KADO YANG TAK PERNAH ADA DI DUNIA




Karya:  Ala fikriyah


Kayuhan sepeda usang model tahun 70-an itu berbunyi penuh semangat bak semangat seorang anak perempuan kecil berumur 10 tahun yang sedang menaikinya,walaupun tertatih-tatih karena kaki nya yang tak sampai dan harus mengatur antara menginjak pedal sepeda ketika berhenti,ia tetap berputar-putar di sekitar komplek perumahan mewah yang terletak disalah satu kawasan elite daerah jakarta pusat, sembari melemparkan Koran ke dalam setiap rumah-rumah yang berbaris rapi itu. Tak ada pilihan lain selain bekerja sebagai seorang loper koran.


Jarum jam di dinding rumah mungil yang terletak di pinggiran kota Jakarta itu menunjukan pukul 06.00 WIB, perempuan paruh baya berusia kisaran 30-an yang terbaring lemah di atas kasur itu sudah 5 hari terakhir ini demam tinggi dan tak bisa berjualan kue dipasar seperti biasa. Si kecil lah yang akhirnya terpaksa menjadi seorang loper koran,walaupun awalnya sang ibu melarang mati-matian tapi sang anak berhasil meyakinkan kalau ia akan baik-baik saja dan urusan sekolahnya tidak akan terganggu sama sekali.
“ assalamualaikum ibu” ucap sofi ketika membuka pintu kamar
“walaikumsalam, sudah selesai nak  mengantar korannya?” Tanya khadijah pada anak semata wayangnya itu
“sudah bu” jawab sofi sembari membuka bungkusan plastik berisi bubur ayam
“ibu makan dulu tadi pak baim ngasih uang lebih maka nya sofi belikan bubur ayam buat ibu “ ucapnya sambil tersenyum menatap iba ibu nya yang terbaring lemah itu
“sofi beras didapur apakah masih ada nak?” Tanya sang ibu pada anaknya
“masih ada bu cukup untuk satu minggu ke depan” jawabnya sambil menahan nafas karena takut ketahuan sedang berbohong
Ibunya tersenyum tenang melepas lega setidaknya mereka masih ada persediaan makanan untuk satu minggu ke depan. Jarum jam bergerak cepat menunjukan pukul 06.30 WIB,sofi sudah siap dengan kemeja putih dan rok merah nya,dia menyalami tangan ibunya dan segera menarik sepeda keluar rumah. Ibunya melambaikan tangan dari balik jendela kamar  sambil tersenyum dan berkata” hati-hati nak”. Sofi membalas senyum itu lalu berbalik arah mengayuh sepeda menuju sekolah. Kayuhan demi kayuhan sepeda nya begitu lambat ia tak bisa melihat arah depan lebih jelas matanya basah sedari keluar dari rumah,menyesal karena telah membohongi ibunya bahwa ia mendapat uang tambahan dari pak baim pemilik tempat percetakan koran tempat ia bekerja,menyesal karena mengatakan bahwa masih ada beras untuk seminggu ke depan. Berbohong merupakan dosa,itu yang ia tahu sewaktu mengikuti kajian sore di masjid tempat ia biasa mengaji. Sofi  menyesal, terhadap teman-temannya,ibu gurunya,pak baim,dan kepada siapapun dia tidak pernah berbohong tetapi kepada ibunya sendiri,malaikat hidupnya ia harus tega berbohong hanya karena tak mau ibunya memikirkan banyak hal,sakit ibunya akan bertambah jika mengetahui apa yang terjadi.
Gerbang SDN 01 kemayoran terlihat dari kejauhan,sofi mengayuh sepeda lebih cepat karena jarum panjang jam yang bertengger di depan gerbang itu akan segera bergeser ke angka 12 dan itu pertanda bahwa bel akan berbunyi.ia memarkir sepeda tua nya itu di halaman sekolah,kemudian bergegas menuju kelas siap untuk belajar hari ini. Sofi selalu senang ketika pergi ke sekolah,selalu senang ketika mendapatkan pengetahuan baru,selalu senang ketika bisa menjawab pertanyaan yang diberikan oleh gurunya,dan selalu senang akan suasana sekolah,mungkin itulah salah satu faktor yang membuat ia selalu menjadi siswa nomor satu dikelasnya.
“kriiiiiing,,,kriiiiing,,,” bel berdering panjang pertanda bahwa kelas telah usai
Anak-anak bersiap-siap pulang sembari memasukan buku-buku mereka ke dalam tas,kebetulan untuk kelas terakhir hari ini adalah pelajaran agama dan setiap selesai kelas pak Mahmud,guru agama mereka. Selalu memberikan info tentang kajian rutin atau acara-acara remaja di masjid agar anak-anak sedari dini terbiasa untuk ikutserta dan berperan aktif dalam organisasi dan juga sekaligus menimba ilmu agama.
“anak-anak harap tenang,bapak akan menyampaikan sebuah informasi untuk kalian semua,diharapkan kalian mendengarkan dengan seksama” ucap pak Mahmud diiringi keheningan seisi kelas.
“bapak ingin memberitahu bahwa dalam rangka menyambut bulan ramadhan yang akan tiba dalam satu bulan ke depan ini,masjid kemayoran mengadakan dauroh Al-quran,yaitu kegiatan menghafal 2 juz Al-quran selama bulan ramadhan bagi anak usia 10-15 tahun,dan ini tidak dipungut biaya,jadi bagi siapa saja yang ingin ikut setelah kelas bapak tutup bisa mendaftar ke bapak”. jelas pak Mahmud
Kelas hening sejenak, mungkin untuk anak seumuran mereka yang sebelumnya masih sedikit hafalan surat pendeknya merasa berat karena dalam waktu sebulan harus menghafalkan 2 juz.
“Anak-anak bapak ingin bertanya kepada kalian,disini siapa yang sayang kepada kedua orang tua nya?” Tanya pak Mahmud
Seisi kelas mengangkat tangan mereka satu per satu.
“Baiklah semuanya pasti sayang” ucap pak Mahmud sembari menyuruh mereka menurunkan tangan.
“lalu apa yang sudah kalian beri untuk kedua orang tua kalian?”Tanya pak Mahmud
Salah seorang murid mengacungkan tangan kemudian menjawab “pak aku selalu membantu ibu ku setiap hari,menyapu rumah,mencuci piring,dll.bukankah itu juga memberi,memberi sedikit waktu yang aku punya untuk membantu” ucap nya.
Pak Mahmud tersenyum kemudian menjawab ”itu kewajiban nak bukan pemberian. Bapak akan menjelaskan kepada kalian tentang satu hadist yang mengatakan bahwa anak-anak yang mempelajari,memahami,menghafal Al-quran maka kelak diakhirat nanti kedua orang tuanya akan dipakaikan pakaian terindah yang tak pernah ada didunia.
“nah jadi siapa yang ingin memberikan hadiah yang tidak pernah ada di dunia untuk kedua orang nya?”Tanya pak Mahmud
Seisi kelas mengacungkan tangan,senyum pak Mahmud mengembang. Tak terhitung berapa pahala pak Mahmud yang tercatat malaikat di siang hari itu.
“jadi anak-anak selama bulan puasa setiap habis ashar semuanya berkumpul di masjid,baik bapak akhiri kelas pada siang hari ini assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh” ucap pak Mahmud
“Walaikumsalam warahmatullahi wa barakatuh”jawab seisi kelas
Pak Mahmud meninggalkan kelas,diikuti anak-anak kemudian berhamburan di halaman sekolah,mengambil sepeda masing-masing dan menuju rumah. Berbeda dengan sofi dia tak langsung pulang ke rumah,baginya sehabis pulang sekolah adalah saat yang menentukan apakah  ibunya dan dia akan makan atau tidak saat malam nanti, sudah 5 hari terakhir ini setelah pulang sekolah ia membantu pemilik warung makan di depan gang rumahnya dengan mencuci piring. Setelah selesai tugasnya pemilik warung akan memberikannya 2 bungkusan nasi beserta lauk untuk di bawa pulang tak lupa juga uang senilai Rp.20.000,upah kerja nya selama 4 jam.
Dengan mengendarai sepeda usang kesayangannya itu ia bergegas pulang ingin menemui sang malaikat hidupnya.
“ibu ini makan sehabis itu minum obat” katanya lembut seraya menggerakan sendok berisi nasi dan lauk ke dalam mulut ibunya.
Khadijah melahapnya lalu berkata lirih” maafkan ibu nak,harusnya ibu yang menjaga kamu”
 Sofi tersenyum kemudian menjawab “bu ini kewajiban sofi untuk merawat ibu saat ibu sakit,bahkan ini pun belum bisa membalas semua yang telah ibu lakukan dahulu mulai dari mengandung sofi,melahirkan,merawat,sampai membesarkan seperti sekarang ini”
Sang ibu tersenyum lalu meneteskan air mata kemudian memeluk anaknya,harta satu-satunya yang ia punya,begitu berharga,bahkan dunia dan seisinya pun tak bisa menggantikan.
“ibu bangga punya anak sesolehah kamu nak,secerdas kamu. Semoga apa yang kamu cita-citakan tercapai nak” ucap khadijah penuh syukur sambil membelai lembut rambut anaknya perlahan.
“bu tadi waktu pelajaran agama pak Mahmud bilang kalau bulan ramadhan ini akan ada dauroh Al-quran,jadi nanti setiap habis ashar selama bulan ramadhan kita yang mau ikut harus ke masjid untuk menghafal quran bu,sofi mau ikut bu,sofi ingin memberi ibu dan ayah hadiah yang tak pernah ada didunia,walaupun ayah telah tiada sejak 2 tahun lalu tetap saja sofi ingin berbakti padanya” ucapnya penuh semangat.
Ibunya terdiam lalu bertanya “memangnya caranya bagaimana nak?”
Sofi kemudian menjawab “tadi pak Mahmud bilang kalau ada hadist yang menjelaskan bahwa jika kita mempelajari,memahami dan menghafal Al-quran maka orang tua kita akan di pakaikan jubah kemuliaan yang tak pernah ada di dunia,nah sofi ingin memberikannya untuk ibu dan ayah.sofi ingin berusaha dari sekarang bu,sofi pasti bisa memberikan jubah itu untuk ayah dan ibu,ibu doakan sofi terus yah bu. Kata pak Mahmud doa ibu itu tidak pernah tertolak bu” dia bercerita panjang lebar sambil membayangkan nanti akan memakaikan hadiah terindah itu untuk kedua orang tuanya di akhirat nanti,tak sadar jika ibunya meneteskan ribuan air mata sedari tadi sambil memandangnya haru mendengar perkataan anaknya yang begitu lugu,apa adanya,dan penuh cinta.
“nak doa ibu tak pernah putus untukmu,setiap hembusan nafas ibu adalah doa untukmu”ucap ibunya sembari memeluknya erat.
Percayalah di atas langit sana,ribuan bahkan jutaan malaikat mendoakan semoga anak solehah ini bisa menghafal Al-quran dan memberikan kado terindah. Doa ibu nya membentuk tangga-tangga harapan menuju langit membuat segala nya terwujud.
Bulan ramadhan telah tiba dihari pertama sofi berhasil mengahafal satu 10 baris dari surat an-naba,ia bersorak riang menyalami tangan mbak difa pengajar nya untuk 30 hari kedepan.
“sofi,dirumah harus diulang terus yah hafalannya agar tidak lupa” ucap mbak difa
“iya mbak insyaAllah” jawab sofi
“sofi kamu harus rajin yah,daya hafalan kamu diatas rata-rata, dibanding anak-anak yang lain,kamu dalam menghafal sangat cepat jadi mbak harapkan selama bulan ramadhan ini kamu harus bisa lebih dari 2 juz” jelas mbak difa menyemangati sofi
“iya mbak aku akan berusaha mbak” balasnya penuh semangat
Sofi bergegas keluar,menuruni anak tangga masjid mencari sandal nya diantara rak-rak yang tersusun rapi lalu bergegas pulang. Di hari pertama bulan ramadhan keadaan ibunya sering waktu telah membaik,ibunya menyuruh sofi berhenti dari bekerja di warung dan sebagai loper koran,lalu membantu ibunya berjualan ta’jil di sore hari ketika menjelang berbuka puasa.
Sofi dan ibunya berjualan di sekitar daerah bendungan hilir,tempat yang strategis untuk mencari pelanggan,tak sampai bedug dagangan mereka telah habis,mungkin salah satu faktornya adalah masakan khadijah memang enak.
“dug,,dug,,dug,, ALLAHUAKBAR ALLAHUAKBAR,,” lantunan adzan terdengar dari kejauhan,insan untuk daerah Indonesia bagian barat serentak berbuka puasa,melepas lapar dan dahaga setelah seharian penuh menahannya.
Setelah memakan beberapa kue dan minum secukupnya,sofi dan ibunya pergi ke masjid melaksanakan sholat magrib berjama’ah. Sengaja khadijah melatih sofi untuk tidak memakan makanan berat sebelum sholat tarawih,ditakutkan akan susah bergerak dan merasa terlalu kekenyangan,akhirnya sholat pun tak khusyu’.
Hari-hari berlalu begitu cepat,sekarang sudah memasuki hari ke-15 bulan ramadhan dan sofi telah menghafal juz 30 dengan baik. Dia semakin bersemangat untuk menjadi seorang penghafal Al-quran,semakin bersemangat mencari ridha sang illahi,semakin bersemangat memberikan kado terindah itu untuk kedua orang tuanya.
Pada hari ke- 20 seusai ia menyetorkan hafalan surat al-qiyamah kepada mbak difa,ia langsung berpamitan ingin pulang lebih awal karena merasa agak pusing,mbak difa mengizinkannya. Ia lalu bergegas pulang karena merasa kepalanya sangat berat bak ditimpa batu gunung. Ia lalu bergerak cepat mengendarai sepedanya.
Sore itu langit cerah,menambah kemeriahan suasana ramadhan,berlalu lalang insan-insan mencari makanan lezat untuk disantap nanti saat berbuka. Sofi melintasi jalanan yang ramai akan kendaraan beroda dua dan empat itu untuk bisa lebih cepat sampai ke rumahnya. Sakit kepalanya tak bisa menuntun dia untuk lebih berhati-hati melihat kekiri dan kekanan. Tak dapat dipungkiri lagi ketika dia hendak melintasi jalanan,dari arah berlawanan kendaraan beroda empat itu hilang kendali untuk bisa menahan rem nya,tubuh sofi terlempar beberapa meter tak jauh dari lokasi kejadian. Tubuhnya sebagian berdarah,dia masih sadarkan diri sambil terus mengucapkan takbir dan istighfar.
Khadijah masih sibuk di dapur membungkus ta’jil untuk dijual sore ini,sesekali ia menatap khawatir jarum jam yang bergerak itu. Menunggu sofi yang tak kunjung datang membuatnya bergegas menuju depan pintu. Tiba-tiba khadijah dihampiri oleh salah seorang tetangganya yang tadinya berada di tempat kejadian sewaktu sofi mengalami kecelakaan,ia memberitahu bahwa sofi telah mengalami kecelakaan,tak sempat mengunci pintu rumah ia bergegas berlari menuju jalanan. Sore itu entah perasaan apa yang ada dalam hati khadijah,tak bisa dijelaskan.
Khadijah berlari kencang ke arah sofi memeluknya,berkali-kali mengatakan bahwa sofi akan baik-baik saja. Sofi dilarikan ke rumah sakit terdekat. Sesekali ia berbicara lirih dan tidak terlalu jelas,mencengkeram lengan baju ibunya.
“bu, sofi jangan di bawa ke rumah sakit bu,nanti sofi gak bisa hafalan qur’an bu” pintanya.
“tidak nak,sofi tetap bisa hafalan qur’an”jawab ibunya sambil tersenyum menahan tangis.
“ya ALLAH lindungi sofi,sembuhkan sofi,sofi ingin menghafal Al-qur’an lagi,jangan buat ini sebagai penghalang bagi sofi untuk menghafal Al-qur’an” ucap sofi sambil menangis.
Ambulance melaju cepat membawa penumpang di dalamnya ke rumah sakit terdekat,sesampainya di rumah sakit sofi langsung ditempatkan di IGD. Butuh waktu 8 jam untuk mendapatkan hasil pemeriksaan dari dokter yang menanganinya.
Seorang dokter keluar dari ruang IGD sembari mencari wali dari anak kecil yang baru saja ia periksa.
“maaf anda ibu nya sofi?” Tanya sang dokter
“iya pak saya sendiri” jawab khadijah
“bagaimana keadaan anak saya dok?” Tanya khadijah
“begini bu,kami sudah mencoba yang terbaik,tapi ini semua di luar kuasa kami,anak ibu tak terselamatkan”ucap sang dokter
“innalillahi wa inna ilaihi raji’un” ucap khadijah,air mata nya jatuh bercucuran lalu  jatuh pingsan.
Anak yang selalu berusaha agar tak merepotkan ibunya,anak yang selalu berusaha agar menjadi anak solehah dan berbakti,anak yang sangat ingin memberikan kado terindah yang tak pernah ada di dunia itu kini harus pergi untuk selamanya,tak kan bisa kembali.
Percayalah di atas langit sana beribu malaikat mendoakannya,merahmatinya,dan menyambutnya di pintu singgasana yang indahnya tak pernah terbayangkan oleh manusia manapun. Percayalah kado terindah itu telah berada di tangan sofi hanya tinggal menunggu waktu untuk memakaikan pada ibu dan ayahnya.

Komentar

share!