KEBOHONGAN LAIN DI BULAN RAMADHAN




Karya:  Dwiyanjana Santyo Nugroho

“Mas, korek apinya mana?”
“Noh, bawah meja, bawa aja semuanya”
Ijong hanya melongo saat Aryo membalas seperti itu,  lalu senyumnya mulai mengembang.
“Ayok gabung, Mas. Mumpung pada rame”


Aryo hanya membalas dengan kibasan tangan. Ijong berlarian memungut barang itu lalu meninggalkannya sambil cengingisan.
Sementara itu anak lainnya pada berseliweran sibuk mempersiapkan tradisi mereka selama bulan ramadhan. Sesekali jeritan dan tawa jahat menggema riuh pada malam itu. Seperti biasa, selesai tadarusan anak-anak yang alim di belakang imam sewaktu sholat berubah menjadi liar tak terkendali, berkoar – koar layaknya orator dunia dengan pikirannya yang masih lugu. Senior - senior santri sedang patroli mengecek keamanan pesantren. Sedangkan Aryo menenggelamkan dirinya di kamar sejak azan magrib. Ia masih syok dengan kejadian yang menimpanya sewaktu sahur tadi pagi.
“Astagfirullah, kolaknya kok belum antum makan, padahal udah susah - susah ane ambilin dari Jeng Ratih.” Ucap Mas Rifai yang kebetulan mbolos patroli.
“Syukron Mas, tapi tenggorokan ane lagi seret kalo makan kolak.”
Mas Rifai hanya mendengus, merasa usahanya tidak dihargai. Ia menengok wajah Aryo sejenak, lalu ia mendekat membisikinya sesuatu, kemudian meninggalkannya sendirian lagi. Aryo cuma mengangguk lemas.
Mas Rifai adalah salah satu jajaran elite di pondok pesantren ini, kedudukannya langsung berada di bawah Pak Kyai. Mas Rifai pulalah yang membawa Aryo sampai ke pesantren ini saat Aryo kebingungan bayar tunggakan kos selesai lulus kuliah. Jasanya terhadap Aryo sudah banyak meskipun mereka belum lama saling kenal. Meskipun begitu, Aryo sudah menganggap Mas Rifai sebagai kakak kandungnya sendiri.
“Kolak macam apa ini, kayak air putih, mending buang aja” gerutu Aryo sesaat kemudian.
Halaman pesantren sudah sunyi. Yang tadi lalu lalang main petasan baru pada digiring ke kamar tidur sama para ustad pendamping. Sedangkan santriwatinya sibuk menyiapkan untuk menu sahur nanti.
Baru lima langkah kakinya jalan, Aryo sudah dibuat melongo, ternyata apa yang dibisikkan Mas Rifai tadi bukan kabar burung. Buru-buru kolak yang Aryo pegang segera dia buang. Aryo celingak celinguk, lalu mendapati Mas Rifai sedang mengobrol santai dengan kalangan elite lain.
“Eh eh, anaknya Pak Kyai beneran udah pulang dari Banten?” tanya Aryo penuh semangat.
“Assalamualaikum dulu kek, langsung nyelonong aja antum. Iya dia baru sampai sini habis taraweh tadi.” Aryo manggut - manggut, rona wajahnya berubah cerah lagi.
Anak Pak Kyai itu adalah patokan seorang lelaki sejati dalam perburuan cinta di pondok pesantren. Ia adalah bunga desanya pesantren sini. Tapi tak ada yang berani mendekatinya karena statusnya sebagai anak seorang kyai besar. Namun, mana ada pria yang mampu melewatkan perhatiannya dari sosok wanita yang sholehah, anggun, dan istri-able seperti itu. Hanya ada satu pria yang hampir tidak terpengaruh dengan hal itu, yaitu Mas Rifai. Bahkan sempat santri seisi pesantren ini mengira Mas Rifai adalah pendukung LGBT, alias penyuka sesame jenis, karena dirinya mengaku tidak tertarik dengan anak semata wayang pak kyai tersebut. Tetapi dengan penjelasan detail dari Mas Rifai, akhirnya dugaan gay itu sudah dihapus.
“Aaaaaaaa” tiba – tiba ada suara dari ujung ruangan. Sontak teriakan itu membuat hampir separuh isi pesantren keluar menuju sumber suara.
“Siapa yang berani numpahin kolak ke cucian baruku!!” teriak Jeng Ratih.
Aryo langsung terperanjat, bulu kuduknya berdiri semua. Rona wajahnya kembali tegang seperti saat pertama kali ia dapat masalah di pesantren ini. Tak disangka karena buru-buru, ia malah melakukan hal yang dapat membahayakan kelangsungan hidupnya di sini. Para santri yang berkerumun mulai ramai menyalahkan satu sama lain. Mas Rifai yang berada di sebelah Aryo hanya menatap tajam pada Aryo. Aryo pun hanya menenggelamkan kepalanya ke bawah sarung.
“Hmmm alamat nih, ngaku nggak ngaku ntar antum bakalan ketahuan. Jeng Ratih itu seperti detektif, banyak orang yang gak mau berurusan sama dia. Lah antum malah ketagihan punya masalah sama Jeng Ratih” ucap mas Rifai sambil menepuk pundak Aryo, ia mulai iba pada Aryo, terlalu banyak masalah yang ia hadapi di pesantren ini, padahal belum genap satu tahun ia mondok di sini.
Aryo hanya bisa pasrah menerima nasibnya. Ia merasa bahwa hari pengadilan tinggal menunggu waktu. Iapun kembali ke kamar tanpa penuh gairah. Sementara itu kericuhan mulai mereda setelah kerumunan berhasil dibubarkan oleh Pak Kyai yang dibantu Mas Rifai.
Dor..Dor..Dor.. Kamar Aryo digedor secara babi buta oleh seseorang.
“Aryo!! Bangun kamu!! Kalo enggak …”
Aryo langsung melek, tubuhnya terbujur kaku, kepalanya terasa berat untuk diangkat, ia punya firasat hal buruk akan segera terjadi. Sambil mengatur napas, ia akhirnya berani membukakan pintu. Aryo langsung diseret oleh orang itu ke bilik pencucian baju, Aryo meronta-ronta tapi tenaganya kalah kuat dengan orang itu.
“Aku udah tahu siapa pelakunya, sekarang kamu cuci bajuku yang kamu tumpahin kolak tadi. Ini semua harus kamu kerjakan, kalo jam 4 belum selesai kamu gak akan dapet sahur. Dan hukuman dua hari yang lalu masih berlaku.” cerca Jeng Ratih. Aryo hanya menatap nanar Jeng Ratih yang berlalu meninggalkannya tanpa sempat membela diri dengan argumennya.
Aryo sudah kedua kalinya berurusan dengan Jeng Ratih. Jeng Ratih adalah senior seangkatan Mas Rifai, dan juga merupakan salah satu jajaran elite pesantren yang memiliki wilayah kekuasaan khusus di dapur. Makanan apa saja yang disajikan untuk sahur dan berbuka merupakan wewenang mutlaknya. Seisi pesantren patuh padanya dan tidak ada yang berani mengkritik makanan hasil olahan Jeng Ratih. Kalaupun ada yang nekat, semisal Aryo, akan mendapat cobaan bertubi – tubi. Tanpa penuh dosa, waktu itu Aryo mengoceh tentang menu berbuka yang monoton dan tidak ada rasanya, hal itu sampai di telinga Jeng Ratih. ia tidak terima dan langsung menghapus Aryo dari list penerima takjil berbuka. Ia pun juga masih diteror selama satu hari penuh itu.
Sudah satu jam lebih Aryo mencuci, tapi belum ada separuh yang selesai. Ditambah, waktu semakin mendekati waktu sahur. Kalau tidak dapat jatah, mau diisi apa perut ini sampai sahur besok, batin Aryo.
“Ehem, Assalamualaikum” suara lirih menyahut dari belakang.
Aryo langsung menoleh ke belakang, sontak mulutnya menganga lebar ketika tahu siapa yang memaggilnya.
“Ini ada titipan, buruan dimakan gih, mumpung Jeng Ratih belum tahu. Kamu harus makasih sama Mas Rifai, soalnya dia yang inget sama kamu, tapi Mas Rifai nggak bisa ngantar soalnya lagi ada urusan sama Bapak.” ujarnya sambil buru – buru meninggalkannya.
Salamnya ia balas dalam hati, mulutnya terlanjur kaku melihat pesona Nilam dari dekat. Ibarat ia sudah sampai pada titik dimana matahari sudah sejengkal jaraknya dengan ubun-ubun. Tak ia sangka, ternyata ada hikmah di balik bencananya ini. Ia boleh membusungkan dadanya dengan penuh kebanggaan karena jarang sekali Nilam mau mengantarkan sesuatu sendirian pada seorang santri di sini. Kolak yang biasanya enggan turun ke tenggorokan pun akhirnya luluh juga. Baru kali ini ada kolak yang nikmat sekali, batinnya. Nilam yang memperhatikan dari jauh hanya cekikikan kecil melihat rauh wajah Aryo yang sama persis dengan Ijong saat bermain petasan selepas tadarusan.
Sejak malam itu, hidup Aryo berubah jadi lebih riang, ia sudah tak memikirkan konfliknya dengan Jeng Ratih. Apalagi sekarang hukumannya sudah dihapus setelah Jeng Ratih dibujuk oleh Mas Rifai untuk memberinya kesempatan sekali lagi. Aryo pun penuh kebanggaan dalam tiap langkahnya, dirinya bahkan sudah berencana mengunjungi rumah Pak Kyai dan memberikan sesuatu untuk Nilam malam nanti.
Malamnya, rumah Pak Kyai keburu ada tamu sehingga Aryo hendak membatalkan niatnya. Namun karena penasaran, ia akhirnya tetap mengintip ke rumah Pak Kyai. Rupanya tamu itu adalah Mas Rifai beserta orangtuanya. Awalnya Aryo tidak merasakan ada kejanggalan dari silaturahim itu, tapi lama – lama ia mulai menaruh curiga dengan situasi tersebut. Jarang – jarang Mas Rifai kedatangan orangtuanya tanpa mengabari dirinya, lalu kenapa ada Nilam juga dalam ruangan itu, ditambah mereka beberapa kali menyebut Nilam dalam perbincangan mereka.
Setelah menemukan posisi yang tepat untuk menguping pembicaraan, Aryo justru menyesal telah mendengarnya. Hatinya yang sempat melambung tinggi kini dihempaskan lagi. Ternyata kedatangan orangtua Mas Rifai bermaksud untuk melamar Nilam sebagai istri Mas Rifai. Tanpa disadarinya, air matanya menetes deras hingga terdengar oleh orang – orang yang ada di dalam. Mas Rifai yang mendengar suara itu meminta ijin untuk mengeceknya. Mas Rifai mendapati Aryo yang hendak kabur ke kamarnya.
“Aryo, maafin Mas, ada yang mau aku jelasin ke antum”
“Udahlah Mas, nggak papa kok. Nilam emang lebih pantes dapetin Mas daripada aku. Aku titip ini aja buat dia” ujar Aryo mencoba menghibur diri.
Mas Rifai menjelaskan duduk perkaranya secara rinci, meskipun hanya beberapa kata saja yang didengarkan oleh Aryo. Ia menjelaskan kenapa semua terjadi mendadak, kenapa ia tak menceritakan masalah ini pada Aryo. Mendengar ada keributan di luar, Pak Kyai dan tamunya segera mengecek apa yang terjadi.
“Kan belum tentu Nilam terima lamaranku.” Mas Rifai mengakhiri penjelasannya. Kalimat terakhir tadi sedikit melambungkan asa Aryo. Mereka berdua belum menyadari kalau Pak Kyai sudah ada di belakang mereka.
“Sudah, sudah, agar lebih tahu kepastiannya, lebih baik kita dengarkan jawaban dari Nilam yang tadi sempat terpotong di dalam” Pak Kyai berusaha menengahi.
“Nak ?” tanya Pak Kyai setelah melihat Nilam hanya diam saja sedari tadi.
Hening beberapa saat. Justru yang terdengar adalah isak tangis dari Nilam. Yang ada di dalam pikiran Nilam adalah rasa senang sekaligus sedih. Senang karena Aryo akhirnya mau menunjukkan keinginannya untuk meminang Nilam karena Nilam juga punya perasaan yang sama terhadap Aryo, tetapi juga sedih karena dirinya sudah dijodohkan dengan Mas Rifai. Kini ia bingung untuk memilih, memilih mana bagi dirinya yang lebih layak untuk diperjuangkan.
“Pilihlah kebohongan yang terbaik untukmu, Nak. Pilihlah dengan bijak, Lebih baik kau membohongi dirimu sendiri, atau kau memilih untuk membohongi kepercayaan Bapak padamu selama ini.” Pak Kyai menutup kebisuan yang terjadi di antara mereka bertiga.
Hanya tangisan sejadi jadinya yang terdengar dari wanita yang anggun ini.

Komentar

share!