Eisha dan si Phelo Peliharaannya




Karya:  Pandu Dewanata


Pada jam satu dini hari, Eisha mengendap-endap berusaha tak menimbulkan suara berisik yang membuat rencananya pergi dari rumah terusik. Sebenarnya, Eisha tidak tega meninggalkan rumah ini, juga kota ini, tempat di mana segala hidup dan kenangnya tumbuh-kembang. Tapi Eisha tetap harus pergi, kota ini dan segalanya telah berubah semenjak si Pachycephalosaurus datang dan mengambil alih kerajaan dan kota ini. Menjadi raja baru yang semena-mena. 



Si Pachycephalosaurus adalah dinosaurus yang hidup pada zaman cretaceous. Ia termasuk di antara genera dan spesies yang maju. Sejenis herbivora yang mempunyai kubah sangat tebal (sampai sekitar 20 centimeter) yang melapisi tengkorak kepalanya. Mungkin kalian terlalu susah mengeja dan mengingat namanya, maka aku menyingkatnya menjadi si Phalo. Dan karena si Phalo terlalu bagus untuknya, maka aku plesetkan menjadi si Phelo. Jangan sampai kalian salah menyebutnya dengan si Phaloh walau dalam beberapa segi agak mirip.

Oia, si Phelo selalu membanggakan  kubahnya  yang sangat tebal itu. Karena tidak mudah mendapatkannya. Harus melalui pendidikan formal tertinggi. Tak hanya itu, dalam kubahnya tersimpan rencana-rencana kemajuan yang siap membuat ia dipandang elit kerajaan sebagai raja yang berhasil, namun diam-diam membelenggu kemerdekaan rakyatnya. Walau si Phelo jenis dinosaurus,tapi ia tak sedikitpun membuat Eisha seram ketika melihatnya. Karena bentuknya lebih lucu dari pada film tanpa dialog Charlie Chaplin. Walaupun begitu, si Phelo tetap membuat Eisha tak nyaman lagi di kota ini. Dan suatu malam, Eisha mendapatkan jawaban untuk menyelamatkan kota ini dan para penghuninya dari niat jahat tersembunyi si Phelo. Dan ketika Eisha pergi nanti awal mulai rencananya dimulai. 
 ***
Pada jam dua dini hari, ibu Eisha selalu mengunjungi kamarnya untuk membangunkan makan sahur, karena sewajarnya pada bulan Ramadhan, itu agenda rutin setiap ibu rumah tangga. Namun ia sontak kaget karena tidak mendapati Eisha berada di tempat di mana ia biasa membangunkannya. Ia lalu mencari Eisha dari segala sudut kamar hingga sudut rumah, bahkan seluruh halaman rumah ia sisiri. Ketika ibu Eisha hendak melanjutkan pencariannya ke segala sudut kota. Bahkan, ketika ia belum menemukannya juga, ia akan terus mencari hingga seluruh benua. Mungkin ia juga akan menguras samudra dan mengobrak-abrik langit hingga Eisha ketemu. Karena begitulah seorang ibu, rasa sayang pada anaknya melebihi segalanya. Dan selalu khawatir walau itu hanya hal kecil. Namun sebelum ibu Eisha melakukan hal itu, ayah Eisha sudah mencegahnya.
“Biarkan saja lah, Bu. lebih baik kau sahur dahulu, sebentar lagi waktunya habis. Nanti kalau ia lapar dan kehabisan bekal pasti akan pulang juga.” Kata ayah Eisha.
Yah, ayah memang selalu begitu. Ciri khas seorang ayah yang menginginkan seorang anak yang mandiri. Tapi menurut Eisha, ayahnya hanya cemburu karena seorang ibu pasti lebih menyayangi anaknya daripada suaminya ketika anaknya mulai lahir. Tidak, mungkin sebenarnya rasa sayangnya telah terbagi ketika anaknya baru berumur beberapa minggu di kandungan, dan akan semakin terbagi ketika umur anak bertambah.

Sejak Eisha kecil,  ayahnya selalu sibuk dengan buku-bukunya. Menghabiskan waktu dengan bercumbu bersama mereka. Kalau ia bosan dengan buku-bukunya, ia akan bercumbu dengan rokok-rokoknya. Kalau ia bosan lagi, ia akan bermain-main dengan kopi pahit dan senja. Dan jika ia bosan dengan mereka semua, ia akan mulai memainkan jari-jarinya, menodai kesucian kanvas yang selama ini lebih sering tidur di gudang belakang. Dan menurut Eisha, itulah cara ayahnya membuat ibunya cemburu. Namun hal itu tak pernah berhasil.

Ibu Eisha pernah bercerita sewaktu ia pertama jatuh cinta pada ayah Eisha. Waktu itu, ayah Eisha tak pernah mau bertemu dan berlagak acuh tak acuh. Setiap ia mengajak bertemu, ayah Eisha selalu bilang begini: ”Pertemuan hanya akan membuatmu mengenal dan mengetahui lalu mengingat dan mencoba memahami hingga apesnya kau akan mulai terjebak pada kerinduan.”  Namun ibu Eisha tetap memaksanya hingga ayah Eisha mau. Dan benar setelah beberapa pertemuan ibu Eisha selalu merindukan ayah Eisha hingga akhirnya mereka menikah. Dan sekarang mungkin ibu Eisha ingin membalasnya dengan cara lebih perhatian pada Eisha. Itu hanya menurut Eisha. Tapi bagaimanapun mereka saling menyayangi karena jarang sekali Eisha melihat mereka berdua cemberut, mereka selalu tersenyum. Dan hal itu ialah pemandangan yang ingin selalu Eisha lihat. Dan Eisha tak akan membiarkan si Phelo membuat senyum mereka punah dengan isi kubah tebalnya yang tak masuk akal.

Eisha tidak tahu kapan tepatnya si Phelo mulai berulah dengan kekuasaanya. Lalu pada suatu hari ia mengekang kehidupan seluruh rakyat dengan sepucuk surat yang berisi intimidasi bahwa laku kehidupan seluruh rakyat akan dinilai dan hasil nilai tersebut menentukan perspektif si Phelo dan kaum bangsawan padanya. Penilaian itu dilakukan dalam segala aspek. Dan surat itu akan ditempel oleh si Phelo di depan setiap rumah pemiliknya. Sehingga  lambat-laun barometer tinggi-rendahnya kualitas seseorang akan dinilai menggunakan surat itu. Sungguh generalisasi terburu-buru yang memuakkan.  Sudah jelas banyak rakyat tidak setuju. Karena setiap keluarga memiliki kondisi yang berbeda. Dalam segala hal; kondisi fisik, apakah ia sehat atau sakit-sakitan. Kondisi ekonomi, input dan output nya seimbang atau tidak. Kondisi emosional, bagaimana ia menyikapi segala sesuatunya. Kondisi mental, mempengaruhi perilakunya atau tidak. Dan kondisi tak terduga, misal, musibah atau sesuatu yang datangnya tak bisa kita cegah. Dan si Phelo mungkin tak mempertimbangkan semua itu dan tetap melakukannya. Ia tak mementingkan masalah mereka. Ia hanya mementingkan masalahnya sendiri. Ia hanyalah kaum bangsawan yang bahkan menganggap macul di sawah adalah suatu hal yang hina. Dan ia juga mengatakan bahwa manusia tidak akan bisa menemukan Tuhan dalam musik dangdut atau musik rakyat.

Hingga seseorang berinisiatif mengadakan perkumpulan dedengkot rakyat. Tanpa diketahui si Phelo tentunya. Dan pada perkumpulan itu mereka membahas tentang Si Phelo yang menghina cara bertahan hidup mereka juga mengejek selera musik mereka.
“Tidak hilang kemungkinan lama-lama ia akan mengejek suara kita semua, mengejek perjuangan kita semua, hingga menghambat kelancaran impian-impian kita semua. Membelenggu kemerdekaan kita semua.” Ucap Garu dengan semangat api yang berkobar.
“Itu tidak bisa dibiarkan. Kita harus menggulingkan ia dari tahta kerajaan!” Sambut Colombo, seorang kawan dekat ayah Eisha.
“Sabar Kawan-kawanku, kita harus tunggu waktu yang tepat.” Sahut ayah Eisha.
“Sampai kapan? Sampai persediaan uangku habis? Aku kehilangan pekerjaan gara-gara dia?” Colombo mulai menaikkan suaranya.
“Aku akan meminjamkan jika kau benar-benar butuh?” jawab ayah Eisha.
“Aku tidak mau merepotkanmu terus. Kau tidak bekerja. Masa aku tega meminjam terus pada orang yang tidak bekerja.” Jawab Colombo.

Ya, ayah Eisha tidak bekerja,bukan karena malas atau tak mampu. Ia mempunyai hal yang lebih penting dari bekerja.  Walau begitu ia selalu mendapatkan uang, uang selalu datang ke rumah Eisha dari pertukaran hasil percumbuan ayah Eisha dengan kanvasnya atau hal-hal yang selalu tidak pernah mereka duga. Dan ayah Eisha akan selalu tenang walau dalam keadaan kekurangan. Kata ibu Eisha, ayah tak perlu bekerja, ia berada di maqam tajrid. Eisha tak paham maksud ibunya.
“Kau juga punya anak dan istri yang harus kau penuhi hak dan kewajibannya.” Tambah Colombo.
“Sekarang hanya istri, kau tahu Eisha masih belum kembali sejak berminggu-minggu yang lalu.” Jawab Ayah Eisha.
“Maafkan aku.”
“Tak masalah.”
“Kita hanya perlu menunggu waktu yang tepat. Aku akan ikut kali ini.” Tambah ayah Eisha.
“Kau serius? Selama ini kau hanya diam dan sibuk bercumbu sendiri. Kau selalu netral dalam kejadian apapun. Kau hanya memberi saran dan aku yang bekerja.” Sahut Noer.
“Tidak untuk kali ini! Netral hanya akan menguntungkan si Phelo. Kita semua akan ikut andil dalam penggulingannya!” Jawab ayah Eisha tegas.
“Wah, dengan kau ikut, aku yakin massa kita akan berlipat.” Sahut Colombo yakin.
“Oke, kita akan tunggu ulah si Phelo berikutnya. Kalau ia lebih kurang ajar dari ini. Kita bergerak.” Kata Garu.
“Oke.” Semua sepakat.

Dan benar, berapa minggu kemudian si Phelo lagi-lagi membuat ulahyang menurut rakyat—kurang ajar. Ia menyeleksi dengan nilai setiap warga yang akan tinggal di kota itu dan mengusir warga yang tidak memenuhi standarisasi warga intelektual menurut rumus  Pheloincuk. Hal itu membuat mereka semua murka karena itu akan membuat stabilitas rakyat kerajaan tidak seimbang. Dan pasti akan menyengsarakan pihak yang tidak beruntung. Juga akan membuat para abdi, para kepala daerah tidak akan mendapatkan jatah yang semestinya mereka dapatkan dari pengabdiannya itu. Maka mereka memutuskan untuk mengulingkan si Phelo secepatnya. Setiap rakyat bersiap-siap dengan amunisi dan senjata. Mereka tak gentar demi kemerdekaan dan kebahagiaan.  Ramadhan ini akan terjadi perang pembebasan seperti pada Ramadhan milik manusia paling mulia di dunia beberapa ratus tahun silam.

“Kau serius ingin ikut? Kata Ibu Eisha sebelum suaminya berangkat berperang.
“Yah, kali ini aku tidak ingin menguntungkan penguasa dengan ke-netral-an.”
“Aku kehilangan Eisha, aku tak siap jika harus kehilangan kau juga.”
“Aku akan baik-baik saja, kau tak usah khawatir.”
“Aku ingin ia membayar kepergian Eisha. Juga tidak akan membiarkan kemerdekaan kita dibelenggu olehnya.”
“Semoga kau pulang dalam keadaan utuh. Aku selalu mendoakan keselamatanmu. Bahkan sebelum ini dan akan terus sampai mati. Berjuanglah!”
“Terima kasih untuk semuanya!”

Keributan tak terhindarkan, suara senjata beradu terdengar nyaring-melengking. Korban berjatuhan, darah bercucuran tapi mereka terus menekan pasukan kerajaan. Pasukan kerajaan tak tega melawan rakyatnya sendiri, maka mereka mengalah tak memberi perlawanan yang tangguh. Sesungguhnya pasukan kerajaan juga tak menyukai si Phelo dan segala yang ada pada kubahnya yang tebal. Tapi apalah daya, ia raksasa yang siap menyundul siapa saja dengan kubah tebalnya. Dan diam-diam mereka berdoa agar hari ini secepatnya terjadi. Hingga rakyat berhasil menaklukan kerajaan dan bersiap memasuki singgasana si Phelo, namun ketika mereka tiba di sana, mereka tak mendapati wujud kubah tebalnya. Disana hanya ada Colombo , yang memang ditugaskan untuk langsung menuju singgasana si Phelo sebelum perang dimulai.
“Di mana si Phelo?” Tanya Ayah Eisha.
“Ia sudah pergi dan tidak tertarik lagi dengan tahta kerajaan dan kota ini.” Jawab Colombo.
“Apa maksudmu? Apa yang terjadi?”
“Ketika aku kemari aku melihat seorang gadis, ia seperti mempelajari cara menaklukan si Phelo. Ia mengelus-elus kubah milik si Phelo. Si Phelo menjadi jinak. Gadis itu lalu menjadikan si Phelo peliharaannya. Si Phelo setuju, dan gadis itu mengajaknya untuk beradu kubah tebal kebangaannya dengan sesama jenisnya yang gadis itu temukan di belahan dunia lain. Mata si Phelo bercahaya sudah lama ia rindu dan tak merasakan sensasi saling membenturkan kepala. Nafsu buas bertarung dinosaurusnya bangkit. Maka ia pergi menemui pemilik kubah tebal yang lainnya, mereka akan saling membenturkan kepala seperti ketika zaman purba.***

Komentar

share!