Kado Terindah dari Allah untuk Aisyah




Karya:  Rosita Nur Avisha

Sinar mentari muncul di ufuk timur kota yang menjadi dambaan semua pemimpi untuk bisa meraih apa yang diinginkan di kota ini. Perlahan-lahan mentari menampakkan dirinya, begitu juga dengan mulainya berbagai aktivitas yang menumpuk ruah di kota besar ini. Mulai dari supir angkot, kenek sopir, pedagang asongan, pedagang kaki lima di emperan toko, penjual koran, pengamen, para pekerja kantoran, hingga pejabat bertumpah ruah di jalan untuk bergegas menjemput impian dan asa yang dimiliki.


Tak terasa, bulan Ramadhan akhirnya tiba juga, dimana umat Islam diwajibkan untuk berpuasa kecuali wanita yang sedang berhalangan, wanita yang sedang nifas, orang sakit, orang gila, lansia, wanita yang sedang mengandung dan menyusui.
TET TET TET.. suara klakson dari penjuru arah berteriak-teriak tanda kemacetan yang menjadi rutinitas di kota besar ini. Ya itu lah yang selalu di temui oleh warga kota ini, apabila tidak berlomba dengan waktu untuk start duluan demi menghindari kemacetan yang sudah menahun seperti penyakit dalam raga seorang manusia yang tak kunjung sembuh. Namun, rasa-rasanya ada yang agak berbeda dengan kemacetan kali ini. Biasanya sangking tidak sabarnya, tidak sedikit orang yang berteriak akan keluh kesahnya. Namun, hari ini mulai berbeda. Tidak ada satupun yang berkicau untuk menuturkan hal tersebut. Apa karena hari ini adalah hari puasa, sehingga mereka menahan diri atau.. entahlah mungkin hanya mereka yang tahu.
Hari ini cuaca seperti biasanya, panas yang menyengat kulit bahkan bisa-bisa menghitamkan kulit jika berjemur beberapa jam dibawahnya. Namun hal tersebut tidak mengurangi semangat Aisyah untuk beraktivitas. Aisyah adalah seorang gadis cantik yang solehah, pintar, ramah, dan lembut. Semenjak dia masuk kuliah, ilmu agamanya selalu bertambah dan menjadikan dia semakin istiqomah. Ya, salah satunya adalah pengaruh lingkungan. Teman-temannya yang juga memiliki visi sama, selalu mensupport Aisyah untuk menjadi gadis cantik yang solehah. Visi mereka salah satunya adalah beristiqomah dijalan Allah. Mencari Ridho-Nya di setiap sisi kehidupan. Memang, salah satu do’a yang selalu dipanjatkan Aisyah sebelum kuliah adalah ingin mendapatkan lingkungan dan teman-teman yang baik, soleh dan solehah serta memiliki visi/tujuan yang sama. Ia sangat takut jika hal itu tidak ia dapatkan, karena bagaimanapun juga ia akan berpisah dari orang tua, orang-orang yang ia sayang dan butuh benteng perlindung yang mana ia sendiri lah yang akan membentengi dirinya. Baginya, mencari teman tidaklah sulit namun mencari teman yang bervisi sama juga bukan merupakan hal yang mudah.
Aisyah, begitu senang ia hari ini, tidak lain karena hari ini adalah hari pertama puasa di bulan ramadhan. Inilah yang selalu ia nantikan, dimana orang-orang berfastabiqul khairot, berlomba-lomba dalam kebaikan. Ramadhan yang penuh berkah, pahala-pahala akan dilipatgandakan dan semua hal yang dilakukan akan bermakna ibadah. Semua hal itu hanya dapat ditemui di bulan ramadham ini. Aisyah selalu meluruskan niat hanya untuk Allah, hal-hal apa saja yang ia lakukan, begitu pula dalam menjalani perkuliahannya. Begitu semangatnya ia pergi ke kampus untuk menimba ilmu walaupun di jalan harus menemui halangan yang selalu ada dan membuat ia berlatih lebih sabar. Panas, ramai, macet. Salah satu momen yang pasti dibenci orang-orang, apalagi sebagian besar orang yang mau berangkat kerja. Namun hal tersebut malah membuat Aisyah bersyukur karena ia merasa masih diberi kesempatan oleh Allah untuk merasakan halangan dan cobaan.
“Alhamdulillah, masih diberi kesempatan menikmati bulan ramadhan” ungkap Aisyah.
“Iya Alhamdulillah Ai. Eh btw kamu kok keliatan beda ya, lebih cerah hehe. Ada apa?” tanya Aulia. Salah satu sahabat Aisyah yang selalu ceria.
“Huh kamu kok gitu sih, emang biasanya engga ya. Aku biasa aja kok. Mungkin Cuma perasaan kamu atau mungkin kamu baru sadar kalo aku dari dulu kaya gini hehe” jawab Aisyah sambil bercanda.
Kedua gadis itu memang sudah sangat akrab, namun bukan cuma sekedar akrab, ukhuwah yang terjalin dianatar mereka menjadikan orang tua mereka juga saling mengenal. Mereka terkenal dengan ramahnya serta pandai bergaul. Tak heran jika banyak orang yang ingin menjadi teman mereka. Kedua gadis ini selalu memberikan support satu sama lain. Jiwa kekeluargaannya sangat kental. Sampai-sampai ada yang bilang mereka adalah gadis kembar. Ya, meskipun dari wajah beda sih. Entahlah dari mana orang lain menilai.
Siang hari ketika dikampus, Aisyah duduk menyendiri di kursi bagian depan. Tampaknya ia sedang melamun. Namun lamunan itu tiba-tiba buyar karena Aulia mengagetkannya. Aisyah sangat terkejut hingga wajahnya memerah dan tidak bisa berkata apa-apa.
“Ai kamu kenapa? Kayanya tadi wajahnya cerah kok sekarang jadi mendung sih? Kamu kenapa? Cerita dong. Maybe I can help you.” Cloteh Aulia dengan muka penasaran.
“Engga Li, aku Cuma takut aja kalau nilaiku nanti jelek. Aku jadi inget orang tuaku selalu nyuruh belajar sungguh-sungguh dan bisa dapet IPK bagus, sedangkan ujian yang kemaren aku kerjain, ga meyakinkan.” kata Aisyah dengan mata memerah.
“Ya Allah Aisyah. Percaya kan sama Allah? Semuanya sudah diatur sama Allah, yang penting kita sudah ikhtiar dan berdoa. Jika Allah ridho, pasti akan diberi.” tutur Aulia.
“Iya Li, tapi.. aku takut. Aku mungkin belum belajar maksimal karena saat itu banyak sekali kegiatan dan kepanitiaan yang harus aku ikuti.” jawab Aisyah
“Subhanallah, kamu itu sudah cantik, solehah, pintar, dan sayang sekali sama orang tua. Kamu boleh takut, tapi tidak boleh berlebihan. Kalau kamu percaya sama Allah, dinginkan hati kamu dan mulailah tersenyum menerima apapun hasilnya nanti. Karena semuanya itu pasti ada hikmahnya. Semangat dong! Masa Aisyah yang tadi cerah sekarang jadi redup.” kata Aulia dengan wajah ceria untuk menyemangati Aisyah.
“Lia, makasih ya. Kamu memang sahabatku yang diberikan oleh Allah. Yuk kita keluar.” ungkap Aisyah sambil tersenyum mengembalikan semangatnya.
Di bawah pohon yang rindang dan angin berhembus sepoi-sepoi, mereka berjalan menuju taman untuk belajar sambil bercerita, dan tertawa-tawa. Ramadhan memang bukan menjadi suatu alasan untuk bermalas-malasan dan melunturkan senyum seseorang. Justru begitu banyak hikmah dan makna dari bulan yang di nanti-nanti itu. Tinggal bagaimana kita mengatur diri untuk mendapatkan ridho dan kasih sayang yang lebih dari Allah, dengan kesabaran, melawan hawa nafsu dll, semua itu akan membawa kita menuju kemenangan yang di janjikan Allah. Hari-hari berjalan begitu cepat, begitulah yang dirasakan Aisyah. Ia sangat menikmati hari-harinya bersama teman-teman dan anak-anak kecil di TPA, karena setiap sore ia mengajar ngaji di salah satu mushola. Ia coba lupakan hal-hal yang membuatnya cemberut. Ia isi hari-harinya dengan hal-hal yang positif dan bermanfaat. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa disetiap kehidupan pasti ada hal yang tidak diinginkan itu terjadi. Ya, ada salah satu teman Aisyah yang belum bisa menerima dia dikehidupannya. Bella, nama yang sering menjadi bahan perbincangan karena ia terkenal dengan sombong dan sifat irinya. Setiap hal yang dilakukan Aisyah sepertinya salah dimata dia.
Suatu hari, salah satu nilai mata kuliah keluar dan sudah dapat dilihat. Meskipun baru satu, namun ini sangat membuat Aisyah resah dan memikirkannya terus. Hingga pada akhirnya ia dan Aulia memutuskan untuk melihatnya dengan rasa khawatir. Ya, yang satu ini cukup membuat Aisyah sedih. Ia tampaknya ingin meneteskan air mata, namun Aulia dengan segera mengingatkannya.
“Aisyah, jangan. Ingat, kamu lagi puasa. Ga usah sedih, kan masih ada yang lain. berdoa aja semoga yang lain bisa kaya yang diinginkan. Lagian ini ga jelek-jelek amat kok.” ujar Aulia untuk menenangkan temannya.
“Iya maafin aku, ini kan bulan puasa. Tapi jujur aku sedih, kecewa Li. Aku takut bikin orang tuaku juga kecewa.” tutur Aisyah dengan mata berlinang tapi belum meneteskan air mata, karena ia baru sadar kalau ia sedang berpuasa.
“Aisyah, nilai itu bukan segalanya. Orang tuamu sekarang pasti sudah sangat bahagia memiliki anak seperti kamu, cantik, solehah. Percaya dong, Allah tu udah memberi jalan buat kita. Jadi jangan persulit diri sendiri. Ambil hikmah dari semuanya. Dan tetap berdoa. Allah pasti akan kasih kado yang indah indah buat kamu.” kata Aulia.
Aisyah berusaha menegarkan hatinya dan menyemangati dirinya sendiri. Ia dan Aulia berniat jalan-jalan untuk menyegarkan pikiran, namun dijalan mereka bertemu dengan Bella. Dengan senyum yang terlihat agak licik ia memandang Aisyah, merasa dirinya sedang dalam kemenangan. Dan tidak segan-segan ia berkata kepada Aulia:
“Denger-denger ada yang ga pengen ngecewain orang tuanya gara-gara nilai nih, tapi kok malah nilainya kalah sama yang lain ya. Termasuk aku. Katanya paling pinter. Mana?” sindir Bella dengan muka menjengkelkan.
Aisyah yang tadinya sudah mulai melupakan hal itu, tiba-tiba dikagetkan dengan kata-kata Bella yang sangat menusuk hatinya, ia ingin meneteskan air mata tapi apa daya. Akhirnya mereka berdua pergi dan mengabaikan Bella yang masih menunggu Aisyah untuk memperlihatkan amarahnya. Namun ternyata Bella malah di cuekin. Karena itu, Bella semakin sebal dengan Aisyah. Ia mulai menyebarkan gosip-gosip yang tidak benar. Ia berfikir bahwa nanti pasti Aisyah akan minta maaf atas kelakuannya tadi. Awalnya teman-teman tidak percaya dengan kata-kata Bella namun sungguh, begitu besar niat Bella ingin menjatuhkan Aisyah, sampai teman-temannya sedikit demi sedikit terhasut oleh omongan-omongan Bella. Akhirnya gosip itu sampai juga ke telinga Aisyah. Ia sangat sedih sekali mendengar hal-hal yang tidak benar itu. Lebih parahnya malahan ada salah seorang temannya yang menanyakan langsung kepada Aisyah. Aisyah benar-benar ingin menangis sekarang. Namun dia harus menjadi wanita yang kuat apalagi sedang bulan Ramadhan. Wajib menjaga semuanya. Dari tutur kata hingga hatinya. Aulia juga selalu ada di samping Aisyah untuk menyemangatinya. Hari demi hari telah berlalu, Aisyah merasa lebih baik dan menjadikan semua itu sebagai cobaan menuju kemenangan. Ia tidak lengah dengan godaan-godaan yang menimpanya. Ia yakin pasti Allah selalu disampingnya dan memberikan hal yang indah pada waktunya. Hanya saja ia butuh kesabaran yang lebih.
Pagi yang sangat cerah, matahari begitu bersemangat menampakkan jati dirinya. Aisyah tampaknya sudah bisa tersenyum lebar dengan kebiasaannya yaitu bersyukur atas nikmat yang masih diberikan. Bulan puasa sudah berjalan kira-kira 2 minggu. Aisyah masih sangat semangat menjalankannya. Ia tahu bahwa hari ini semua nilai akan keluar dan Aisyah merasa hatinya sudah tertata, apapun yang telah digariskan pasti semua itu karena kehendak-Nya. Akan ada hikamh disetiap hal. Aisyah langsung bersiap-siap untuk pergi ke kampus dan akhirnya dikampus ia bertemu dengan teman-temannya. Tiba-tiba ketika tiba di kampus, ia merasa takut kalau teman-teman akan menjauhinya karena gosip beberapa hari yang lalu. Namun, ternyata kehendak Allah lain, tebakan Aisyah salah. Mereka justru tersenyum ketika bertemu Aisyah. Aisyah bingung. Tiba-tiba Aulia datang dan meberitahukan padanya kalau semuanya sudah beres. Ternyata ia sudah mengklarifikasi semua itu dengan teman-temannya dan mereka merasa menyesal karena terhasut omongan Bella yang malah merugikan diri mereka sendiri.
“Semoga hari ini kamu dapat kado yang indah dari Allah.” kata Aulia dengan senyum ceria untuk menyemangati Aisyah.
“Amin. Makasih Lia. You’re my best friend. Semoga kamu juga hehe.” Jawab Aisyah dengan senyum yang lebar. Ya, sekarang dia memang sudah menata hatinya. Memasrahkan segalanya kepada yang Maha Kuasa.
Sekarang saatnya telah tiba. Mereka semua pun dengan segera melihat hasil ujian yang telah dinantikan. Hehe entah dinantikan atau tidak. Namun yang pasti Aisyah sudah siap. Suasana menjadi hening karena masing-masing terpaku pada nilai-nilai hasil ujiannya. Aisyah, wajahnya tidak bisa ditebak dari jauh karena ekspresinya seperti orang bingung. Namun tiba-tiba ia tersenyum dengan lebar karena ia merasa benar-benar mendapat kado terindah dari Allah. Berkali-kali ia mengucapkan syukur karena ia sangat tidak menyangka IPKnya hampir sempurna. Ia benar-benar tidak menyangka akan semua ini.
Mengetahui semua itu Bella merasa sangat sebal dengan Aisyah, namun ternyata sekarang tidak ada satu temanpun yang mendekati Bella. Bella merasa dijauhi teman-temannya. Tidak tahu lagi apa yang akan dilakukan karena dia juga tidak ingin di jauhi seperti ini. Aisyahpun akhirnya mendekati Bella untuk meminta maaf kepadanya. Sungguh, Bella tidak menyangka Aisyah benar-benar akan melakukannya, namun inilah kenyataannya. Rasanya tertusuk-tusuk hari Bella ketika mendengar Aisyah berkata-kata padanya. Ternyata orang yang ia benci selama ini justru membuat hatinya tersentuh dan hampir meneteskan air mata. Akhirnya Bella pun memeluk Aisyah dan minta maaf padanya.
Semua berjalan begitu cepat sampai Aisyah menemukan kado terindahnya yang tidak ia sangka-sangka. Bulan ramadhan memang penuh makna. Namun hal itu menjadi tidak bermakna jika kita tidak bisa memanajemen hati kita untuk lebih siap di bulan yang lebih baik dari seribu bulan ini. Aisyah dengan kesabarannya yang luar biasa akhirnya mendapat apa yang ia harapkan. Ia selalu yakin bahwa Allah ada di setiap detik di samping kita semua. Hanya saja kita butuh kesabaran yang lebih untuk menjadi manusia yang dipilih dan disayang Allah. Bukan hanya kesabaran di bulan ramadhan tapi juga di bulan-bulan yang lain setiap harinya. Namun, hendaknya kita manfaatkan bulan penuh berkah ini dengan hal-hal yang bermanfaat dan selalu meningkatkan amal ibadah kita, untuk lebih mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Sungguh, Maha Besar Allah yang telah menciptakan langit dan bumi ini.

Komentar

Posting Komentar

Silakan berkomentar :)

share!