KEIKHLASAN DI BULAN RAMADHAN




Karya:  Kansha Arini Putri Indonesia


Hari sudah semakin sore. Waktu untuk berbuka puasa sudah semakin dekat. Aku masih duduk berdesakan di dalam angkutan umum yang selalu aku tumpangi setiap sore setelah pulang dari kantor. Sesekali aku melirik ke arah jam tanganku. Sudah setengah jam aku terjebak dalam kemacetan ini. Ah, kesabaranku benar-benar sedang diuji. Jika saja aku sedang tidak berpuasa mungkin aku sudah mengumpat bahkan mengeluarkan kata-kata penuh cacian dari mulutku lalu aku mengungkapkannya melalui sosial media yang aku miliki. 


“Tuhaaan, harus berapa lama lagi aku di sini? Aku belum sempat membeli minum untuk membatalkan puasa di jalan karena aku tidak menyangka kalau jalanan akan semacet ini”, gumamku menahan kesal.
Lima belas menit kemudian aku akhirnya terbebas dari kemacetan ini. Angkutan umum yang aku tumpangi langsung melaju dengan kecepatan yang sangat tinggi hingga mulutku terus berkomat-kamit menyebut nama-nama Allah.
“Berhenti di sini, Bang”, seru seorang wanita yang duduk di sampingku sambil menggendong seorang anak.
Sang supir segera menghentikan kendaraan yang dibawanya dengan menginjak rem secara mendadak. Semua orang di angkot termasuk aku memegang kursi tempat kami duduk dengan spontan lalu beristighfar. Beberapa orang terlihat kesal lalu memprotes sang supir namun supir tersebut mengacuhkan omelan semua orang.
Wanita yang menghentikan angkot segera turun lalu berbicara sesuatu pada sang supir. Tiba-tiba supir itu terlihat marah dan berteriak ke wanita tersebut. Aku dan penumpang yang lain lantas menoleh ke mereka berdua, mencari tahu apa yang terjadi.
“Kalau tidak punya uang, nggak usah naik angkot, Bu! Bikin saya rugi aja, huh!”, hardik si supir lalu segera menancapkan gasnya.
Aku dan para penumpang yang lain kembali mencengkram kursi yang kami duduki sambil beristighfar. Supir itu sudah sangat keterlaluan! Sudah membawa angkot yang berisi penuh penumpang dengan kecepatan tinggi dan membahayakan, mencaci wanita tua yang membawa anak kecil pula hanya karena ia tidak sanggup untuk membayar. Lebih menyebalkan lagi saat ia balik mengomeli para penumpang yang mengomeli kesalahan dirinya.
Alhamdulillah, akhirnya aku pun tiba di depan gang rumahku. Aku segera menghentikan angkot dengan memukul atap angkot tanpa mengeluarkan suara sedikitpun dari mulutku. Aku merasa sangat kesal dengan supir itu hingga malas bersuara.
“Sekalian bayar ongkos Ibu tadi”, ucapku dengan tatapan sinis pada supir tersebut lalu berlalu tanpa menatap supir maupun angkot itu lagi. Sekilas, aku sempat melihat tatapan supir dan para penumpang lain yang menatapku namun aku tidak menghiraukan tatapan mereka semua. Entah apa yang mereka semua pikirkan, aku sama sekali tidak peduli.
Aku pun tiba di rumah tepat saat adzan maghrib berkumandang.
“Alhamdulillah, tepat waktu”, ucap Mama dan aku bersamaan.
Aku segera meminum teh hangat yang ada di meja. Segar sekali rasanya meminum teh hangat setelah seharian penuh aku berpuasa sambil bekerja. Saat-saat berbuka puasa seperti inilah yang selalu aku rindukan di bulan puasa. Setelah menenggak habis segelas penuh teh hangat, aku segera melahap satu persatu aneka makanan yang terhidang di meja makan sambil bercerita panjang lebar mengenai kejadian menyebalkan yang terjadi di angkot tadi pada Mama.
“Sudah, shalat dulu sana. Lihat, sudah jam berapa sekarang”, Mama menunjuk jam dinding di ruangan ini.
“Oke”, jawabku singkat lalu segera menghabiskan makanan di dalam mulutku sebelum melangkah menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
“Mbak, minta uang buat sumbangan di masjid dong”, pinta salah satu adikku saat aku sedang memakai mukena, hendak mengerjakan shalat maghrib.
“Kamu udah mau tarawih? Lah, baru jam berapa”, tegurku.
“Kan kalau dapat barisan depan pahalanya lebih banyak lagi”.
“Alasan, bilang aja mau main”.
Adikku tertawa cekikikan. Aku menatapnya sambil menggerutu lalu meraih dompet yang tersimpan di dalam tasku.
“Hah? Astaghfirullah..”.
“Kenapa Mbak?”, tanya adikku penasaran.
“Nggak apa-apa. Udah sana berangkat. Ganggu orang mau shalat aja”, ujarku sambil menyerahkan beberapa uang logam pada adikku.
“Cuma segini doang, Mbak?”.
Aku langsung mengeluarkan tatapan kesal dan adikku segera mencium tanganku lalu mengucapkan salam sembari berlari menuju keluar rumah.
Aku menghela napas. Kepalaku tiba-tiba terasa pusing padahal perutku sudah terisi penuh, “Haah, uangku habis sama sekali. Bagaimana ini?”, gumamku bingung. “Ah iya, aku ingat sekarang. Tadi aku memberikan uang lebih untuk membayar ongkos Ibu tadi”.
Aku kini benar-benar pasrah. Aku pun menumpahkan semua kebingunganku pada Allah setelah shalat maghrib. Tidak ada tempat terbaik untuk curhat selain padaNya saat ini. Allah pasti bisa mengeluarkanku dari masalahku.
Setelah selesai berdoa aku kembali teringat pada kejadian di angkot sore tadi saat aku memberikan semua uangku pada supir angkot itu. Ah, sudahlah. Aku harus mengikhlaskannya. Lagipula Mama selalu berkata jika aku tidak boleh mengingat kembali semua perbuatan baik yang telah aku lakukan. Lagipula sekarang sudah pertengahan bulan. Aku dan ratusan staff karyawan biasa lainnya seharusnya sudah terbiasa dengan kejadian pertengahan bulan seperti sekarang ini. Tapi tetap saja aku selalu merasa pusing terutama jika tidak ada lagi satu lembar pun uang di dompetku.
Saat aku hendak mengambil al-qur’an yang terletak di meja di sampingku, handphoneku berbunyi. Aku pun menjawab panggilan dari nomor yang tidak aku kenal.
“Kak, ini aku Bella”, jawab orang itu setelah mendengar suaraku.
“Bella?”, aku berusaha mengingat-ingat pemilik nama itu karena ada beberapa temanku yang memiliki nama yang sama.
“Bella adik kelas Kak Romi, mantan Kakak waktu SMP dulu”.
“Ohya, aku ingat sekarang. Kamu adik kelas Romi yang sekolah di SMP ABC kan?”.
“Iya, Kak. Apa kabar?”.
“Alhamdulillah, baik. Kamu tau nomor aku dari mana?”.
“Aku tau dari Kak Romi dulu. Ternyata nomor Kakak belum ganti”.
“Aku memang nggak pernah ganti nomor. Kamu apa kabar?”.
“Lagi nggak baik, Kak. Aku lagi butuh bantuan. Aku lagi butuh uang, Kak. Aku mau pulang ke rumah orang tuaku tapi aku nggak punya uang”.
“Lah, kamu emang dimana sekarang?”, tanyaku semakin bingung.
“Setelah lulus SMA, aku langsung kerja di daerah Jakarta Timur. Aku kos di sini. Tapi kemarin kontrak kerjaku nggak diperpanjang. Aku baru kerja lagi habis lebaran nanti di tempat yang berbeda. Sekarang aku nggak punya uang sama sekali untuk pulang ke rumah orang tuaku di Bandung. Aku nggak tau harus minta tolong ke siapa lagi, Kak. Aku boleh minjem uang Kakak seratus lima puluh ribu nggak? Aku janji habis gajian nanti aku ganti. Aku nggak bohong, Kak”.
Duh, ada-ada saja. Aku sedang tidak ada uang sama sekali malah minta pertolongan padaku.
“Yah, maaf Bella. Bukannya aku nggak mau bantu tapi aku juga lagi nggak punya uang. Aku belum gajian. Kamu kenapa nggak minta tolong sama orang tua kamu aja?”.
“Orang tuaku nggak tau kalau aku udah nggak kerja sekarang. Aku nggak mau membuat mereka bingung”.
“Kapan kamu rencana mau pulang?”.
“Besok Kak, tanggal 25. Aku juga mau lebaran di sana rencananya”.
Aku terdiam sejenak untuk berpikir. Aku baru menerima gaji tanggal 30 nanti. Tapi Kakak dan orang tuaku sudah gajian besok, “Aku baru gajian besok. Gimana kalau aku ngasih uangnya besok aja?”.
“Boleh Kak, boleh. Aku bisa tunda keberangkatanku jadi lusa pagi kok. Tapi aku nggak punya nomer rekening, Kak. Selama ini aku gajian cash”.
“What? Hari gini gajian masih cash? Yaudah besok kita ketemu habis aku pulang kerja sekalian kita buka puasa bersama”.
“Yah Kak, gimana mau buka puasa bersama? Aku aja nggak punya uang”.
“Udah tenang aja. Nanti aku yang bayar”.
“Nggak enak ah, Kak. Masa udah dikasih pinjem uang, masih dibayarin buka puasa juga”.
“Haha, kayak sama siapa aja. Udah santai aja. Yaudah, nanti kita telponan lagi yah, aku mau tarawih nih”.
“Yaudah, Kak. Makasih banyak yah. Assalamu’alaikum”.
“Sama-sama, wa’alaikumsalam”.
***
“Bang, aku pinjam uang tiga ratus ribu dong”.
“Untuk apa?”, tanya Kakakku.
“Untuk menyambung hidup. Uang aku udah habis sama sekali”.
“Gajian baru besok tau”.
“Iya, besok tolong transfer ke rekening aku tiga ratus ribu yah”.
“Iya. Kalau udah gajian kamu jangan lupa ganti loh”.
“Iya, tenang aja sih. Makasih by the way”, jawabku sambil terkekeh.

Keesokkan harinya Kakakku benar-benar mengirim tiga ratus ribu rupiah ke rekeningku. Setelah menentukan tempat untuk bertemu, tanpa merasa curiga sama sekali dengan semua perkataan Bella, aku pun pergi menuju sebuah Mall yang menjadi tempat janjian kami setelah aku pulang kerja. Sudah enam tahun kami berdua tidak bertemu, aku hampir tidak mengenali wajah Bella saat ini. Bella terlihat sangat senang bertemu denganku. Kami langsung berjalan mencari tempat untuk berbuka karena Bella juga baru sampai di Mall ini lima menit sebelum aku tiba dan belum sempat mencari tempat untuk berbuka. Setiap bulan puasa semua tempat makan pasti akan sangat penuh sesak dengan orang-orang yang ingin buka puasa bersama. Jika kami datang mendadak seperti ini, sudah bisa dipastikan bila kami tidak akan mendapat tempat untuk berbuka puasa. Untungnya aku sempat membeli minum untuk kami berdua sebelum aku naik angkot tadi. Setidaknya kami sudah membatalkan puasa saat adzan maghrib berkumandang walaupun kami belum bisa mendapat tempat untuk makan.
Setelah berkeliling akhirnya kami memutuskan untuk membeli makan dan memakannya di luar Mall. Kami akan duduk di bangku depan yang disediakan oleh pihak Mall. Kami lalu memakan makanan kami sembari mengobrol panjang lebar mengenai hal-hal yang tidak kami ketahui satu sama lain selama enam tahun belakangan ini termasuk alasan perusahaan Bella tidak memperpanjang kontrak kerja Bella. Saat jam sudah menunjukkan pukul 18.45, aku dan Bella segera berlari menuju mushala untuk shalat maghrib.
  “Kamu yakin seratus lima puluh ribu cukup untuk ongkos kamu pulang ke Bandung?”, tanyaku saat memberikan uang kepada Bella setelah kami memutuskan untuk pulang akhirnya.
“Insya Allah cukup, Kak. Naik kereta ke Bandung kan murah, Kak”.
“Yasudah. Kalau tiba-tiba kurang kamu telpon aku aja”.
“Makasih yah, Kak”.
“Iya, sama-sama”, jawabku sambil tersenyum. Uang yang ada di dompetku kini hanya tersisa untuk ongkos sampai esok hari. Setelah itu, mungkin aku akan meminjam uang orang tuaku untuk menyambung hidupku sendiri. 
***
Aku baru saja tiba di rumah saat Rendra menelponku. Rendra mengatakan bila ia sudah tiba di depan mini market di dekat rumahku dan sudah tidak ingat jalan menuju rumahku karena ia juga baru mengunjungi rumahku sekali saat bulan Ramadhan tiga tahun yang lalu. Aku pun bergegas menghampiri Rendra. Kami menuju rumah dengan mobil yang dibawa Rendra.
Keluargaku dan Rendra terlihat sangat senang bisa bertemu lagi setelah sekian lama tidak bertemu. Kami pun bicara panjang lebar mengenai kemajuan bisnis Rendra yang terlihat sangat signifikan walau kurang dari tiga tahun. Mobil yang aku naiki tadi adalah salah satu contoh kecil kesuksesan dirinya sekarang.
Rendra tidak datang dengan tangan kosong. Ia membawa banyak sekali makanan seperti lauk-pauk, buah-buahan, aneka kue kering dan berbagai makanan kemasan. Ia juga memberi mainan untuk ketiga adikku. Setelah hari sudah semakin larut, Rendra pamit pulang dan aku mengantarnya hingga ke depan gang rumahku.
“Lain kali kalau datang ke rumah nggak usah repot-repot kayak tadi”, ucapku.
“Siapa yang repot? Aku malah senang bisa memberikan semua itu. Aku bisa seperti sekarang juga karena pinjaman uang yang kamu kasih waktu aku sedang mengalami kerugian besar waktu itu”.
“Oh iya. Kamu pernah pinjam uang aku yah? Aku lupa loh”.
“Ya ampun, Sha! Dua juta kamu lupain gitu aja?”, Rendra dan aku tertawa terbahak-bahak karena jawabanku.
“Sebenarnya kedatanganku ke sini untuk berterima kasih karena kamu mau membantu aku padahal kamu sendiri waktu itu juga sedang kesulitan. Sebelum aku ke sini, aku sudah mentransfer tiga juta ke rekening kamu”, Rendra menunjukkan foto bukti transfer yang ia simpan di handphonenya.
Aku terkesiap hingga langkahku berhenti, “Kenapa banyak sekali?”.
“Kamu pantas mendapatkannya. Semoga uang yang aku kirim di bulan Ramadhan ini berkah yah”.
“Amin”, ucapku menahan tangis. Aku sungguh tidak menyangka atas pertolongan yang Allah beri padaku di bulan Ramadhan ini disaat aku sudah pasrah atas kelangsungan hidupku sendiri. Rasa syukur dan bahagia benar-benar memenuhi diriku saat ini. Hal kecil yang aku lakukan untuk orang lain ternyata dapat memberi kebahagiaan yang begitu besar terhadapku dan keluargaku. Terima kasih Ya Allah, atas semua kebahagian ini.

Komentar

share!