Ironi Dalam Kerusakan




Karya:  Rizky Farandi Mubasir

Dalam satu detik, semua tampak berhenti.
Mulut anjing terbuka lebar. Mereka mengatakan anjing bisa merasakan sesuatu. Benarkah? Mungkin benar, karena aku rasa, anjing dapat membaca manakah koruptor yang asli dan koruptor yang sebenarnya. Atau mungkinkah, koruptor itu anjing itu sendiri? Kalian tahu, korupter itu lebih buruk dari hewan mamalia yang satu itu. Mereka pantas dihukum mati. Bagaimana tidak? Mereka memakan uang rakyat hingga mereka menjadi tambun dan rakus karena keharaman yang tak terurus. Mereka memaki-maki rakyat karena mereka tidak membayar pajak, tapi yah, mereka dengan senang hati meraup keuntungan perpajakan. Mereka mengatakan bahwa mereka kelaparan, namun mereka mungkin selama ini tak sadar, tanpa rakyat, mereka karatan. Koruptor semakin merajalela, penuh dengan angan-angan. Mereka berharap menjadi seseorang yang alim di mata publik karena mereka sudah naik haji berkali-kali, namun kelakuan mereka di balik kain putih suci mereka lebih mirip setan. Nyatanya, mereka sama sekali tidak mementingkan rakyat, hanya mementingkan diri mereka untuk membeli intan. Batu permata yang berkilau itu tidak sebanding dengan mayat-mayat bergelimpangan para orang miskin yang selalu berharap mereka mendapat harapan. Harapan untuk berubah, bukan untuk menyaksikan tawa mereka ketika mereka sudah subur dan makmur, sedang strata bawah hanya bisa melamun. Namun, mungkin tanpa mereka, aku jadi mulai berpikir, bukankah mereka juga penyelamat dunia? Mereka menurunkan populasi manusia di dunia karena banyak orang mati kehilangan harta mereka! Setidaknya, itu hal positif yang mereka lakukan. Ataukah, positif negatif? 


Apa yang rusak dari dunia ini? Sistem? Ataukah yang melaksanakan sistem? Mungkin tidak keduanya, karena rusak adalah persepsi orang. Jika orang itu menghendaki sistem rusak, maka mereka akan berkata rusak. Namun jika orang itu menghendaki yang melaksanakan sistem rusak, maka biarlah mereka berkata seperti itu. Aku bingung dalam diriku sendiri. Diri kita, tersusun dari jutaan, bahkan mungkin berkali lipatnya, sel-sel berukuran mikroskopis yang terikat satu sama lain. Dan dari kumpulan sel-sel tersebut, akan membentuk jaringan. Jaringan-jaringan tersebut berkumpul, saling terhubung satu sama lain, membentuk organ. Dan masing-masing organ bekerja, saling bertumpu satu sama lain, membentuk sistem organ. Dan kitalah, manusia, merupakan bentukan terakhir dari sistem organ. Tuhan menciptakan kita penuh dengan sistem, dan sistem inilah yang mengatur kita, sesuai apa yang diharapkan Tuhan oleh kita, menjadi sistem.
Namun, pernahkah kalian memikirkan hal yang sama—menjadi sistem—pada koruptor? Mereka rusak, berarti mereka bukan sistem? Ataukah mereka sistem yang rusak? Aku pernah bertemu dengan seseorang. Dia berkata kepadaku, “Terkadang, ada beberapa hal di dunia ini yang disengaja oleh Tuhan untuk menjadi tidak teratur.” Dan memang benar apa yang diucapkannya. Tuhan telah menciptakan sesuatu hal yang bersistem, dan sistem itu telah direncanakan dengan matang untuk rusak. Untuk diperbaiki kembali. Untuk disusun kembali dengan tepat. Untuk dilaksanakan sedemikian rupa agar dapat menopang keteraturan sistem yang lainnya. Namun, bukankah ketidakaturan yang berlanjut adalah keteraturan? Terpola, karena Tuhan menghendakinya dalam bentuk seperti itu. Itulah koruptor, terpola.
Seorang koruptor bagaikan bangkai yang hanya dikelilingi oleh kunang-kunang, bukan lalat. Mereka bercahaya di luar, tampak agung, tampak indah, tampak tidak berdosa. Berkeliling melewati pasar sambil mengecek harga pasar sebelum lebaran dengan mimik tak ada yang disembunyikan dalam diri mereka. Berkeliling mengunjungi kampung kumuh untuk mendapatkan simpati rakyat—atau berlatih untuk bersimpati—kepada orang-orang yang mereka ambil uangnya untuk kekenyangan mereka sendiri. Makan di rumah dengan menu mewah sementara kalian bisa melihat beberapa manusia meronta-ronta tak ada yang mengisi perutnya. Penyakit menjalar, dan akhirnya nyawa pun dengan terpaksa keluar dari raga. Nyatanya, mereka busuk di dalam.
Dan itulah aku, seorang koruptor yang menyadari kesalahannya pada detik-detik terakhir aku hidup.
Aku, seorang koruptor yang sekarang berdiri di panggung kayu. Sementara di leherku, sudah terikat tali tambang yang serabutnya menusuk-nusuk kulitku. Tali itu terpasang pada batang kayu di atasku. Aku hanya melihat mereka—sang penonton sandiwara—yang memakai baju sederhana, sedangkan diriku yang telah meluangkan waktuku dalam permainan gelap di balik dunia politik yang subur dan makmur,  memakai baju kerja dengan jas hitam kemeja putih serta dasi merah layaknya pejabat-pejabat pemerintah yang sedang melaksanakan tugas dinas. Di sini, aku berdiri menantang mautku sendiri. Di ruangan ini, di aula besar ini, di aula batu tempat eksekusi ini.
Seorang pria tua mendekatiku, dengan langkahnya yang tegas, dan raut wajahnya yang berkerut-kerut karena usia yang telah melebihi batas umur biasanya, “Ada pesan terakhir, Koruptor?” Aku mendengarnya geli, dia memanggilku koruptor!
Nafasku memelan, dan suaraku pun memelan pula. “Maaf.”
Orang tua itu berbalik menghadap penonton. Aku pun melihat seluruh penonton di sana, tidak banyak. Hanya orang-orang yang berhak melihatnya, serta keluargaku—anakku dan istriku. Mereka melihatku dengan tatapan sedih, terutama wanita yang selalu membantuku dalam kebutuhan hidupku. Aku bersaksi dalam islam bahwa dia adalah kekasihku, tapi sayangnya, keislaman itu hanyalah status dalam menyelubungi kelakuanku ini. Sementara anakku, aku menatap matanya. Dia memang sedih, namun spontan dia mengalihkan pandangannya, ke bawah. Aku tahu, aku hina.
Aku kembali melihat ke depan, ke suatu jam yang terpasang di dinding dekat pintu gedung ini. Sesuai jadwal, aku dieksekusi jam 10.00. Sekarang jam 09.58. Tersisa dua menit bagiku untuk melihat dunia sebelum aku benar-benar memejamkan mata. “Tuan-tuan dan nyonya-nyonya, kalian telah melihat salah satu produk bangsa gagal di depan kalian! Dengan berdasarkan pasal 21 ayat dua, maka inilah pelaksanaan pasal tersebut. Koruptor digantung mati!” Pria tua itu tampak sangat senang ketika mengucapkan dakwahnya yang disampaikan sebelum seseorang mati karena hukum. “Sebentar lagi, kalian akan melihat pembalasan Tuhan pada orang-orang yang terlalu melihat harta sebagai sumber utama kehidupan! Hidup hukum! Hidup hukum! Hidup hukum!”
Semua penonton bersorak ramai. Mereka meneriakkan frasa “hidup hukum” sebanyak-banyaknya mengiringi detik-detik kematianku. Aku melihat keluargaku kembali, mereka hanya terdiam polos. Dengan pelan istriku menutup mata anakku. Aku kembali melihat ke depan, semua bersorak ramai sambil mengangkat salah satu lengannya ke atas dengan tangan terkepal. Mereka tampak puas. Peluh keringatku turun perlahan melewati daguku, dan aku merasa waktu sambil memelan. Penjagal dengan siap di bagian belakang panggung untuk menarik tuas yang akan langsung menarik salah satu landasan di bawah kakiku agar terbuka.
Mereka terus bersorak. Salah satu anjing yang dibawa oleh seorang penonton pun ikut menggonggong. Mungkin temannya juga mati karena aku. Suara detik jam tampak semakin jelas terdengar di telingaku, suara hingar-bingar semakin meredup dari ruangan ini.
Dan detik paling keras muncul ketika jarum jam tepat menunjukkan pukul 10.00

*
Pada saat aku kecil, aku pernah berbincang-bincang dengan guru sekolah dasarku. Pikirannya yang kritis dan cara menyampaikannya, benar-benar memukau dan menghipnotisku.
“Kau tahu, Yanto, semua manusia itu adalah pahlawan.” Pak Sid berkata kepadaku sementara aku sedang menulis sesuatu di bukuku. Aku kemudian menoleh. Aku bingung dengan perkataannya. Kebetulan aku berada di deretan bangku paling depan dan kebetulan sekali kelas telah menyelesaikan pelajarannya.
“Kita ini, pahlawan. Aku ingin berbagi pemahaman denganmu, Yanto.” Ia pun berdiri dari meja guru, dan kemudian duduk di sampingku. “Ya, kita semua adalah pahlawan.”
“Bagaimana Pak Sid bisa berkata seperti itu?” tanyaku padanya.
“Ya, kita diciptakan sebagai manusia. Manusia adalah satu-satunya ciptaan Tuhan yang memiliki akal dan hawa nafsu dalam satu raga. Kita berpikir layaknya kita mencari penghidupan, namun tetap memiliki insting sebagai hewan, yaitu hewan golongan mamalia. Kita adalah ciptaan terbaik Tuhan yang pernah ada. Kita adalah pahlawan, bagi Tuhan. Mengapa? Karena Tuhan menciptakan kita agar dapat merubah dunia! Kita melakukan sesuatu hal di mata Tuhan, adalah menuju dunia yang Tuhan telah takdirkan. Harap mengertilah Yanto, bahwa setiap manusia di muka bumi ini, telah memiliki jalannya sendiri. Jalannya sendiri yang akan bertemu di satu titik, satu muara, yang kita sebut sebagai ‘hari Kiamat’. Kau tahu mengapa terjadi hari Kiamat? Karena hari itu, dunia telah menjadi seperti apa yang Tuhan inginkan! Tujuan terbesar Tuhan sudah tercapai, sehingga semuanya pun langsung Tuhan hancurkan dalam sekejap. Dan kita, manusia, adalah ciptaannya yang membawa perubahan itu, untuk merubah dunia seperti apa yang semula Ia inginkan!”
Aku hanya mengangguk, namun aku mengerti. Pikiranku sendiri lenyap dalam pemikiran-pemikiran yang tidak logis namun menarik untuk dipahami tanpa harus kusuruh, kuperintah. “Mereka pahlawan di mata Tuhan, namun mungkin saja, mereka bukan pahlawan di mata sesama manusia.”
“Ya, kau benar sekali, Yanto! Tapi, bukankah kita memang diciptakan dari berbagai persepsi? Persepsi adalah pandangan, dan kita tidak bisa memaksa mereka untuk berpandangan sama dengan Tuhan, karena mereka memiliki hak untuk berpandangan!” serunya dengan wajah cerdas yang selalu Yanto akui. Ya, Pak Sid selalu mengakhiri pernyatannya dengan keseruan dan suatu kesimpulan konret. Setidaknya, Pak Sid ngabuburit bersamaku dalam puasa kali itu.
“Yanto, kau akan mati pada bulan Ramadhan.” Pak Sid dengan lesu berkata seperti itu, membuat aku sedikit ingin menelan ludah. Apakah itu adalah salah satu lelucon? “Semoga Ramadhan ini bukanlah Ramadhan terakhirmu. Janganlah membuat dirimu menyesal.”
Namun Ramadhan waktu itu adalah Ramadhan terakhirku bersama dengan Pak Sid. Setelah hari itu, Pak Sid pun dimutasi entah ke sekolah barunya, dan semenjak itu, aku kehilangan kontak dengan Pak Sid. Aku hanya ingin tahu, apa maksudnya hal itu? Dan semenjak itu, setiap hari pertama sebelum puasa, aku berdoa kepada Tuhan dan bertanya, “Apa kabar, Ramadhan?”
Dan aku akan menghakhiri hidupku juga dengan penuh keseruan dan suatu kesimpulan konkret. Bahwa aku akan meninggalkan dunia ini dengan cara yang buruk. Berakhir pada bulan puasa, pada bulan Ramadhan yang akan kuakhiri dengan buruk. Wafat di bulan Ramadhan karena kesalahan besar adalah cara mati penuh dengan sinisme dan ironi. Tak kusangka aku akan mati hari ini, pada umurku yang 45 ini.
Detik jam tepat menunjuk angka dua belas, penjagal menarik tuas, landasan terbuka, spontan aku terjatuh. Tali pun terayun dengan cepat.
Aku seperti tersedak, mataku seakan ingin keluar, kepalaku ingin patah, suara-suara itu hanyalah angin semilir tiada guna. Dan dengan cepat, mataku terlelap.
Ironi. Karena aku menyesal.

Komentar

share!