Fitra Kembali, Fitri Menanti Bersama Sang Ilahi




Karya: Dwi Marissa

Seperti biasa, setiap minggu aku selalu datang lebih awal untuk beribadah. Aku ingin hidupku terus sejahtera dan penuh kasih sayang serta perlindungan dari Nya. Walaupun aku memiliki banyak pekerjaan, namun aku akan lebih mengabdikan diriku kepada Tuhan untuk mempermudah pekerjaanku. 



Usai melakukan Pujian terhadap Tuhan. Aku melangkahkan kaki ku untuk melaksanakan aktivitas seperti biasanya. Dengan tersenyum bahagia, aku memulai aktivitasku. Ketika dikantor, aku mendengar seorang gadis yang sedang bernyanyi, sepertinya itu lagu kesayangannya, ya..disetiap harinya dia selalu menyanyikan lagu itu. Entah lagu apa yang ia nyanyikan, aku hanya tertawa terkikik melihat ekspresinya yang sedang bernyanyi, karena bagiku itu cukup menghiburku.

"Hei Srella. Mengapa kau melihatku seperti itu? Apakah ada yang lucu?" tanya gadis itu dengan wajah bingung. "Ckck. Entahlah. Mungkin ada sedikit selai kacang yang tertinggal di tepi bibir mu, sisa kau memakan sarapanmu tadi" jawab ku dengan sedikit tertawa. Gadis itu pun menyentuh bibirnya untuk memeriksa apakah benar ada selai kacang ditepi bibirnya. Dan aku, langsung meninggalkan gadis itu untuk menuju ke mejaku. "Selai kacang? Tidak ada." Pikir gadis itu sambil melihatku dengan kesal. Aku pun hanya tersenyum dengan tepi bibirku mengangkat. Dan aku membuka laptop ku untuk melaksanakan pekerjaanku.

Ketika baru saja aku membuka worksheet ku. Tiba-tiba.. Lagi-lagi lelaki itu, dengan kacamata bulat yang dipakainya, dasi tercekang erat di kera bajunya, yaa.. Bisa dikatakan dia adalah seorang lelaki yang paling "culun". Walaupun "culun", dia rajin dan bertanggung jawab dalam pekerjaannya. "Hello princess ku. Aku membawakan mu makanan lezat yang aku buat sendiri dengan menggunakan tanganku. Ayo.. Makanlah.. Kau akan menyesal jika tidak memakannya" bujuk nya dengan panggilan yang membuatku sedikit risih. Aku hanya melihatnya dengan alis mataku mengangkat sebelah, karena aku begitu bosan mendengar panggilan itu. "Oh tidak. Aku baru saja sarapan tadi dan aku masih kenyang saat ini. Maafkan aku" tolak ku. "Oh.. Ohh.. Oh.. Tidak masalah. Jika kau masih kenyang setidaknya ambil saja untuk kau makan nanti, ketika kau lapar" bujuknya lagi agar aku mau menerima makan itu dengan terbata-bata. "Baiklah" aku pun menerima makanan itu.

Ketika jam tepat menunjukkan waktu untuk pulang. Semua rekan kerja membereskan meja kerja masing-masing. Seperti biasa aku selalu terakhir keluar dari kantor. Entah apa yang membuat ku selalu begitu, mungkin aku tidak terlalu sibuk untuk mengurus rumah tangga, ya.. Karena aku belum berumah tangga. Tetapi, dikantor ini bukan hanya aku yang belum berumah tangga. Tapi, entahlah mungkin mereka sibuk dengan pacar mereka. Sedangkan aku hanya seorang diri yang tidak seperti mereka yang memiliki keluarga dan pasangan. "Eh... Mengapa aku memikirkan itu. Tidak, tidak, tidak, aku masih mempunyai Tuhan yang selalu menemani dan menjagaku" pikirku. “Tetapi, mengapa aku tidak pernah mendapat kebahagian sebuah keluarga yang di berikan Tuhan padaku. Aku selalu taat padanya, tetapi aku malah selalu mendapatkan kesendirian. Sebenarnya itu tidak adil bagiku.” Gumamku dengan menyadari bahwa pujian ku selama ini tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, dan entah kenapa, aku memegang kalung Salib ku dan tiba-tiba aku memutuskan nya, mungkin aku sudah terlalu lelah dengan semua ini. Ketika itu, aku langsung mengambil kalung ku yang lain dengan liontin lambang cinta yang indah, dan aku memakainya. Dan aku segera keluar dari kantor.

Ketika aku keluar dari kantor, aku melihat seorang gadis dengan menggunakan kerudung berwarna hijau yang sedang terlihat sangat sedih. Gadis itu menangis meneteskan air matanya yang sepertinya dia sedang memiliki masalah. Gadis itu sedang duduk di kursi kayu yang diukir dengan motif tumbuhan dibawah pohon yang berada di taman dekat kantor ku itu. Aku merasa iba melihatnya, dan aku berniat untuk menghampiri gadis itu. Tetapi tiba-tiba, aku mendengar langkah kaki yang sepertinya sedang mengikuti ku. Aku merasa aneh, tetapi aku tidak menghiraukannya. Aku terus melangkah menghampiri gadis itu. Aku bermaksud untuk menolongnya, dan aku pun mencoba menghampirinya. Ketika itu.. "Tup!" Aku langsung terkejut, sepertinya ada tangan seseorang yang menyentuh bahuku dari arah belakang dengan tiba-tiba, aku pun menoleh ke belakang, dan ternyata dia adalah laki-laki culun itu lagi. "Aduhh.. Kau membuatku terkejut Bern!" kataku dengan nada yang cukup tinggi. "Alah.. Aku minta maaflah. Aku hanya bermaksud ingin memberitahumu tentang suatu hal." ujarnya yang membuatku menjadi penasaran. "Suatu hal, apa?" tanyaku dengan wajah penuh penasaran. "Begini, kemarin saat kau pulang dari kantor, apakah kau melihat amplop berwarna putih yang ada diatas meja Pak Rafles?" tanya nya. "Amplop putih?" gumam ku dalam hati. Aku mencoba mengingatnya, setahu ku aku kemarin pulang tidak melihat apapun yang berada diatas meja Pak Rafles, kecuali Telepon, berkas-berkas, alat tulis kantor, dan amplop putih yang berada di dekat alat tulis kantor itu. Yah, amplop putih. Amplop putih? Aku melihatnya! Tetapi, sebenarnya ada apa dengan amplop putih tersebut? Apakah isi amplop tersebut adalah sesuatu yang penting? Ya.. Bisa jadi. "Oh iya, tentu aku melihatnya! Iya, aku melihatnya." ujarku usai merenungi apa yang ku pikirkan tadi. "Oh ya? Baguslah kalau begitu." cakap Bern dengan raut wajah yang sepertinya bahagia mendengar hal itu. "Bagus? Apa yang bagus? Apakah itu sesuatu yang penting?" tanyaku agak sedikit heran. "Oh tentu. Itu sesuatu yang sangat penting" jawabnya tersenyum. "Ok! Jika itu memang penting maka pergilah. Kau hanya mengganggu ku saja" usirku karena dia telah menghentikan ku dari gadis itu. Dan gadis itu sudah tidak ada lagi disitu, dikursi itu. "Huft. Kau mengacaukannya Bern!" ujarku sedikit kesal. "Kacau?" "Yah. Kacau. Sudah, jangan banyak tanya lagi. Aku mau pulang dan istirahat. Dan kau!" tunjukku tepat didepan hidungnya yang mancung bagaikan paruh burung, "Segera pergi, dan lakukan hal yang tidak mengganggu ku lagi!". Dengan wajah yang pasrah, Bern pun meninggalkan ku. Dan aku, segera emastikan apakah gadis itu masih ada di sekitar taman itu, aku yakin pasti gadis itu berjalan tidak jauh dari kursi itu. Ya.. pirasat ku benar, gadis itu masih berada di taman tersebut, dia hanya berpindah posisi yang awalnya di kursi, sekarang berpindah ke dekat air kolam pancoran taman itu. Setelah itu, aku mengikuti gadis itu dari belakang, karena sepertinya gadis itu akan berjalan menuju ke suatu tempat. Berjalan perlahan-lahan, ya! Akhirnya aku berhasil mengikuti gadis itu sampai pada suatu tempat, tepatnya sebuah rumah yang disekitar rumah itu terdapat tanaman bunga yang sangat indah. Dan ternyata bunga itu adalah bunga Lili, “Waaa…” gumamku. Tak heran, aku sangat menyukai bunga lili, entah sejak kapan aku menyukainya. Bahkan, dikamar ku aku menaruh bunga Lili. Hehehe.

Aku melihat gadis itu memencet bel rumahnya, dsan yang keluar dari pintunya adalah seorang perempuan yang se2dang2 menggunakan kerudung berwarna biru toska, gadis itu pun masuk kerumahnya. Aku tidak  begitu jelas melihat wajah gadis itu dan perempuan dirumahnya itu. “Mmm… Aku jadi penasaran” ungkapku dalam hati. Aku pun berencana untuk kembali ke tempat ini besok, untuk mengetahui dengan jelas wajah gadis itu dan alasan mengapa dia sedih ketika di taman tadi.

Keesokan harinya…. Pagi-pagi sekali aku berangkat ke kantor. Aku berencana untuk mengikuti gadi2s itu lagi. Aku ingin tahu apa pekerjaan nya dan apa saja kegiatannya. Aku pun melihat gadis itu telah keluar dari rumahnya, dan aku hanya mengikutinya dari belakang secara diam-diam. Aku melihat gadis itu selalu menundukkan kepalanya sepanjang perjalanan. “Aneh! Sebenarnya ada apa dengan gadis itu? Mengapa dia selalu menundukkan kepalanya. Sepertinya dia benar-benar sedih. Tapi, apa yang menyebabkan gadis itu sedih?” gumamku yang bertanya sendiri dan menjawab sendiri. Gadis itu hanya berjalan lurus terus, dia tidak peduli apa yang dia lakukan itu membahayan dirinya. Seketika itu, ketika gadis itu mendekati jalan raya “Brak!” suara mobil yang menabrak gadis itu. Melihat dan mendengar hal itu, aku langsung terkejut dan segera mendekati gadis itu. aku tak tau apa yang harus aku lakukan. Aku pun segera meminta pertolongan kepada orang-orang yang berada disekitar itu, aku segera membawanya ke rumah sakit.

Dirumah sakit. Aku segera menjenguk dokter yang baru saja keluar dari ruangan tersebut. “Bagaimana Dok, apa pasien baik-baik saja?” Tanya ku pada Dokter. “Begini. Sebenarnya pasien mengalami luka-luka yang tidak begitu parah. Tetapi, setelah kami periksa lagi ternyata gadis ini telah mengidap penyakit tumor otak stadium empat dan tumor tersebut telah menyebabkan gangguan saluran pernafasan dari fungi otaknya, ditambah keadaan nya yang sedikit shock” jelas Dokter. Mendengar hal itu, aku langsung terkejut dengan semua penjelasan Dokter. “Tap Dokter. Tumor tersebut masih bisa diangkat  kan Dok?” Tanya ku lagi dengan penuh harapan tumot itu dapat diangkat. “Iya. Tetapi,saya tidak menjamin betul, karena keadaan nya yang seperti ini tidak memungkin kan untuk dilakukan oprasi dan bisa saja gadis ini sangat sulit untuk di sembuhkan” ujar Dokter. “Jadi, apa yang harus saya lakukan Dok?” tanyaku. “ya.. harus bagaimana lagi, kita hanya bisa menunggu kapan keadaan nya akan membaik dan bisa dilakukan operasi” ujar nya meyakinkan ku. “Apakah saya boleh masuk Dok?”. “Tentu, silahkan. Oh ya, apakah kamu saudara nya?”. “Mmm?” ujarku dengan wajah heran sembari melihat Dokter. “Mengapa Dokter berkata aku saudara nya? Mungkin Dokter hanya bertanya saja” gumamku dalam hati. Dan aku pun memasuki ruang, aku mencoba mendekati gadis itu. dan kulihat. Dengan jelas aku melihat, ternyata, gadis itu… wajah nya mirip dengan ku. Alah! Mungkin itu hanya perasaanku saja. Tapi. Itu benar. Wajah nya mirip dengan ku. Wajar saja Dokter bilang bahwa kami saudara. Yang hanya membekan kami adalah dia memakai kerudung sedangkan akui tidak. Yang artuinya kami berbeda kepertcayaan. Sumpah! Aku tak percaya ini. Ketika aku mencoba melihat lebih dekat lagi wajah gadis itu, seketika itu mata gadis itu terbuka sedikit demi sedikit. “Fitra” Aku langsung terkejut mendengar dia memanggil nama itu. ketika itu, tiba-tiba orangtua dari gadis itu masuk ke ruangan ini dengan wajah yang sangat sedih, terutama ibunya. Melihat orangtua gadis tersebut sedih, aku pun perlahan-lahan keluar dari ruangan ini. Ketika mencoba keluar, tiba-tiba orangtua gadis tersebut menoleh pada ku dengan wajah terkejut. “Kamu… Kamu …” sebut Ibu gadis itu dengan jari menunjuk pada ku. “Kamu …. Fitra”. Aku langsung tercengang mendengar nama yang di panggil nya itu. Aku tidak tau apa yang harus aku perbuat, dan aku hanya melihat nya dengan wajah sedikit gugup. Seketika itu, dia mendekatiku dan memeluk ku. Aku heran, “ada apa ini?” pikir ku. “Fitra, ternyata kamu masih hidup nak. Bagaimana kamu bisa ada di sini Fit?” ujar nya. Aku yang tidak mengetahui sebab ibu itu memeluk ku dan berkata seperti itu pada ku, aku hanya tersenyum pada nya. Aku benar-benar tidak tau apa kejelasannya. “Fitra. Ibu sangat rindu pada mu, Ibu mengira setelah kejadian kecelakaan kapal itu, kamu telah meninggal dan tidak ditemukan jasadmu, tetapi hari ini Ibu melihat sendiri, tepat berada di hadapan Ibu, kamu masih hidup nak” ungkap nya dengan wajah yang sedih bercampu haru. “Sebenarnya ini semua apa? Kenapa tiba-tiba tante membicarakan hal itu padaku? Dan mengapa tante memanggilku dengan nama Fitra. Tidak tante, nama ku bukan Fitra, tetapi Srella” ujarku member penjelasan pada nya2. “Srella? Bukan nama mu Fitra, kamu adalah kakak dari Fitri” ujarnya sambil mengarahkan tangan nya pada gadis itu. “Ohhh.. jadi nama gadis itu Fitri. Tetapi, apa benar dia adikku, apa yang sebenarnya yang telah terjadi pada ku?” Tanya ku pada diriku sendiri. “Begini, 2 tahun yang lalu, kamu dan bibi Lilis berangkat dari rumah nenek di Bandung untuk pulang ke rumah dengan menaiki kapal. Tiba-tiba, terjadi musibah pada kapal yang kalian tumpangi tersebut, kapal tersebut diterjang ombak laut hingga mengalami tenggelam. Hari itu, Ibu sedang menonton televisi dan mendengar kabar bahwa kapal yang kalian tumpangi tenggelam, ketika itu Ibu langsung terkejut dan member tahukannya kepada Ayah, dan adik mu Fitri pada saat itu langsung menangis ingin bertemu dengan mu. Dan kami langsung pergi ketempat dimana semua korban di cari dan dieakuasi. Saat itu, ibu dan ayah bertanya tentang dirimu dan bibi Lilis kepada Tim SAR, mereka bilang bahwa mereka akan berusaha mencari kalian. Alhasil setelah beberapa hari jasad kalian tidak ditemukan. Dan pada saat itu, Ibu, Ayah, dan Fitri tidak bisa melihatmu lagi untuk terakhir kalinya. Tetapi, sekarang Allah telah mempertemukan kita kembali pada bulan Ramdhan ini. Dan dimana keadaan Fitri sedang tidak memungkinkan”. Mendengar penjelasan itu, aku langsung mengeluarkan air mata ku dan ketika itu dia mengeluarkan kalung Fitri dan memberikannya pada ku, dengan dilihat oleh Dokter dan juga Ayah gadis itu. Melihat liontin kalung itu sama dengan yang kupakai saat ini, aku langsung tersadar dan teringat semua masa lalu ku. Ketika itu, aku pingsan karena telah terlalu berlebihan untuk berusaha mengingat semua itu. Lalu, beberapa saat, aku tersadar dari pingsan itu. aku mendengar, “Ibu. Anak itu pingsan karena dia terlalu berlebihan berusaha mengingat masa lalu nya. Karena, setelah kejadian kapal yang menimpanya itu dan sepertinya kepalanya pernah terbentur batu yang cukup besar ketika dia tenggelam, dan mengakibatkan dia kehilangan ingatan nya.” Ujar Dokter member penjelasan nya. Hal itu, langsung membuat ku teringat pada semua kejadian itu dan teringat pada masa lalu ku. Aku baru menyadari bahwa aku sebenarnya mempunyai orangtua yang sangat perhatian pada anak-anaknya. Ketika aku tersadar “Nak. Apakah kamu telah mengingat semua nya?”. “Iya Ibu.” Ujarku sambil tersenyum pada nya. Ternyata aku dan Fitri adalah saudara kembar yang hanya beda  lima menit saja.

Di sisi lain, Aku merasa sangat sedih, karena adik ku Fitri sedang mengalami kecelakaan dan mengidap tumor pada otaknya. Dan Ibu ku pada saat itu sangat sedih mengetahui hal itu. “Ibu, sebenarnya apa yang terjadi pada Fitra, mengapa belakangan ini dia terlihat sangat sedih dan hampa?”. “Fitra. Sebenarnya Fitri selalu menanyakan mu, dia selalu kesepian karena kamu tidak pernah ada lagi di dekatnya. Dia hanya melihat foto kalian terus untuk menyembuhkan kerinduan nya itu”. Mendengar hal itu, aku langsung menangis terisak-isak dan menggenggam tangan nya erat. Aku tidak tega melihat semua ini.

Hingga, Keesokan harinya. Aku tersadar bahwa aku adalah dari keluarga muslim. Maka aku memutuskan pada bulan puasa ini, aku mengucapkan kalimah syahadat dan mengabdikan sebagai hamba Allah. Aku berharap dengan kembalinya diriku, aku dapat membuat Fitri, Ibu dan Ayah  merasa bahagia dengan kembalinya keluarga kami yang harmonis ini. Tetapi, satu hal yang masih membuat kami merasa sangat sedih. Adik ku, Fitri belum saja sembuh. Padahal, aku sangat ingin melihatnya tersenyum kepada ku. Ketika itu, tiba-tiba.. “Tet-tet-tet-tet-tet-tet” Oh tidak, adik ku. Apa yang terjadi dengan nya. “Dokter.. Dokter…” panggil Ibu. Aku yang melihat itu, hanya menggelengkan kepala dan menangis, berharap tidak terjadi hal uyang tidak di inginkan. Lalu. Dokter pun tiba, dia langsung mengambil sebuah alat yang sepertinya itu adalah alat kejut, agar detak jantung nya berbunyi normal. Tetapi, tidak. Adik ku saat itu, koma. Aku tak percaya melihat kejadian itu, aku tidak berhenti mengisi nya. Dan alhasil,.. “Maaf Pak, Bu. Anak ibu tidak bisa terselamatkan”. Mendengar hal itu aku menangis histeris, karena tidak percaya hal itu akan terjadi pada keluarga ku. Akhirnya, keluargaku hanya tinggal Aku, Ibu, dan Ayah. Walau Ibu dan Ayah kehilangan Fitra, tetap ada aku sebagai penggantinya, namun itu masih belum lengkap tanpa nya. Di bulan Ramadhan ini, Fitra kembali, namun Fitri menunggu bersama Sang Ilahi. -Tamat- 

Komentar

share!