Di pojok kota (Bulan penuh berkah)




Karya:  Rafif Wintama

Rasulullah shallallahualaihiwasallam bersabda :


 “Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan penuh berkah“ (diriwayatkan oleh An Nasai dan dishahihkan oleh Albani )



Rasulullah shallallahualaihiwasallam bersabda :


“Sesungguhnya setiap muslim pada tiap siang dan malam hari – pada bulan Ramadhan – memiliki doa yang mustajab“ (diriwayatkan oleh Al Bazzar dan dishahihkan oleh Albani)

Subuh,
"Bismillahhirrohmannirrohim,  ya Allah swt terima kasih atas rezeki yang telah engkau berikan kepada hamba dan keluarga hamba, semoga makanan dan minuman ini dapat menyehatkan dan membuat kami kuat dalam menjalankan ibadah puasa, Amiin"
Seketika derasnya hujan mulai menerpa,
     Atap rumah yang terbentuk dari karton tidak dapat menahan derasnya hujan yang turun. Nasi dan kecap asin yang tadinya terlihat lezat seketika bercampur dengan dinginnya air langit yang turun. Tak tanggung air hujan itu turun memenuhi seluruh tubuh kami yang telah bercampur dinginnya angin subuh.
"Alhamdullillah, terima kasih ya Allah kau berikan rezeki untuk kami dari langit"
     Terlihat wajah kusam pada seorang adik perempuanku yang sedang menahan suhu dingin akan aliran rintihan hujan yang turun. Nafsu makannya mungkin telah hilang membeku di kejahuan sana.
"Dik, pakailah baju abang, cuma ini yang abang punya"
"Gak usah bang, nanti abang tambah kedinginan" sahutnya sambil menahan rasa dingin
     Kami hanya hidup berdua, tampa ayah dan Ibu yang selalu meberikan kasih sayangnya. Tampa tau asal usul kami dari mana dan siapa ?.
"Kenapa kita hidup seperti ini bang ? sekaan kita hanya terlahir dan lalu terlantar"
"hidup seperti apa dik ?" tanyaku
"hidup serperti ini, di pojok kota"
"hidup dengan tempat tinggal dari karton yang luasnya 3x3? Nasi dan kecap asin dari sumber penghasilan barang yang tak terpakai di sekitar sini? Umur yang telah menginjak usia sekolah tapi tak berseragam? itukah dik ?" tanyaku dengan tersenyum kepadanya
"iya" seketika meneteskan air mata
Dengan reflek tubuhku memeluk erat dirinya dengan penuh kasih sayang,
"Dan abang masih bisa melihat wajah cantik dan lucu dari adik kecil, merasakan semangat hidupnya dengan selalu tersenyum manis di saat mentari menjelang sampai berganti gelapnya malam" bisikku
     Air mata itu mengalir deras pada pundak tempat bersandar,
"kita masih bisa merasakan kasih sayang dan cinta tulus, Allah pasti memiliki alasan terbaik akan penciptaan hambanya"
"Masih bisa bersandar di pundak yang penuh kerja keras tampa pamrih untuk orang tercinta" sahutnya seketika
     Iapun menatapku dan tersenyum manis dari bekas luka rasa dari air mata. Bagiku ia adalah segalanya dalam menjalani kehidupan yang begitu indah. Terima kasih ya Allah swt kau memberikan adik kecil yang begitu manis dan penuh semangat dalam hidupnya. Hamba mohon hapuskanlah air mata kesedihan di setiap rasa itu menggebu. Bahagiakanlah ia di setiap jalan yang telah engkau garisi pada telapak tangannya.
"Bang, terimakasih"
"iya dik" sahutku sambil mencium keningnya
"atas cahaya ilahi yang selama ini tersampai"
     Kamipun langsung melahap nasi beserta kecap asin dengan rasa khasnya,bercampur sedikit air hujan yang telah mengering. Lahapnya adik kecil ketika melahap makanan membuatku tersenyum bahagia. Seakan hal perih yang teringat tadi telah hilang berganti dimensi.
"Habis bang" sahutnya sambil tersenyum bahagia
"iya, Alhamdullilah" begitu juga dengan makanan yang ada di hadapanku
     Jarum jam telah menunjukan pukul 04:15 am yang menandakan waktu sahur telah usai.
"udah imsak dik, Abang pergi ke mushola dulu ya untuk siap-siap sholat shubuh"
"Musholah mana ?"
"Musholah seberang jalan dik"
"Adik ikut, boleh?"
     Hati ini tertegun, ketika mendengar kata yang terucap. Ternyata hati itu telah begitu dekat kepada sang pencipta.
"Boleh, tapi nanti di musholah bersih-bersih ya ketika sholat" sahutku
     Ketika hendak pergi, aku memandangi tubuh kecilnya seakan tulang yang menyampuli daging. Begitu jelas,tonjolan tulang itu tampak pada tubuh yang bersampul baju kaos kusam. Secara perlahan mata ini tak tahan menahan rasa yang telah mulai menggebu, air mata haru mulai tercurah.
"Alhamdulillah ya Allah, terima kasih" rasa syukur yang terpanjat
"Bang, ayoooo" sambil menarik erat tanganku
"Terima kasih, atas semangat hidupnya"
Mushola,
"Allahhuakbar...Allahhuakbar...Allahhuakbar...Allahhuakbar" Adzan subuh dengan lantunan syahdu
     Terlihat banyak anak-anak yang sedang bermain di sekitar mesjid, sedangkan yang telah dewasa sangat khusuk dengan ibadah sunah mereka. Kami berdua langsung saja mengambil air wudhu dari tempat berbatas batas suci.
“Tess”
     Aliran air keran langsung mengaliri seluruh tubuh ini, begitu sejuk akan dinginnya angin subuh yang bertiup bertambah bekas keringnya air hujan yang turun barusan.
“Allahhuakbar Allahhu Akbar... Allahhuakbar Allahhu Akbar” komat berkumandang
     Selepas wudhu kami berdua langsung masuk ke dalam mushola, seketika hendak menginjakkan kaki kanan. Seseorang memegang pundak kami, dengan jenggot tebal yang memenuhi dan putih bersih akan ketenangan ilahi yang tampak pada wajah. Baju kuba berkain sutra yang menutupi seluruh bagian tubuh tampak jelas kalau ia adalah seorang kiai besar.
“Dik, pakailah baju ini” katanya kepada kami sambil menyodorkan kedua baju koko
“Gak usah pak”
“Ketika kita menyembah sang pencipta, selain kesucian hati, kita juga harus memiliki kesucian raga” sambil memegang pundak kami beserta mennyodorkan pakaian
     Ia juga, pakaian yang kami gunakan tidak begitu bersih untuk melakukan ibadah sholat subuh yang begitu mulia dan juga Baju yang kami kenakan juga telah kusam bisa di katakan tidak layak pakai, Kami berfikir sejenak dan lalu menerimanya dengan senang hati.
“Iya, terima kasih banyak pak” sambil teresenyum
     Ibadah sholat seakan berjalan seperti aliran air yang mengalir dengan kesejukannya akan lantunan syahdu ayat suci al-qur'an. Seakan berada pada luar angkasa,Termakan dimensi dengan sebercik cahaya bersinar terang pada sujud khusuk.Tampa teringat kenyataan warna-warni dunia berseraut.
     Seakaan hanya ada pada ruang hampa begitu gelap menghadap penuh cahaya ilahi penyejuk hati. Sinar itu walaupun hanya bercik memancar jelas pada jalur kebenaran. menuju kehidupan kekal bila terpanggil nanti.Berharap dengan penuh harap di bulan suci berlimpah keberkahan akan perjalanan yang berbatas tali baja yang begitu kokoh sesuai jalur bercik sinar tampa tersandung pada kegelapan dunia yang mengelilingi sekitar raga.
"Assaduallah ilahailawlah, waassaduanna muhammad darrasullullah"
     Aliran air tenang itu telah sampai pada danau yang begitu tenang berjejer perpohonan mengelilingi daratan sekitar.
"assalamualikum warohmatullahhi wabarokatuh"
"Bismillahhirrohmannirrohim, Dengan penuh rahmat dan hidayahmu di bulan penuh kemuliaan ini ya Allah SWT. Hamba mohon berikanlah kami kebaikan di dunia dan akherat, limpahkanlah rasa syukur di hati ini, jernihkanlah hati kami dalam menjalani kehidupan yang penuh keberkahan, Amin”
Halaman mushola,   
“Haiiii, ayo bermain” seketika ada yang memanggil nama kami dari kejauhan
     Mata inipun terlirik pada halaman lapangan sepak bola yang luas berjejer sekumpulan teman bermain.
“Haii ayo cepat kemari” sambil tertawa bahagia
“Baiklah” sahut kami berdua
     Permainan di saat bulan ramadhan sangat mengasyikan apalagi di saat menyambut idul fitri. Di sana kami membuat sebuah permainan yang bisa di katakan begitu unik yaitu perlombaan untuk mencari sumber makanan untuk berbuka nantinya.
     Di dalam hutan masuk kedalam dari lapangan sepak bola. Kecepatan dan ketepatan dalam memilih menjadi unsur utama untuk menang dalam perlombaan ini. Untuk itu kami di bagi dalam beberapa kelompok yang satu tim terdiri dari 2 orang yang di pilih secara acak.
Pemilihan,
Syukurlah kali ini aku terpilih satu tim bersama adik kecil,
"kita satu tim dik" sahutku sambil meraba rambutnya
     Selepas itu, kamipun langsung mencari di dalam hutan penuh dengan sumber nutrisi untuk mengisi perut nanti ketika telah berkomandang adzan maghrib.
     Di sana kami melakukannya dengan tersenyum penuh kebahagiaan tak terkira pada bulan penuh rahmat.
     Walaupun kami tak memiliki kekayaan yang berlimpah ruah bahkan kami hanya hidup sendiri sebatang kara tampa ayah dan Ibu yang menimang sejak kecil. Kami hanya melihat sang surya ketika mentari terbit sampai terbenam berganti malam di rumah yang bersusun karton kering. Halaman sekitar bertumpuk bahan tak terpakai penghasil rezeki kami selama ini. Seharusnya kami telah menerima ijazah sekolah dasar sekarang akan tetapi seragampun tak punya apalagi menginjakan kaki di tempat penuh dengan gudang ilmu. Tapi kami selalu yakin terhadap takdir yang telah di garisi di telapak tangan kami, takdir yang terbaik dan mungkin kami memiliki mutiara di samudra terdalam yaitu cinta. Kami saling mencitai dan menyayangi satu sama lain, tertawa bersama dan selalu berbahagia.
     Hal terpenting bagi hidup kami selain kebahagiaan dunia yaitu kebahagiaan akherat yang kekal abadi.
“ia, adik kecilku. Ialah cahaya yang selalu bersinar terang"
"Fisabilillah"
     Sesungguhnya di dunia ini hanya sementera yang merupakan pengujian untuk mendapatkan hasil mutiara pada akherat yang merupakan tempat terakhir sepanjang masa










" Bayangan bercik sinar yang masih mengambang pada udara pagi menanti kumpulan angin kencang yang akan mengepaskan kuat agar melayang tinggi pada angkasa luar "

Komentar

share!