Kebahagiaan dari Putri Kecilku




Karya:  Dyah Yuukita


Aku adalah ibu muda yang sangat sibuk dengan pekerjaanku, aku mempunyai anak perempuan yang bernama Annisa yang berusia 6 tahun. Sejak aku bercerai dengan ayahnya dua tahun lalu, Anisa tidak seceria seperti anak-anak usianya. Dia menjadi pendiam dan tak pernah berbicara padaku. Aku sangat khawatir dengan sikap putriku itu. Sesekali aku bertanya kepada seorang baby sisternya Annisa, "Apakah dia menanyaiku ?". Dan si baby sisternya Annisa pun menggeleng dan menjawab, "Tidak bu". "Apa yang terjadi pada Annisa-ku? Ya Allah ..." Rintihku disetiap doaku.



Aku berangkat pagi-pagi buta dan pulang larut malam, tentu saja aku tak bisa mengajak anakku berbicara. Aku hanya diberitahu perkembangan Annisa oleh si baby sister. Annisa cukup mengalami kemajuan sedikit demi sedikit, tapi itu sudah membuatku merasa senang.

Bulan Ramadhan 1436 H pun tiba, jam kerjaku pun dikurangi dan banyak waktu dihabiskan di rumah. Aku berkesempatan mengajak putriku berbicara banyak hal, aku sangat senang dan antusias.

Saat sahur pertama. Aku sedang memasak dan menyiapkan makanan untuk sahur, dibantu oleh si baby sister. Aku mendengar suara langkah kaki di tangga, aku menoleh dan melihat putriku sedang menuruni tangga sambil memeluk boneka beruang berwarna coklat.
"Annisa, kok bangun jam segini ?" Tanyaku sesaat Annisa menghampiri meja makan.

Annisa terdiam dan hanya duduk di bangku makan.

"Annisa mau ikut sahur juga ya ?" Tanyaku lagi.

Tetapi Annisa tetap terdiam dan menatapku dengan tatapan asing. Aku sempat terkejut dengan tatapannya, hatiku bergetar.
"Annisa mau makan pake apa ?" Tanya sang baby sister yang berusaha mencairkan suasana. Dia mengerti aku sedang terkejut dan tergoncang.

Baby sister kami sudah memahami keluarga kami, dia sudah bekerja sejak Annisa baru lahir. Oleh karena itu, baby sister kami sudah seperti keluarga bagi kami.
"Aku mau ayam kecap aja." Jawab Annisa.

Aku pun tersadar dari lamunanku, dengan segera aku mengambil sepotong ayan kecap dan kuberikan kepada Annisa dengan senyuman hangat. Annisa tak membalas senyumanku, dia menunjukkan sikap dinginnya padaku. Aku sedikit sedih melihat sikap Annisa padaku, tapi di sisi lain aku merasa senang karena bisa sahur bersama Annisa. Aku melirik ke arah Annisa, dia makan dengan blepotan dan entah kenapa dia terlihat sangat lucu. Sesekali aku tersenyum gemas, Annisa yang menyadari dirinya diperhatikan, dia pun memasang wajah yang cemberut. Malah cemberutnya membuatku tak tahan lagi untuk tertawa, sang baby sister yang melihatku tertawa hanya tersenyum lebar. Sedangkan Annisa terlihat tak suka lebih memilih cuek dan melanjutkan makan.

Setelah selesai sahur, kami duduk di ruang tamu sembari menonton tv menunggu adzan subuh. Annisa tetap tidak ingin dekat denganku dan dia malah dekat dengan sang baby sister. Aku hanya menarik nafas panjang melihatnya. Aku adalah ibunya Annisa, tetapi Annisa tidak mau dekat denganku bahkan mengajakku berbicara pun tidak.

Kami menonton tv kartun kesukaannya Annisa, dia terlihat sangat menikmati menonton kartun itu, dia sesekali tertawa karena kelucuan kartun itu. Aku memandangnya penuh arti, "Annisa tertawa! Aku bahkan baru melihatnya tertawa setelah beberapa tahun ini! Atau karena aku terlalu sibuk bekerja jadi aku tak pernah melihatnya tertawa? Melihatnya tertawa saja membuatku terasa sangat hangat dan sejenak hilang semua penatku." Teriakku dalam hati.

Tak terasa adzan subuh berkumandang, kami bergegas pergi ke masjid dekat rumah kami dengan membawa mukena dan sajadah tak lupa juga kami berwudhu sebelum kami pergi ke masjid.

Setelah selesai sholat subuh di masjid dekat rumah, kami pulang ke rumah. Annisa tampak mengantuk, aku hendak menggendongnya tapi dia tidak mau dan malah minta digendong sang baby sister.
"Kak Siti, gendong Nisa !" Rengek Annisa dengan kantuknya.

"Sama ibu aja sini ..." Aku menawarkan diriku dengan hangat.

"Gak mau !" Annisa menghindariku.

Aku tertunduk lesu. Aku menatap sang baby sister dan mengisyaratkannya terlelap digendonganku. Aku ingin sekali memeluk Annisa, menggendong Annisa, dan dimanja Annisa. Aku masih sama seperti ibu lainnya yang menginginkan itu kepada sang buah hatinya.

Sesampainya di rumah, aku bergegas pergi ke kantor seperti biasa. Sedangkan baby sister membawa Annisa ke kamar. Sebelum aku pergi ke kantor, aku menengok ke arah kamar Annisa, di sana tampak Annisa tidur terlelap sambil memeluk boneka beruang coklatnya. Aku melangkah masuk ke kamar Annisa, aku mencium keningnya dengan lembut lalu aku tarik selimut untuk menghangatkannya. Aku tersenyum singkat dan berlalu pergi ke kantor.

Di kantor, aku seperti biasa sibuk dengan pekerjaanku namun disela-sela sibukku, aku tetap memikirkan putriku. Entah apa yang harus aku lakukan lagi sampai putriku itu mau berbicara padaku dan menyebutku dengan sebutan "Ibu". Membayangkannya saja aku merasa senang apalagi kalau itu benar-benar terjadi sungguh aku akan sangat senang.
"Permisi, bu." Tiba-tiba datanglah salah satu staff ke ruanganku.

"Iya." Sahutku.

"Hari ini ada klien yang akan ibu temui kan? Ibu belum berangkat ?" Salah satu staff itu mengingatkan.

"Ah iya. Saya hampir lupa. Saya akan segera pergi." Aku pun bergegas ke luar sambil membawa tas di tanganku.

Setelah selesai dengan urusan klien, aku pun kembali ke kantor menbereskan beberapa berkas dan kemudian aku pulang ke rumah. Entah kenapa rasanya aku tak sabar untuk pulang.

Sesampainya di rumah. Aku mendapati sang baby sister dan juga Annisa sedang bermain di halaman rumah. Mereka tampak bahagia. Aku hanya terdiam dan tersenyum sedih melihatnya, aku juga ingin merasakan kebahagiaan bersama anakku sendiri.
"Ah, ibu udah pulang. Ibu pulang cepat hari ini." Sahut sang baby sister yang menyadari keberadaanku.

"Iya." Senyumku.

"Oh, iya bu. Saya mau izin bukber sama temen-temen saya ya bu." Sang baby sister meminta izin padaku.

"Oh, yaudah. Silakan." Aku pun mengizinkannya.

"Kak Siti, terus aku bukber sama temen-temen sekolah siapa yang anterin ?" Rengek Annisa.

"Maaf ya, Annisa. Kakak gak bisa. Gimana kalo sama ibu aja ?" Saran sang baby sister sambil melihat ke arahku. Aku terkaget. Sedangkan Annisa cemberut mendengar saran dari sang baby sister.

"Annisa mau ibu anter ?" Aku pun memutuskan bertanya padanya.

"Sibuk gak? Kalo sibuk juga gak apa-apa." Annisa akhirnya menyahuti pertanyaanku.

"Gak kok." Senyumku penuh arti.

Kami pun pergi ke tempat bukber di mana teman-teman TK Annisa sudah menanti di sana. Sepanjang perjalanan Annisa tetap saja diam tak bicara sepatah kata pun padaku. Aku hanya fokus mengendarai mobil.

Sesampainya di sana, sudah banyak teman-teman TK Annisa yang sudah sampai beserta orang tua mereka. Aku melihat mereka begitu bahagia bersama. Aku pun duduk di bangku yang kosong. Sedangkan Annisa pergi ke tempat teman-temannya.
"Annisa itu siapa ?" Tanya salah satu teman Anniaa yang terdengar olehku.

"Ibuku." Jawab Annisa dengan pelan tapi tetap terdengar olehku. Aku sempat terkejut. Annisa memanggilku dengan sebutan "Ibu" sudah lama sekali aku tak mendengarnya dari mulut kecilnya. Aku terharu mendengarnya sampai-sampai aku tak sadar air mataku mulai mengalir dari mataku.

"Cantik ya. Sama cantiknya kayak kamu." Puji salah seorang temannya yang lain. Annisa hanya tersenyum.

"Terima kasih Ya Allah. Ramadhan kali ini aku mendapatkan kebahagiaan dari anakku sendiri, anakku mulai mengakui keberadaan ku sebagai "Ibunya". Terima kasih Engkau telah menjawab doaku." Teriakku dalam hati dengan tetesan air mata terharu.

Komentar

share!