masjid-dekat rumah nenek-. Ramai. Belum pernah aku melihat masjid sore-sore begini ramai. Di kota enggak ada. Biasanya ramai waktu sholat saja, atau untuk singgah orang-orang luar kota.
Untung saja aku mengenakan celana jeans panjang dan hem tiga per empat. Lihat! Isina semua memakai jilbab! Dari yang kecil sampai yang besar! Gila! Pada ngapain coba?
“Kok, kakak lewat sini, tidak pakai jiibab?” tanya anak kecil saat berlarian dan bersebrangan denganku.
“Eh, nggak boleh gitu,” sahut orang dewasa lainnya yang di dekat kami.
“Emang, kalau lewat harus pakai jilbab ya? Aku ini bukan beraga islam, loh,”
“Maaf, kak, bukan begitu maksud Khofi tadi,”
“Siapa?”
“Khofi, Khofiyya,”
“Apa itu Khofiy..ya?”
“Khofiyya, nama adik kecil itu tadi, dia termasuk santri pandai di TPA ini, artinya lembut,”
“Apa itu TPA?”
“Taman pendidikan al-qur’an, tempat mengaji sore bagi anak-anak,”
“Oh,” aku mengangguk lalu pergi begitu saja.
Khofiyya, hampir mirip dengan namaku. Clarofiy Emiliyya. Dan orang-orang sempat aneh dengan nama Emiliyya-ku yang memakai ‘yya’. Itu usul kakek dulu, itulah jawaban mama.
Nenek mengabarkan jalan-jalanku. Apakah menyenangkan? Aku mengangguk saja.
***
Dari jendela kamar ini aku menengok langit. Terlihat hitam, gelap, ada cahaya kerlipan di sana, mereka banyak, namanya bintang. Dan bulan, sebagai penerang malam ini. Desir angin malam lembut menyentuh kulitku dengan baju tanpa lengan ini.
Mumpung tidak keluar, aku mengenakannya di kamar. Sengaja aku selipkan di koper. Ngomong-ngomong tentang angin, dia lembut. Lembut? Aku jadi teringat anak kecil di TPA tadi sore.
Tuhan..? apa kau mendengarku?
Aku kembali menatap langit atas keanehan yang terjadi di keluargaku akhir-akhir ini. Apa mereka yakin danseratus persen indah keyakinan begitu saja?
Lihatlah, bintang dan bulan di atas sana. Ya! Mereka indah sekali. Sejak dulu, aku menyukai dua benda langit itu. Tapi, malam ini mereka terlihat lebih indah dari biasanya ketika kupandangi. Aku teringat sesuatu. Bintang dan bulan. Apa ya?
“Nenek, bulan dan bintang itu apa ya?” aku menghampiri nenek yang masih di ruang tamu. “Ya, bulan sama bintang, lah,”
“Bukan, maksud Ofi kayak something apa gitu, tapi Ofi lupa,”
“Masjid?” jawab nenek sedikit ragu dalam menebak.
Aku menyernyitkan alis. Iyakah? Aku mencoba mengingat-ingat. Aku memandangi nenek sebentar lalu masuk lagi ke kamar. Tepatnya melihat bulan dan bintang lagi. Iya! Itu tanda masjid, tempat ibadah orang islam. Apa aku harus kesana? Ternyata benda favoritku, mereka adalah lambang masjid?
***
Sore ini aku berjalan ke masjid. Dengan pakaian yang lebih sopan dan mengenakan selendang sebagai penutup. Aku bertemu dengan orang dewasa yang kemarin menjelaskan nama ‘Khofiyya’. Ternyata, anak kecil itu tidak berangkat, dia sakit.
Aku berbincang dengan Nadia, nama orang itu, dialah yang mengasuh TPA ini selain ustad yang ada di dalam sedang mengajar. Aku menceritakan kejadian semalam. Tentang bulan dan bintang adalah benda langit kesukaanku, aku sering memandang mereka dan berdoa kepada tuhanku. Tapi, malam itu terlihat lebih benderang, bercahaya, indah, dan menakjubkan. Seperti ada something spesial.
Beberapa hari aku menemui Nadia terus menerus. Panjang lebar dia menceritakan tentang bulan dan bintang, penciptaan alam semesta ini, tuhan, keyakinan, dan apa tujuan hidup ini. Di masjid dekat rumah nenek ini, aku mendapatkan sesuatu yang baru.
Seminggu sudah aku selalu datang.
“Nadia, kenapa kamu terlihat sedih sore ini?”
“Enggak Fi, ada kabar duka, tadi pagi setelah sahur, Khofiyya, anak kecil iitu meninggal dunia. Dia meninggal dengan tenang.”
“Kenapa?” aku kaget bukan main. Merinding. Ada rasa takut menyelimuti jiwaku. Entah mengapa.
“Dia anak pandai, baik, dan insyaallah taat agama, dia mempunyai penyakit yang menyerangnya. Allah menyayanginya.”
“Apa katamu? Allah menyayanginya? Bagaimana bisa? Dia anak kecil yang cantik, pandai, baik, dan taat, diberikan penyakit?”
“Allah tidak akan memberikan cobaan melebihi batas kemampuan dirinya, Qur’an surat Al-Baqarah ayat terakhir, 286. Dia bisa bersabar dan ikhlas menjalani hidupnya yang demikian. Dia menjalankan itu semua karena mengharap ridho Allah.”
Aku hanya terdiam tak dapat berucap. Sungguh mulia hati anak kecil itu. Dengan mantap aku mencurahkan hatiku kepada Nadia. “Nadia, aku ingin masuk islam.” Ia menyambutku dengan tasbih.
***
Setiap sore aku belajar mengaji di masjid ini. Tak apa bersama anak-anak kecil. Ada Nadia dan Ustad, yang membantu syahadatku waktu itu. Nenek begitu gembira mendengar pengakuanku. Dan beliau mengabari papa, mama, serta kak Rey.
Aku senang mengaji di sini. Belajar agama meski dimulai dari yang teringan. Canda, tawa menghiasi hari-hari belajarku. Liburanku menjadi lebih berwarna. aku menemukannya, Pa!
Aku seperti terlahir kembali. Ketika bulan berkah adalah kali pertama aku mengenalnya, ia menyambutku, penuh dengan keindahan, kenikmatan, keberkahan, dan inilah hidup yang sesungguhnya.
Setelah sebulan, aku pulang ke rumah, begitupun keluarga kecilku. Aku sekarang mengenakan jilbab dan sedang belajar mengenakan jilbab syar’i yang benar menurut al-qur’an dan as-sunnah.
Mama memelukku erat. “Kenalkan, namaku, Khofiyya Najma Qomariyya,” ucapku bangga pada keluargaku.

Komentar

share!