Dream in ramadhan




Karya:  haLteens


“uhh laper”
“ush ashima, makruh puasanya” ujar rina
Seketika itu perutku memberontak saat  kita tengah duduk ditaman ber-wifi sekolah, namaku ashima dan temanku rina. Kami duduk di klas 12 SMA Cendrawasih Bandung, meskipun ini bulan puasa tapi tetap berangkat sekolah untuk mengikuti rapat rutin OSIS di hari kamis .


“rin, wow keren ini keluaran 2015 harganya turun, kualitas tetap yoi”
“bentar ma, gua lagi streaming EXO”
“halah kamu, liat ini”
“haduh ma ma kamu ngimpi banget apa jadi fotografer? Beli kamera dong, katanya murah harganya”
“apaan ye, k-pop”
Entah mengapa aku selalu tertarik untuk mencari hal-hal yang berkaitan dengan dunia fotografi, entah itu dari segi kamera, sang fotografer maupun dari fotonya sendiri,  bahkan laptop mlikku isinya artikel-artikel, beberapa picture bahkan video yang berkaitan dengan fotografi. Aku merasa darah fotografi tengah mengalir dalam diriku, walaupun terkadang mendapat kritik pedas tentang hasil jepretanku yang jauh dari mereka.
“ah udah pulang yuk ma, hampir maghrib ini” ujar rina karena memang hari tengah gelap
“ayo rin” jawabanku meng-iyakan permintaannya
Kami berpisah di salah satu pertigaan komplek Griya Damai. Rina memang tinggal di perumahan Elit, sedangkan aku, hanya anak petani yang hidup pas-pasan dipinggir kota.
“assalamungalaikum bu”
“wangalaikumsalam ashima sudah pulang, cepat gih mandi”
“iya bu”
Setelah semua keluarga berkumpul mengitari meja yang tengah tertata rapi masakan ibu yang tak kalah beda dengan masakan bintang lima.. aku tinggal digubug kecil dengan ayah, ibu, eka adik pertama yang duduk di kls 6 sekolah dasar dan ima adik terakhir yang baru bisa mengucapkan “mama” usianya baru 1tahun.
“bu, kapan ashima punya kamera?”
“ma, dengarkan ibu. Kamu ini kelas 12 tidak sedikit dana yang dikeluarkan buat kamu, belum lagi eka, dia akan meneruskan ke jenjang selanjutnya, bapakmu ini hanya buruh musiman, cicilan rumah juga belum usai, terus kamu tetap bersikeras meminta kamera sama orang tuamu?”
“tapi bu…”
“cukup ma, nggak usah menambah beban bapakmu. Mana usahamu?”
“lho, kamera mahal bu. Uang saku ashima 3 tahun saja belum cukup, bagaimana ashima mendapatkan kamera?”
“kamu sudah besar ma”
“halah ibu”
Percakapan dengan tema yang sama setiap kali tengah berbuka puasa, ibu memintaku usaha sendiri untuk membeli kamera. Terkadang ibu aneh, memangnya aku pegawai kantoran yang memiliki dompet gendut yang bisa membeli apapun.
Setelah solat tarawih dan mengaji usai, aku pun melanjutkan untuk istirahat di tempat yang tengah menjaga mimpi indahku dan tempat yang tak akan pernah bosan mendengar ocehan-ocehan dari mulutku. “pinky” nama tempat ini, karena hampir semua isinya berwarna pink.
“pinky, katanya bulan puasa itu apapun yang diinginkan bakal terwujud? Kapan aku punya kamera ya? Kan bisa latihan, meskipun sekarang ini aku belum bisa? Kapan ya? Kapan Ya Allah?”
Breeeeeakk!!!
“uhh sakit!!” aku terbangun seketika
“ih dimana aku? Bapak? Kenapa bapak disini, bapak kan sedang puasa ini sangat terik pak” bayangan samar lelaki yang kian bekerja dibawah terik sang surya
“sudahlah pak, ashima tidak akan tega melihat bapak disini, bapak tidak capek? Tidak merasa panas? Ayo istirahat pak? Pak?” semua permintaan dan pertanyaanku dihiraukan begitu saja seakan lelaki yang menyerupai bapakku itu tidak mendengar semuanya
“ternyata sekeras ini usaha bapak untuk sekedar mencari sesuap nasi” Jatuhlah air mata ini yang sudah tak kuat ku bendung..
Tiba-tiba lelaki itu pergi ketempat orang yang terlihat bergelimangan harta, aku tetap mengikutinya dan tak henti untuk menatapnya.
“apa? Hanya selembar kertas merah untuk kerja seberat ini? Tidak adil kamu wahai orang kaya!”

“bangun nak, sahur”
“ha iya apa bu? Sahur?” gelagapku
“iya ayo sahur, mimpi apa kamu? Sampe tegang seperti itu?
“ enggak bu, nggak papa”
Setelah kami sahur dengan utuh. Ku pandang bapak yang tidak terlihat lelah sama sekali, sangat bertolak belakang dengan raut muka saat bermain dengan pekerjaannya..
“pak, ashima minta maaf . selama ini tengah menyinggung perasaan bapak atas apa yang ashima minta, ashima berjanji akan usaha mendapatkan benda yang ashima impikan” suara hati yang bergumam diiringi dengan basahnya pipiku
“ashima baik? Kenapa nangis nak?” Tanya bapak
“ha enggak nangis kok, hanya saja masih ngantuk pak” sembari mengusap pipi

Ditempat yang sama, aku bercerita tentang mimpi semalam dengan rina.
“usst diem ma, ini ada iklan lomba fotografi lumayan hadiah utama dapat kamera maaa”
“lah terus, aku ikut kaya gitu? Nggak mungkin banget dapet lagi rin, dengan foto abal-abalku bisa dapet kamera? Nggak mungkin..”
“haduhh ashima, sekalipun sudah jago, sudah handal kalo kamu beruntung mereka tetap kalah, ayo lah ma kesempatan datang sekali”
“nggak ah malu sama yang sudah senior”
“iya deh aku pinjemin kamera kakakku, kamu tinggal jepret terus kirim”
“nggak mau rina, malu”
“pikir lagi deh ma, kesempatan lho”

“pinky, gimana? Tapi benar juga apa kata rina, tapi kan aku malu..” beberapa putaran mondar-mandir di tempat ini akhirnya membuahkan hasil.

Ditaman…

“rin, aku mau deh ikut lombanya”
“sudah kuduga kamu pasti mau, ini aku udah bawa kameranya”
“makasih ya rin, temenin aku nyari objeknya ya”
“siap bos hehe” ujar rina semangat
Seharian ini aku dan rina berburu objek yang pas dengan tema fotografi tersebut, setelah dapat kami kembali lagi ke taman dan siap untuk mengirimkannya ke alamat email yang tercantum. Dan pengumuman pemenang tepat pada tanggal terakhir bulan puasa..

“siap rin, tinggal nunggu hasil..”
“semoga kamu juaranya ma”
“amin rin”

7 hari terasa 7 bulan ketika menunggu hari pengumuman tersebut
“ah nggak mungkin juga aku yang menang, siapa si aku?” gumam ku pesimis ketika melihat beberapa simpanan video penjelasan bagian-bagian dari kamera di laptop..

“1 hari lagi, ayolah cepat”
Tepat pada hari pengumuman, aku belum bisa melihatnya karena sibuk untuk mempersiapkan lebaran pada esok hari
“permisi, apakah ini rumah dari saudari ashima?” panggilan dari balik pintu itu memaksaku untuk membukanya
“iya benar, saya sendiri ashima, anda siapa ya?”
“oh iya saya dari pos, anda adalah pemilik paketan ini” sembari menyerahkan bingkisan rapi yang terdapat surat diatasnya
“kalo begitu permisi dan silahkan anda tanda tangan disini”
Setelah tukang pos tersebut beranjak pergi, perlahan ku buka suratnya di depan ibu dan kedua adikku.. dan “SELAMAT!! ANDA PERAIH JUARA 1 DARI AJANG LOMBA FOTOGRAFI TH 2015”
Segera ku buka dan…
“ha ibu, bu kamera bu, aku mendapatkan ini”
“apa?apaan ini ma?”
Dan setelah ku ceritakan dengan tuntas keikutsertaan aku dalam lomba fotografi yang secara diam-diam itu, akhirnya ibu percaya.
“nah itu usahamu ashima, bagus nak”
“maaf bu selama ini ashima telah menyinggung perasaan ibu dan bapak dengan keinginan kerasku”
“iya nggak papa ma, ibu bangga denganmu”

Segera aku mengabari rina..

“rinaa, aku dapat kamera itu”
“ha? Maksudmu ma? Kamu pemenangnya? Iya ma?”
“iya rin, akhirnya bisa mutar-mutar benda lingkaran ini punya sendiri rin?”
“ha apa maksudmu ma,?”
“akhirnya aku bisa mutar-mutar lensa punya sendiri rin”
“haduh kamu, selamat ya ashima, benar apa kataku kan?”
“hehe trimakasih ya rin, berkat bantuanmu ini, trimakasih sekali rin”
“iya ashima… selamat temanku”

Ini lah usahaku, usaha sepele dengan upah “mimpi” ku terwujud.. Mimpi kemarin yang menggugah ku untuk berusaha.. inilah “DREAM IN RAMADHAN” yang tidak benar-benar COME TRUE…

TAMAT

Komentar

share!