Kawan Lama



Karya:  Adelia Eka Dita

 
SEDIKIT PERBINCANGAN DENGAN KAWAN LAMA
Oleh Agus Suarminoto
...di paragraf terakhir Ia menulis :
Saya yakin saya akan mendapatkan banyak tentangan karena artikel ini. Ramadhan tahun ini kuhabiskan di Suriah. Suriah menjadi saksi perjuanganku mendapatkan gelar sarjana dari Universitas Kuftaro, juga perjuanganku bersama teman-teman mahasiswa Indonesia berburu hidangan berbuka di masjid-masjid Damaskus agar mampu hidup hemat di negeri orang saat ramadhan tahun-tahun lalu. Namun ketika bertepatan dengan adanya krisis yang melanda Suriah, yang datang di semester yang ke 4, semuanya menjadi serba susah. Masjid-masjid dan jalanan telah dikuasai oleh kelompok-kelompok yang berperang saudara dengan pemerintahan seperti ISIS, Free Syrian Army, Jabhat Al Nushra, atau kelompok lainnya. Aku tak pernah menyangka akan sempat bereuni dengan temanku disini yang selalu menjadi lawanku pada masa kuliah dulu, dan sekarang ia menjadi bagian dari mereka. Entah bagaimana ia menyadarkanku bahwa satu tujuan memang bisa dilakukaan dengan cara yang berbeda-beda. Ia juga menyadarkanku akan selalu ada kebaikan didalam keburukan, begitupun sebaliknya. Tidak, aku  tidak dicekoki pahamnya. Aku hanya mencoba mengerti sisi lain dari mereka, yang pantas untuk kalian ketahui juga.”
***


Jurnalis itu menatap hamparan Suriah dari jendela. Hembusan udaranya membawa nafas-nafas dahaga dan ketabahan  yang diisi dengan jeritan, tangisan, atau denting peluru yang melingkar di dada orang-orang dengan selongsong senjata di tangan mereka. Ia mendaratkan sawangannya ke lapangan didekat masjid yang pernah menjadi langganannya berburu hidangan buka puasa. Teringat kenangan bersama teman-teman mahasiswa Indonesia, sesama anak perantauan, bermain bola hingga larut malam menunggu waktu sahur. Sayangnya pemandangan Ramadhan dari aktivitas juru masak yang berlalu lalang disana saat senja, kini digantikan oleh pria-pria bertudung dan bersenjata.

“Apa yang kau lihat?” Tanya kawan seperjuangannya, yang seolah selalu menjadi juru bicara diantara mereka dulu.
“Masih suka ditodong kah kalau main bola malam-malam di lapangan itu?”
“Pahit sekali pertanyaanmu, Gus. Terima atau tidak aku memang sekarang bagian dari mereka.” Ia mengambil sapu tangan dari sakunya lalu membersihkan mulut senapan yang sedari tadi melingkar di tubuhnya. “Apa kalau begini kau juga benci padaku?”
“Tidak.” sahutnya dingin. Jurnalis itu lalu meraih kursi di hadapan kawan lamanya.
Lalu kawannya berkata, “baguslah, aku kira semua jurnalis begitu. Senang kau bisa meraih mimpimu.”
Ia tersenyum. Sarkasmenya dibalas dengan sarkasme serupa. Memang kawannya ini tidak pernah berubah. Diantara yang lain selalu mereka berdualah yang hobi menciptakan kontra. Yang lain semacam menjadi penonton antara dua oposisi. Tidak juga ada yang dianggap paling benar diantara keduanya, dan tidak bisa pula dicari siapa yang paling baik mengingat kedua ide sama sekali berlawan arah tanpa setitikpun relasi.
“Kau tahu, aku ingin melayangkan 'wawancara' atas nama pribadi sebelum wawancara atas namaku sebagai jurnalis.”
“Kau juga tahu aku tidak akan melayanimu untuk itu.”
Ada sebuah jeda, lalu sang jurnalis merobek secarik kertas dari jurnalnya, beserta dua pensil. “Tolak ini kalau berani. Bermainlah SOS[1] denganku seperti dulu, setiap aku unggul 2 poin darimu, kau harus menjawab pertanyaanku.”
“Kubunuh kau.” Temannya itu tahu kalau dirinya  tidak pernah menolak tantangan, apalagi darinya. Mereka sering memainkan permainan ini jika mereka menunggu waktu berbuka di masjid karena tiba terlalu cepat. Ia juga tahu bahwa orang yang menantangnya ini jarang kalah. Ia menarik nafas panjang lalu berkata, “baiklah... Terserah kau saja. Aku duluan.”
Walaupun ia mengambil giliran pertama, sang jurnalis itu dengan cepat membuat keadaan menjadi 3-1. Gara-gara mereka, permainan ini sempat menjadi kegemaran di kalangan mahasiswa Indonesia yang berburu hidangan berbuka secara cuma-cuma di masjid sekitar Kota Damaskus. Satu sama lain saling mengenal karena terlarut dalam nostalgia permainan masa kecil mereka di tanah kelahiran. Disana mereka memiliki rasa berat sama dipanggul ringan sama dijinjing, sebagai anak-anak perantauan yang sedang menimba ilmu di negeri orang. 
Dilayangkanlah pertanyaan pertama darinya, “jelaskan kepadaku bagaimana kau bisa menjadi bagian dari Jabhat Al-Nushra.[2]
“Tertebak sekali pertanyaanmu. Tidak lama setelah kelulusan, teman-teman kita pulang ke Indonesia, kau juga. Aku menjadi bagian dari sebuah badan amal untuk anak-anak yatim piatu. Ada satu pria bersenjata yang selalu kembali dan kembali ke yayasan kami. Ketika datang, anak-anak sekitar akan memeluknya sembari ia memberi mereka permen satu persatu.” Ia melihat keatas, mengais sisa-sisa memorinya, “lalu aku menghampirinya.. Dan kami duduk bersama, mengopi. Bisa dibilang aku gila penjelasan seperti kau sekarang ini.”
“Lalu kau termakan oleh pahamnya begitu saja?” Potong si Jurnalis tidak sabar. Seolah-olah sudah menebak reaksinya dari awal, temannya hanya tersenyum. Selama masa hidupnya menjadi seorang jurnalis, banyak kabar orang-orang awam yang langsung begitu saja ingin bergabung dengan para mujahidin karena Rasulullah SAW. sendiri pernah bersabda bahwa umat terbaik berada dan datang ke Syam (Suriah adalah bagian dari Syam). Tanpa mengetahui kelompok apa yang sedang mereka masuki itu, banyak diantara mereka yang pada akhirnya memohon negaranya untuk mengeluarkan mereka dari sana. Sayangnya tidak semua negara mampu menebus warga negaranya itu, seperti Italia yang menebus dua orang gadis yang bergabung hanya karena jatuh cinta pada aktivitas kelompok tersebut di media sosial.
“Simpan itu untuk 2 poin selanjutnya.”
Mereka melanjutkan permainan, namun kawan lama itu memang masih sepayah dulu. Keadaan kembali menjadi 2 poin unggul untuk si jurnalis. Maka dibaliknya kertas papan permainan SOS mereka, lalu si kawan menuliskan beberapa kalkulasi yang berjumlah 9. 
“4+5 jumlahnya 9 bukan?” Sang jurnalis menangguk, “Begitupun 6+3, juga 7+2, benar?”
“Ya. Lalu?” Si jurnalis mengerutkan dahi, masih belum paham.
“Hanya karena kau menganggap satu cara untuk mengabdi padaNya, bukan berarti cara yang lain salah. Aku mengabdi padaNya dengan caraku.” Kemudian ia kembali membalikkan kertas, “aku tahu apa yang akan kau katakan. Tidak, Agus, aku tidak dicekoki oleh paham. Alasanku berbeda dengan alasan orang-orang yang merengek pulang itu. Aku juga tidak pernah menentang paham mereka sedari awal seperti yang diam-diam kalian bicarakan di masjid setiap maghrib. Katakan padaku, Gus, Bagaimana bila kau lah yang dicekoki oleh tulisan-tulisan yang kau baca hingga begadang itu?”
Si jurnalis tersenyum masam, lalu menulis huruf S di samping huruf O. Dicoretnya 3 kotak itu dengan mantap. “Jangan dendam pada media. Mereka, termasuk aku, meliput berdasarkan fakta. Bukankah kita juga pernah menjadi saksi? Saat mereka menodongkan senapan diantara kedua matamu hanya karena kita main bola hingga larut?”
“Memang kebanyakan berupa fakta.” Kawannya menulis huruf S, lalu mencoretnya, “tapi konsentrasinya dimana? Perbandingan antara sisi gelap dan sisi terang yang kalian liput itu njomplang. Sadarkah kau? Kalian para media punya kekuatan yang lebih besar daripada ratusan senapan kami. Kalian bisa menggerakkan opini dunia!”
Kembali juga diingatnya mulut senapan dingin yang menyerap nyawanya ke pusara. Kejadian yang hanya beberapa jam sebelum sahur ramadhan beberapa tahun lalu itu, membuat mereka tidak lagi pernah keluar malam, apalagi bermain bola hingga larut untuk melepas jenuh. Lalu ia menambahkan, “lagipula, yang menodong kita waktu itu bukan Jabhat. Kelompokku bukanlah kelompok yang sama dengan kelompok yang menukar harga wanita dengan sebungkus rokok.”
Ibarat terserang jamais vu [3], si jurnalis sedikit tercekat karena tidak menyadari hal yang kentara itu. Konsentrasi pemberitaan media memang menyudutkan kelompok-kelompok yang berperang saudara dengan pemerintahannya sendiri itu. Selalu menyudutkan para mujahidin, atau para orang yang berjihad, mereka yang mengaku berjalan di jalan Allah. 
“Benar, bukan? Kalian menganggap kita ekstremis, teroris, karena apa? Hanya karena kita melawan rezim kotor pemerintahan? Itu tidak bisa diterima oleh dunia walaupun pernah ada aparat yang harusnya melindungi rakyat terang-terangan menyatakan akan menghabisi siapapun yang menghalangi jalan mereka? Termasuk rakyatnya sendiri.” Ia terus melanjutkan, “Coba saja kami melawan satu sama lain, kalian tidak akan se-kalang kabut ini.”
“Kau selalu menciptakan kesurusuhan agar orang-orang mengikuti pahammu, yang menjadi visimu. Kau sendiri bahkan bukan berasal dari sini, malah kau mengatur hidup negara orang. Kalian itu terus meneror, Anwar.” Agus dapat merasakan dirinya agak naik pitam, “Rakyat punya hak  yang kalian batasi. Dan konsentrasi pemberitaan kami tidak seimbang karena memang itu yang ada di lapangan.”
“Ada yang bilang bahwa demokrasi adalah warisan terburuk dari Amerika. Lihatlah dirimu, orang-orang yang melabel dirinya pikiran terbuka sekarang sedang memaksakan visinya.” Tanpa sadar, keduanya sudah tak saling tatap karena terus berkonsentrasi kepada permainan. Di batin Agus, lebih cepat ia mendapat 2 poin lebih cepat ia melayangkan pertanyaan. Sedangkan di batin Anwar, lebih cepat ia menghabiskan ruang lebih cepat permainan ini berakhir. “Ketika kau ada di Roma, lakukanlah layaknya orang Roma. Jika kau memberlakukan demokrasi yang tidak sesuai dengan identitas bangsa ini, maka biarlah Suriah menjadi Suriah. Lagipula, walaupun aku orang Indonesia, di islam kita semua saudara.”
Dua poin unggul untuk Agus. Akhirnya, ini yang terakhir.
“Baiklah, apa konklusimu?” Diambilnya jurnal lalu Agus bersiap untuk menulis. Apapun yang dikatakan kawannya itu, seberapa geram Agus dibuatnya, ia siap untuk mendengarnya.
“Kita akan selalu berbeda, Agus. Kau bergelut dengan pena dan aku dengan senjata. Kau dengan ilmu dunia dan aku ilmu agama. Kau mengejar hal yang material, aku mengejar hal yang inmateril. Kau yang memberitakan dan aku yang diberitakan. Kau, media, bagai manifestasi adanya yin didalam yang dan aku, ekstremis--kalian bilang, adalah manifestasi adanya yang didalam yin.[4] Satu cara tidak bisa menyalahkan cara lain. Tidak ada yang paling benar diantara kita, mengingat jalan kita sangat berbeda. Namun aku yakin, jalan kita ambil akan berujung pada hal yang sama."
Ditutupnya jurnal itu, lalu ia masukkan kedalam tasnya. Agus berdiri seakan hendak pergi. "Aku masih disini hingga besok. Apa menu hidangan para dermawan di masjid hari ini?"
"Mau kemana? Kita kan belum wawancara sungguhan?" Heran Anwar.
"Mari coba yang baru. Sisi lain dari sesuatu yang sudah dilabel demikian, mungkin bisa mengundang minat pembaca."
Sembari keduanya berjalan keluar ruangan, keduanya sama-sama tahu ramadhan bulan ini akan terus terpatri di lokus otak mereka. Sedikit perbincangan dengan kawan lama, yang sebenarnya selalu berbeda.
Catatan :
Kisah ini terinspirasi dari kisah ramadhan mahasiswa Indonesia di Suriah, dan artikel TIME dengan pimpinan lapangan Jabhat Al Nushra.
[1] Permainan SOS : permainan dimana mengisi kotak dengan huruf S dan O, ketika huruf secara berjajar membentuk kata 'SOS', yang mencoret akan mendapat nilai 1 poin.
[2] Jabhat Al Nushra : salah satu kelompok yang menentang rezim pemerintahan korup Bassar Assad di Suriah  seperti FSA dan ISIS. Juga sering diberitakan sebagai teroris dan ekstremis.
[3] Jamais Vu : kebalikan dari Deja Vu, dimana seseorang lupa atau tidak menyadari hal yang dilaluinya setiap hari (sebuah rutinitas atau hal yang kentara).
[4] Yin : melambangkan sisi negatif (berwarna hitam pada yin dan yang) & Yang : melambangkan sisi positif (berwarna putih pada yin dan yang)

_______________________________________________________________________

Komentar

share!