KELUARGA KANG MIN




Karya:  Rokhmat Gioramadhita

Keluarga Kang Min, keluarga biasa saja bahkan cenderung pas-pasan. Hidup dari pekerjaan tani, menyewakan tetes peluh demi butir-butir putih dari segenggam padi menjadi penghuni perut. Setidaknya seperti itu gambaran kecil mengenai keluarga Kang Min. Namun tahun-tahun belakangan ini kehidupannya berbeda, seperti ada yang berubah. Terlebih ketika menyambut lebaran.



Bisa dibayangkan apa saja ritual penyambut lebaran bagi seorang petani di kampung pelosok. Tak jauh dari ketupat buatan sendiri dan opor ayam, paling banter jika ingin makan mewah dengan rendang sapi. Itupun jika ada uang lebih. Tapi belakangan benar-benar sedikit mencengangkan, terlebih lebaran dua tahun ke belakang. Bukan hanya makan rendang sapi, namun juga baju dan perhiasan mewah menggelayut di pergelangan tangan dan leher Bu Min. ada sesuatu aneh, tapi tak ada bukti membongkar kejanggalan. Dan lebih menarik lagi lebaran tahun lalu, ada sepeda motor baru terparkir di halaman rumah keluarga Kang Min. Dari mana kedatangan harta berlimpah seperti itu? Mungkinkah Kang Min gelap mata meratapi kehidupannya yang biasa saja? Atau mungkin ada perjanjian kasat mata dengan makhluk dari alam berbeda? Banyak sekali omongan-omongan orang berlari di udara, menggunjing, memojokan apapun tentang Kang Min. Tapi justru Kang Min tak termakan oleh bualan angin perkataan tetangga, ia tetap melenggang santai melewati cibiran bahkan gosip dari bibir-bibir penghuni neraka.

“Ini berkah ramadhan.” Dalihnya suatu ketika, manakala aku bertemu dengannya di pinggir sungai hendak memancing ikan untuk lauk berbuka puasa.

Kehidupannya kini sungguh jauh berbeda. Biasanya ia akan menghabiskan seluruh waktu di kebun orang untuk bekerja, itupun dirasa tak cukup. Dan sekarang ia bisa berleha-leha menikmati waktu senggang dengan memancing bersama warga lain. Ini menjadi kebiasaan orang-orang kampung kami menghabiskan waktu menunggu bedug berkumandang ketika bulan puasa.

“Allah maha adil, Ia memberikan berkah tak terkira pada hamba yang sungguh-sungguh memintanya.” Lanjut Kang Min mengumbar cerita diantara pancing-pancing menusuk derasnya gelombang keruh arus sungai.

“Berkah seperti apa yang kau minta? Akupun ingin menikmatinya, jangan pelit-pelit berbagi denganku.” Aku terkekeh membagi canda, memberikan umpan tawa agar ia melahapnya.

“Berkah yang luar biasa.” Kang Min menarik pancing dan kembali melempar ke tengah sungai. Suara percikan air terdengar ketika mata pancing menembus pertahanan air. “Besok aku akan menjemput berkah itu ke Jakarta, jika kau ingin mendapatkan berkah sepertiku. Kau boleh ikut.” Lanjutnya lagi tanpa mengalihkan fokus pada tangkai pancing.

“Benarah??? Apa tak apa mengajakku?” aku memastikan. Tak percaya juga bila aku diajak olehnya.

“Didin … Dinin … semua hamba Allah berhak atas berkah-Nya bukan?” Kang Min terkekeh.

Aku masih menyimaknya dengan serius, ini kesempatan untukku menikmati lebaran dengan tanpa kekurangan.

Tak lama pancing Kang Min tertarik, ada sesuatu tertangkap di sana. Dan benar, ada ikan gabus besar muncul ketika anak pancing ditarik. Secepat tangkas Kang Min mengendalikan ikan, ia melepaskan ikan dari mata pancing.

“Jika kamu mau ikut, besok aku tunggu di rumah setelah sahur. Ingat setelah sahur, jangan sampai terlambat. Jika terlambat akan berantakan semuanya.” Pesannya terakhir sebelum ia pergi dengan hasil tangkapan di ember.

Aku termenung sepeninggal Kang Min, dan itu terus berlanjut hingga ke dalam rumah. Bahkan malam tak menjadi tempat nyaman untuk tidur, aku tak sabar menunggu waktu sahur.

Rasa sabar tak bisa mengendalikan keinginan, aku sahur lebih awal dan bergegas ke rumah Kang Min.

Aku sedikit terkaget ketika melihat bukan hanya Kang Min yang akan berangkat. Bu Min dan kedua anaknya yang masih duduk di Sekolah Dasarpun ikut bersama.

“Untuk sebuah berkah harus ada yang dikorbankan.” Begitu katanya menjawab keheranan di wajahku.

Aku masih tertegun ketika Kang Min menyadarkanku dengan pertanyaan.

“Wah … rupanya kau bersemangat sekali menjemput berkah.” Kang Min terkekeh melihat kehadiranku sepagi ini.

Aku sendiri tertunduk menahan malu demi mendengar ucapan Kang Min. “Aku sudah tak sabar Kang, ingin cepat menjemput berkah bulan ramadhan. Bahkan semua baju bagusku di kampung sudah aku bawa, aku ingin tampil terbaik di sana.” Aku membalas gurauan Kang Min.

“Kau tak memerlukan baju bagus di sana. Yang kau perlukan adalah rasa percaya diri, dan hilangkan perasaanmu, jangan pedulikan omongan orang lain.” Kang Min meyakinkanku.

Aku tertegun mendengar kalimat itu, dan berusaha mencerna setiap kata terucap.

Hanya menunggu sebentar keluarga Kang Min menyantap makan sahur, dan ketika semua orang berbondong memenuhi masjid. Kami sibuk membopong barang bawaan menuju terminal. Jam 5 tepat bis akan mengantarkan kami menembus pekat jalanan menuju sesuatu yang keluarga Kang Min bilang adalah sebuah berkah.

Ada sebuah titik harapan menancap bersama tekat, ia menggelinding menelusuri jalanan aspal bersama roda-roda bis dimana kami duduk tenang di dalamnya menyaksikan fajar menyingsing di langit timur. Tapi aku tak peduli, sekalipun fajar pagi ini begitu manawan, begitu cerah, begitu menggugah selera untuk sekedar merentangkan tangan demi menikmati hangat pancaran sang surya menerpa setiap lapisan kulit. Pasti hangat, dan begitu nikmat.

Tapi aku sungguh tak peduli, pikiranku kini tertuju pada satu tujuan. Kebahagiaan berkah dihari kemenangan. Aku terus terpaku menyaksikan butir-butir senyum kelak, aku terus meliarkan angan mengenai berkah. Seperti apapun berkah itu, aku yakin pasti akan membawa sebuah senyuman. Meski sesungguhnya berat meninggalkan keluarga, tapi berkah telah menanti di sana. Demi sebuah perubahan setidaknya harus ada yang dikorbankan. Aku telah memilih, dan biarkan pilihan ini menemukan jalannya sendiri.

***


Tepat sehari sebelum lebaran, aku sudah duduk manis di rumah. Kembali ke tanah kelahiran. Apa yang dijanjikan Kang Min memang benar, berkah itu sungguh aku dapatkan. Kini hari kemenangan seperti ajang kebahagiaan. Bukan hanya mengenakan baju bagus, urusan perut pun tak terlewatkan. Mungkin aku salah satu keluarga dengan perayaan paling mewah di kampung. Jelas berkah itu memberikan sebuah senyuman. Namun lamat-lamat aku terusik. Ini berkah atau apa? Apakah berkah seperti ini? Rasa tak tenang mengusik di hati. Hingga suatu senja yang indah hanya terlewati dengan gelisah.

Tak ada hal lain yang bisa menghibur selain layar berukuran 14 inci. Berita-berita seputar lebaran dan ramadhan menghiasi layar kaca.

“Bulan ramadhan adalah bulan penuh berkah, setiap orang berlomba-lomba menambah pahala. Namun bulan ramadhan juga tak ubahnya ladang rezeki bagi para pengemis dari pelosok desa. Mereka berbondong memenuhi ibu kota demi memenuhi menyambut berkah dari para dermawan yang berlomba menambah amal. Puluhan bahkan ratusan penduduk desa datang sebagai tukang minta-minta. Setidaknya ini menjadi miris ketika bulan penuh berkah dipenuhi oleh orang-orang yang katanya mencari berkah dengan meminta-minta.” Suara berat dari seorang news maker senior menghiasi layar kaca, rautnya seperti tak menginginkan hal seperti ini terjadi di ibu kota. Terlebih di bulan suci penuh pengampunan.

Aku menghela nafas berat, merasakan sakitnya tersayat kata yang mungkin saja benar dari seseorang di layar 14 inci itu. Ini bukan berkah, aku tak tau apa ini, tapi yang kutau ini bukan berkah.

Tepat ketika aku hendak mematika tv, kulihat keluarga Kang min berada di sana. Mengenakan baju compang camping dengan wajah memelas. Menghiasi laporan reporter di lapangan.

KLIK … aku mematikan tv. Tak kuasa menahan kenyataan.

***

Komentar

share!