Ini Ramadhan atau Apa?




Karya:  Eko Wiyanto

Suara adzan solat isya’ yang bergema disunyinya malam, menandakan akan segera dimulai solat yang memiliki jumlah waktu yang sangat lama itu. Malam itu nampak dari ujung jalan ikan tawes seorang pria parubaya mengenakan pakaian muslim dan menyandang sebuah sajadah yang sudah mulai usam. Dia melangkahkan kakinya menuju sumber suara yang terdengar begitu jelas di telinganya untuk menyujudkan tubuhnya yang begitu keras di sebuah bangunan yang merupakan rumah Tuhannya. Saat ia sampai di dalam masjid itu, sebuah ekspresi bahagia diiringi senyum yang muncul dari wajahnya yang sudah mulai keriput karena melihat 2 sab solat sudah penuh dan ia pun ikut melengkapi sab yang ketiga. 


Takbiratul ikhram yang terdengar lantang dari seorang imam solat isya’ ini menandakan solat telah dimulai. Pria parubaya itu pun memulai solatnya setelah imam tersebut selesai melakukan takbiratul ikhram. Suara bacaan surah al-fatihah yang bergema di dalam sebuah ruangan yang berhiaskan struktur pengurus dan jadwal solat menambah kekhusukan pria ini dan jamaah lainnya, meskipun terdengar suara cekikian anak kecil yang hanya bermain-main. Setelah selesai, mereka berzikir dengan penuh rasa cinta dan memohon kepada Allah. Suara zikir itu membentuk sebuah alunan melodi nan merdu disunyinya malam.
Setelah itu, bilal solat tarawih mengambil posisi dan “allahummasolli ‘alasayyidina muhammad”, suara itu menandakan bahwa esok akan datang 1 Ramadhan. Dengan bermodalkan wudhu yang masih terasa dingin dikulit, pria itu dan jamaah lainnya melakukan solat sunah tarawih ini dengan 20 rokaat solat tarawih dan 3 solat witir. Meskipun mata terasa lelah dan rasanya ingin sekali merebahkan tubuh ini, namun pria ini tetap menyelesaikan solatnya. Setelah solat, ia pun mengawali tradisi setiap ramadhan yaitu tadarus setiap akhir solat tarawih.
Lalu, dari depan sebuah pintu rumah kayu yang memiliki halaman yang cukup luas dengan satu pohon jambu alpokat yang menjadi tambahan rezekinya,terdengar ucapan salam yang menandakan pria itu sudah pulang. Keika ia masuk ke rumahnya, ia termenung dan merasa sedih ketika melihat ketiga anaknya yang sedang asyik bermain bersama. Ia takut jika anak-anaknya tak bisa mengenakan baju yang pantas ketika lebaran nanti. Tiba-tiba,   “ pak? ada apa toh pak? kok diem gitu?”, tanya wanita yang masih terlihat cantik meskipun sedikit tertutupi oleh jilbab yang sedikit mencong. “ enggak mak, ini bapak cuma lucu aja ngeliat anak-anak”, sambungnya. “oh yo wes pak, anak-anak tidur yuk udah malem tuh”, jawabnya dan mengajak anak-anaknya tidur. Mereka pun tidur bersama.
Keesokan paginya, tepatnya pukul 2 tepat, suara risma masjid dengan kentongan dan alat seadanya membangunkan warga untuk saur. Kemudian, sang istri pria itu segera bangun dari tidurnya meskipun suami dan ketiga anaknya belum bangun. Setelah siap semua, wanita itu pun membangunkan suami dan anak-anaknya, dengan menu nasi, sambal, kuluban (sayuran yang direbus), dan tempe goreng mereka mengawali saur mereka. Setelah saur, mereka tidak tidur kecuali ketiga anaknya yang masih dibawah umur, sambil menunggu waktu imsyak mereka berdua mendengarkan radio dan meminum segelas kopi yang agak pahit karena gula mereka sudah mulai menipis. Sempat terlintas dipikiran istrinya untuk membeli sebuah televisi meskipun hitam putih, namun keinginan itu pupus karena ia sadar bahwa keluarganya masih banyak kekurangan meskipun begitu mereka berusaha supaya tidak terikat oleh hutang. Setelah mereka selesai, imsyak pun datang. Pria itu pun menyegerakan untuk pergi ke masjid yang jaraknya sekitar 10 rumah dari rumahnya. Saat ia baru melangkahkan kaki kanannya untuk keluar rumah, terdengar suara adzan subuh nan merdu yang dikumandangkan oleh salah satu risma masjid tersebut. Sesampainya di dalam masjid, wajahnya sedikit sedih karena jamaah solat kali ini tidak seramai jamaah solat idul fitri dan idul adha padahal solat ini adalah solat wajib. Mereka pun memulai solatnya dengan jamaah yang hanya 1 sab. Setelah selesai mereka pun berzikir dan pulang, kecuali pria parubaya ini. Ia sengaja menunggu matahari terbit sambil membaca al-qur’an, ia meresapi setiap ayat yang ia baca. Setelah itu pun ia kembali kerumah, saat di jalan ia merenung dan bertanya-tanya sendiri, “ ramadhan atau bukan, sama saja. Masjid tetap saja sepi, masih banyak manusia-manusia yang belum sadar. Ini ramadhan atau apa?”.
Setelah ia pulang dan izin ke istrinya, dia pun pergi mencari receh demi receh untuk keluarganya. Bermodalkan do’a, usaha, dan satu buah hp jadul ia pun berangkat. Saat ia baru melangkahkan kaki keluar rumah, hpnya berdering dengan cukup keras. “halo?”, tanyanya. “ada bongkaran kopi 1 truk gede, di gudangnya pak haji Yunan”, jawab penelpon itu. “oke, berangkat”. Kemudian ia pun bergegas ke tempat tujuan, di sana ia telah ditunggu 5 orang temannya. Meskipun masih terbilang pagi, keringatnya sudah mulai terkuras, ditambah lagi dia sedang berpuasa, namun memang begitulah resiko menjadi seorang kuli gudang. Dia selalu menyukuri apapun yang ia terima, karena baginya semua ini adalah takdirnya.
Ia bekerja seharian, dan tak terasa sebentar lagi berbuka. Ia senang rezeki hari ini lumayan, sebelum pulang ia membelikan 2 bungkus es campur seharga 10.000. Saat ia pulang, ternyata keluarganya sedang menantikan kehadirannya dan merasa senang saat melihat 1 bungkus es campur yang ia bawa. Tak lama setelah ia pulang, bedug magrib pun berbunyi, mereka pun berbuka bersama dengan 2 bungkus es campur dan ditemani dengan beberapa pisang goreng. Pria paruh baya itu sedikit merenung atas kejadian yang ia lihat ketika hendak pulang tadi, ia melihat ada 2 remaja lelaki dan perempuan sedang berkencan di sudut sebuah SD serta ditemani dengan setan yang senantiasa menggoda mereka. Ia heran, kenapa disaat ramdhan seperti ini masih saja hal seperti ini terjadi, sebenarnya ini ramadhan atau apa?. Tiba-tiba ia dikagetkan dengan tepukan yang tidak begitu kuat oleh istrinya, “eh pak, ngelamun aja. Dimakan tuh gorengannya”. “iya mak iya”, sambungnya. Setelah mereka selesai berbuka, mereka pun melanjutkan untuk melakukan amalan lainnya. Dan ketika ia solat tarawih, ternyata jamaah dimasjid berkuarang setengah baris. Namun, ia masih bisa tersenyum.
Sepulang ia solat tarawih, hpnya berdering memanggilnya untuk bekerja lagi. Ia tak kenal waktu dan lelah, ia tetap bekerja meski larut malam demi keluarganya. Ia berangkat jam setengah sepuluh dan pulang lagi satu jam sebelum imsyak. Meski pun begitu, saat esok paginya tubuhnya masih tetap segar dan tak terlihat lelah sama sekali.
Hampir 18 hari ia bekerja saat berpuasa, 18 hari itu pula keringatnya menetes dan menjadi saksi perjuangannya demi keluarganya. Dan esok adalah hari dimana ia ingin membelikan anak dan istrinya baju dan kue untuk lebaran. Keesokan harinya pun tiba, ia senang ketika melihat senyum bahagia diwajah anak dan istrinya. Seperti hari menjelang lebaran pada umumnya, pasar begitu padat, hiruk pikuk, kegaduhan, dan ocehan penjual dan pembeli memekakkan telinga. Inilah kesenangan saat di pasar, namun hal ini juga bisa menjadi kesedihan dimata pria paruh baya itu. Karena meskipun bulan ramadhan ia masih saja bisa melihat banyak kemaksiatan dan kejahatan dimana-mana, saat sedang berdesakan ia melihat ada tangan-tangan yang memanfaatkan keadaan seperti mencopet dan melecehkan. Sekali lagi ia bertanya-tanya, ini ramadhan atau apa?. Setelah mereka selesai berbelanja, mereka pun pulang. Pria itu puas melihat anak dan istrinya bahagia, sehingga perjuangannya selama ini tidak sia-sia.
Hari ini ia sengaja tidak bekerja, karena ia ingin beristirahat dan menghabiskan waktunya bersama keluarga. Ia berharap jamaah solat tarawih malam ini lebih ramai, namun harapan itu pupus dan senyum yang terukir dibibirnya bukan senyum bahagia namun senyum keprihatinan bercampur dengan kesedihan. Tak tau apa yang menyebabkan mereka belum tersadar, dan kenapa masjid menjadi ramai ketika solat idul fitri dan idul adha? Sedangkan saat solat wajib tidak? Sekali lagi ini ramadhan atau apa?. Ramadhan tahun ini memang tidak terduga baginya, namun hal inilah yang membuat hidupnya lebih berwarna. Inilah sepenggal kisah dari seorang tulang punggung keluarga yaitu seorang kuli bangunan yang berpenghasilan pas-pasan namun tidak hanya memikirkan keluarga, ia juga memiliki rasa keprihatinan akan kehidupan. Dan hanya bisa belajar, supaya anak-anaknya menjadi anak yang berilmu dan mengerti akan kehidupan.

~Selesai~

Komentar

share!