KEBERKAHAN ROMADHON..??? (Siapa sangka)




Karya:  Sunni

 “Lhee, tolong ambilkan londrian Bu RT nak, tadi ibu lupa nggak mampir.” Teriak ibu pada Dika yang sedang menjemur pakaian londrian di loteng.
“Iya bu, sebentar.” Jawab Dika sekenanya.
Dialah Dika, seorang pemuda dengan keterbatasan ekonomi dalam keluarganya. Dia harus membantu ibunya untuk menghidupi ketiga adiknya yang tergolong masih kecil serta ayahnya yang sedang tergolek lemah karena mengidap stroke. Ibunya hanyalah seorang tukang cuci rumahan dari pintu ke pintu. Karena kesadarannya sebagai putra sulung dari empat bersaudara, setiap pagi ia terjun ke jalanan untuk menjualkan koran milik Pak Broto yang letak kiosnya tak jauh dari setopan lampu merah. Ya, demi membantu ibunya yang tak lain satu-satunya tulang punggung keluarga.


Sejak SMA, Dika memang sudah terbiasa membagi waktunya dengan melakukan segala pekerjaan yang sekiranya dapat menghasilkan uang. Bahkan, ketika temannya sedang sibuk memikirkan masalah kampus favorit, dia hanya menggelengkan kepala seolah cuek dangan masa depannya. Yang Dika pikirkan hanyalah kerja, kerja, dan kerja. Keluarga adalah yang utama. Kalaupun Dika harus kuliah, maka tetap saja dia harus mencari biaya sendiri. Namun, nyatanya dia lebih memilih untuk berhenti sampai jenjang SMA saja.
Waktu terus berjalan. Bulan Romadhonpun datang. Seperti kalangan orang mukmin pada umumnya, mereka akan berbahagia menyambut kedatangan Romadhon, tak terkecuali Dika. Memang, tiada persiapan kebutuhan keluarga khusus yang harus disiapkan menjelang romadhon karena memang keadaannya serba terbatas. Mungkin hanya persiapan kebutuhan fisik dan spiritual saja sudah cukup bagi Dika. Entah karena bulan romadhon yang penuh berkah dan rahmat kali ini dia memiliki cukup banyak rutinitas dan pekerjaan yang harus ia lakukan.
Seperti biasa, tiap pagi seusai subuh berjamaah dia harus berburu koran Pak Broto yang kemudian ia jajakan kepada pengguna jalan raya yang sedang berseliweran. Tak pedulikan panas terik hujan badai yang nantinya datang, dia tak akan selesai sebelum jam menunjukkan arah pukul Sembilan. Upah yang diperoleh dari menjajakan koran jelaslah tidak seberapa. Namun, dia juga harus memperhatikan keadaan ayahnya dirumah. Lepas pukul Sembilan, Dika pulang kerumah kemudian ia bergegas merawat ayahnya, memandikan, menyuapi, dan sebagainya. Sejalan dengan itu, Dika juga membantu ibunya menjemur dan menyetrika londrian tetangga yang memang sudah dipersiapkan sebelumnya oleh ibunya.
“Sampai kapan ya lhee, keluarga kita kayak gini terus? Ibu capek kalau harus hidup gini terus.” Suara renyah ibu Dika muncul begitu saja dari bibirnya yang pucat karena sedang puasa.
“Ibu sabar dulu ya, nanti ada waktunya sendiri kok. Kalau ibu capek ya berhenti saja dulu, biar Dika sendiri yang ngerjain, ibu sudah tua, waktunya istirahat.”
“Enggak lhee, terlalu berat kalau kamu yang nanggung sendiri,” sanggah ibunya.
Terlintas seulas senyum Dika seolah menjawab sanggahan ibunya.
Dua jam berlalu sudah. Setelah itu, dia kembali pergi ke emperan jalan lagi namun bukan untuk menjajakan koran melainkan sekedar mengelap sepatu. Ya, Dika juga menyambi dengan membuka jasa mengelap sepatu dengan perlengkapan seadanya. Lagi-lagi ia tak peduli akan sengatan mentari di siang hari yang kiranya cukup membuat warna kulit hitamnya mengkilat. Meski ia tau, jarang ada pelanggan yang memakai jasanya. Tapi, apa boleh buat, tak ada yang bisa dikerjakannya lagi. “Yaa barangkali saja nanti aku bisa sukses lewat jalan ini,” selalu begitu jawabannya setiap kali ada pelanggan yang bertanya mengapa tak mencoba usaha lain saja. Seringkali dia hanya mendapatkan dua sampai tiga orang pelanggan saja dalam sehari. Bahkan, sesekali waktu dia tidak mendapatkan seorangpun pelanggan. Ya memang sabar adalah kunci satu-satunya.
Tak seperti biasanya, di bulan Romadhon ini ia mendapatkan kegiatan tambahan. Ia mendapat panggilan dari Ustadz Anwar untuk menggantikan posisi ngajar ngaji di TPQ kampung sebelah, dikarenakan beliau sedang menunaikan ibadah umroh. Pastilah Dika menerimanya dengan senang hati.
Mentari sore pun datang, lebihnya setelah ia menutup jasa mengelap sepatu di emperan jalan, ia segera pulang ke rumah. Bersiap untuk mandi dan berangkat sholat ashar berjamaah di masjid. Setelah itu, ia kembali pulang untuk bersiap-siap mengajar ngaji di TPQ kampong sebelah, tepatnya TPQ Al-Ishlah namanya. Karena ini adalah pengalaman pertamanya mengajar ngaji, ia malah bingung dengan baju mana yang akan ia kenakan. Ia tidak memiliki baju koko yang necis untuk dipakai. Hanya ada dua buah baju koko yang tersedia di lemarinya. Yang satu berwarna putih pudar kekuningan bahkan kusut sekali keadaannya. Ia dapatkan baju itu dari Ibu saat lebaran dua tahun yang lalu. Kemudian yang satu lagi berwarna abu-abu dengan lubang diketiaknya. Tak ada yang bisa dipakai dari dua baju tersebut. Walhasil, ia berangkat dengan mengenakan baju koko yang sedang ia pakai saat itu. Baju yang setiap waktunya dipakai untuk berjamaah dimasjid. Warnanya hijau muda dengan bordil memanjang menghiasi sisi kanan-kiri kancingnya. Sayangnya, bordil itu sudah banyak yang mengelupas dari bentuk asalnya, belum lagi pada bagian pergelangan tangannya yang sedikit robek.
Langkah cepat Dika ambil segera karena jam sudah menunjukkan hampir pukul empat. Meski ia hanya ustadz pengganti, ia tak ingin hari pertamanya terlambat. Saat itu, Dika hanya mengandalkan kedua kakinya untuk sampai di TPQ Al-Ishlah, karena dia memang tidak memiliki kendaraan pribadi, baik berupa sepeda motor ataupun onthel. Butuh waktu sekitar tujuh hingga delapan menit untuk bisa sampai dikampung itu. Tanpa sadar, ternyata plang bertuliskan “TPQ Al-Ishlah” sudah tampak didepan matanya. Tanpa ba-bi-bu ia segera memasuki bangunan kecil mirip surau itu. Ada cukup banyak murid didalamnya. Mungkin sekitar Lima belas hingga Dua puluh orangan. Sebagian dari mereka ada yang sibuk menulis, melamun, mengobrol, dan sebagainya. Sebuah aktivitas kecil sebagai penghibur kebosanan sembari menunggu  ustadz yang belum datang.
“Salamu’alaikum Warohmatullohi Wabarakatuh.” Sapa Dika pada murid barunya.
“Wa’alaikumussalam warohmatullohi wabarokatuh.” Serentak jawaban yang mereka berikan.
Mulailah Dika mengajar sesuai dengan instruksi yang telah diberikan oleh Ustadz Anwar sebelumnya. Sayangnya, di hari pertama murid-murid terlihat nampak pasif, entah karena mereka tak nyaman dengan gurunya yang baru atau memang biasanya juga seperti ini. Dika tidak peduli akan hal itu. Namun, ia masih mencoba cara agar meraka dapat berinteraksi dengannya. Berkenalan misalnya. Karna Dika ingat akan pepatah “Tak Kenal maka Tak Sayang.” Selanjutnya Dika memperkenalkan dirinya dan mereka juga memperkenalkan dirinya masing-masing.
Sejam berlalu dengan begitu cepatnya.
Dika pulang dengan sesumbar senyum dimulutnya yang merekah itu. Dia puas akan hari pertamanya. Membayangkan kegiatan ini akan berjalan mulus hingga dua minggu kedepan.
“Bismillahirrohmanirrohim... semoga berkah.” Begitu gumamnya dalam hati.
Sesampainya dirumah, ia langsung menyambar londrian yang akan ia antarkan ke pemiliknya. Ia tak hanya mengantarkan ke tetangga dekat saja, tapi juga ke perumahan elit yang letaknya tak jauh dari kampungnya itu. Kiranya lumayan banyak orang yang mempercayakan baju-baju kotor itu pada Ibu Dika, tak lain keluarga Bu Umar misalnya. Bu Umar ialah orang yang sangat baik dan ramah, rumahnya yang besar dan mewah itu menambahkan kesempurnaan atas apa yang ada di dirinya. Namun anehnya Bu Umar tetap mempercayakan londriannya pada Ibu Dika sejak tiga tahun yang lalu. Padahal ia sendiri juga memiliki pembantu rumah tangga. Hal itulah yang sering kali dipikirkan oleh Dika. Bu Umar juga orang yang dermawan. Seringkali Dika mendapatkan makanan enak dan mahal bahkan diberi uang tambahan juga darinya. “entahlah hati Bu Umar ini terbuat dari apa..!!” Dika menepis terheran sambil menatap rumah yang begitu mewahnya. Namun kali ini rumahnya terlihat sepi karena Bu Umar dan suaminya sedang berangkat umroh. Ya, umroh adalah kegiatan rutin Bu Umar dengan suaminya tiap romadhon datang. Hanya tinggal tiga anaknya serta dua orang pembantu rumah tangganya saja.
Tak terasa adzan maghrib pun berkumandang dengan indah dan syahdu mengiringi senja di ufuk barat. Dika bergegas pergi ke masjid setelah tugas mengantarkan londriannya usai. Ia memilih berbuka dengan berbagai macam ta’jil yang tersedia dimasjid. Namun ia hanya makan sekadarnya saja. Sholat berjamaah pun dilaksanakan. Setelah usai, ia melihat kembali makanan ta’jil yang tersisa kemudian mengambilnya beberapa dan dibawanya ke rumah untuk keluarganya yang belum tentu dapat berbuka dengan menu tambahan yang lumayan seperti ini.
Senyum merekah muncul dari mulut ibunya saat menyambut anaknya datang. Pemuda dengan baju koko warna hijau muda dengan peci hitamnya yang sobek pada sisi kanan. Dialah Dika, anaknya. Ia datang dengan membawa kantong kecil hitam di tangan kanannya.
“Salamu’alaikum…” Seucap salam terarah pada ibu Dika sembari mencium lembut tangannya.
“Wa’alaikum salam, buka di masjid to lhee??”
“Nggeh buk, oiya ini uang londriannya buk, ini ada beberapa makanan kecil yang aku bawa dari Masjid.” Diberikannya uang serta kantung kecil itu pada ibunya.
“Waahh.. enak ini, anak-anak pasti suka.” Intip Ibu Dika pada kantung kecil itu.
Dalam sekejap ketiga adik Dika datang menghampiri kantong kecil hitam yang dibawa ibunya tadi. Kemudian mereka berebut sejumlah makanan yang ada di dalamnya. Saking bahagianya, kantong kecil yang terbuat dari plastik tipis tadi sobek. Tiga dari Lima jenis makanan yang berbeda langsung tandas. Dua sisanya hampir terlempar saat mereka saling berebut. Tak lain bagian itu adalah milik Ayah dan Ibu Dika. Melihat kebahagiaan itu, Dika dan Ibunya saling melempar senyum. Segera setelah itu, Dika tandang ke kamar ayahnya, menyuapi dengan penuh kesabaran. “Makanan akan tampak enak jika Dika yang menyuapi” Begitulah yang pernah diucapkan oleh ayahnya. Dika memang anak yang paling disayang daripada adik-adiknya yang lain.
Rambu pertanda isya’ telah berkumandang. Seusai menyuapi ayahnya, ia segera pamit untuk pergi ke masjid melasanakan sholat isya’ dan taraweh. Tak lupa ia juga mengajak adik-adinya. Sedangkan ibunya memilih sholat dirumah saja sembari menemani ayahnya yang sedang sakit. Doa-doa selalu terpanjat dari mulut Dika dan Ibunya seusai sholat. Entah doa untuk kesehatan ayahnya, keluarganya, ibadahnya, kelancaran rizkinya, dan sebagainya. Yang terpenting barokahnya di Bulan Romadhon. Selanjutnya, tadarus merupakan kegiatan terakhir Dika untuk menutup rutinitas sehari penuh di Bulan Romadhonnya.
Dua minggu telah dilalui Dika begitu cepat. Kurang lebih begitulah rutinitasnya selama Bulan Ramadahan. Ustadz Anwar pun telah kembali ke Indonesia. Dika pun segera tandang ke rumah Ustadz Anwar untuk sekedar ziaroh umroh serta pamit diri.
Seperti pada umumnya, para tamu tak terkecuali Dika akan meminta sekelumit cerita tentang perjalanan umroh di Baitulloh. Begitu Ustadz Anwar bercerita dengan runtutnya. Peluh air mata Dika keluar tak terbendungkan. Berangan betapa bahagianya jika ia dapat berangkat umroh di romadhon selanjutnya. Namun ia tepis angan itu jauh-jauh. “gimana mau umroh sesuap nasi saja kesulitan.!” Begitulah desisnya kesal sambil mengusap air mata yang meleleh.
Dika pun pulang dengan menerima sebuah tas coklat berukuran medium yang tak lain adalah pemberian dari Ustadz Anwar. Sesampai dirumah, ia membukannya. Tampak sebuah baju koko berwarna ungu dengan bordir setengah dada. Indah sekali. Tampak lagi sebuah amplop besar berwarna putih yang tak lain berisikan berlembar uang berwarna merah. Matanya nampak berbinar bahagia melihat itu. Hamdalah pun terucap dari mulut Dika berulang kali. Serasa telah benar-benar mendapatkan keberkahan di Bulan Ramadhan. Rencananya uang itu akan digunakan untuk berobat ayahnya. Namun, disisi lain ia juga bersedih karena ia tak lagi dapat mengajar ngaji di TPQ itu. Ia kehilangan satu jenis rutinitas yang ia mulai cintai.
Empat hari selang Ustadz Anwar pulang dari umrohnya, Bu Umar pun kembali juga. Sehari setelah itu, Dika dan Ibunya segera tandang kerumah Bu Umar untuk berziaroh sembari mengantarkan londriannya. Lagi-lagi Dika mendapatkan bingkisan besar. Bingkisan tersebut berisikan baju koko dan mukenah. Sudah dapat diduga bahwa kedua benda itu harganya sangatlah mahal. Alangkah senangnya Dika menerima itu. Ucapan terimakasih pun dilayangkannya kepada Bu Umar. Mereka berdua pun pulang dengan sangat bahagia.
Tiga hari berikutnya, Dika kembali ke rumah Bu Umar untuk mengambil londrian kotor. Tak seperti biasanya, kali ini Dika disuruh menunggu di Ruang Tamu. Dika duduk disana dengan melihat lukisan-lukisan yang terpampang indah menghiasi dinding Ruang Tamu yang tak lain adalah hasil lukisan anak-anaknya sendiri. Akhirnya Bu Umar pun datang.
“Gimana kabarnya, eh tadi udah diambil kan pakaian kotornya?” sapa Bu Umar.
“Alhamdulillah baik, sudah kok bu, sudah diambil, itu saya letakkan di depan pintu.” Jawab Dika.
“Oh, yasudah kalo gitu, gini lho nak Dika, tiga bulan yang yang lalu anak saya Izzy daftar kuliah beasiswa luar negri di Bristol University, tepatnya di London. Setelah melalui berbagai macam tes, alhamdulillah kemaren sudah pengumuman dan hasilnya diterima disana. Hmm, kira-kira awal KBMnya sekitar dua bulan lagi.” Jelas Bu Umar panjang lebar.
“Ahh, orang sekaya Izzy kenapa daftar program beasiswa sihh?” Gumam kesal Dika dalam hati.
“Nak, nak Dika, jangan melamun dulu..!!” Tangan Bu Umar melambai kearah raut muka Dika untuk membuyarkan lamunannya.
“Oh iya buk maaf buk maaf .. waahh itu bagus sekali bukk.. Alhamdulillah..” Jawab Dika gelagapan.
“Ya begitulah, nahh masalahnya Izzy minta dianter Ibu sampe ke London dua bulan lagi. Sedangkan kami juga punya dua buah voucher umroh gratis dari kantor yang kebetulan berangkatnya berbarengan dengan keberangkatan Izzy. Yang satu milik Suami, yang satu milik saya. Rencananya suami akan tetap berangkat tanpa saya.” Pelan-pelan Bu Umar menjelaskan.
“Nah terus voucher yang satu gimana buk?” Tanya Dika penasaran.
“Nahh itu dia, saya mau menawarkan voucher itu ke kamu, barangkali kamu mau nanti akan saya urus segala keperluannya, termasuk paspor, gimana nak Dika?”

Seketika itu Dika terperanjat mendengar kalimat Bu Umar. Serasa petir menyambar relung hati Dika begitu hebatnya. Ia bingung membedakan antara mimpi dan realita. Sujud syukurpun ia lakoni seketika itu juga. Sesenggukan terlihat dari balik punggung Dika. Bu Umar tersenyum melihatnya. Lalu ia bangkit dari sujudnya kemudian lari mendekap Bu Umar serta mencium tangannya berulang kali sebagai rasa ucapan terima kasih yang tak terhingga. Bu Umar pun mengelus lembut punggung Dika.
“Pulanglah, sampaikan kabar baik ini untuk keluarga di rumah.” Ucap terakhir Bu Umar.
Lantas Dika pun lari tunggang langgang dengan membawa dua kresek besar londrian kotor milik Bu Umar. Air matapun tak tertahankan mengiringinya. Sungguh sebuah keberkahan romadhon yang tiada terhingga. Kali ini Dika tak usah berangan untuk berangkat umroh romadhon taun depan karena dua bulan lagi ia akan berangkat.  ^_^

Komentar

share!