Damai Kemarau




Karya:  Fino

Musim kemarau telah tiba beberapa bulan yang lalu, kemarau yang hangat. Bulan sudah memasuki Juli, pohon-pohon yang meranggas mulai bertunas. Aku menyaksikan setiap perubahan itu selama berhari-hari. Duduk di teras memandang daun-daun ketapang dan mahoni yang sempat berguguran dan mulai menghijau daun mudanya, menikmati hangat sinar mentari pagi yang menembus celah-celah rimbun pepohonan, mendekap angin yang membawa hawa dingin, dan mendengar suara hewan sedang mengalunkan nada khas musim kemarau di atas pohon. Kalau saja ini bukan bulan puasa, pasti aku sudah ditemani secangkir kopi yang tetap manis dan kunikmati meski kata Dee punya sisi pahit. Ada yang menyusup dalam hati, terasa menghangatkan, tapi kuyakin ini bukan karena sinar fajar ataupun kopi yang tak lagi menemani. 


Kehangatan yang membawaku menyusuri kembali jutaan detik waktu yang telah ku lewati. Saat itu aku sedang mencoba melepaskan diri dari sebuah kedamaian, dari istilah damai tapi gersang. Aku masih ingat sekali saat angin membelai rambut bergelombangku yang telah banyak mendapat pujian. Juga masih terdengar suara sayup-sayup pujian-pujian itu. Siapa yang tidak terbang ketika dipuji? Tapi aku merasakan bukan itu yang ku butuhkan, bukan pujian. Aku merasa ini semua ujian, bukan pujian.
“Kemana kerudungmu?” Pertanyaan banyak temanku yang juga masih terngiang.
Aku memutuskan membuka lagi hijabku. Aku tidak ingin kehilangan keindahan mahkotaku. Aku bebas. 
“Kemana kopinya?” Tanya lelaki berlesung pipi yang membuatku kembali ke detik waktu sebenarnya.
Aku hanya membalas senyumnya. Dia duduk di dekatku tanpa meminta persetujuan. Aku bisa saja memintanya pergi karena aku masih ingin merenungi. Tapi dia membuatku tak berdaya setiap kali menatapnya. Jantungku berdetak seperti menusuki setiap sendi, melemahkannya lalu membuat gemetar. Dia seperti kopi yang biasa menemaniku, jadi ku biarkan saja dia menjadi pengganti kopi.
“Tidak terasa ya, tadi malam bulan sudah purnama. Artinya, puasa sudah berjalan selama 15 hari.” Dia memulai pembicaraan.
Dia berada sejengkal di samping kiriku. Aku takut dia mendengar detak jantungku yang terasa tak beraturan lagi. Aku masih diam, mulutku juga terasa dilumpuhkan.
“Untung saja meskipun bulan puasa tepat di musim kemarau, udaranya dingin, jadi tidak begitu menyiksa tenggorokan yang kehausan.” Dia terus berbicara tanpa ku pinta.
Aku tak keberatan sama sekali dia terus berbicara. Itu artinya aku terbebas dari bayangan detik-detik lalu yang membuatku menyesal. Dia tidak memberiku kesempatan membayangkan lagi penyesalan itu. Aku tidak berani memandangnya lagi seperti yang tak ku sengaja saat dia datang  mengagetkanku tadi. Ku biarkan udara mengantarkan suaranya ke gendang telingaku tanpa harus ku tahu matanya sedang berbinar terkena sinar. 
“Kemarau ini tidak gersang ya! Tidak ada debu, tidak ada udara panas, dan pohon-pohon tetap hijau. Damai sekali pagi ini dengan angin yang menyentuh wajah kita.” Lanjutnya.
Aku kembali gelisah ketika mendengar kata gersang. Aku takut dia tahu yang sedang ku pikirkan tadi. Damai tapi gersang, meski sudah tak lagi meradang tapi sisa-sisa rasanya masih terkecap di hatiku.
“Kamu pernah merasakan apa itu damai tapi gersang?” Aku mencoba membuka suara, meski tanyaku yang tak menanggapi dari setiap ungkapannya.
Dia menatapku, aku menunduk. Dia tersenyum lalu kembali menatap ke depan. Aku memberanikan mengangkat wajahku lagi. Tak terdengar lagi suara diantara kami.
Sinar matahari sudah menyebar, semakin menghangatkan. Sinarnya tak lagi malu-malu menampakkan diri melalui celah-celah pohon, menyebar diberbagai ruang. Udara masih dingin. Angin masih berhembus seperti nafas yang tak berbau minyak kasturi.
“Aku merasa rambutku bagus, jadi untuk apa aku memakai hijab. Yang penting bukankah aku menjadi orang yang baik? Hijab dalam hati dulu. Menjalankan solat lima waktu dan puasa, apa tidak cukup untuk disebut sebagai muslimah?” Aku memecah kediaman kami.
Dia masih tersenyum, tanpa menatapku. Matanya menerawang ke satu arah, namun aku yakin pikirannya sedang menerawang arah yang lain. Aku menunggu jawabannya.
“Ternyata aku salah. Mendapatkan pujian dari banyak orang bukan itu yang aku butuhkan. Senang mendapatkan pujian, tapi lalu akan ku apakan pujian-pujian itu. Aku merasakan ada yang gersang.” Lanjutku yang tidak menerima jawaban.
“Orang tidak akan dewasa tanpa dosa, istriku.” Jawabnya.
Aku kembali memundukkan kepala. Dia mengawasiku masih dengan senyumnya. Lalu kembali meninggalkan pandangannya dariku.
“Itu kata mas Ananda. Apa yang kamu rasakan sekarang? Kedamaian yang tak lagi gersang?” Tanyanya melanjutkan.
Aku hanya mengangguk, tak bisa menjelaskan betapa damainya puasa meski musim kemarau. Kedamaian angin yang berhembus, membuat kain yang menutupi mahkotaku sesekali membelai pipiku. Rasa aman, nyaman, anggun, dan manis menjadi sebuah kedamaian yang menyelimuti udara dingin kemarau dengan pohon-pohon yang berdaun tunas muda setelah meranggas.

Komentar

share!