Lost Side




Karya:  Galuh Tika Pratiwi

Senin ini adalah hari paling menyebalkan, sangat menyebalkan. Bayangkan saja, ketika kau menginginkan sesuatu dan hampir mendapatkannya, apa yang kau inginkan itu sirna. Aku tahu hari ini puasa, tetapi rasa curiga di dalam diriku tidak bisa hilang. Meski setan di penjara di neraka, tidak membuat semua amarah mereda. Aku benci keadaan di mana aku tidak mendapatkan apa yang kuinginkan.


”Coba kau cari, lagi,” kata Sima.
”Aku sudah mencarinya dimanapun. Maksudku, tempat yang mungkin untuk meletakkannya,” jawabku membela diri. Meskipun aku sering teledor, tetapi menurutku tidak untuk kali ini.
”Seriusan, coba cari lagi,” kata Fira mendukung Sima.
”Tidak ada Fir, kau bisa mengeceknya sendiri kalau tidak percaya,” jawabku menyodorkan tas.
”Siapa tahu terjatuh,” sahut Sima.
”Aku selalu meletakannya di tas dan tidak mungkin hilang. Ya mungkin saja tetapi sebelum kita ke masjid, masih ada kok!”
”Memangnya siapa saja yang tidak ke masjid?” tanya Agung, ketua kelas.
Kami bertiga menggeleng, mana pernah ada yang memperhatikan siapa yang ke masjid atau tidak ke masjid.
”Coba cek CCTV,” kata Agung.
”Pintar sekali kau,” seruku bersemangat. ”Eh tunggu! Bukannya tadi mati lampu?”
Kami berempat bengong, kenapa bisa sekebetulan ini sih! Hello....! Ini bukan sinetron atau sejenisnya. Sudah jatuh, tertimpa tangga. Itulah kalimat yang identik dengan kasusku. Paling tidak ada sesuatu yang menguntungkan, walau sedikit. Jujur, aku sekarang bingung harus berbuat apa lagi. Rasanya ingin menangis, aku benci kenyataan ini! Menurutku, aku sudah bekerja keras. Tentu saja aku tidak mau hasil usahaku hilang begitu saja, 
”Sebenarnya ada dua orang yang tidak ke masjid,” kata Luna.
”Siapa?” tanya kami berempat bersamaan.
”Ya biasa aja, dong!” Luna gondok. ”Karina dan Sofi,” lanjut Luna sedikit tenang.
”Oke, terimakasih atas infonya,” jawabku agak cerah.
Karina dan Sofi, pentholan kelas yang fashionable. Teman-teman mereka pun keren-keren dan pastinya kaya. Kedua gadis itu cantik dan lumayan keren, menurutku. Yah, dibanding sama diri sendiri, gitu! Terlepas dari deskripsi Karina dan Sofi, aku berncana untuk menanyakan kepada mereka berdua tentang perihal ini.
”Kau mau bertanya pada mereka?” tanya Fira berbisik.
Agung sudah ngacir entah kemana. Meski dia ketua kelas tetapi itulah sifat baiknya. Kau tahu lah tentang apa yang kubicarakan.Ya, dia suka hilang timbul tidak jelas. Tiba-tiba muncul seperti tadi dan menghilang tak tahu rimbanya. Jadi sedikit merinding sih, tapi dia manusia kok. Kalau jadi-jadian atau tidak, serius aku tidak tahu.
”Memangnya kenapa?” tanyaku balik.
”Nanti mereka tersinggung,” jawab Sima.
”Memangnya uangmu yang hilang berapa, sih?” tanya Agung kutukupret. Sumpah, dia tiba-tiba timbul, bikin jantungan.
”Hei dude! Jujur, kau ini hantu atau sejenisnya, sih? Tiba-tiba muncul,” teriakku murka.
”Hei Nona! Aku sedang membantu mencari uangmu dengan menelusuri laci meja. Namaku bukan dut, emang kentut apa? Sejelas-jelasnya nama dari diriku ini adalah Agung Eka Wardana,” kata Agung yang mendadak jadi cerewet.
Kutarik kembali apa yang kuceritakan tadi, Agung itu orang yang tanggung jawab, ini jujur.
”Oh terimakasih, ya nominalnya lumayan, menurutku. Aku mengumpulkannya dari awal kelas sebelas, tahu! Jadi kau bisa bayangkan berapa banyak,” timpalku. Itu uang yang berharga, bagiku. Aku mengumpulkannya sudah lama, ketika hari yang kunanti tiba, semuanya jadi kacau begini. Menyebalkan sekali, bukan?
”Lapor sekolah, gimana? Baru satu hari juga,” usul Sima.
”Jangan! Nanti jadi ribet, aku tidak mau. Selagi kita bisa menyelesaikannya sendiri, aku pikir itu tidak perlu. Siapa tahu uang itu tertinggal di rumah,” sanggahku.
Alasan yang bodoh, bagaimana mungkin tertinggal di rumah. Jelas-jelas tadi aku mengeceknya sebelum ke masjid dan masih ada. Ah biarlah, mereka juga tidak menyadari dan mengangguk. Uang yang hilang itu sangat penting saat ini, aku tentu tidak punya uang cadangan. Kau bisa tebak seberapa miskin—dalam hal uang—makhluk tak berdosa ini.
Sofi dan Karina, aku melihat mereka. Ya cuma masuk kelas, sebaiknya aku bertanya kepada mereka. Siapa tahu ada yang melihat atau bagaimana, setidaknya aku usaha.
”Kalian tadi tidak ke masjid?” tanyaku.
Sofi menggeleng, disusul Karina.
”Apa tadi ada yang masuk ke kelas ini selain kalian berdua?” tanyaku lagi, seperti interogasi.
”Tidak tahu, kami berdua di kelas sebelah ketika semua anak pada ke masjid. Memangnya ada apa?” tanya Karina.
”Ehm, aku kehilangan uang,” jawabku ragu.
”Oh begitu, maaf ya! Jujur, kami tidak tahu, kami juga tidak mengambil. Sumpah!” kata Sofi.
”Ah tidak! Aku hanya bertanya. Aku tidak menuduhmu, jangan tersinggung ya,” kataku cepat-cepat.
”Mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama jika itu aku. Nanti aku bantu cari ya, apa sudah dilaporkan ke sekolah?” tanya Karina.
”Uhm, belum. Terimakasih ya, maaf sekali, aku tidak bermaksud menuduhmu,” kataku.
”Tenang saja, kami tahu, kok,” kata Sofi tersenyum.
Cahaya menuju jalan keluar redup lagi. Aku tidak menuduh mereka, aku tahu mereka orang kaya dan tidak mungkin mengambil barang orang lain secara sembunyi-sembunyi—mencuri. Yah, tinggal minta orang tua dan masalah beres, itulah yang aku bisa simpulkan tentang kehidupan mereka.
”Bagaimana reaksi mereka?” tanya Sima.
”Tidak, mungkin aku lupa menaruhnya,” jawabku.
”Keputusan yang bijak,” sahut Fira.
Aku mendengus.
”Uangnya buat apa sih?”
Resmi sudah uangku itu hilang dan pertanyaan itulah yang aku hindari sedari tadi.
”Ehm...,” jawabku menggigit bibir. ”Bukan apa-apa kok, sudahlah tidak apa-apa!”
Memangnya aku mau menjawab apa, aku ingin memberikan hadiah pada kakakku atas pertambahan usianya? Yang benar saja, semua orang tahu kalau aku dan dia seperti kucing dan anjing. Garis bawahi, aku kucingnya. Aku tidak mau disamakan dengan anjing. Sebenarnya bukan kakak kandung, hanya sepupu. Dia adalah kakak yang paling dekat denganku. Dia juga satu sekolah denganku, bayangkan berapa kali kami harus berteriak atau mencelakai satu sama lain? Tidak usah dihitung karena aku tahu kau tak akan tahu. Aku tidak akan menceritakannya.
Sedih ketika aku gagal memberikan sesuatu di hari ulang tahunnya. Aneh bukan ketika kau tahu aku ingin memberikan dia sesuatu? Aku juga merasakan hal yang sama. Kami memang sering bertengkar dan berteriak ketika bertemu, ada saja yang diperdebatkan. Apalagi ketika dia bercerita tentang gebetannya yang jelas-jelas temanku sendiri. Jujur aku sampai bosan karena seringnya dia menyebut nama gadis itu. Mau bagaimana lagi, aku juga melakukan hal yang sama ketika naksir seseorang. Yah, setidaknya aku tidak menceritakannya kepada kakakku. Bedanya, hubungan kakakku dengan gadis itu sudah ke tahap friendzone. Sedangkan diriku? Cukup fanzone saja, sudah mentok!
Kakakku adalah orang yang baik terlepas dari tingkah menjengkelkannya. Dia selalu memberikan nasihat meki aku sering menyangkalnya. Yah, setidaknya aku ingin memberikan sesuatu atas jasanya dalam hidupku. Setidaknya dan itu hampir! Ah di mana uangku?
”Sebenarnya keperluanmu mendesak tidak sih?” tanya Fira.
”Uhm..., tidak, kok,” jawabku. Dalam hati, ulang tahun kakak gue besok, vroh!
Gagal sudah semuanya, aku sudah merasa menjadi orang tak berguna sedunia. Ya tidak juga sih, intinya menjengkelkan. Uang itu sudah kukumpulkan lama sekali, dari musim panas tahun lalu. Sudah banyak rencana buat apa uang itu dan tiba-tiba hilang. Siapa sih pencurinya, bikin jengkel saja sih!
Kejengkelan tidak berakhir walau sudah di ruang Bimbingan Konseling. Sebenarnya hanya menyerahkan daftar absensi saja. Untuk  kasus itu, biarkan mendidih di hati saja.
”Apakah beasiswanya tidak bisa diajukan ya, Pak?” tanya seorang ibu yang duduk di ruang tamu Bimbingan Konseling.
Aku tentu tidak peduli karena itu bukan urusanku.
”Tidak bisa, bu. Itu sudah ketentuan. Untuk masalah pembayaran, ibu tenang saja, sekolah memberikan jangka waktu dan keringanan. Anak ibu tidak akan dikeluarkan, itu tindakan yang melampaui batas. Biaya itu nomer sekian, bu,” jawab Pak Dani.
”Terimakasih, Pak. Tolong beritahu Egi untuk tidak mempergunakan uang seenaknya sendiri.. Kalau boleh jujur, Pak. Saya sudah menasehati Egi tetapi tidak pernah digubris. Uang pembayaran bulanan saja dia pergunakan untuk mentraktir temannya, tolong Pak.”
”Baiklah, Bu. Akan saya beritahu. Itulah gunanya BK, bu.”
Aku memang tidak peduli, tetapi sedikit penasaran juga. Sedikit menguping tidak apalah, cuma sedikit.  
”Sebenarnya, Egi tadi masuk kelas ini,” kata Erna sepulangku dari ruang BK.
”Yang benar, ketika kita sedang di masjid?” tanyaku antusias.
”Ya, aku tadi kembali ke kelas untuk mengambil mukena dan menemukan dia sedang duduk di kursi Hasan,” kata Yuli.
”Ah masa dia, dia kan anak orang kaya,” kataku. Namun, ibunya tadi datang ke sekolah dan— Ah masa iya, aku tahu Egi anak orang kaya. Tapi kok ibunya sampai minta uang beasiswa diajukan, ya? Padahal sudah jelas Egi tidak mungkin mendapat beasiswa, rumahnya saja gedongan.
Hal itu terus terngiang di telinga. Mungkin Egi? Ah tidak tidak! Tetapi— Jujur, aku tidak menyangka. Agak sedikit kesal saja jika orang itu adalah Egi. Egi orang kaya, dia selalu memakai pakaian ber-merk dan merendahkan kaum terbuang seperti diriku. Sekarang? dia mengambil uangku, dasar menyebalkan! Eits! Belum tentu dirinya juga tetapi itu memang menyebalkan.
Sekolah memang melelahkan namun lebih melelahkan lagi ketika membantu Ibu di pasar. Ha! Dasar anak durhaka!  Ya memang melelahkan, menurutku. Aku bukan gadis sinetron yang baik hati dan dengan senang hati membantu orang tua. Selelu menerima cobaan  dengan hati lapang dada meski berurai air mata. Yaks! Itu bukan aku sekali. Lagi pula sekolah hanya mendengarkan guru meskipun ditambah mencari uangku yang hilang.
Bagaimana ya? Mungkin passionku bukan menjadi penjual atau pengusaha. Baru beberapa jam di pasar, perutku sudah melilit-lilit. Seolah hampir mati—sekarat. Aku tidak mau menceritakan tentang kehilangan uang itu, takut digamprat!
”Bu, aku ke toko Pakde dulu, ya?” tanyaku pada Ibu.
”Mau apa?” tanya Ibu dengan raut muka yang menurutku mengatakan, buang-buang waktu, bantu ibu! Dasar anak durhaka!
”Main, masa bantu terus,” kataku sebal, emosiku tambah tersulut. Sudah uangku hilang, ditambah ini. Tanpa persetujuan Ibu, aku langsung ngacir.
Toko Pakdeku tidak seramai kemarin karena hampir lebaran. Bude yang merupakan pemilik toko sedang shalat dan menyisakan Pakde yang duduk di bagian luar toko.
”Jual makanan dari jelly, Pakde?” tanyaku. Meski Ibu menjual makanan ringan yang hampir sama dengan Toko Bude. Tetap saja ada beberapa makanan yang aku suka tetapi Ibu tidak menjual.
”Sudah habis,” jawab Pakde.
”Mbak, harga kripik singkong satu kilo berapa?” tanya seseorang.
”Er..., tiga puluh,” jawabku asal. ”Berapa sih, Pakde?” tanyaku akhirnya.   
”Tidak tahu, selesaikan itu sendiri. Tanpa bantuan, cobalah mandiri.”
Pakde menyebalkan, yang punya toko siapa coba? Yang suruh jualan siapa coba?
”Ya sudah, saya beli satu kilo,” kata Mbak Pembeli.
Kalau salah harganya bagaimana, ya? Aduh, tetapi Ibu menjualnya juga harga segitu. Ya sudah, aku layani saja.
”Kalau makanan isi abon itu?” tanya mbaknya lagi.
”Er..., tiga puluh satu kilo,” jawabku asal lagi.
Niatku sebetulnya mau melarikan diri dari jeratan Ibu. Tahunya di sini juga tambah sengsara plus rasa bersalah takut salah harga.
”Sudah beres, Pakde,” kataku.
Tak berselang lama, Bude sudah kembali dari masjid.
”Harga keripik singkong satu kilo berapa, Bude?” tanyaku hati-hati. Aku menggigit bibir bawahku keras-keras.
Raut wajah Bude seperti— aku tak sanggup mendeskripsikannya. ”Kau menjualnya berapa?”
”Pasti satu kilo lima puluh?” tanyaku pesimis.
”Tidaklah, tiga puluh,” jawab Bude.
Yes! Benar sekali. ”Kalau makanan isi abon?” tanyaku.
”Delapan puluh sekilo,” jawab Bude.
Serius! Detik itu juga aku ingin masuk blackhole atau semacamnya. Lima puluh ribu? Bude rugi lebih dari seratus persen gara-gara aku? Ya Allah! Bagaimana caranya supaya hamba bisa menjadi hamba yang berguna?
”Memangnya kau menjual berapa?”
Bang! Aku dan Pak De hanya berpandangan dan berbisik mengatakan, Bagaimana ini Pakde? Pakde pun berlagak menghitung hitung. Kau menjualnya berapa? Tiga puluh ribu. Yah, Pakde hanya meringis menyebalkan.
”Kalau orangnya nanti kembali, sebaiknya dibenarkan,” kataku akhirnya.
”Ah sudahlah, tidak usah dipikirkan. Itu rejeki untuk pembelinya. Pembeli itu pasti telah melakukan hal baik. Anggap saja sedekah,” kata Pakde.
Betul sekali, pembeli itu memang terlihat baik. Dari cara dia mengikuti permainan tebak hargaku tanpa curiga. Dia tidak curiga, dia terlihat santai saja dan mengikuti alur. Benar kata Pak De, itu rejeki si pembeli. Yah, sejujurnya aku sedikit tertohok akan kata-kata Pak De. Kau tahu, aku benar-benar memikirkan kta-kata Pakde untuk masalahku.  

Komentar

share!