Hal yang tak terduga




Karya:  Sharandani Adinda Salsabella

Suara nyaring dari pengeras suara masjid, serta suara tumisan di dapur, membangunkanku subuh itu dengan penuh rasa syukur. Kubaca doa setelah bangun tidur, dan segera beranjak menuju dapur, dimana aku mendapati punggungnya disana, bidadariku, tengah menyiapkan hidangan untuk sahur.


Ia membalikan tubuhnya dan tersenyum lebar menyambutku, mashaAllah, sungguh cantik sekali. Aku pun segera duduk di karpet sembari menghidupkan televisi, menonton sebuah acara sambil menunggu hidangan siap. Tak lama, bidadariku itu datang dan membawa masakannya. Kami pun segera membaca doa sebelum menyantapnya.
“Abi...” sahut bidadariku yang bernama Zahra itu.
Aku menoleh kearahnya, dan mengerti maksud dari raut khawatir di wajah cantiknya. “Kenapa umi? Tumisnya enak, kok! Dan, abi gak bohong. Serius deh. Maka dari itu, umi makin semangat ya belajar masaknya!” ucapku sambil mengacak-acak rambutnya, yang membuatnya kemudian hanya tertawa dan mengangguk.
Alhamdulillah, hari ini adalah hari kedua di bulan puasa kami yang pertama. Kami menikah kurang lebih sebulan yang lalu, karena sebuah perjodohan. Meskipun begitu, kami sama-sama yakin kalau memang inilah pilihan yang terbaik dari Allah, inilah cinta yang diberikan dari-Nya.
***
Aku mengusap peluh yang meluncur dari dahiku, dan ber-istighfar kemudian. Masalah di kantor terus menerus berdatangan, dan itu membuatku dan rekan-rekan lainnya sedang kebingungan mencari jalan keluar dari semua ini.
“Ri, pulang yuk!” aku menoleh kearah sumber suara dan mendapati rekan kerja serta sahabatku sejak SMA, Hendra. Aku segera mengangguk dan membereskan berkas-berkas kerjaku, kemudian segera mengikutinya berjalan keluar kantor.
Kami hampir berpisah di parkiran ketika Hendra teringat sesuatu. “Ri, inget gak kita mau ada bukber explosion?” Aku pun mengangguk. Explosion adalah nama lain untuk kelas kami di kelas 12 dahulu.
“Iya, gue lupa kasih tau lo. Dua hari lagi, udah fix, bukbernya di rumah gue.” ucapnya.
“Oh, udah fix? Oke, inshaAllah gue bakal dateng.” jawabku tersenyum. Dan kami pun berpisah untuk pulang.
***
Hari Minggu tanggal 21 Juni, aku hadir dalam acara buka bersama di rumah Hendra. Banyak dari teman-temanku yang kini sudah sukses dan berkeluarga, mereka juga terlihat membawa serta pasangan hidup dan anak-anaknya kemari. Dan hal itu membuatku iri, mengingat Zahra berhalangan untuk ikut malam ini.
Setelah hidangan siap, kami semua menunggu adzan tiba sambil melepas rindu dengan bertanya dan bercerita satu sama lain, baik itu tentang keluarga ataupun karir kami masing-masing. Tak sedikit pula candaan yang kami lontarkan, yang menambah keceriaan dan kehangatan pertemuan hari ini.
“Fahri, gimana kehidupan pernikahanmu?” tanya salah satu kawanku.
“Iya nih, pengantin baru. Alhamdulillah senang lahir batin, kan?” tanya yang lain.
“Istrimu cantik dan luar biasa, Ghea mah lewat!” timpal yang lain. Namun, pertanyaan itu membuatku tertegun untuk beberapa detik. Ghea. Ia adalah, ya.... bisa dibilang, masa laluku. Dan aku baru sadar kemudian kalau ia tak terlihat hadir di pertemuan ini.
Namanya Ghea Farisya. Ia adalah teman sekelasku di kelas 11 dan 12 SMA. Dulu, aku banyak bergaul dengan siapa saja. Dulu juga, aku belum mengerti banyak tentang larangan pacaran dalam Islam. Sehingga, ketika aku melihat Ghea, aku jatuh cinta padanya, ia adalah cinta pertamaku. Aku pun berpacaran dengan Ghea untuk 2 tahun, dan kami sangat mencintai dan mengerti satu sama lain saat itu. Hubungan kami berjalan begitu baik sampai suatu saat Ghea pergi dan mengakhiri hubungan kami begitu saja.
Sehabis hubungan kami berakhir, hati dan diriku sangat hancur. Aku benar-benar sakit hati dan tak bersemangat lagi. Namun, Alhamdulillah, Allah memberiku hidayah dengan mempertemukanku dengan seorang Ustadz. Dari beliau lah, aku banyak menerima nasihat dan belajar serta mendalami lagi tentang agama yang sempurna ini. Atas izin Allah, hati dan pikiranku menjadi lebih terbuka. Dan sejak saat itulah, aku telah melupakan lika-liku percintaanku dan bertekad supaya bisa menjadi pemuda yang selalu istiqamah di jalan-Nya.
“Hush! Dia udah bahagia lahir batin sama Zahra, kok.” sahut Hendra yang rupanya menyadari raut wajahku.
Aku tersenyum, “Iya Alhamdulillah udah bahagia lahir batin sama Zahra. Doain aja, semoga tetap sakinah sampai kapanpun.” Dengan cepat, Hendra mengalihkan pembicaraan dengan mengambil topik lainnya, membuatku terkekeh pelan. Ia sangat pengertian rupanya.
Selepas shalat isya, kami semua berkumpul untuk mengambil foto bersama. Namun, tepat sebelum foto diambil, sebuah suara yang ceria dan khas memasuki lubang telingaku dan mengalir begitu saja ke dalam tubuhku. Ia datang.
“Ghea dataaaang! Tunggu!” gadis itu segera berlari dan mengambil posisi bersama kawan perempuan lainnya. Dalam hitungan ketiga, kami pun mengambil foto. Dan, aku sangat penasaran ekspresi seperti apa yang telah ku tampilkan disana.
Usai foto, suasana cukup riuh karena kedatangan Ghea. Kawan perempuan memeluknya dan menanyakan kabarnya. Kawan laki-laki menanyakan kabar serta kemana saja ia selama ini? Sementara aku, hanya terdiam di tempatku sampai sebuah lengan yang kokoh merangkul pundakku dan membawaku menjauh dari taman itu, Hendra.
“Mendingan lo bantuin gue nyetak foto ini, yuk. Serius gue butuh bantuan, biar cepet!” Aku pun menyetujuinya dan membantu Hendra menyetak foto yang baru saja kami ambil.
“Ri, lo harus percaya sama gue. Bukan gue yang ngajak dia.” Sahut Hendra tiba-tiba.
“Kamu yang ngajak juga gak apa-apa. Lagian, dia emang harus diajak. Dia kan temen sekelas kita juga.” ucapku santai sambil mengambil kertas glossy di rak buku. Tak lama, pintu kayu studio foto terbuka, dan suara itu kembali memasuki lubang pendengaranku.
“Fahri, Hendra! Ternyata kalian disini. Gue nyariin kaliaan. Jahat ah kalian, masa gak nyapa gue? Gue baru aja sampe di Indo!” ucapnya panjang lebar. Aku terdiam kaku sesaat, begitu pun dengan Hendra yang terdiam di kursinya. “Kalian gak kangen gue? Padahal gue kangen banget sama kalian-kalian!” sahutnya kembali.
“Eh iya Ghea, apa kabar? Kemana aja lo? Hehe, masih sehat, kan? Gimana kuliah sama karirnya di Amrik?” Hendra bertanya dengan cepat dan tanpa jeda.
“Baaaaik! Semuanya baik Alhamdulillah. Apa kabar lo berdua?” tanyanya begitu antusias yang hanya mendapat anggukan kaku dariku dan Hendra.
Tiba-tiba, wajah gadis itu berubah murung. “Ri, by the way, selamat ya atas pernikahannya. Semoga lo bahagia.” Ucapnya pelan sebelum menepuk lenganku dan berlalu pergi. Hal itu membuatku dan Hendra hanya berpandangan, sedikit kebingungan.
Beberapa dari teman-temanku telah pulang, begitu pun dengan aku yang telah duduk di kursi kemudi mobilku. Aku mendesah pelan. Entah mengapa, kegusaran telah menyusupi hati ini. Baru saja akan kuhidupkan mesin mobil, Ghea datang dan duduk begitu saja di kursi penumpang mobilku.
“Ri, anter gue pulang ya. Supir gue tiba-tiba gak bisa jemput. Lagian, arah rumah lo sama rumah gue searah. Ya? Udah malem nih. Tadi gue telepon taksi gak ada yang bisa. Oke? Sip, ayo jalan!” gadis itu apakah sudah gila? Ia membuatku terlonjak kaget.
Beberapa detik kemudian Hendra datang dengan terengah-engah, “Ghea! Turun! Nanti gue aja yang anter lo pulang. Turun, Ghe!”
“Udah lah, ribet. Lagian kan, cuman anter doang. Emang gak bisa, ya?”
“Ya gak bisa lah, Ghe! Udah, turun sini!”
Hendra dan Ghea berdebat mengenai permintaan Ghea untuk diantar pulang, dan mereka sangat berisik sehingga membuatku harus menghentikannya. “Ssshh, udah-udah. Oke, gue anter lo Ghe. Udah Hen, gak apa-apa inshaAllah. Gue berangkat. Assalamualaikum.” Ghea tersenyum menang sementara Hendra hanya menatapnya dengan tatapan sebal.
Untuk saat ini, yang ada di pikiranku hanya satu: Zahra. Bagaimana aku menjelaskan ini kepadanya? Terlebih, ia belum mengetahui tentang Ghea. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu. Lindungi dan jagalah aku Ya Allah. Aamiin.
Kami hanya diam di sepanjang perjalanan sampai kami akhirnya sampai. Akhirnya.
“Sampe Ghe.”
Ia membuka pintu mobil, namun terdiam sejenak. “Ri, maafin gue ya buat yang dulu. Maaf banget buat lo kecewa. Dan sejujurnya, gue sedih karena lo udah punya istri. Lo gak nungguin gue, sementara selama ini gue masih berharap sama lo. Bisa gak, lo kasih gue kesempatan kedua?” ucapan itu sontak membuat jantungku seperti berhenti berdetak untuk beberapa detik. Gadis ini tidak sedang berkhayal, kan?
Ia kemudian tertawa pelan, memecah keheningan diantara kami. “Gue bodoh banget ya. Mana mungkin lo mau. Maaf ya. Dan, terimakasih buat tumpangannya. Gue pulang, good bye.” Ia pun turun sambil mengusap airmatanya, dan berjalan menjauhi mobilku tanpa menoleh kembali.
Astagfirullah, ada apa lagi ini Ya Allah? Kuatkan lah hambamu ini Ya Allah. Astagfirullah.
Begitu sampai di rumah, badanku terasa begitu lelah. Zahra tengah menungguku sembari mengaji di ruang tamu. Kami bercakap-cakap sebentar, karena aku langsung menuju kamarku untuk tidur. Ya, perasaan ini membuatku semakin merasa lelah saja.
Aku tertidur dalam perasaan yang campur aduk, sampai terbangun di kemudian hari dengan hal yang sangat tak terduga.
***
Entah bagaimana awalnya, Ghea dan aku jadi sering bertemu sejak malam itu. Ia kini menjadi salah satu bagian di tempatku bekerja. Aku menyadari bahwa aku tidak bisa menghindarinya, karena urusan pekerjaan ini. Kami malah di tempatkan dalam satu tim yang sama. Sudah saja, kami semakin sering bertemu. Dan, rupanya Ghea masih menaruh harapan besar terhadapku.
Untuk menyelesaikan masalah di kantor, kami sering diminta bekerja lembur, meskipun ini di bulan puasa. Waktuku dengan Zahra banyak tersita, sementara waktuku dengan Ghea semakin banyak saja. Dan ini yang membuatku sangat gelisah. Aku juga kerap beberapa kali mengantarnya pulang –tentu saja karena ia yang meminta. Satu hal yang membuatku sedih, begitu aku sampai di rumah, Zahra selalu masih menungguku di ruang tamu dengan al-Quran ditangannya. Tak jarang, ia malah sudah hampir tertidur karena lelahnya menungguku hingga larut malam. Bertemu subuh, kami sahur bersama, dan setelah itu aku kembali menuju kantor untuk bekerja.
Dan seperti itulah rutinitasku untuk dua minggu terakhir, yang mana pada akhirnya, atas izin Allah, perusahaan tempatku bekerja menemukan titik terang dari masalah yang kami hadapi. Terselesaikanlah sudah masalah itu. Namun, masalah baru yang lebih besar tampaknya malah datang menghampiriku. Aku jadi merasa jauh dengan Zahra. Seperti ada yang hilang di hati ini ketika menemuinya dirumah. Anehnya, aku merasakan semangat dan perasaan senang yang terselip di hati begitu aku menginjakkan kakiku di kantor, dan bertemu Ghea.
Ya, aku dan Ghea menjadi dekat kembali. Hal ini sebenarnya membuatku takut, tapi sulit bagiku untuk menghindarinya. Ku akui, mungkin masih terselip perasaan di hatiku terhadap Ghea. Terlebih lagi, kini ia datang, menyesali perbuatannya dulu, meminta kesempatan kedua, dan kami mempunyai banyak waktu bersama.
Sebenarnya juga, Hendra sudah hampir memusuhiku. Ia kerap memberitahuku untuk mejauhi Ghea. Ia benci sekali dengan apa yang ku lakukan dan seringkali tak menghiraukan dan menghindar dariku. Mau bagaimana lagi? Hendra tak mampu mencegahku kali ini.
Malam itu, kantor tempatku bekerja mengadakan pesta kecil-kecilan untuk mensyukuri keberhasilan yang kami raih. Pesta ini diadakan di sebuah hotel berbintang, selepas shalat isya. Aku datang dengan Ghea, dan meninggalkan Zahra dirumah. Kami berpesta dan menikmati acara dengan perasaan gembira hingga larut malam. Malam itu aku merasa sangat senang, menikmati waktu kami bersama. Sampai tiba-tiba, Ghea merintih kesakitan dan terjatuh pingsan.
Dengan penuh rasa panik, ku bopong tubuhnya ke mobilku untuk dibawa ke rumah sakit. Aku bahkan sudah tak bisa mendengar suara apa-apa lagi. Hanya Ghea dan rasa panik yang ada di kepalaku.
Aku menunggu di depan kamar inap Ghea dengan gelisah dan berjalan kesana-kemari, sambil berdoa supaya ia tak apa-apa. Masih dalam kepanikan yang menyelimutiku, tiba-tiba seseorang menyerangku begitu saja, ia meninju wajahku sehingga aku tersungkur.
Aku terkejut dan kesal, siapa yang berani-beraninya meninjuku?! Ku lihat disana, Hendra, tengah berdiri dengan penuh amarah, tangannya pun tergenggam kuat, sekan sedang menahan diri supaya tak meninjuku lagi. Aku yang hanya terkejut, hanya bisa menatapnya dengan kesal.
Ia menarik kerah kemejaku, dan kembali meninjuku di pipi, membuatku kembali tersungkur untuk yang kedua kalinya. “Ri, lo itu udah keterlaluan! Gue udah sering bilang sama lo, jauhin Ghea! Jangan sampe lo jatuh lagi sama dia! Gue udah berusaha buat jauhin lo sama dia, tapi lo ngeyel! Mana janji lo berusaha mau istiqamah?!”
Wajah Hendra tampak semakin memerah, dan aku, masih belum mengerti apa yang terjadi sembari mengusap sudut bibirku yang rupanya mengeluarkan darah segar. “Lo tau gak, Zahra itu lagi demam tinggi hari ini. Dan dengan susah payah, tadi dia jemput lo ke hotel naik taksi. Tapi apa? Sampe disini dia malah liat lo bopong Ghea dengan paniknya! Gue dan dia udah manggil-manggil lo tadi! Zahra sampe ngejer mobil lo, dan... lo tau? Dia ketabrak mobil!”
Ucapan cepat dan penuh amarah Hendra seakan memberikanku tinju yang lain, dengan rasa sakit yang jauh lebih sakit dan terasa bukan hanya di wajah, tapi di seluruh tubuh. Seketika tubuhku bergetar hebat, kutatap Hendra yang dengan kemarahannya meneteskan air mata. Aku yakin, dia pasti kecewa sekali dengan sahabatnya ini.
Badanku lemas, namun, sekuat tenaga ku berdiri dan meraih lengan Hendra. “Zahra dimana Hen?! Dimana?!” dan aku segera berlari menuju ICU setelah Hendra menjawabnya.
Ku masuki ruang ICU dan mendapati ranjang Zahra yang di kelilingi beberapa orang. Dan ku lihat disana, Zahra, tengah terbaring dengan penuh darah di sekujur tubuhnya. Saat itu juga, aku merasa dunia berputar dan runtuh. Hatiku hancur sekali.
Apa yang telah kulakukan?! Aku sudah melanggar tekad usahaku untuk istiqamah. Aku sudah meninggalkan istriku, bidadariku, perempuan yang sudah halal untukku, Zahra dan malah berlari kepada perempuan yang tidak halal sama sekali untukku. Aku sudah diperdaya oleh setan yang terkutuk!
Aku berjalan terpogoh-pogoh, berusaha meraih dan menyentuh Zahra, yang terbaring dengan wajah yang tampak sedih dan pilu. Aku hampir menyentuhnya, sedikit lagi. Namun, apa daya, tubuh ini terjatuh terlebih dahulu dan aku.....tak sadarkan diri.
***
Seseorang mengguncangkan tubuhku, membuatku menggeliat dan membuka mataku pelan-pelan. Samar-samar ku tatap dimana aku berada dan siapa yang mengguncangkan tubuhku. Namun, aku malah melihat Zahra dengan wajahnya yang penuh rasa khawatir.
“Abi! Abi mimpi buruk? Astagfirullah, abi baca doa mau tidur gak semalem?!” Ku gelengkan kepalaku dan kupejamkan kembali mataku, mungkin ini hanya ilusi. Ilusi yang hanya akan membuatku semakin sakit dan tak mampu menerima kenyataan.
“Abi! Kok malah tidur lagi? Ayo, mau sahur gak? Atau, abi sakit? Abi sakit, ya? Abi emangnya makan apa sih pas buka bersama? Atau gara-gara pulang malem abi jadi masuk angin?” sederet ucapan itu mampu membuatku sedetik kemudian membuka mataku dan terduduk di kasur. Ku tatap lekat-lekat Zahra yang duduk di sampingku.
Aku segera meraih ponsel yang berada di atas nakas di samping tempat tidurku dan menelusuri sesuatu dengan cepat. Dan kudapati disana, kalau subuh ini, aku bangun di hari Senin, tanggal 21 Juni.
Seketika itu juga, aku menangis hebat. Ku peluk Zahra kuat-kuat. Zahra yang awalnya kebingungan, akhirnya hanya diam dan mengelus pundakku lembut.
Ya Allah, mimpi yang barusan ku terima sungguh-sungguh tak terduga. Mungkin, ini adalah sebuah peringatan dan pelajaran untukku Ya Allah, agar bisa menjaga diri dan tetap istiqamah di jalan-Mu. Bagaimanapun, Kau yang maha tahu segalanya. Aku berlindung kepada-Mu. Semoga, aku bisa mengambil hikmah di balik apa yang baru saja kuterima. Aamiin.
***

Komentar

share!