Kaca Mata Ayah



Karya:  Ardy Nugraha


Siang hari yang membosankan dibulan Ramadhan ini. Apalagi sekolah juga libur selama puasa. Jadi liburan satu bulan lebih. Keluargaku memang tidak pernah berlibur keluar rumah. Paling-paling sibuk dengan urusan kami sendiri-sendiri. Aku yang merasa bosan pun mengambil bola yang ada dibawah tempat tidur. Memang bermain bola adalah hobiku, dan aku suka melakukan jugling untuk mengusir rasa bosan.


 
“Taarrrrr.” terdengar suara pecah yang langsung mengagetkan seisi rumahku.
Aku yang sedang bermain bola didalam rumah langsung menghampiri ayah yang nempak terdiam karna kecamatanya jatuh dan pecah. Ibu dan adik-adikku pun langsung menghampiri kami.
“Maaf Yah, Aku gak sengaja.” Kataku merasa bersalah.
“Kan sudah Ayah bilang, main bola itu di luar rumah.” sahut ayah kepadaku.
“Sudahlah Yah, kan bisa beli lagi.” ujar ibu. “Kamu juga Di, dibilangin jangan main bola didalem rumah kok ngeyel.” tambahnya.
“Iya besok Ayah beli lagi.” kata ayah yang tampak marah.
Aku sungguh merasa bersalah karna tidak mendengarkan nasihat ayah. Sekarang jadinya seperti ini. Aku memcahkan kacamata ayahku. Ayah pun langsung membereskan serpihan-serpihan kaca yang berserakan dilantai. Karna merasa bersalah, aku pun ikut membantu ayah membereskannya.
“Huh, jadi burem kan. Kalo sudah ahsar bilang Ayah ya.” ucap ayah kepadaku.
“Iya Yah.” jawabku.
Ayah pun beranjak untuk tidur siang. Mungkian ia kelelahan.
“Yah, sudah ashar.” kataku membangunkan tidur ayah.
Ayah pun segera beranjak dari tempat tidur menuju mushola yang berada tepat di sebelah rumah kami. Sebagai pengurus mushola tersebut, ayahku rajin mengumandangkan azan setiap memasuki waktu sholat. Jika ayah tidak di rumah, biasanya aku yang melakukannya.
***
Pukul 3 pagi pun menjelang. Kami sekeluarga segera santap sahur bersama. Seperti biasanya, ayah selalu bangun terlebih dahulu lalu membangunkan ibuku. Setelah itu ibu membangunkan aku dan kedua adikku. Setelah selesai menyantap makanan sahur, kami biasanya berbincang sambil menonton acara televisi kesukaan kami. Pada pukul 3:30, seperti biasa ayah menuju mushola untuk membangunkan warga agar melaksanakan sahur. Ayahaku selalu melakukannya. Tapi kami semua terkejut ketika waktu memasuki ayah tiba-tiba berseru pada microphone mushola.
“Imsakkkk.. imsakkk. Waktu imsak telah tiba... imsakkkk” seru ayah pada microphone mushola.
Setika itu juga mengejutkan seluruh tetangga kami. Mereka beramai-ramai mendatangani mushola untuk menanyakan perihal yang terjadi.
“Kok udah imsak Pak.” seru Pak Aceng tengga samping rumahku. “ini tu masih jam setengah 4 ya.” tambahnya.
“Gimana lo Ayah ni. Baru jam setengah 4 kok sudah imsak.” ujar ibuku.
“Loh, bukannya sudah jam setengah 5 ya.” sahut ayahku.
“Jam setengah 4 Pak. Lihat ini jamnya.” ucap Pak Aceng lagi.
Ayah pun mendekatkan pandangan matanya menuju jam tangan yang dikenakan Pak Aceng.
“Eh, iya ya masih jam setengah 4.” ucap ayah malu.
“Ini pasti karna Ayah gak pake kacamata ya.” ucap ibuku. “Kan tadi kacamata Ayah pecah.” tukasnya.
“Hehe, Ayah gak terlalu terlihat.” ujar ayah tersenyum.
“Ya sudah Bapak-Bapak Ibu-Ibu, ini cuman kesalahan yang wajar saja.” ucap Pak RT yang mencoba menenagkan warga.
“Maaf ya Bapak-Bapak Ibu-Ibu.” ujar ayahku.
Tetangga kami pun meninggalkan mushola dan beranjak ke rumah masing-masing. Kejadian lucu ini menjadi lawakan selama beberapa hari kedepan. Aku sebenarnya merasa bersalah karna aku lah yang memecahkan kacamata ayah. Sehingga ayah tidak dapat melihat dengan jelas.
SEKIAN

Komentar

share!