Dari Insomnia di RT.02




Karya:  Ainan Taqarra Yusuf

Waktu telah menunjukkan tepat pukul 2 dini hari. Johan masih belum bisa tidur walau sudah berada di kasur selama empat jam. Lagi-lagi ia terkena insomnia, yaitu suatu gejala kelainan dalam tidur berupa kesulitan untuk tidur walaupun ada kesempatan untuk itu. 


Semakin dipaksakan, justru Johan malah semakin tidak bisa tidur. Usahanya untuk tidur seakan hanya sia-sia. Daripada stres sendiri, ia pun menyerah dan memutuskan untuk beranjak turun dari tempat tidur. Kepalanya mendongak ke atas lemari. Ia menjinjitkan kaki dan mengambil telepon genggamnya dari atas sana. Setelah menyentuh layar di telpon genggamnya beberapa kali, ia pun terhubung dengan seseorang.
“Halo?” Jawab seseorang yang tengah dihubungi Johan.
“Ihsan? Kamu belum tidur?” Tanya Johan pada sahabat sekaligus tetangga yang rumahnya hanya berjarak lima langkah dari rumah.
“Kalau aku udah tidur, aku enggak mungkin jawab telepon kamu! Kamu kenapa enggak tidur? Insomnia lagi?”
Johan mengangguk—walau ia tahu, Ihsan tidak akan bisa melihat kepalanya yang mengangguk dari telepon. “Iya. Kamu sendiri kenapa belum tidur?”
“Aku mau bangunin orang satu RT biar enggak pada telat sahur. Eh, daripada enggak bisa tidur, mendingan kamu ikut aku aja! Warga yang mau bangunin sahur udah pada ngumpul, nih di depan rumah aku. Tapi jangan lupa bawa sesuatu yang bisa bikin berisik!”
“Eh, San...” Johan menelan ludah. “Emangnya yang non muslim boleh ikutan?”
Ihsan tersenyum tipis. Lesung pipinya terlihat jelas bersamaan dengan gigi-giginya yang putih. “Boleh kalau kamu mau. Anggap aja ini sebagai pengenalan bagaimana suasana di RT.02 saat bulan Ramadhan.”
Saran dari Ihsan terdengar menarik. Hampir satu tahun Johan tinggal di rumah barunya, tetapi belum pernah ia tahu suasana Ramadhan disana. Ia pun langsung menutup telepon dan bersiap keluar rumah tanpa meminta izin dari kedua orangtuanya. Toh, ia sudah biasa keluyuran dan sudah biasa dimarahi. Dan sesuai instruksi dari Ihsan, tak lupa ia pergi dengan membawa sesuatu yang bisa menimbulkan kegaduhan, yaitu peluit milik ayahnya yang seorang guru olahraga di sebuah sekolah kurang ternama di kotanya.
Setelah berjalan lima langkah dari rumah, Johan dapat melihat kerumunan orang yang sedang bercakap sambil tertawa satu sama lain. Ada Ihsan di antara mereka, membawa sendok dan panci. Ada pula beberapa yang membawa galon, katel, kentongan, dan toa. Mudah-mudahan saja ini akan menjadi pengalaman baru yang menyenangkan bagi Johan. Mudah-mudahan pula ia bisa menambah relasi dari keikutsertaannya dalam mengingatkan sahur pertama Ramadhan tahun ini.
Saat gerombolan pengingat sahur itu hendak berangkat, terlihat seorang gadis yang memakai mukena keluar dari pintu rumah Ihsan. Ia agak berteriak, “Kak! Kata Uak, jangan terlalu lama! Nanti malah Kakak yang telat sahur!”
Ihsan menangguk singkat sebelum pintu rumahnya kembali ditutup. Kemudian ia menyeru pasukannya, “Ayo, jalan!”
“San, yang tadi itu adik kamu? Kok aku enggak pernah lihat dia sebelumnya?” Tanya Johan seraya mengerutkan dahi.
“Itu sepupu aku dari desa. Dia lagi menghabiskan waktu liburan disini. Namanya Sirin.”
Johan mengangguk sebagai isyarat tanda mengerti. Entahlah, saat melihat sepupu Ihsan, Johan merasa kagum dengannya. Ketika sebagian orang masih terlelap pada dini hari, Sirin malah sudah lengkap dengan mukenanya—pasti hendak beribadah.
“Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakaatuh... Kepada warga RT.02 yang saya cintai dan saya banggakan..... SAHUUUUR! SAHUUUUUUURRR!!! CEPET SAHUR, KEBURU IMSAK!!”
Mulai terdengar kegaduhan dari toa milik seorang pemuda seumuran Johan dan Ihsan. Pasukan pengingat sahur yang lain pun turut meramaikan suasana.
TENG TENG TENG TENG TENG!
PRIIIT PRIIT PRIIIIIT!!
BUK BUK BUK BUK!
TOK TOK TOK TOK TOK!
LALALA LALALALALA..... LALALALA LALALALA
Sudah tidak karuan lagi apa yang terdengar oleh telinga. Semua suara menjadi satu padu. Tetapi, Johan malah merasakan suatu suasana yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Heboh, seru, menghibur, hingga rasa kekeluargaan dari orang-orang yang baru ia kenal. Sebenarnya, ada juga rasa bersalah dalam dirinya karena pasti ia telah mengganggu tidur orangtuanya di rumah dengan keributan yang ia buat di luar sana.
Sejak saat itu, Johan selalu ikut bersama Ihsan dan kawan-kawan barunya dari RT.02 untuk mengingatkan waktu sahur. Tapi, keterlibatannya dalam bulan Ramadhan kali ini tidak hanya sampai disitu. Dari yang sama sekali tidak peduli terhadap bulan penuh rahmat itu, kemudian jadi rajin mengingatkan sahur untuk mengisi waktu luangnya saat insomnia, kini bahkan ia penasaran dengan kegiatan tarawih di masjid dekat rumahnya.
Semua diawali ketika seorang gadis yang menggunakan mukena berjalan melewati rumah Johan. Melalui jendela, Johan seperti mengenali wajah gadis itu. Wajah gadis itu agak mirip dengan wajah Ihsan. Ya, dialah Sirin. Tetapi Johan tidak melihat sosok Ihsan di sekitarnya. Johan pun pergi menghampiri Sirin.
“Kak Ihsan udah duluan ke masjid. Ada apa, ya?” Ujar Sirin yang menghentikan langkahnya karena dipanggil Johan.
“Eh... Itu..... Kemarin Ihsan ada hutang sama saya.... Heheh... Kalau gitu... saya duluan, ya!” Johan pun mempercepat langkah, meninggalkan Sirin di belakang. Satu hal yang ia rasakan saat berbicara dengan Sirin. Malu. Kalau menurut anak zaman sekarang, mungkin ia sedang salting—salah tingkah. Sejujurnya, Ihsan sama sekali tidak memiliki hutang padanya. Entah mengapa ia malah berbicara tanpa berpikir dulu. Apa boleh buat, ia pun terus melangkah ke masjid untuk berpura-pura bertemu dengan Ihsan agar tidak ketahuan berbohong.
Di halaman masjid, Johan melihat segerombolan anak kecil yang sedang bercengkerama satu sama lain. Ada yang bermain petak umpet, kejar-kejaran, bermain petasan, jajan, dan sebagainya. Semula, Johan sama sekali tak peduli dengan jemaah masjid yang hendak memulai salat Isya.
Salah satu anak kecil yang selalu ikut mengingatkan sahur bersama Johan pun menghampiri dirinya. “Loh, Kak Johan mau apa kesini?” Anak itu lantas memerhatikan pakaian Johan dari ubun-ubun hingga ujung sepatu. Baju kaos, jaket kulit, celana jeans, dan sepatu sneakers yang dipakai Johan begitu menyita perhatian setiap orang yang melihatnya.
“Ya mau main bareng kalian, dong!” Lagi-lagi Johan berbohong. Ia tidak mungkin berterus-terang bahwa ia datang ke masjid karena kebohongannya yang sebelumnya.
“Temen-temen! Ada Kak Johan mau ikut main sama kita!!” Seru anak kecil yang menghampiri Johan barusan.
“Horeee!!”
“Asyiiiik!”
“Yessss!!!”
Anak-anak pun berseru ramai. Johan mulai ikut bermain bersama anak-anak. Pertama-tama ia bermain petak umpet, kemudian kejar-kejaran. Semula tak peduli dengan jemaah yang terganggu akan kegaduhan mereka. Setelah agak lelah, Johan membeli minuman di warung sebelah masjid. Minuman yang sering dijajakan di sekolah-sekolah dasar—yang harganya hanya seribu rupiah. Lalu yang terakhir, acara inti yang menurutnya paling mengasyikkan. Bermain petasan.
DUARRR!!!
DUMMM...DUMM..DUM!
DUARR!!
Hingga ceramah yang dilakukan oleh Pak Ustaz selesai, Johan dan kawan-kawan kecilnya belum juga bosan bermain-main dan bersenda gurau.
Allahuakbar!
Ketika takbiratul ihram salat Tarawih terdengar, Johan merasakan sesuatu mengetuk hatinya. Diam-diam, ia mengintip ke dalam masjid karena merasa penasaran. Lantas, suatu pertanyaan pun muncul di benaknya.
“Eh, kalian kenapa daritadi enggak ikut salat?” Tanya Johan pada anak-anak di sekelilingnya.
“Kata Mama, anak kecil belum wajib salat, Kak. Lagian, sekarang kan udah salat Tarawih. Salat Tarawih kan sunnah!” Ujar salah seorang dari anak-anak itu.
Johan berjongkok untuk menyetarakan tingginya dengan tinggi seorang anak yang tengah berbicara dengannya. “Tapi, alangkah baiknya kalau membiasakan menunaikan kewajiban sejak kecil! Dan salat Tarawih itu cuma ada pas bulan Ramadhan aja, kan? Enggak sayang, tuh, kalo ditinggalin?”
“Ah, Kak Johan mah enak cuma ngomong doang! Padahal Kak Johan juga pasti enggak mau kalau disuruh salat!”
“Kata siapa?!” Johan melangkah mendekati pintu masjid. “Kakak mau salat! Masa kalian kalah sama Kakak?”
Johan melepas sepatu sneakers-nya di luar batas suci, kemudian masuk ke dalam masjid. Siapa sangka, ternyata dia benar-benar turut melaksanakan salat Tarawih—walau ia belum tahu kalau sebelum salat itu harus wudu dan ia juga tak tahu cara salat. Pokoknya, ketika salat, ia hanya mengikuti apa yang jemaah lain lakukan. Anak-anak pun jadi memandang satu sama lain. Akhirnya, mereka turut mengikuti salat Tarawih karena tidak mau kalah dengan Johan. Sebenarnya, selain dalam rangka untuk memotivasi anak-anak, Johan pun memiliki tujuan lain, yaitu untuk memenuhi rasa penasarannya terhadap kegiatan umat muslim.
Setelah salat selesai, jemaah melakukan doa bersama sebelum pulang ke rumah masing-masing. Johan pun turut berdoa bersama—bahkan ia menjadi salah satu yang paling keras mengucap “amin” hingga anak-anak tertawa geli mendengarnya. Dan dibalik semua kegiatannya di masjid malam itu—walau hanya sebentar, ia bisa merasakan sesuatu yang indah, yang tak dapat diukir dengan kata.
Dari luar masjid ketika satu-persatu jemaah telah pergi, Sirin terlihat kebingungan melihat Johan yang baru saja terlihat turut keluar dari masjid dan hendak memakai kembali sepatu sneakers-nya sebelum pulang.
Ihsan melihat sepupunya yang berdiri mematung memerhatikan seseorang. Sirin begitu terlihat keheranan, dahinya mengerut. Ihsan menghampiri Sirin dan berbisik pada sepupunya itu, “Kayaknya ini pertanda.”
“Ya, mudah-mudahan ini pertanda baik untuk orang yang baik.” Sirin berkata dalam hatinya. Perlahan, sebuah senyuman terlukiskan di wajahnya tanpa ia sadari.
Namun, sejak malam lebaran tiba, Johan tak pernah melihat Sirin lagi. Berdasarkan keterangan dari Ihsan, Sirin telah pulang ke desa bersamaan dengan keberangkatan Ihsan dan keluarganya yang mudik untuk beberapa hari. Tidak ada warga RT.02 yang tahu kapan Sirin akan kembali liburan disana, termasuk Johan dan Ihsan.
Ketika Johan dan Ihsan beranjak dari remaja menjadi dewasa, ketika Johan tidak lagi ikut menghebohkan sahur RT.02, ketika Johan tidak lagi bermain-main bersama anak-anak di depan masjid, ketika Ihsan semakin disibukkan dengan pekerjaannya di kantor, dan ketika delapan tahun telah berlalu. Ternyata saat itulah Sirin kembali ke RT.02. Namun, niatnya kali ini bukan berlibur, melainkan untuk ikut tinggal di rumah Ihsan karena ia baru mendapat pekerjaan di kota tempat Ihsan tinggal.
“Apa kabar Johan?” Itulah pertanyaan yang keluar dari bibir Sirin setelah menanyakan kabar uaknya.
“Hmmm... Sudah kuduga, kamu menaruh suatu perhatian yang lebih sama si Johan.” Ihsan perlahan menyeruput kopinya. Sambil menikmati tetes terakhir kopi yang baru saja ia buat, Ihsan kembali bercakap, “Aku udah jarang kontak lagi sama Johan sejak dapat kerjaan. Aku jadi sibuk dan jarang ada di rumah karena sering dapat proyek ke luar kota. Palingan aku dan dia ketemu kalau silaturahmi waktu liburan Idul Fitri. Tapi aku tahu dia ada dimana. Kalau kamu mau ketemu dia sekarang, aku bisa antar kamu, kok.”
Saat itu hari Minggu malam. Kebetulan, Ihsan sedang tidak ada kegiatan. Sekitar jam tujuh malam, ia berjalan bersama Sirin di sampingnya. Sirin tidak tahu kemana Ihsan mengantarnya. Yang jelas, mereka bukan pergi ke rumah Johan, karena mereka telah melewati rumahnya.
Langkah Ihsan terhenti di depan masjid dekat rumah mereka. Ia mengarahkan telunjuknya ke dalam masjid. “Dia ada disana.”
Sirin lagi-lagi keheranan, sama seperti delapan tahun lalu saat ia melihat Johan yang baru keluar dari masjid. Semula ia tak tahu apa yang dilakukan Johan di dalam. Namun saat ia menengok ke dalam, ternyata Johan sedang melaksanakan salat Isya berjamaah. Ada beberapa hal yang berbeda dengan Johan dari penampilannya delapan tahun lalu. Kini pakaiannya bukan lagi kaos, jaket kulit, celana jeans, dan sepatu sneakers. Johan lebih memilih untuk mengenakan peci, baju koko berwarna putih, dan sarung.
“Udah beberapa tahun ini Johan jadi mualaf. Aku lupa tepatnya sejak kapan, tapi udah cukup lama. Sekarang, dia lebih suka dipanggil dengan nama Jauhar. Dan dia menjadi salah satu pengurus dewan kemakmuran masjid ini.”
“Alhamdulillah!” Sirin tersenyum bahagia atas kabar yang ia dengar dari sepupunya. Matanya berbinar, senyumnya lebar hingga menampakkan gigi kelincinya. “Terus... orangtua Johan... Eh, maksud aku... Jauhar, gimana? Apa mereka mengikuti jejak Jauhar?”
“Enggak, Rin. Tapi, orangtuanya menghargai keputusan yang Johan, eh... Jauhar pilih. Bahkan mereka jadi lebih lega karena anaknya lebih memilih untuk menghabiskan waktu di masjid daripada keluyuran enggak jelas kayak dulu.”  Ihsan terdiam sejenak sambil turut memerhatikan Jauhar alias Johan yang sedang khusyuk salat Isya berjamaah di dalam masjid. Kemudian ia kembali berkata, “Hidayah hanya milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Allah memberi hidayah kepada orang yang Dia kehendaki.”
Benar-benar Sirin sangat bersyukur atas berita gembira ini. Ia senang karena Johan sekarang menjadi Jauhar, ia senang karena Johan sekarang menjadi manusia yang semakin baik, ia senang karena sekarang ia memiliki secercah harapan.
“Eh! Tapi... kenapa Kak Ihsan enggak ikut salat Isya berjamaah di masjid? Kan laki-laki seharusnya salat berjamaah di masjid?!” Tanya Sirin.
Ihsan kembali membisu sejenak. Ia menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Sambil terbata-bata, ia beralasan, “A...Aku... Aku salat di rumah aja, lah!” Kemudian ia cepat-cepat melangkah meninggalkan masjid.
“Bisanya ngomong! Buktiin dengan perbuatan, dong!” Sirin bergumam, namun cukup keras untuk didengar.

Komentar

share!