Jatah Ramadhan Tata




Karya:  Miranti Rezki Aulia

Hari beranjak senja di negeri yang penuh rutinitas. Negeri Nahl adalah negeri yang cukup bising. Penduduk Negeri Nahl rata-rata pekerja keras yang rela pergi pagi-pulang malam hanya untuk menambahkan angka nol di buku tabungan mereka. Mereka sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Waktu berjalan begitu cepat di Negeri Nahl.


Senja itu, Kori salah seorang penduduk pendatang di Negeri Nahl sedang duduk termenung menunggu sang mentari mengucapkan “wassalamu’alaikum”. Hatinya sedang gundah, rasa rindu dengan negeri asalnya begitu mengganggu. Beberapa saat lagi malam ramadhan akan datang. Kori harus bersiap-siap dihantui rasa rindu pada bulan penuh rahmat kali ini karena menjalankannya jauh dari negeri asalnya.
Negeri Kori berasal bukan negeri yang sunyi, pun bukan negeri yang seramai Negeri Nahl. Negeri yang tentram karena kebisingan masih dapat diredam dengan suara-suara kicau burung atau sekedar bisikan dari angin. Di negeri ia berasal ia merasa bisa lebih menikmati tiap detik yang diberikan Allah karena waktu di sana berjalan lamban.
Kori pun larut dalam rasa rindunya yang perlahan hanyut bersama deburan ombak yang menyapa telinganya.  Di ujung dermaga khayalnya melayang, menuju negeri asalnya. Namun tiba-tiba  khayalnya bubar karena sebuah tangan yang menepuk pundaknya. Cukup tiba-tiba sampai hampir membuat Kori terjungkal.
“Kakak, jatahku dulu dong,”seorang anak laki-laki menghampiri Kori dan berkata dengan nada yang jauh dari standarisasi sopan. Rambut anak laki-laki itu pirang karena terbakar sinar matahari, ia mengenakan kaos gombrong lusuh berwarna gelap. Namanya Tata.
“Duduk dulu sini,”Kori menyuruh Tata duduk di sampingnya.
“Aih. Aku mau nyari jatahku yang lain lagi, Kak,”ucap Tata dengan gaya selengeannya. Ia memang selalu menghindari percakapan dengan Kori. Kalau ditanyai pun ia paling banter hanya menggeleng atau menganggukan kepala.
“Malas kasih jatah ah kalau gitu,”ancam Kori.
“Aih. Mau makan nah, kak. Laper,”Tata mencoba mencari alasan lain.
“Makanya, duduk dulu sebentar. Ntar aku traktir makan,”bujuk Kori.
“Jatah aja lah, kak. Nggak usah traktir,”Tata mencoba menawar.
“Kalau gitu duduk dulu. Aku kasih jatah, aku juga traktir makan, gimana?”Kori belum kehabisan akal untuk membujuk Tata.
“Beneran?” Tata langsung mengambil posisi duduk di samping Kori. “Dari tadi dong, kalau gitu bilangnya,”Tata berhasil lagi kali ini mendapat jatah++ dari Kori.
“Ta, kamu ntar puasa masih kayak gini juga?”tanya Kori mencoba membuka pembicaraan yang hanya dibalas dengan anggukan dari Tata.
“Nggak capek, Ta?”tanya Kori penasaran.
Tata menggeleng.
“Tapi kamu puasa kan, Ta?”Kori bertanya lagi
“Puasa lah, kak. Biar begini aku kuat puasanya,”kali ini Tata menjawab pertanyaan dengan suaranya.
Kori menatap mata anak laki-laki di depannya penuh selidik. Tak ia dapati kebohongan. Kori tersadar bahwa setiap harinya Tata sudah terbiasa untuk menahan lapar dan keliling meminta ‘jatah’. Jadi mengerjakan hal ini tentu saja bukan perkara sulit dan puas bukan penghalang.
“Kapan makannya, kak?”tanya Tata penuh harap.
Suara adzan magrib berkumandang. Akhirnya 1 Ramadhan pun tiba, batin Kori.
“Kita magrib dulu ya, Ta?”ajak Kori.
Tata hanya mengangguk.
Setelah selesai melaksanakan magrib, Tata yang telah lama menunggu Kori duduk di teras masjid sedang asik melihat para anak-anak sedang belajar mengaji.
“Kak, mereka lagi baca apa sih?”tanya Tata polos.
“Al-quran, kamu nggak tahu, Ta?”
“Tahu sih, kak. Tapi aku nggak tahu kalau ternyata ada bukunya. Kak, ntar kasih aku buku yang mereka baca ya?”
“Siap, Ta,”ucap Kori sambil tersenyum. Hatinya terenyuh, pilu merasuki kalbu. Bersyukur karena ia telah mengenal Al-quran dari sangat kecil. Ia sungguh tidak menyangka bahwa  ada sosok yang mengaku muslim namun tak tahu bahwa pedomannya Al-quran. Jauh lebih dari itu, Tata bahkan tak tahu bahwa ada buku kebanggaan umat muslim yang biasa disebut Al-quran. Pelupuk matanya memanas, ia tak kuasa menahan lagi air matanya.
“Kakak kenapa nangis?”tanya Tata heran, namun Kori hanya tersenyum.
“Kak, bisa baca Al-quran nggak?”Tata bertanya.
“Bisa,”
“Wah,”mata Tata berbinar. “Kalau gitu mulai minggu depan jatahku diganti belajar Al-quran ya, kak?”ucap Tata bersemangat.
“Siap, bos,”ucap Kori tak kalah bersemangat. “Yuk, kita makan.”
***
Dengan lahap Tata memakan lauk pauk yang ia pesan. Rasa bahagia menyergap Kori melihat anak laki-laki di depannya ini dapat makan dengan lahap.
“Lapar banget, Ta?”
Tata hanya menganggukan kepalanya. Tata pun sangat senang karena bisa makan makanan enak. Ya, biasanya ia hanya makan tempe atau tahu bahkan hanya kerupuk. Tapi kali ini ia bisa menambahkan ayam atau ikan bahkan sayuran untuk lauknya.
“Kak, bungkus boleh ya?”pinta Tata.
“Oke,”Kori langsung meminta penjaga warung makan membungkuskan makanan. Ia paham betul bagaimana kondisi Tata. Tinggal hanya bertiga dengan ibu dan adik perempuannya. Ibunya hanya pemulung. Tata pernah bilang, “Buat aku dapat duit itu yang paling utama karena kalau ada duit aku bisa bantu mamakku.”
“Sekolahmu gimana, Ta?”tanya Kori.
“Ya gitu lah, kak,”jawab Tata seadanya.
“Gitu gimana, Ta?”Kori masih mencoba mengorek-ngorek informasi dari Tata.
“Naik kelas, kak,”
“Serius, Ta?”
Tata lagi-lagi hanya mengangguk sambil lahap mengahabisi makanannya.
Kori kegirangan. Akhirnya, setelah dua kali Tata gagal naik kelas. Sekarang ia dapat melanjutkan ke jenjang berikutnya. Bahkan kalau sampai kali ini Tata masih gagal, Tata tidak dapat lagi melanjutkan sekolahnya.
“Jadi, masih lanjut sekolah kan?”
Tata mengangguk.
Tata selesai makan dan berpamitan pada Kori. “Kak, makasih ya. Ingat minggu depan bawakan aku Al-quran dan ajarin baca juga,”Tata mengingatkan.
“Siap, bos,”jawab Kori penuh semangat.
***
Ramadhan kali ini Kori pun punya target lain dari pada target biasanya, yaitu target mengajar Al-quran untuk Tata. Penuh semangat Kori mengajari Tata belajar Al-quran. Awalnya memang hanya seminggu sekali Kori mengajari Tata membaca Al-quran. Akhirnya semakin intensif, Tata ingin belajar mengaji setiap hari. Kori pun dengan senang hati selalu menyisihkan waktunya dalam sehari untuk mengajari Tata membaca Al-quran.
Suatu hari Tata tampak pucat. Namun ia masih sangat bersemangat untuk belajar mengaji.
“AA BA TA TSA,”ucap Tata dengan lantang.
Setelah selesai belajar mengaji hari itu Tata tidak langsung beranjak dari tempatnya duduk. “Capek banget, kak. Nggak tahu kenapa puasa hari ini capek banget,”keluh Tata.
“Sahur apa tadi?”tanya Kori.
“Aku nggak pernah makan sahur, kak. Paling minum air putih,”
“Yauda, hari ini buka bareng aku aja ya, Ta?”
“Lain kali aja ya, kak. Soalnya sudah janji sama mamak pulang ke rumah pas buka. Sudah janji mau belikan kue lumpia kesukaan adik aku juga,”tolak Tata.
“Oiya kak. Makasih ya, kak. Kakak sudah baik sama aku. Kakak sudah ngenalin aku sama Al-quran. Kakak juga mau ngajarin aku supaya aku bisa naik kelas. Tapi nggak tahu kenapa ya kak, aku ngerasa kayak sudah lelah sekali,”
“Apasih, Ta. Semangat dong,”ucap Kori sambil mengepalkan tangannya ke atas.
“Iya kak, pasti!”ucap Tata sambil ikut mengepalkan tangannya juga.
“Yauda, nih aku kasih jatah. Kamu beli sahur ya buat besok,”
“Yah, kak. Kan aku udah bilang kalau nggak usah kasih jatah karena jatahku cukup diajarin mengaji saja bulan ini.
“Ambil aja, Ta. Kalau kamunya capek kayak gini kan aku juga capek ngajarinnya,”
Akhirnya selembar uang berwarna biru itu pun Tata ambil.
Keesokan harinya di tempat biasa Kori sedang menunggu Tata datang untuk belajar mengaji. Tidak biasanya Tata terlembat, biasanya Tata selalu datang lebih awal. Kori mencoba menunggu menit demi menit sampai akhirnya sudah lebih dari dua jam ia menunggu. Perasaan Kori mulai tidak enak.
Akhirnya, sudah tiga hari Tata tidak pernah lagi datang. Namun Kori selalu setia menunggu kedatangannya. Sampai suatu hari, tiga hari sebelum ramadhan berakhir seorang anak perempuan menghampirinya.
“Kakak ini Kak Kori?”tanyanya.
“Iya. Adik siapa ya?”
“Aku Titi, kak. Adiknya Tata.”
“Oh ya? Tatanya ke mana, Ti? Kok nggak pernah datang?”
“Kakak udah nggak ada, kak,”jawab Titi, adik Tata dengan terbata-bata. Kemudian ia jelaskan bagaimana kakaknya bisa sampai tidak ada lagi di dunia. Hari itu Tata sedang berjalan menuju tempat di mana ia biasa belajar mengaji bersama Kori. Namun saat ia ingin menyebrang ada mobil yang menabraknya. Tata sempat koma dan selama koma Tata selalu menyebut nama Kori.
“Belakangan ini aku baru tahu kalau Kak Kori itu ibu perinya Kak Tata. Kak Tata sering cerita tentang Kak Kori. Ini tabungan Kak Tata,”Titi menyodorkan kaleng bekas snack berisi uang receh. “Kak Tata bilang kalau uang itu mau dia pake buat beliin kakak hadiah, tapi karena Kak Tata keburu pergi aku kasih saja uang tabungannya langsung ke kakak ya?”
“Mending Titi saja yang simpan ya uanganya Kak Tata, anggap saja ini hadiah dari kakak,”
“Tapi, kak...”
“Pelajaran yang sudah dikasih Tata buat kakak jauh lebih berharga. Tata ngajarin kakak buat bersyukur, Tata ngajarin kakak buat berbagi, banyak hal yang nggak bisa kakak balas hanya dengan jatah-jatah yang sudah kakak kasih sama Tata,”
Seketika Kori kilas balik bagaimana ia dan Tata awalnya bertemu. Air mata Kori sedang bertetesan saat itu. Tata datang menepuk-nepuk pundak Kori. Setelah Kori memalingkan pandangannya ke belakang ia lihat Tata sedang mengulurkan tangannya. Kori mengeluarkan dompetnya.
“Bukan,”ucap Tata sambil menggelengkan kepalanya.
“Aku minta air mata kakak,”
“Kenapa?”
“Karena aku nggak bisa nangis, hidupku yang sulit ini sudah membuat kering air mataku, kak.”

Komentar

share!