Garis Akhir-Nya Ana di Bulan Suci




Karya: Ana

Nih kamus ana buat antum yang mau baca ini !!!
Ana = Saya. Haarun = Panas. Akhi = Sodara cowok. Ukhti = Sodara cewek. Antum = Anta = Anti = Kamu. Tilawah = Belajar Al-Qur’an. Baits = Rumah. Na’am = Ya. Bi = Dengan. Khair = Baik. Dhiro’ (panjang di Arab, pengganti meter). Haqiqi = Mutlak. Thawil = Lama. Qoshir = Bangs**, Khinzir = Babi. Pojok = Lembar. Qolbu = Hati.


“ Haarun banget ran !!”, kata ana pada Iranta.
“ Baru kali ini cuaca haarun kek gini, biasanya gak pernah kek gini”, tambah ana.
“ Pulang bentar Ran !!, mandi dulu, sebelon tilawah ama semak’an di masjid Al- adl”, ajak ana pada Iranta.
“ Na’am Khi, bi khair. Ana tunggu di depan baits Akhi”, jawab si Iranta ke ana dengan  senyuman.
Setelah itu ana masuk ke rumah ana buat mandi and lain-lainnya, sebelum tilawah ke masjid dekat rumah ana.
Masjid di kampung ana nggak terlalu jauh sih, sekitar 2000 Dhiro’ dari rumah ana, kalau di jadikan meter sekitar 1232 Meter, kurang lebihnya 1,2 Km. Mungkin itu terlalu jauh buat akhi dan ukhti, namun itu merupakan salah satu cara ana buat lebih bersyukur, untuk diberi kemudahan dalam beribadah, dan rasa syukur ana atas di berikannya agama yang haqiqi buat ana dan keluarga ana.
“ Udah belom Lal !!!, thawil banget Lal !!!”, desak Iranta pada ana.
“ Udah, yok Khi pergi !!, udah finish nih “, setelah keluar dari rumah ana.
“ Tadi ngapain aja pas mandi ?, lama banget Khi. Puasa-puasa Khi, hati-hati. Ntar puasanya batal. Haha . . ha”,  sindir Iranta ke ana
Saat di perjalanan ana and Iranta mengobrol tentang kesusahan masyarakat sini, karena perbuatan si qoshir dari orang-orang Kalaban itu, mentang-mentang dia punya dekengan yang badannya gede gitu, dia sudah sok cool, kayak hewan yang tak punya akal, cetek banget akalnya. Akal saja cetek apalagi qolbunya, bukan lagi cetek, namun datar banget akalnya. Sudah 48 tahun bangsa kami diokupasi sama bangsa Kalaban itu. Kami selalu saja tersenyum saat melihat mereka mengebom dan menghancurkan kota kami, karena kami sudah tidak bisa mengeluarkan air mata dari mata kecil kami, yang tak sanggup melawan dababah besar mereka. Bahkan, kami sudah tidak punya se-tetespun air mata yang dapat keluar dari pupil kami. Menangispun tak ada gunanya buat ana dan akhi, ukhti ana. Sekarang tangisan itu kami buat untuk melampiaskan kesenangan kami, bukan untuk pelampiasan rasa sedih kami. Jadi jika ana atau akhi, ukti ana sedang menangis, itu tandanya kami sedang besenang hati.
“ Udah hafal belom juz 25 nya Akhi ?”, tanya akhi Iranta pada ana.
“ Baru lima pojok Khi ”, jawab ana dengan bahagia.
“ Start hafalan juz 25 nya sejak kapan Khi”, kepo banget akhi Ranta pada ana.
“ Start ana dari hari Minggu Khi, emangnya kenapa ?, kepo banget akhi Ranta”, tanya ana dengan sedikit bercanda.
“ Situ juga Khi !!!, hahaha ”, jawab Ranta ke ana dengan bahagia.
“ Ini hari rabu Khi, Akhi udah dapet 5 pojok ???, wah, wow banget Khi !!! khoir banget Khi “, dengan kagum akhi ranta berkata seperti itu pada ana.
“ Alhamdulillah Khi, terima kasih “, hanya senyum ana yang ana berikan.
Ditengah jalan ana dan akhi Ranta berlari menuju tembok pembatas antara bangsa Kalaban ( Negara yang mengokupasi negara kami) dengan bangsa Salamna ( Bangsa kami sendiri). Sudah biasa ana dan akhi Ranta menjahili mereka dengan sedikit kata-kata kotor buat si qoshir tersebut. Berjalan dengan jongkok, itulah cara ana buat menuju ke tembok besar itu, sebelum menjahili mereka. Biasanya kami melempar batu yang cukup besar pada mereka, dan sedikit kata-kata kasar atau kotor untuk mereka, yang pantas dan layak untuk kata tersebut. Mereka sudah terlalu lama disini, mungkin lemparan batu ini dan kata-kata kami tidak ada artinya buat mereka.
“ Lempar batunya Khi !!! “, seru ana, ke Ranta.
“ Wusssshhhh . . . . “, suara lemparan batu dengan keras.
“ Prakkkk . . . . “, keras banget kenanya ke kepala salah satu pasukan bangsa kalaban itu.
“ Lari Khiii . . . , go fast “, teriak ana ke Ranta.
“ Bukan gini kan perjanjiannya ??, katanyaaaa. teriakkk duluu barruu lemppaaarrr batuuu ?? ”
“ Kamuu mauuu mengulannnggg nyaaa ???, lakukaaannn sajaaa sekaaraannggg Khi “, sambung ana.
“ Ayo teriak sekarang !!! “, kata akhi Ranta.
“ Bangsa Kalaban khinzirrrrr . . . . qoshirrr . . . “, teriak dengan kencangnya bersama-sama.
“ Who is it ?, beraninya melempar guaa !!! “, teriak si qoshir dari kalaban itu.
Mereka itu adalah People like Animals di masanya. Ana tak suka perilaku mereka yang sewenang-wenangnya sendiri. Ana tidak tahu kenapa bangsa kami di jajah oleh mereka. Berkali-kali ana tanya pada mereka, habis ana tanya mereka selalu memukuli ana dengan ganggang senjata mereka. Kaki, tangan, pinggang, punggung, betis, bahkan kepalapun sering mereka pukul dengan benda tumpul  itu. Pernah satu kali, telinga kiri ana terpukul oleh ganggang tumpul mereka. Hingga telinga kiri ana tidak bisa digunakan untuk mendengar, karena gendang telinga kiri ini sudah pecah. Teringat pada masa itu, ana melindungi umi dan abi ana saat mereka ingin membawa keduanya untuk di bunuh. Saat itu suasana sungguh tegang, ana merengek pada mereka, supaya melepaskan umi dan abah ana dan di ganti ama tubuh ana. Sang Kholiq pun sudah menggaris takdir walidain ana untuk wafat di tangan bangsa  kalaban itu. Rasanya sangat sulit untuk membalas kematian walidain ana.
Dengan kencang, ana lari bareng akhi Ranta. Alhamdulillah bisa lolos dari si qoshir kalaban itu. Akhirnya sudah sampai didepan masjid dengan penuh bekas ledakan bom-bom dari bangsa Kalaban itu. Banyaknya martir yang berserakan pertanda adanya konflik yang panjang dari bangsa ini. Ini adalah salah satu masjid dari 10 masjid yang selamat dari bom-bom besar. Alhamdulillah semua masjid di Kraying City Al-merham ini. Kata Al-merham ini di ucapkan oleh pemimpin Kalaban itu. Tidak tahu kenapa semua masyarakat di sini meniru kata itu. Mungkin sudah tidak ada harapan lagi bangsa Salamna ini untuk merdeka. Ana sangat bingung dengan keadaan ini. Kenapa hanya bangsa ini yang belum merdeka ?.
Masuklah ana dan Ranta di masjid keadilan itu.
“ Assalamualaikum warahmatullahi ta’ala wabarakatuh Prof ”, salam ana dan akhi Ranta ke ustadz ana sekaligus profesor di kota kami.
“ Wa’alaikum salam warahmatullahi ta’ala wabarakatuh my Child “, dengan senang Prof. Imadduddin.
“ How do you do Prof ?”, tanya ana dengan lagak sok pintar bahasa inggris.
“ Khair El Jalaluddin Fivalestn ”, dengan fasih logat baratnya.
“ What about you Jalal? “, tanya profesor pada ana.
“ Fine too Prof, thank you “, jawab ana dengan senyuman
“ Ranta ? “, tanya prof pada Ranta.
“ Oh, i’am fine too. Thank you Prof”, jawab Ranta.
“ Dari dulu sampai sekarang Jalal terus yang pertama di salami dan ditanya “, sedikit sedih dan ada rasa iri kelihatannya dari raut wajah Ranta ke ana.
“ Iya, maaf Ran. Besok-besok anta yang ana dahulukan ! “, kata profesor.
“ Ayo, setoran juz 25 buat Jalal dan 12 buat ranta ”
Baru masuk, ana langsung disuruh setoran. Tapi tak apa, mungkin ini merupakan salah satu ikhtiar untuk membalas dan memutar balikkan kedudukan dari negara ana.
“Assalamualaikum warahmatullahi ta’ala wabarakatuh Abah “, salam ana, setelah sampai rumah ana.
“ Wa’alaikum salam “, jawab abah yang sudah menunggu ana di depan radio milik abi dulu.
“ Gimana hafalannya El ? “, tanya abah ke ana
“ Alhamdulillah Bah. Sukses hafalannya “, dengan bangganya ana pamer.
Tiba-tiba terdengan suara kencang dari sirine, yang membuat abah kaget.
“ Go . . . . I will bom your city !!! “, teriakan yang tak tahu dari mana asalnya.
“ Ada apa Bah ? apa ini ??? “, tanya ana pada abah dengan rasa takut dan gemetar bukan main.
“ Kalaban datang Rijal !!! “, teriak abah dengan menarik ana keluar dari rumah lewat pintu belakang.
“ BUMMMSSSSSS . . . . . “, suara ledakan yang sangat keras dan kencang membuat kaca rumah  pecah semua.
“ Sebentar Bah, lepaskan tangan el, el mau lihat bentar keadaannya ”, ana tarik tangan ana dan segera mendekat ke kaca dekat pintu depan yang habis pecah.
Tepat di depan wajah ana, ana melihat ledakan yang terjadi di depan rumah ana, tepatnya dirumah Ranta. Ana lihat ke jendela kamar Ranta (lantai 2), ada cahaya merah dan terdengar suara ledakan yang kencang. Ana masih melihat ke lantai 2 tersebut. Tiba-tiba dari jendela itu, Ranta  melompat dengan keadaan tangan kiri sudah tidak ada. Saat dia melompat, mungkin nyawanya sudah tidak bersamanya. Ranta jatuh tepat di depan ana, di bekas pecahan jendela yang masih ada pada kayu jendela. Mata Ranta terkena kaca yang masih berdiri tegak di jendela depan ana dengan keadaan kaca yang sangat lancip itu menusuk mata Ranta sampai tembus kepala belakang. Semuanya penuh darah, bahkan baju ana terkena darah Ranta. Mungkin kali ini ana tidak bisa menahan tangisan kematian sahabat ana.
“ Apa yang Rijal lihat ?? Ayo keluar sekarang El !! “, teriak abah dengan sangat kencang.
Akhirnya ana mengikuti langkah abah ana. Saat tepat di depan pintu, ada peluru nyasar dari pasukan Salamna ( Pasukan negara kami). Abah terkena peluru itu di bagian lehernya, dengan tidak segaja abah melindungi ana dari peluru itu.
“ Maaf Rijal, ana tak sengaja. Sekarang anta pergi dari tempat ini ”, teriak tentara Salamna kepada ana.
Ana hanya bisa mencium kening abah, tidak lebih.
“ Maaf Bah, atas kenakalan El selama ini !!”, Hanya kata itu yang terlontar dari mulut yang penuh dosa ini.
“ Anta keluar sekarang !!!, jangan lama-lama !!! “, suara yang sangat kasar dari seorang prajurit Salamna.
Ana meninggalkan abah (kakek) ana, dengan ratusan tetesan air mata yang terlintas di pipi ana.
“ Durrr . . Durr . . . Dur . . . , “, suara tembakan dari tentara kafir itu.
Dua tentara yang tadinya menyuruh ana untuk segera pergi, sekarang mereka sudah tidak ada lagi. Ana tidak memperdulikan proses penembakan itu. Ana melanjutkan langkah demi langkah ana, demi menyelamatkan nyawa ana.
Saat itu ana melihat ada lontrong di puing-puing bekas ledakan mereka ke rumah akhi dan ukhti ana. Ana langsung bersembunyi dipuing-puing itu.
“ Prok, prok, prok . . . “, terdengar suara sepatu tentara yang cukup ana kenal.
Suara itu berlabuh di samping reruntuhan yang ana tempati.
“ Keluarr, sekarang !!!, atau saya bunuh kamu dari sini “, dengan lantangnya suara dari arah suara sepatu tadi, dan ana tidak tahu untuk siapa suara itu.
Ana cuma bisa berharap bisa selamat dalam penyerangan ini. Mungkin suara itu dari Kalaban, sedangkan jika itu dari Salamna, pasti dia akan melindungi ana dan kata-katanya tidak sekasar.
“ Cepat keluar !!! yang ada didalam puing ini”, tambah tentara itu.
Sudah bukan mungkin lagi, tapi itu sudah pasti tentara Kalaban. Air mata ini tidak bisa berhenti ketika menghadapi situasi seperti ini. Seluruh badan ana gemetar saat menuju keluar puing-puing ini.
“ Mengapa mereka menyerang kami saat puasa kek gini !!! “, kata hati ana.
Mereka menekan pelatuk pada tembaknya. 3 peluru menancap pada betis kaki kanan ana. Anapun terjatuh bersama dengan air mata ana.
“ Mengapa kalian menyerang kami ?? “, mungkin ini pertanyaan terakhir ana.
“ Kalian itu kafir, wajib kami basmi “, kata tentara.
“ Bertobatkan Antum !! tuan tentara . . , sebelum akhir hayat Antum“, kata ana pada tentara.
“ Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illah wallahu akbar “, terdengan suara muqaddimah dari adzan magrib.
“ Antum . . , ana boleh minum sebelum ana mati ??, ana ingin menyelesaikan puasa ana untuk hari ini Antum ”, pinta ana pada tentara.
Dia mengambil sebotol minuman dari sabuk kiri dia. Dilemparnya minuman itu pada ana.
“ Gleg, Gleg, Gleg “, suara ana saat minum tetes demi tetes dari isi botol itu.
“ Tuan, bolehkan saya tahu nama Anda ? ”, tanya ana pada tentara itu.
“ Isra ilsa’a amir kajah lani “, dengan nada tinggi dan kasar.
Baru kali ini ana merasakan rasa takut bukan main dari biasanya. Siapa yang tidak takut coba ?, jika anak berumur 12 tahun yang tinggal di negara tak berumur ini, dihadapkan dengan tentara yang besar dengan senjatanya.
Ana cukup senang dan bangga dengan kegiatan yang ana lakukan selama ini.
“ Wahai tuan Isra “, kata ana dengan terbata-bata.
“ Ana berdoa buat antum Isra di akhir hayat ana ”,
“Wahai Tuhan ana, selamatkanlah tuan Isra dan lindungi diaa serta keluarganya, karena Dia yanngg membuat ana hussnul khotimah. Amin . . . “, doa ana untuk tentara itu.
“ DERRRRR . . . “, suara dari  senjata itu.
Peluru itu jatuh tepat pada kening ana. Ana sempat mengucapkan kata “Allah”, saat ana terkena peluru itu.
Ana tidak tahu apa yang Dia rencanakan untuk ana. Mungkin ini cara-Nya untuk mengakhiri hidup ana dengan keadaan husnul khotimah. Sampai saat ini, ana masih melihat mereka mengokupasi bangsa kami. Dulu masih bisa berharap untuk membalas mereka, namun sekarang hanya bisa menjadi penonton dari film nyata ini. Ana, ayah, ibu, abah, nini, semuanya hilang karena bangsa Kalaban itu. Ana hanya bisa berdoa, agar ana dan keluarga ana bisa tersenyum lebar di surga. Tuhan, ana cinta Anda dengan sepenuh hati ana.

Komentar

share!