DETIK – DETIK TERAKHIR




Karya:  Ady


Ramadhan adalah momen yang tepat untuk memulai latihan pertama kami, dibulan ini tidak sedikit orang yang mencoba keberuntungan mencari aktivtas sampingan sebagai mahasiswa. Selain kita pahami bahwa bulan ramadhan adalah bulan yang penuh kebarokahan, aktivitas yang kita lakukan selama puasa yang bersifat kebaikan dan lillahita’ala menjadi barokah seperti menuntut di bulan ini merupakan barokah, kerja di bulan ini juga barokah, bahkan usahapun pun insyaallah menjadi barokah. Dari sinilah kemudian muncul barokah dimana-mana. Jalanan yang ramai pun menjadi momok munculnya ‘barokah baru’. Dimana hari-hari biasanya, jalanan kota lenggang, dibulan ramadhan, semua menjadi tumpah ruah. Entah apa yang dicarinya, itulah yang hingga kini aku pertanyakan.



Ditengah hiruk pikuknya orang membuka usaha baru, kami, disini pun, tidak hanya ingin menyianyiakan kesempatan ini, pepatah bilang, “pengusaha sejati melihat bisnis pada momen yang tepat” so,, kami pun berazzam membuka lapak baru. Kami, tinggal di kota pendidikan, kota yang dulunya pernah menjadi pusat pemerintahan sementara Republik Indonesia. Kota yang penuh peninggalan sejarah Hindia Belanda yang kini kerap menjadi wisata pelancong domestik maupun internasional. Sudah tiga tahun kami tinggal disini, menuntut ilmu untuk mendapatkan gelar sarjana yang itu pun sudah menjamur dimana-mana. Tentu kami ingin memiliki pengalaman yang bermanfaat untuk kami, wirausaha, itulah yang kami pikirkan bersama. Kami berempat mulai tinggal di rumah kontrakan dekat ringroal utara kota sejak bulan Juni tahun lalu, letak kami yang cukup dekat dari kampus dan jalan besar membuat kami pikir menambah keuntungan kami, ditambah lagi teman kami yang banyak channel menambah poin plus.

“Besok jadi kita mulai buka usahanya nih mas?” Tanya Muhajir disaat kami sedang menonton Tv di ruang tengah.

“Tentu dong, kan sudah omong-omongan dengan pemilik warung langganan kita, masa iya enggak jadi.” Jawabku dengan mantap.

“Iya lah, masa enggak jadi, ntar sia-sia dong usaha mas mu ini.” Singgung Fajar, sambil menunjukkan arahnya padaku.

alah, mas juga kepengenkan biar dapet duit,” timpal Ahmad.

“haha, iya biar banyak duit dan gue mau hura-hura” fajar kegirangan hingga ia hilang masuk ke kamarnya.

“kalau begitu apa yang harus dipersiapkan mas?” tanya Muhajir kepadaku.

“hmm.. tuh liat ajah di belakang, barang-barang peralatan besok udah siap, tinggal angkut ajah”, jawab ku,”dan jangan lupa Jarkom ke temen-temen elu juga Jar..” nadaku meninggi memanggil fajar di dalam kamarnya.

“IYA...” jawab fajar yang asik menyanyikan lagu aneh didepan komputer jadulnya,

Pas jam 15.30, seusai kami menunaikan solat ashar, kami berbagi tugas. Aku dan fajar pergi untuk mengambil barang dagangan kami. Ahmad dan muhajir menyiapkan meja dan peralatan lain dan membawanya di tempat yang sudah kami survei sebelumnya, depan toko warga dekat kontrakan kami. Tak lama kami setelah aku dan fajar datang, pukul empat sore hari, kami pun bersiap untuk menemui pelanggan pertama kami. Dengan semanagt tinggi dan membayangkan pengunjung pertama kami.

Detik demi detik, menit hingga berjam-jam sudah berlalu, tapi, tak ada satupun yang datang menghampiri kami.

“duh kalo gini bakalan lama”, ucapku sambil melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 17.00 “udah elu jarkom belon sih ke temen kelas kita?”.

udah kok”. Jawab fajar

Sempat beberapa kali ada pengunjung melihat-lihat namun tidak sampai mereka membelinya. Dan akhirnya hingga magrib pun tiba, belum ada satupun yang terjual. Akhirnya kami pun membagi separuh dagangan kami ke pemiilik tempat.

“Tak apa mas ini hari pertama, jangan menyerah” ucap ahmad, kata semangat dari adik angkatan kami yang hanya selisih satu tahun denganku.

Keesokkan harinya kami pun memulai kembali dengan siasat dan jadwal jaga baru kami, alhamdulillah setelah itu, beberapa pembeli sudah mulai berdatangan walau bila dihitung itu tidaklah banyak. Hingga setelah seminggu membuka usaha ini, terlihat semakin sepi pembeli yang datang dan karena hari ini sudah mendekati libur puasa kuliah juga. Memang kami tidak membuka usaha ini di awal bulan puasa, ini salah satu kekeliruan kami dalam menyiapkan usaha ini. Dihari keenam, kami pun berdiskusi untuk kelanjutan usha ini,

Gimana nih udah mulai sepi” tanya aku pada peserta rapat sidang terbatas.

“iya mas, lagian udah mulai libur kuliahnya” tambah Ahmad

“kalo dilihat dari penjualan juga enggak begitu bagus kok,mas” timpal muhajir”emang sih awal-awal ada yang beli, tapi akhir-akhir ini sudah mulai sepi”.

trus gimana?” aku menutupi tanggapan mereka.

“aku sangsi deh mas kalau dilanjutkan lagi,” muncul ahmad kembali.

Buk..” suara gelas yang baru saja ditaruh. Bak hakim yang akan memutuskan perkara, “hemm... ya sudah kalau begitu kita putuskan saja, usulku, minggu ini, terakhir kita lanjutin usaha ini, dan kita perlu menyampaikannya dengan ibu warung juga” Fajar menutup diskusi kami.

Seminggu sebelum lebaran, suasana di kota ini semakin miris, benar dugaan kami, hingga minggu terakhir ini dagangan kami tidak ada yang menarik, bahkan di hari terakhir, hingga pukul 17.15 tidak ada pembeli yang menghampiri kami. Wajah lesu pun mulai tampak padaku. Aku pun mulai membereskan peralatan kami. Melihat kondisi yang semakin gelap, lampu – lampu jalan yang sudah mulai dinyalakan pertanda magrib akan segera tiba. Muhajir pun mulai menyiapkan minuman berbuka untuk kami berempat. Beberapa tampak ibu dan anakny melewati tempat kami dan senyum kepada kami, aku berfikir, kasihkan saja minuman untuk ibu kontrakan kita dan sisanya dibagikan ke pemilik tempat dan pamit sekalian. Hari makin gelap, semangatpun makin menghilang, namun melihat wajah Ahmad dan muhajir yang tersenyum ikhlas membuatku tahu apa yang dirasakan mereka.

teeetttt...” suara rem dari motor Honda lawas berusaha berhenti, “mas,  minumannya ada berapa?” tanya pengendara motor itu.

“sepuluh pak” jawab ahmad.

 “saya beli semua saja, sama makanannya semua deh” bapak yang terlihat tergesa-gesa untuk segera pergi.

“MASS..!!” sahut muhajir “ayo cepet bantuin bungkusin makanannya”.

“oh iya.. sorry-sorry” terbangun dari ketidakpercayaanku dan fajar.

Hampir tak percaya aku melihat kejadian di hari terakhir jualan kami saat kami tengah keraguan di detik-detik terakhir tapi tiba-tiba keajaiban bulan ini terjadi. Magrib pun tiba, dan kami berbuka, hidangan berbuka terasa nikmat sekali, dibumbui tawa memaknai hari ini. Seolah aku paham yang dibenak mereka. Arti dari berhasil, bukanlah pada kuantitas kesuksesan yang ada pada diri kita, tapi seberapa mampu kita meraih kualitas kesuksesan yang kita dapatkan. Banyak yang mungkin terlena dengan hal ini, tapi kejadian hari ini, membuat kami makin bersyukur kepada ALLAh, Sang pemberi Rezeki. “alhamdulillah  ya allah atas nikmatMU hari ini” ucapku dihadapan rekanku yang lainnya. tampak wajah mereka senyum ikhlas, dan kami pun bergegas menunaikan solat magrib. Pelajaran yang membuat kami akan selalu kami ingat dikemudian hari tentang ajaibny hari ini.

Komentar

share!