Dia Bahkan Berhasil Menjadi Kakak Terbaik




Karya:  Ayu Rizki Amelia

Ramadhan, bulan suci yang selalu ditunggu-tunggu umat muslim di seluruh dunia. Kenapa? Tentu karena berkah yang sangat berlimpah di dalamnya. Semua muslim berlomba-lomba berbuat amalan sebanyak mungkin dan tak ingin merugi. Lalu aku? Tentu saja aku tidak mau ketinggalan. Biasanya aku suka berlomba, beradu bersama kakakku untuk ringan tangan dimanapun. Itulah kebiasaan masa kecil kami yang kini tetap kami lakukan meski niatnya kini berubah, yaitu hanya untuk sang Pencipta. Aku tak sabar menunggu kepulangan kakak cantikku itu dari rantauannya. Ia kini telah duduk di bangku kuliahan, merantau meninggalkan rumah dan seisinya, termasuk aku. Ia hanya pulang pada liburan ramadhan seperti ini. Kami hanya dua bersaudara, maka pasti terbayang kan seperti apa perasaanku saat harus terpisah darinya. Usia kami beda 5 tahun. Kakak kini semester 3 dan aku kelas 3 SMP.


“Bu, kak Yuni jadi pulang minggu ini kan?” tanyaku tak sabaran pada ibu.
“Iya de, Insya Allah kalo tiketnya dapat. Kangen banget ya kamu sama kak Yuni?”
“Ah gak juga sih. Aku lelah aja kerja sendiri seminggu kemarin. Pokoknya kalau kakak sudah tiba, aku kasih pekerjaan yang banyak untuknya. Biar rasa. Hihihi.” Jawabku, sedikit mengingkari rasa rindu yang besar ini.
“Hahaha. Kasihan dong kakak Yuninya de. Kalian sudah susun rencana buat ramadhan kali ini ya? Kedengarannya seru sekali bicara di telepon semalam, gak ada ngantuk-ngantuknya!”
“Eh? Ibu sempat nguping yaa? Heheh. Iya dong bu. Pokoknya kakak harus membayar karena sudah membuat aku sendirian di sini.”
“Oh hahaha. Gitu ya? Kakak Yuninya sudah tau tentang taman kota yang baru selesai dibuat itu?”
“Aku sudah cerita kok bu, Kak Yuni malah minta diantar ke sana secepatnya setelah tiba nanti. Gak sabar deh aku. Akhirnya sekarang aku ada teman tarawehan.”
“Loh? adek kan biasanya tarawehan sama ibu? Ibu gak dianggap nih?” ibu memasang wajah cemberut lucunya.
“Duh ibu. Maksud aku teman yang lebih nyambung gitulah bu.. hihih ampuun.” Kataku, lalu kabur begitu saja.
...
Hari ini aku tidak membantu ibu berjualan di pasar seperti biasanya, aku menghadiri undangan buka puasa bersama di sekolah. Namun entah kenapa rasanya aku kurang bersemangat hari ini. Mungkinkah karena kelelahan lantaran terlalu bersemangat mendengar kabar bahwa kakakku dapat tiket dan akan pulang besok? Entahlah.
“Imel! Kok gak semangat seperti biasa? Kelaparan yaa?” Sapa Deli, sahabat baikku.
“Em gak tau nih Del. Mungkin aja kali ya aku kelaparan? Eh Deli, tau gak? Besok kakakku pulang loh. Senang deh.”
“Ciee Imel gak bakal kesepian lagi. Tapi kok kakakmu mau pulang besok tapi kamunya malah tidak bersemangat gitu?”
“Hihih. Gak tau Del. Mungkin aku lelah karena ketika dengar kabar ini tadi, aku jingkrak-jingkrak gak jelas gitu di rumah Del.”
“Yaelah. Pantesan. Puasa-puasa ditambah cuaca panas gini kamu malah jingkrak-jingkrakan. Ya lemes atuh neng.” Deli tertawa.
Sebelum berbuka, kami sempat mendapat pencerahan nurani dari Pak Guru Agama. Ceramahnya bagus sekali, Aku hampir tidak berkedip menyaksikan, bahkan beberapa kali mangap tanpa sadar. Deli yang selalu menyadarkan. Usai berbuka, kami sholat maghrib berjamaah sebelum kembali ke rumah. Saat perjalanan pulang aku berjalan cepat sambil mengingat-ingat Kak Yuni, sampai-sampai aku menyanyi-nyanyikan namanya lalu tersenyum-senyum sendirian. Aku sungguh rindu padanya, si kakak yang jahil itu.
...
“Sahur oii!! Sahurr de! Telat kamu nantinya! Bangunn oii!!” suara kak Yuni terdengar nyaring sekali membangunkanku dari pengeras suara telepon genggam milik ibu. Mimpi indahku hilang begitu saja saat mendengarnya.
“Duh kakak apaan sih. Kan baru jam 3 kak!” kataku mengambil alih telepon dari tangan ibu sambil malas-malasan di atas kasur.
“Yaelah dek, daripada gak dibangunin kan dek?! Hehehe” Kak Yuni terdengar bersemangat sekali.
“Iyee tau kak. Makasih kalo gitu! Mentang-mentang udah mau berangkat. Huh. Tapi, yes!! Akhirnya pekerjaan rumahku akan menjadi ringan. Thank youu yah kak!!”
“Huu.  Yaudahh, kakak memang akan mengerjakan sebagian pekerjaanmu. Tapi liat aja nanti. Imel akan kakak tugasi sesuatu!” Kak Yuni terdengar jahil sekali.
“Ah malas ah. Gak akan Imel kerjakan. Blee!”
“Oh gitu ya? Yaudah, gak kakak teman!”
“Aduh kakak jahat banget. Iyadeh, Imel akan kerjakan. Emang apaan?”
“Adadehh.”
“Kak Yuni rese!!!”
“Heheh. Bercanda mel. Mau kakak suruh kerjain tugas kuliah kakak sebenarnya. Tapi Imel kan tulalit. Mana bisa. Hihih.”
“Dih. Imel kan memang masih SMP. Mana bisa ngerti tugas kakak.”
“Imel gak bisa ngerti? Padahal kak Yuni ngerti Imel banget loh.”
“Aduh kak. Itu perkara beda lagi atuh kak!”
“Hehehe. Udah sana sahur de. Kakak juga mau sahur ini, abis itu siap-siap pergi.”
“Iya iya. oke deh kak. Hati-hati di jalan ya kak. Jangan lupa berdoa.”
“Iya adek sayang. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam” percakapan heboh antar-kakak-beradik itu pun selesai. Kak Yuni selalu saja berhasil membuatku heboh bahkan ketika sedang terkantuknya aku sekalipun.
“Sudah de bicaranya? Wah udah hampir imsak nih nungguin kalian bicara. Selalu gak ada habisnya.” Ayah menyapaku yang baru saja keluar dari kamar.
“Hehehe. Mengerti ajalah anak-anakmu ini ayah.” Kataku sembari tersenyum masam.
“Yaudah. Cuci muka dulu de, terus bantuin ibu siapin sahurnya.”
“Siap yah!” sahutku bersemangat. Ayah hanya bisa tersenyum lucu melihatku.
Pagi ini aku bersih-bersih rumah dengan bersemangat, siap menyambut kakak. Namun di sela-sela kegiatanku, ayah menghampiriku. Ia menatapku lamat-lamat, terdiam, membuat bingung. Hingga kusadari, nampak kesedihan di mata itu. Wajahku mengisyaratkan pertanyaan “Ada apa?” Ayah lalu memelukku, mengajakku masuk. Dan yang kutemukan, Ibu sudah terduduk, menangis, di depan TV. Sebuah siaran berita yang memberitakan tentang pesawat jatuh. Rasanya seperti tersambar petir seluruh tubuh ini. Maksudnya? Kubaca lagi tempat kejadian dan waktunya. “pesawat itu?” aku terkaget, “Kakak?!” Benakku berteriak.
“Tim evakuasi mengatakan tidak ada korban selamat. Pasalnya pesawat tersebut meledak di angkasa sebelum akhirnya terjatuh...” Begitulah laporan dari sang pembawa acara yang sempat terdengar dariku. Setetes air mengalir dari mataku, kuhapus begitu saja. Selanjutnya aku terduduk. Tawa Kak Yuni terngiang di kepalaku. Candaan-candaan jahil hingga kalimat salam terakhir di telepon subuh tadi, semua menari di kepalaku, terasa sakit di hatiku. Aku diam beberapa saat, lupa dengan keadaan sekitar.
Hingga siang ini, baru setetes air mata untuk kak Yuni. Entahlah, aku lebih banyak terdiam, melamun. Ibu tak henti terisak. Ayah bilang jenazah Kak Yuni sudah teridentifikasi, akan dibawah ke rumah siang atau sore ini. Deli pun sempat datang ke rumahku meski tak sempat kutemui. Aku berkurung di kamar. Tak mengerti harus berbuat apa. Lelah hingga tertidur. Tidur sejenak lalu terbangun. Suara ribut-ribut di luar rumah membuatku harus keluar. Mereka semua ternyata menunggu kedatangan kak Yuni. Aku teringat, kemarin-kemarin Aku menunggu kak Yuni hanyalah seorang diri di sini. Kini banyak yang ikut menunggunya. “Kak Yuni, ternyata banyak yang menunggumu di sini. Kenapa kau malah pergi?!” pikiranku kembali melayang, aku kembali melamun. Ibu keluar, duduk di sebelahku namun tak berkata apapun.
Dari kejauhan terdengar suara ambulan, aku spontan berdiri. Jantungku berdegup kencang. Mataku menjelajah jauh ke dapan sana, ke tempat asal suara. Ambulan tiba, pintu belakang terbuka. Aku menutup mulut, air mata mengalir, semakin deras saat sosok yang terbaring di atas kasur ambulan terlihat jelas. “Orang Itu? Orang itu yang akan meninggalkanku selamanya?” Kali ini tangisku pecah. Deli yang sedari tadi ternyata di sampingku merangkulku, memelukku, turut berduka seakan ikut merasakan sakitnya hati ini. Aku dan Deli bergeser, menyingkir, membiarkan orang-orang itu lewat, membawa masuk kak Yuniku. Aku tetap di luar bersama Deli hingga tenang sebelum akhirnya masuk ke rumah.
Aku sadar, sedari tadi tak menangis karena rasanya hati ini belum percaya mendengar berita yang ada. Dan semuanya menjadi jelas ketika jenazah itu terlihat oleh mata kepalaku sendiri. Aku menatap wajah itu, wajah yang kurindukan selama ini, telah lama tak bertemu. Namun mengapa kini harus bertemu dalam kondisi seperti ini? “Aku merindukanmu kak, mengapa begini? Mengapa begitu cepat? Lalu jadwal-jadwal, rencana-rencana yang telah kita buat? Mau kuapakan kak? Lihatlah rumah ini, sengaja sudah kubersihkan untuk kakak, biar kita bisa langsung main bersama kak!” Hatiku masih saja tidak terima dengan semua keadaan ini.
“Dia kakak jahil yang baik.” Air mata mengalir lagi tak kusadari. Akalku baru menyadari bahwa Aku harus kehilangan sosok Kak Yuni selamanya. Aku harus kehilangan si cantik jahil dan menyebalkan. Aku harus kehilangan orang yang suka bikin Aku marah-marah tak jelas, Aku harus kehilangan orang yang suka bikin aku bingung dan malu, yang suka mengajariku cara menjadi cewek dengan cara paling jahil sedunia. Yang membantuku tetapi tak lupa mengejekku. Semuanya dengan cara terjahil. Yang membuatku tak mungkin dapat melupakannya. Ada apa? Kenapa? Dia orang baik. Dia bahkan berhasil menjadi kakak terbaik.
“Ramadhan kali ini akan berbeda dari ramadhan-ramadhan tahun sebelumnya, bahkan tahun-tahun berikutnya takkan sama dengan tahun kemarin. Kak Yuni tak mungkin di sini lagi......”
Para pelayat kini banyak yang telah pulang, satu-persatu meninggalkan rumah ini, termasuk Deli. Rumah telah sepi, Ayah dan Ibu duduk di samping kak Yuni. Ayah membacakan ayat demi ayat Al-Qur’an untuk Kak Yuni, ibu duduk tetap dengan tatapan kosongnya. Aku putuskan untuk ikut bergabung.
“Bu, Kak Yuni meminta padaku untuk dibawa ke taman kota  yang baru itu setelah tiba....” Air mataku hampir terjatuh lagi, Ibu menatapku, lalu mendekap kepalaku. Ayah berbalik, menutup Al-Qur’an ditangannya lalu mengecup keningku.
“Sebaiknya kita sholat Ashar dulu, jangan biarkan perkara ini membuat kita lupa pada Allah.” Ayah nampak sangat tegar meski kutahu jelas hatinya sedang rapuh.
...
“Ini menyakitkan. Semua ini menyakitkan. Mengapa? Mengapa begitu cepat? Tuhan tidak adil membuat kejadian seperti ini. Mengapa harus terjadi padaku? Pada keluarga ini? Dia itu baik, seorang kakak yang baik. Aku belum sempat melakukan banyak hal dengannya. Masih banyak yang belum kak Yuni ajarkan padaku! Mengapa secepat ini? Oh lihatlah wajah ini, senyum ini, dia merangkulku penuh kasih sayang, meski tangannya jahil mengepal ke arah wajahku. Semua ini tidak benar!!” Aku merenung dalam kamar memegangi sebuah foto diriku bersama Kak Yuni. Merasa Tuhan berlaku tidak adil, bahkan di bulan suci yang katanya penuh berkah ini.
“Astagfirullah....” akalku hampir saja dirusak oleh rasa sakit di hati ini. Aku istighfar sekali lagi, lagi, dan terus beristighfar. Lalu kuputuskan untuk ber-wudhu. Kukirimkan surah Yasiin untuk Kak Yuni. Kubaca hingga akhir, lalu hati ini terasa lebih tenang.
“Tau gak dek? Hanya dengan mengingat Allah hati kita menjadi tenang. Rasa sakit apapun akan hilang begitu saja. Kalau tidak percaya, coba saja!” Yah, nasehat itu teringat lagi olehku, itu nesehat dari Kak Yuni dulu, ketika aku sakit hati diledek oleh teman-teman di sekolah.
Segalanya memang menyakitkan, segalanya sangat sulit diterima hati ini, hati seorang anak SMP yang pikirannya sama sekali belum matang. Sakitnya bahkan hampir membuatku mendustakan Allah, melupakan tentang takdir-Nya. Melupakan tentang Allah yang lebih tahu mana yang terbaik. Aku mungkin bebas merencanakan segala hal, berangan-angan tentang sesuatu yang indah dan menyenangkan. Tapi Allah lebih tahu mana angan yang baik untuk Ia kabulkan, dan mana angan yang lebih baik digantikan oleh rencana-Nya yang pasti jauh lebih baik.
Aku tak tahu takdir apa yang Allah akan beri padaku melalui kejadian ini. Tapi aku akan menunggu, dan kuyakin takdirnya akan lebih menyenangkan. Aku akan sabar. Aku yakin, janji Allah itu pasti. Aku harus belajar menerima dan berhenti berusaha melupakan agar tak setitikpun muncul rasa benci dalam diri ini. Kehidupanku belum selesai, misiku belum seluruhnya sukses, aku akan melakukan semua penrencana-perencanaa yang telah kubuat meski kini kutahu, hal-hal tak terduga bisa saja terjadi dan merusak semua rencana yang telah ada. Tetapi yakin saja, Dia lebih mengetahui, dan memiliki rencana yang jauh lebih baik untuk kehidupan ini. Imel harus kuat!

Komentar

share!