This day ora karuan




Karya:  mohammad rafi prasetyo


Siang, 21 juli.
Siang itu terik matahari menusuk sela-sela tulangku, dan sampai membuat efek haus pada tubuhku. Tubuhku lemas sembari menggendong tas sekolah dan mengenakan seragam sekolahku yang sudah terbilang sangat acak-acakan. Berjalan dengan pola zig-zagku dan selalu mengusap keringatku dengan kain bergambar Hello Kitty yang berada ditanganku. Sapu tangan itu dari pacarku, kalau bukan karena aku sayang pacarku tidak mungkin aku memakainya. Disudut jalan yang ku telusuri, aku segera berhenti di sebuah warung dan hanya berniat untuk menumpang berteduh sebentar dari sengatan sinar matahari, maklum sudah hitam nanti tambah hitam. Aku menengok kanan kiri tidak ada orang sama sekali. Saat posisi kepalaku menghadap kiri, semua begitu rapi dari muka warung sampai badan warung, dan nampak sebuah benda persegi panjang yang berdiri di pojok warung dan kulihat di dalamnya terdapat es, “wiiissss glegek” batinku sambil menelan ludah. Seketika pandang lemahku menjadi kuat dan aura lemah tubuhku menjadi semangat ketika aku melihat es lilin itu. Dalam fikiranku hanya ingin es lilin itu. Tidak sengaja tanganku menjulur sepanjang panjangnya, seketika aku kaget dan hampir jatuh ketika seorang wanita mengagetkanku. 



“ada apa dek, mau beli es??” tanya seorang penjual es lilin,
“ehhh.. ibu..eee.. tidak apa apa bu, maaf bu” kataku agak malu,
“adek kan puasa, makruh kalo ngebayangin” kata penjual es lilin,
“iya puasa bu, maaf” kataku.

Secepat mungkin aku lari dari tempat berteduh tadi, sekencang mungkin aku harus sampai rumah agar aku tak tergoda lagi dengan hal-hal yang membatalkan puasaku, untung hanya makruh bukan batal. Sekali lagi rasa lapar, lelah, malu, tercampur aduk menjadi satu layaknya es campur.

Assalamu’alaikum!”,

Aku berteriak sambil membuka pintu rumah tuaku yang berlapis dari triplek. Aku tidak melepas sepatuku saat masuk kerumah, tidak seperti aku masuk kerumah teman, saudara, masjid yang harus melepas alas kaki terlebih dahulu, maklum karna rumahku beralas asli dari Tuhan. Lalu aku melangkah masuk kedalam rumahku dan tiba-tiba....nyek! Bunyi suara yang agak keras, lalu tercium bau agak bacin dari bawah aku berdiri, ternyata aku menginjak kotoran ayam, dan itu tidak dalam jumlah sedikit tetapi banyak, “ah sial” teriakku sambil mengangkat kaki yang terjebak dalam kotoran ayam itu, “siapa sih yang buang kotoran ayam disini, sabar! Sabar! untung nginjeknya disepatu” kataku penuh kesal.
Lalu kulepas perlengkapan sekolahku, aku ganti dengan pakaianku dengan celana pendek warna kuning dan kaos kesayangan berwarna pink. Tanpa jijik aku aku bersihkan kotoran ayam itu dari lantai rumahku, dan aromanya itu seperti aroma parfum esensial parees.

****
Tik tik tik.... pukul menunjukan 14.30 siang, lama terasa saat siang menuju sore, sampai rasanya ingin meneguk air. Sambil menunggu magrib, aku berbaring diatas karpet yang terbuat dari bambu, orang jawa bilang itu klasa. Tulilit tulilit, handphone jadul merk ademsonicku berbunyi, segera aku beranjak bangun untuk mengambil handphonku yang berada dikamar, aku pun membuka sms tersebut,
“sayang lagi ngapain, tumben engga sms aku si??”tulisan sms itu, aku yang tengah terbaring langsung berdiri sekanyang kanyangnya dan terjedot linger pintu kamar,
 “aduh!!! Siapa si yang letakin pintu disini, pacar mana cerewet banget, haduh gimana si, kok bias sampai aku lupa tidak sms my honey my baby my abal-abalku, pasti marah ini” ucapku sambil mengelus kepalaku karna kesakitan.

Tak buang waktu aku pun membalas sms dari pacaraku,
iya sayang maaf, aku baru nyampe rumah, kamu tidak marah kan???” smsku, lalu aku kirim dan laporannya “belum terkirim”, disimpan dikontak tidak terkirim, dan berbarengan sms dari mba 3 masuk “pelanggan yang terhormat, sms anda ke nomor  089888777666 tidak terkirim mohon untuk mengisi ulang pulsa anda”. Huuu pantes engga terkirim pulsa aja masih Rp 500, nasib, nasib” kataku sambil mengelus dada. Aku putuskan, untuk tidur lagi pacar marah langsung gua ajakin dia berdua, gandengan, ke Pengadilan negeri.

………..
Pukul menunjukan 18.00, aku masih terlelap dalam tidur. Byurrrr!!! Suara yang begitu kukenal mengagetkan dan membasahiku,

“apa eh apa kodok copot mak nyot!!!” latahku. Spontan aku pun berdiri dan menatap seorang wanita yang tengah berdiri membawa ember.
“udah puas tidurnya??”,
“lah emak, apa si mak, dingin banget” kataku menggigil,
 “udah magrib!! Mau buka puasa tidak?” teriak emak sampai otot lehernya terlihat sangat tebal dan seperti mau putus,
“iya mak, santai aja mak, woyo bro, no problem” 
“bocah edan! dibilangin malah ngledek”

Aku yang melihat emak yang ingin melempar ember, aku pun menghindar layaknya brus lee, dan aku langsung lari kedapur dan teriak
“engga kena mak !” , emak yang masih berdiri menatapku sambil tersenyum, layaknya tidak ada kejadian apapun.
“aduh!” teriakku kencang.

Aku menabrak pintu dapur sampai terjongor (terjatuh kedepan), emak yang melihat kejadian itu hanya tertawa, pantas emak tersenyum ternyata emak sudah tau apa yang akan terjadi,

“ramah ramah bidadari jesika ratu ayu… kasihan deh lu..”
nyanyian emak mengejek, aku yang mendengar nyanyian itu langsung berdiri dan membalas nyanyian emak,

“sakitnya tuh disini… disini.. disini” kataku, aku segera pergi meninggalkan emak, emak pun tetap tertawa melihat aksi konyolku. “biarlah yang penting emak senang, aku kan hanya jadi beban dia” batinku.

Allahu akbar… Allahu akbar… Allahu akbar..
Suara adzan isya sudah berkumandang, aku yang sudah melipat sarung di perut menutup kepala dengan kopyah dan aku yang sudah siap beribadah kepada Allah swt pun berjalan keluar dari rumah. Untuk hari ini tidak seperti biasanya, aku menuju kemasjid hanya seorang diri, karena aku sedang ngambek dengan emak, jadi aku dan emak berangkat secara terpisah. Aku mempercepat langkah agar sampai dimasjid untuk mendapat shof pertama, dan aku memilih jalan yang gelap tetapi lebih cepat samapi, saat dijalan tersebut terdengar suara aneh, dan membuat aku mendadak merinding, aku tetap memberanikan diri, ayahkursi pun aku lantunkan.

DOR!! “eh copot mae kodok apa kue!” latahku sambil loncat. Suara petasan mengagetkanku dan hampr membuatku jatuh , terdengar suara seperti orang menginjak daun kering, yang semakin kudengar semakin dekat.

“ampun jangan ganggu aku!” kataku memohon sambil memundurkan langkah,
“wah, kaget ya?” Tanya seorang wanita yang menggunakan mukena dan senter diwajahnya,
“waaaaaaaaaaa!” teriakku,
“apa si jo, ini emak” kata emak sambil memegang pundakku,
“emak!, hih apaan si mak! tidak lucu! kalo joko jantungan gimana? udah tua juga mainanya petasan, pake senter joko segala kaya anak Tk” kataku marah,
“yee biarin, suka-suka emak, orang dulu engga ada petasan, maklum emak MKKB (masa kecil kurang bahagia), kalo kamu jantungan ya periksa aja kedokter sumarni, tapi bayar sendiri, emak lagi tidak ada uang, kemaren udah buat bayar bu tuti” kata emak,
“emaak! apa si! lagi serius juga malah ngomongin utang, terserah emak lah” kataku sambil meninggalkan emak. Emak yang masih berdiri di dekat pohon bamboo hanya berucap
“du du du du, anak ajaib, orang tua lagi bicara malah tlonyoran pergi”.

Pukul menunjukan 20.30, sholat isya beserta rombongan taraweh telah dilaksanakan, para jamaah pun berbondong-bondong meninggalkan masjid, dan bersarang kembali dirumah masing masing. Aku yang masih berada di shaf pertama hanya bingung dengan kejadian tadi, “gimana emak melakukan taktik tadi, jadi bingung sendiri” pikirku. Ah kenapa juga musti kufikirkan, lagi pula mungkin emak ingin bermain-main denganku,

Dihalaman rumahku, Nampak sepi dan sangat gelap, “rumah sekitar juga terang, kenapa rumahku saja yang sepi?, ah paling emak yang matiin batinku. Aku angkat kaki secara bergantian agar sampai didepan rumah.

“tok tok, assalamu”alaikum” suara salam dan ketokan pintu berkolaborasi untuk memanggil emak yang entah berada didalam atau tidak.
“assalamu”alaikum mak! buka pintunya,” teriakku, lagi lagi aku mengkolaborasikan kembali salam dan ketokan pintu, sebab emak tidak kunjung membuka pintunya. Dan yang kedua tetap tidak ada jawaban, karena aku merasa sudah kesal, kugulung lengan baju sampai siku, kunaikan sarungku, dan brak!! Aku terjatuh setelah mendobrak pintu, bukan aku saja yang terjatuh tapi pintu rumah ikut tetel (lepas) bersamaku,

“aduh.. sakit!!”, aku mengeluh.
Badanku terasa sakit dari jari kaki sampai ubun-ubun, memang dulu aku bercita-cita menjadi seorang peselancar, tapi sekarang impian itu terwujud denang menunggangi pintu dengan posisi tengkurap dan jadilah peseluncur darat. Aku segera bangun dan membangunkan pintu yang ikut jatuh dipelukanku, aku segera masuk dan mencari tempat untuk menyalakan lampu, aku merambat layaknya ubi, karena rumah sangat gelap, ctek! Suara listrik menyala, aku pun langsung mencari emak karena pintunya rusak, aku cari emak dari sudut ke sudut, dari tengah ke tepi, tapi emak tidak ketemu,

“emak, dimana, tidak usah becanda, sudah tua juga masih becanda?” kataku,

lalu aku ketempat terakhir yaitu kamar tua milik nenek dan gudang, aku segera lari ke kamar nenek terlebih dahulu. Grubyak!, aku menabraknya pintu kamar nenek karena aku terburu-buru, “emak? Emak!”, tak ada jawaban sama sekali, kamar nenek terlihat sepi dan hanya yang kulihat foto emak yang terbingkai dari gardus yang kubuat sewaktu kecil sebagai tanda terima kasih atas jasa emak kepadaku. Perlahan kudekati, dan semakin jelas raut muka emak yang sudah begitu tua, dan dihiasi hijab yang membuat emak menjadi wanita tercantik didunia. Kupegang foto dan kuusap foto tersebut, karena foto emak berdebu. “emak sangat cantik, tak sia-sia aku lahir dari seorang emak yang begitu cantik” kataku sambil memegang foto emak yang sudah lumayan bersih. “ kertas apa ini?” tanyaku, kulihat ada secarik kertas bertuliskan kata-kata, sepertinya ini tulisan emak dan tulisannya masih terlihat baru. Aku segera meraih kertas yang ada dimeja, tulisan yang agak begitu acak-acakan, maklum emakku hanya lulusan Sd saja, jadi menulis agak acak-acakan. Akhirnya kuraih dan segera aku membacanya.

“joko makasih sudah menemani hari-hari emak. Emak rasa, emak belum bisa baik dalam mengasuhmu, maafin emak, jika emak selalu buat kamu tidak nyaman, selalu membuatmu terlarang jika ingin melakukan apa yang kamu mau, tapi sekarang kamu sudah bisa bebas melakukan yang kamu suka tanpa emak larang, joko! Emak sayang kamu, kamu janji ya akan mendoakan emak biar tenang dan janji akan mejadi anak yang rajin walau tanpa emak, makasih joko sudah mengibur emak walau sebenarnya harus mengorbankan kamu, emak sayang kamu joko, emak pamit sebentar ya”.

Seketika denyut jantungku naik, melihat dan merasakan secarik surat yang emak tulisakan, hatiku menjadi tidak karuan, aku mulai panik, dan fikiranku mulai negative. Brak! Aku menabrak pintu yang ketiga kalinya, aku berlari menuju gudang belakang, aku berlari sambil menahan dadaku, Karena sakit akibat membaca pesan yang emak tuliskan.

“mak! Mak! Emak didalam?” teriakku sampai kurasakan otot leherku hamper putus. Karena saking tidak karuan, aku langsung masuk kedalam gudang, untung saja pintu tidak terkunci, jadinya tidak menambah beban di badanku akibat dobrakan tadi.

Jlep! Itu yang kurasakan, air mata jatuh akibat merasakan apa yang kulihat hari ini, emak tergeletak dengan  darah bercucuran, dan tangan menggenggam pisau, sontak aku lemas dan tak berdaya, “emak, mak” kudekati emak dengan air mata dan kelesuan jiwa, aku merasakan betapa hebatnya diriku merasakan apa yang begitu tidak mudah untuk dipercaya, “mak, bangun mak, kenapa emak nglakuin ini, joko saying sama emak;, kataku sambil memangku emak dipahaku, “mak! Bangun mak!, kenapa emak nglakuin ini, jawab mak!”. “buat apa emak hidup kalu ujungnya emak bunuh diri, buat apa? Aku saying emak tapi kenapa emak tega meninggalkan bocah semalang diriku!” aku menangis, dan hanya menangis sembari aku memeluk emak dan mencium emak dengan rasa tidak percaya, kurasakan hidupku sudah tiada arti tanpa seorang ibu. “Tuhan! Kenapa kau buat semua ini, kenapa kau tak mencegah emak untuk  meninggalkanku, apa salahku! Kurangkah ya Tuhan, kau telah mengambil punngung keluargaku, sekarang kau ambil hati keluargaku, kurangkah!” teriakku sambil menahan tangis. “emak! Jangan tinggalin joko sendiri! Joko janji mak bakal nurut sama emak, asal emak tetap ada buat joko! Aku bakal nglupain semua ambisiku, yang terpenting emak ada untukku!” ucapku, kini aku tak berdaya iklas harus kutegakkan, malaikat telah berduka atas pulangnya emak ke hadapan Tuhan. hihi!, suara yang menggaduhi suasanaku, aku yang mendengar itu langsung memberhentikan tangisanku, kudengarkan kembali, tapi suara itu hilang seketika. Ku kembali meratapi kepergian emak dan berusaha ingin mencari bantuan, aku pun berdiri dan ingin mencari bantuan, saat aku hendak membuka pintu gudang, kulihat ada cahay kuning seperti sentir (penenang alat jawa), kupikir itu orang yang akan membantuku, kubuka dan “happy birthday too joko, happy birthday too joko, happy birthday, happy birthday happy birthday joko” nyanyian ramai dari banyaknya orang yang menghadangku, aku tak menegerti apa yang mereka lakukan, “ada apa si! Tidak lucu, tolong bantu aku, emakku tergeletak digudang” kataku memelas, teman joko yang berjumlah 7 orang dan dengan seorang wanita yang kukenal spontan tertawa melihat aksi konyolku, “haha joko joko, ada-ada saja, siapa yang mati? Lampu?”ejek dimas, “apa si dim! Lihat itu, emakku mati gara-gara aku,” kataku sambil menahan tangis, “mana?, mana emak kamu?” Tanya sri dengan senyum kecil diwajahnya, saat aku ingin menengok kebelakang, kurasa ada yang menutup mataku dari belakang, dan membisikan kata-kata, “semoga kau menjadi anak yang sholeh, tetap berbakti emak, dan semoga  cita citamu tercapai. Amin” kata seorang wanita yang kukenal, sesegara aku melepaskan tangan yang membelenggu dimataku, dan rasa tak percaya itu kembali, emak yang tadi kulihat terbaring dan penuh dengan darah, kini wajah emak seperti bahagia, “emak! Emak!” teriakku sambil memeluk, kurasakan detak jantung seorang anak dan ibu sangat kuat, “mak! Emak bohongin joko lagi ya, “ tanyaku, “hehe iya, kan sekarang ulangtahunmu”, “ah emak!” kataku sedikit senang dan sedih. Ternyata semua itu rencana dari emak, teman, dan pacarku agar berbeda dari ulangtahunku kemarin, maklum aku dulu jones, jadi belum punya pacar. “makasih ya yang, kamu udah bikin aku dag dig dug ser dan gaa karuan, “ kataku sambil memeluk pacarku, “iya sama-sama sayang, barakallahu fii umrik ya sayang” ucap manis dari pacarku, spontan semua tertawa melihat kemesraanku dengan pacarku, “cieee joko!” . malam itu rembulan pun turut tersenyum melihat suasana yang begitu istimewa dan terselip rasa tidak karuan dalam hatiku, antara sedih, senang, panic, bercampur menjadi satu.

Komentar

share!