Hadiah Sederhana Untuk Ibu




Karya:  Pratiwi Sudarsih

Dari sudut ruangan yang berdindingkan bilik bambu, terlihat seorang wanita tua yang sedang menjahit mukena kesayangannya. Yah, itu ibuku. Ia adalah orang yang sangat aku cintai. Sedih hati ini melihat raut wajah ibu yang tak kenal lelah mengurusi anak-anaknya yang selalu berbuat ulah. Sampai saat ini aku belum bisa membahagiakannya, untuk makan sehari-hari pun aku tak sanggup memenuhi. Aku adalah seorang anak yang tak berguna, aku tak mampu membuat ibuku bahagia. Air mata perlahan keluar dari bola mataku yang berlumuran dosa. Ya, dosa karena aku hanya bisa melihat kesusahan yang ibuku rasakan.


“ Salim, mengapa kau melamun? Coba kau belikan makanan untuk berbuka puasa nanti. Uangnya ada di atas meja.” Perintah ibu.
Aku hanya terdiam dan langsung berlalu pergi untuk melaksanakan perintah ibu. Di sepanjang perjalanan banyak orang berlalu lalang menikmati senja di bulan Ramadan. Aku menundukkan pandanganku karena aku tahu sebagian dari mereka pasti menatapku dengan tatapan sinis, hina dan jijik. Tak apa, ini hanya sedikit dari cobaan yang Allah berikan kepada hambanya yang hina ini.
Setelah membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa, aku bergegas untuk pulang ke rumah. Namun, hentakan kakiku berhenti di sebuah toko yang menjual beraneka ragam pakaian. Aku melihat sebuah mukena terpajang di etalase toko tersebut. Ingin sekali aku membelinya untuk ibu agar ia tak susah lagi untuk menjahit mukenanya dikala robek saat dipakai. Aku memberanikan masuk untuk bertanya berapa harga mukena itu. Belum sempat bertanya. tiba-tiba saja si penjaga toko memaki dan mencaciku.
“ Ada apa? Mengapa kau melihat mukena ini? Apa kau punya cukup uang untuk membelinya? Hahaha… tidak mungkin kau sanggup membelinya dengan harga Rp200.000,” Kata si penjaga toko dengan sombong.
Aku segera pergi dengan menahan air mata yang sudah terbendung untuk keluar membanjiri pipiku. Aku adalah pemuda yang kuat untuk menghadapi cobaan ini. Sesampainya di rumah ibu dan adik-adikku menyambutku dengan senyuman hangat yang membuat aku tambah kuat menjalani hidup ini. Adzan Magrib berkumandang, kami menyegerakan untuk berbuka puasa dan dilanjutkan dengan shalat Magrib berjamaah. Aku memohon kepada Allah agar selalu diberikan kemudahan dalam menjalani kehidupan ini.
Waktu terus berjalan, hingga saatnya aku menunaikan shalat Tarawih di Masjid dekat rumahku. Sepanjang perjalanan aku terus menikmati suasana malam di bulan Ramadan yang penuh berkah. Akupun selalu berharap akan ada keberkahan yang Allah berikan kepada keluarga kami.
“ Tolong… tolong… “
Aku mendengar suara teriakan minta tolong dari ujung jalan sana. Memang di daerah ini rawan sekali perampokan. Terlihat dua orang lelaki bertopeng yang sedang mencoba merampas tas dari seorang ibu yang berkerudung anggun. Aku langsung sigap melawan kedua perampok itu dengan ilmu silat yang diajarkan oleh bapak sebelum ia dipanggil untuk selamanya. Sekitar 5 menit aku berhasil mengalahkan kedua perampok itu dan mereka kabur karena para warga telah datang untuk menyelamatkan.
“ Terimakasih ya, Nak. Kalau tidak ada kamu pasti uang ini akan lenyap. Sebagai tanda terimakasih ini untuk kamu, Nak.” Kata ibu itu sambil mengeluarkan lembaran uang.
“ Tidak terimakasih, Bu. Saya ikhlas menolong Ibu,” Jawabku.
Aku langsung pergi meninggalkan ibu yang berkerudung anggun itu dengan senyuman, karena adzan telah berkumandang. Aku tak ingin kehilangan kesempatan untuk shalat berjamaah.
***
“ Sahur… sahur…sahur…”
Anak-anak kecil berkeliling membangunkan sahur dengan dentuman gendang serta alunan musik dari perpaduan botol sirup dan sebatang kayu kecil. Terlihat ibu sudah menyiapkan makanan untuk kami santap. Nasi, telur dadar serta kecap merupakan makanan yang paling lezat. Adik-adikku menyantapnya dengan lahap. Aku berharap suatu saat nanti dapat memberikan mereka ayam goreng, karena kami hanya setahun sekali dapat menikmati itu.
Seusai sahur, kami melanjutkan shalat Subuh berjamaah di rumah. Aku menahan air mataku tatkala aku melihat sajadah yang dipakai ibuku robek. Ya, memang sajadah itu sudah lama sekali sejak ibu masih mengandungku. Aku harus bisa membelikan ibu mukena dan sajadah yang baru, apapun itu aku akan berusaha untuk mendapatkannya.
Hembusan angin pagi menusuk tubuhku yang hanya memakai kaos oblong serta celana batik yang sudah penuh dengan tambalan. Aku terus berjalan dan terus berjalan untuk mencari pekerjaan yang halal yang mana uangnya akan aku belikan hadiah untuk ibu. Pandanganku tertuju pada kios beras di ujung jalan. Tampak pemiliknya sedang bingung, akupun memberanikan diri untuk bertanya. Ternyata pemiliknya kebingungan karena tidak ada pekerja yang mau mengangkut beras dari mobil ke kiosnya. Ini adalah kesempatanku, aku akan mengangkut beras itu demi hadiah untuk ibu.
Satu jam telah berlalu, keringat yang terus keluar dengan deras tak menyurutkan semangatku. Alhamdulillah sudah selesai tugasku. Sang pemilik tersenyum kepadaku pertanda dia puas dengan hasil kerjaku. Akupun diberi upah sebesar Rp50.000 betapa senangnya hatiku. Namun, uang segitu belum cukup untuk membeli hadiah buat ibu. Aku tak boleh menyerah, aku harus cari pekerjaan yang lain.
Allah memudahkan jalanku. Tak lama aku menulusuri jalan, aku bertemu dengan ibu-ibu yang sedang kesulitan membawa barang belanjaannya terlalu banyak. Akupun membantu membawa barang-barangnya sampai ke mobil dan setelahnya aku diberikan uang. “ Alhamdulillah,” ucapku. Akupun terus melakukan pekerjaanku dengan tulus dan ikhlas.
Waktu terus berjalan, hingga tak terasa hari sudah senja. Pakaianku yang sudah basah karena keringat terus bercucuran di bawah matahari yang sinarnya sangat terik. Namun itu semua tidak jadi masalah. Akupun beristirahat sejenak sembari menghitung uang yang sudah kudapat hari ini. “ Alhamdulillah uangnya sudah lebih dari cukup,” ucapku. Akupun bergegas menuju toko yang menjual mukena tempo lalu.
Tatapan sinis oleh si pemilik toko tak membuat diriku minder. Setelah aku mendapatkan mukena beserta sajadah untuk ibu, aku segera pergi dengan hati yang bahagia. Di sepanjang perjalanan ke rumah, aku menebarkan senyum ke semua orang tanda aku sangat bahagia. Tiba-tiba saja datang seorang lelaki berbadan tegap serta tampangnya yang galak mencegatku. Ya, aku ingat dia adalah perampok yang aku kalahkan dengan jurus silatku. Mengapa dia ada di sini bersama rombongan temannya yang sangat banyak? Takut? Tidak, aku pasrahkan semua kepada Allah.
Dua orang temannya memegang tanganku dari belakang, aku berusaha meronta namun tak bisa. Perampok itu telah lebih dulu menonjok perutku hingga aku terkulai lemas. Tak sampai disitu, teman si perampok menambahkan pukulannya ke pelipis mata. Tapi aku mengelak sehingga terkena bibirku yang penuh dosa ini. Mataku mulai ingin menutup tapi aku menahannya. Aku ingin segera pulang untuk memberikan hadiah ini kepada ibu dan melihat senyum indah di wajahnya.
“ Ya ampun, Nak. Siapa yang melakukan ini kepadamu?” Ucap ibu berkerudung anggun yang tiba-tiba datang.
Aku hanya diam, karena aku sedang menahan sakit yang teramat pedih. Ibu berkerudung itu membawaku ke dokter dan mengantarkanku pulang. Aku merasa terselamatkan oleh ibu itu dan aku mengucapkan terimakasih atas pertolongan yang ia berikan.
***
Sesampainya di rumah, aku melihat wanita tua yang aku cintai sedang menjahit mukenanya yang robek lagi. Kali ini aku sudah bisa memberikannya mukena yang baru. Ini seperti mimpi. Ya, mimpi yang sudah menjadi nyata jika kita berusaha untuk menggapainya. Aku langsung bersujud di kaki ibu, aku langsung memeluknya. Air mataku jatuh tanda aku sangat menyayanginya.
“ Ibu, ini Salim belikan untuk Ibu. Maafkan jika Salim belum bisa membahagiakan Ibu,” Ucapku dengan penuh sayang.
“ Sayang, ini sudah lebih dari cukup. Kamu sudah buat Ibu bahagia, Nak.” Kata ibu.
Tak lama kemudian, adzan Magrib berkumandang. Kamipun segera berbuka dengan masakan ibu yang sangat lezat. Nasi, tempe goring serta sayur lodeh membuat aku menyantapnya lebih lahap.

Komentar

Posting Komentar

Silakan berkomentar :)

share!