DI UJUNG DOA




Karya:  Barbara

 “Selamat datang semuanya! Selamat berjumpa lagi!”
Bulan ramadhan adalah momen yang tepat untuk Hilman dan teman-teman alumni kampusnya untuk bisa bertemu. Malam itu semuanya berkumpul, sekedar melepas rindu dengan teman lama. Menceritakan hal-hal konyol saat masih berstatus mahasiswa. Ketika yang lain tertawa dengan guyonan teman-teman mereka, ada juga yang masih suka bergosip tentang keburukan ataupun hal-hal yang aneh diantara mereka. Tiba-tiba semuanya terdiam saat melihat sosok wanita yang datang mengucapkan salam dengan lembut. Ia tampak cantik dalam balutan baju gamis berwarna pastel ditambah jilbab berwarna coklat susu yang membuatnya tampak bersahaja. 


“Andini…Andini kan? Andini!!”
“Ya ampunn… Andini!”
Semua kaget saat ada yang menyebut nama itu. Mata Hilman terbelalak saat ia melihat wanita dihadapannya adalah orang yang selalu membuat onar dan meyebalkan di kampusnya dulu. Bukan hanya Hilman, tetapi semuanya heran dengan penampilan Andini sekarang.
“Maaf ya aku telat, tadi ada urusan.”
Senyumnya yang manis seakan menyihir semuanya. Suasana yang tadinya diam tiba-tiba berubah menjadi sedikit ricuh oleh orang-orang yang penasaran dengan perubahannya. Kembali lagi mereka menceritakan hal-hal konyol yang dilakukan Andini di masa kuliah. Saat hampir DO karena sering bolos kuliah. Semuanya tertawa karena ia benar-benar menyadari betapa buruk kelakuannya saat masih menjadi mahasiswa. Hilman melihat matanya begitu berbinar, ia menyadari jantungnya berdegup begitu kencang saat Andini tersenyum ke arahnya.
 “Abang! Abang sini! Bang Hilman.. Mila disini.”
Suara samar-samar terdengar dari balik punggungnya sampai seorang menepuk pundaknya. Hilman kaget melihat adiknya ternyata yang menemukannya. Hilman langsung memeluk adiknya yang cerewet itu. Tiga tahun di Jerman, akhirnya sang adik benar-benar pulang ke tanah air. Sesampainya di rumah semuanya sangat terharu, terlebih ibu Hilman yang sangat merindukan adiknya.
“Mila dari bandara langsung belanja Bun, biar Bunda nggak repot nyiapin buka.”
“Hemm, emang Bunda nggak repot sih. Tapi yang kena imbas jadi Abang kan.”
“Ih! Abang! Mending aku nggak balik deh.”
Mila langsung memukul pundak Hilman dengan manja. Mukanya langsung cemberut saat Hilman terus mengolok-ngoloknya. Ini yang benar-benar dirindukan oleh Hilman, berkumpul dengan keluarga. Rindu yang bertahun-tahun dirasakan akhirnya berakhir. Senyum mengembang dari wajah mulus adiknya, mereka sangat bahagia malam ini.
Hilman menahan rasa kesalnya kepada Mila. Berjam-jam berkeliling mall untuk mencari perlengkapan menjelang hari raya. Padahal lebaran masih tiga minggu lagi, tetapi Mila tampak bersemangat seperti baru pertama kali lebaran. Ada yang menarik perhatian Hilman, hiasan pintu berbentuk lampion berwarna putih dengan tulisan arab berwarna emas.
 “Bang! Kalo suka dibeli dong! Malah bengong, alisnya sampe ngerut lagi.”
“Eh anak kecil tau apa! Udah ketemu belom yang dicari?”
“Ih! Sok besar! Udah nih, pulang yok.”
Hari sudah begitu sore saat ia akan pulang kerumah. Ia memutuskan untuk berbuka di masjid dekat proyeknya. Ia melihat banyak keluarga yang mungkin baru sampai dan ingin beristirahat. Mengingat dua minggu lagi sudah lebaran, ia malah masih sibuk mengurusi proyeknya. Azan maghrib berkumandang, semua melapazkan doa. Sebagian mengambil takjil dan yang lain segera salat maghrib. Hilman seperti melihat Andini di hadapannya. Anehnya ia merasakan seakan nyata, dan ia semakin bingung wanita dihadapannya tersenyum.
“Hilman..Hilman..”
“HA! Eh! Andini, ya ampun aku pikir tadi siapa.”
“Kamu ngelamun dari tadi.”
“Iya nih, eh kok bisa salat di sini?”
“Rumah aku masih di daerah sini Man.”
Hilman membelalakkan matanya, ternyata yang ia lihat dari tadi adalah Andini. Untung saja ia tidak senyum-senyum sendiri saat melihat Andini. Seketika wajah Hilman menjadi merah saat ia menyadari kelakuannya yang salah tingkah. Hilman menawarkan Andini untuk pulang bersama. Ketika sampai Andini hanya terseyum dan mengucapkan salam. Hal sederhana seperti itu saja sudah membuat hatinya melayang.
Harus bekeja ekstra membuat Hilman sedikit kewalahan, tetapi agar semuanya selesai tepat waktu ia harus mengorbankan waktunya. Waktu berbuka tiba, ia cepat-cepat menuju masjid dekat proyek. Selain salat maghrib dan mendapat takjil, tak ada hal lain lagi yang ditunggunya selain bertemu Andini. Hilman bersiap-siap duduk di pinggir pintu masjid. Sengaja agar mudah melihat siapa saja yang keluar dari sana.
“Andini!”
“Oh, Hilman, ke sini lagi.”
“Iya Din, karena masjid ini paling deket sama proyek aku.”
“Oh, inshaallah masjid ini jadi tempat yang nyaman. Kalo gitu aku duluan ya.”
“Eh tunggu, aku anterin pulang ya. Ini malem, bahaya.”
Andini hanya mengangguk setuju, karena malam itu memang masjid cepat sepi dari biasanya. Lama-lama Hilman jadi sering beribadah, ia juga sering berdoa agar Andini menjadi jodohnya. Kali ini Hilman benar-benar jatuh hati kepada Andini. Ia tidak pernah menyangka wanita yang dulu ia benci menjadi wanita yang sangat ia idamkan.
Malam ini Hilman berniat untuk mengutarakan perasaannya. Hilman membeli lampion yang ia lihat bersama Mila di toko ornamen dan membeli cat emas. Ia tidak menyiapkan dinner atau kejutan apapun. Di masjid ini tempat ia bertemu dan jatuh cinta kepada Andini. Di masjid ini Hilman selalu memanjatkan doanya.
“Aku jatuh cinta sama kamu, terlebih saat kita berada di masjid ini. Aku cuma mengungkapkan perasaan aku. Dan semoga pernikahanmu berjalan lancar…”
Ya. Hilman merasa sangat lega karena telah menyatakan perasaannya. Mustahil untuk meminta Andini menjadi istrinya. Saat Hilman meminta izin kepada orangtua Andini untuk mengajaknya pergi, Ayah Andini membisikkannya bahwa tidak baik terus bertemu dengan calon istri orang. Andini tertegun mendengar penjelasan Hilman, ia tidak menyangka Hilman telah mengetahuinya.
“Aku punya lampion, di lampion ini aku nulis sesuatu buat kamu. Kalo kamu nyalain api bakal keliatan tulisannya. Aku pamit Din, assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam Hilman….”
Andini tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya terdiam dan tidak mungkin mencegah Hilman pergi. Sudah lama ia ingin mengatakan ini tetapi ia tidak sanggup. Ia benar-benar mengenal sosok Hilman yang begitu sabar dan baik. Ia meminjam pemantik dari tukang parkir dan segera menyalakan lampion.
“Ya Allah, ini yang terbaik. Dia sempurna dimataku. Berilah dia bahagia dunia akhirat. –Hilman Khairullah”
Andini meneteskan air mata saat membaca tulisan itu, ia menerbangkan lampion itu ke udara. Hilman melihat lampion itu dari kaca mobilnya. Ia tersenyum miris tetapi ia bisa mengikhlaskannya. Ia yakin wanita sempurna hanya diciptakan untuk pria yang sempurna.
Setelah beberapa bulan, akhirnya proyek Hilman berjalan dengan sukses. Ia banyak mendapatkan pujian dari atasan dan rekan-rekannya. Saat pembukaan, semua pengunjung langsung datang untuk berkunjung dan melihat-lihat. Sebuah taman lampion yang berada di ibukota, berada di dekat Masjid  Baiturrahman yang ia namakan “Taman Lampion Andini”.
SELESAI

Komentar

share!