Daging Tetangga.




Karya:  Dann Monhettan_


Menu buat berbuka puasa kali ini dalam keluargaku, terjadi kontroversi. Tentang perbedaan opini, perseteruan hak, yang lambat laun merambat kedalam debat gak penting. Lalu mencoba dibawa kedalam musyawarah keluarga, yang jika dilihat dari alurnya, kelihatannya tak kan pernah mendekati kata mufakat. Ini mengenai sebuah buntelan, sesuatu yang membawa kami sekeluarga. Tepatnya aku, Ayah dan adekku masuk ke dalam kisah konyol yang berakhir dengan kekecewaan serempak. 


Suasana siang tadi dalam keluargaku mendadak gempita, tentang munculnya daging misterius yang tahu-tahu udah berada di meja ruang tamu. Ilham adekku yang pertama kali menemukannya. Dia sempat kaget, ketika sebuah tas plastik berwarna hitam, telah berada di atas meja. Dan setelah dibukanya, ternyata isinya daging sapi segar. Setelah diterka kira-kira beratnya setengah kilo.
Tanpa spekulasi, kami bertiga langsung setuju bahwa daging itu pastilah pemberian dari tetangga kami yang baik hati. Meskipun sayang, kami tidak mengetahui siapa tetangga kami itu, karna waktu buntelan itu tiba kami semua tidak ada yang berada dirumah.
Lalu perseteruan pun terjadi...
Buat buka puasa nanti, Ayah menginginkan asem-asem daging. Karna sebagai yang paling tua, Ayah bersikeras bahwa keinginannya harus dituruti. Sedang adek aku pengen rendang, karna dia merasa yang menemukan pertama kali daging itu. Dan aku sendiri menginginkan rawon. Sebagai juru masak keluarga, aku merasa mempunyai kuasa buat menentukan pilihan.
Debat keluarga pun terus berlanjut. Masing-masing tetap bersikukuh pada keinginannya, termasuk diriku. Bagi keluargaku yang berperekonomian pas-pasan, bahan makanan seperti itu, sungguh teramat spesial. Jadi pengolahannya pun juga harus spesial.
" Udahlah Jun, kamu bagi aja menjadi 3 bagian masakan kan bisa. Jadi kita tidak perlu ribut gara-gara daging itu. Meskipun akan lebih tepat jika menunya dijadkan asem-asem saja semuanya. Kuahnya akan terasa segar dan nikmat sekali jika dijadikan buka puasa." kata Ayah mencoba memecahkan masalah, meski keputusan akhirnya malah terlihat lebih dominan pada pilihannya sendiri.
Aku sebenarnya hampir membenarkannya, tapi daging yang beratnya kira-kira setengah kilo itu, mana cukup buat membuat tiga masakan sekaligus, dengan resep yang berbeda-beda. Belum juga bahan buat bumbunya. Kalo bikin rendang tentu harus banyak rempah, dan itu mengeluarkan uang tambahan. Sedang kalo rawon, persediaan bumbu didapur masih cukup kalo cuma buat satu resep, paling cuma penambahan kluwek, dan itu bisa didapatkan diwarung dengan harga murah. Kalo bikin asem-asem, pembuatannya malah lebih gampang lagi. Cepat dan praktis. Cuma Ilham tidak begitu suka sayur asem-asem, ataupun rawon. Pokoknya dia tetap bersikeras pengen rendang.
" Bukankah lebaran tahun lalu kita udah bikin rawon bang." Ilham memprotes.
" Iya, tapi kan rawon itu semua menyukainya, termasuk tamu-tamu kita. Sedang kalo rendang hanya kamu aja yang doyan."
" Tapi aku kan yang mendapatkan daging itu." Ilham tetap bersikeras." jadi wajar kalo aku yang menentukannya."
" Ya sudah, kalo kamu memang menginginkan rendang, kenapa kamu gak memasaknya sendiri?" tantangku.
" Kalo aku bisa mengolahnya, aku pasti akan memasaknya sendiri !! " jeritnya sambil terisak.
Mengetahui situasi makin memanas, Ayah merasa harus bertindak. Segera Ayah mengeluarkan bujukannya, menghindari tangis si bungsu pecah.
" Ilham, rendang itu kan makanan orang Sumatra, sedang kita ini orang Jawa. Jadi sebisanya kita harus mengikuti ciri khas orang Jawa. Pada bulan puasa kayak gini, berbuka dengan sayur asem-asem sangat berguna buat mengganti stamina yang keok." nasehatnya.
Aku merasa nasehat ayahku bukan yang terbaik, seolah mengarahkan kedalam sesuatu yang malah memperkuat pengaruh keinginannya.
" Soal rawon Jun, apa sih? makanan itu kita bisa menjumpainya disetiap warung-warung makan. Coba diingat, bukankah setiap Idul Adha kamu selalu membuatnya, lalu memakannya paling banyak sendiri. Lagian jika perut kosong sangat tidak dianjurkan mengkonsumsi kluwek. Tak baik bagi kesehatan."
" Lalu mengenai asem-asem yah, bukankah juga gak baik makan makanan yang kecut saat perut kosong. Asam lambung bisa naik Yah."
Suasana makin gak tambah baik. Biasanya dalam situasi seperti ini, kehadiran seorang perempuan bisa merubah keadaan. Perempuan memang mempunyai cara yang ajaib buat memecahkan masalah dengan gayanya yang spesifik, tanpa ada yang merasa terluka.
Melihat belum ada titik temu dalam argumen sepintas ini, Ilham udah hampir menangis. Jiwa kekanak-kanakannya langsung bereaksi. Sebagai seorang lelaki kecil yang masih baru menginjak kelas 5 SD, dia sebenarnya masih perlu buat bermanja atau berkeinginan yang harus terpenuhi.
" Baiklah Jun, sesekali kamu harus mengalah sama adek kamu." Ayah udah terlihat mengalah, dan mulai melupakan asem-asemnya.
Adekku pun mendengus, dengan sorot mata seakan penuh kemenangan. Namun dengan mencoba mempertahankan ekspresi sedih diwajahnya.
" Masalahnya aku belum pernah masak rendang sama sekali." elakku. " jadi menurutku percuma kalo aku diminta melakukan hal yang aku gak bisa, nanti masakannya malah tidak enak."
" Aku bisa mencari resepnya di internet." bantah adekku.
" Lalu mengenai bumbunya?" tandasku mencoba mencari celah tersulit baginya.
Tapi bukan adekku jika mudah menyerah begitu saja. dengan berlari Ilham masuk kedalam kamarnya, tak berapa lama dia sudah kembali sambil menggenggam lembaran uang seribuan ama beberapa keping uang logam.
" Ini. Aku akan membeli bahan-bahan bumbunya, kata Ibu temanku bahannya tidak mahal, jadi uangku ini pasti cukup."
Akhirnya aku menyerah begitu juga dengan Ayah, usahaku memperdayanya mengalami jalan buntu. sedang Ayah hanya bisa tertawa.
Keputusan final pun berakhir damai, dengan menyisakan 2 menu sebagai pemenang, yaitu rendang sama asem-asem. Soal rawon, aku hanya bisa berlapang dada, melihat keinginanku kalah. Tapi kurasa itu tidak masalah, karna aku masih bisa menunggu sampai Idul Adha tiba.
* *
Ini adalah pertengahan ramadhan yang kulewati tanpa kehadiran sosok Ibu. Udah hampir 2 tahun ini Ibu merantau ke kalimantan. Adek Ibu atau lebih tepatnya Bibiku bekerja disebuah laundry milik seorang berkebangsaan Brunei, dan Bibi mengajak Ibu bekerja dimana dia sekarang bekerja. Karna pikir Ibu kalo hanya mengandalkan pendapatan suaminya yang hanya berprofesi sebagai penarik becak, kebutuhan seputar rumah tangga akan sulit terpenuhi. Ditambah buat biaya sekolahku dan adekku. Maka pergi ke Kalimantan adalah pilihan yang paling alternatif bagi Ibu.
Namun karna jauhnya jarak tempuh dan dipisahkan lautan, serta mahalnya biaya transportasi. Ibu hanya bisa pulang setiap sesetahun sekali, tepatnya ketika menjelang lebaran tiba. Dengan mendapat biaya transportasi gratis dari atasannya, sebagai bonus lebaran.
Daging sapi itu masih teronggok di meja, belum tersentuh sama sekali. Aku sengaja ingin mengolahnya nanti sore sehabis ashar, biar tersaji hangat saat adzan magrib berkumandang.
Ilham belum kembali, bocah berumur 11 tahun itu agaknya begitu bersemangat, memperjuangkan keinginannya buat makan rendang. Sebenarnya aku tahu dia menginginkan makanan itu juga cuma buat memenuhi rasa penasaran aja, karna setahuku dia belum pernah memakannya sama sekali. Mungkin dia pernah dengar dari temannya atau dari iklan di TV. Sedang Ayah pamit pergi sebentar guna mengantar abunemennya dengan becaknya, nanti kalo kembali Ayah akan membawa bahan bumbu buat asem-asem termasuk wortel dan buncis buat pelengkap sayur asem-asem yang amat dia sukai itu. Sedang aku buat mengisi waktu luang, aku memilih membaca komik.
**
Sehabis Ashar, kami bertiga sudah bersiap mengolah masakannya. Dengan penuh semangat bak pemimpin pasukan perang, Ayah membagi tugas pada kami masing-masing. Ayah akan bertugas merajang bumbu dan sayuran buat asem-asem. Seperti biasa aku yang nanti akan mengolahnya menjadi masakan begitu semua bahan bumbu telah siap. Sedang Ilham bertugas sebagai asistenku, alias tukang disuruh-suruh.
Saat ini semua terlihat sibuk dengan bagiannya sendiri-sendiri, dan kami  sekeluarga terlihat kompak. Sesaat aku lihat Ilham sedang sibuk membolak-balik catatan resep rendangnya, sambil mempersiapkan bumbu rempah yang telah dia beli, namun sesekali bertanya padaku mengenai proporsi takarannya.
Aku menaruh panci diatas kompor, untuk nanti merebus daging sama membuat kaldu. Sambil menunggu air mendidih, aku mengasah pisau buat nanti memotong-motong daging.
Lagi enak-enakan menyiapkan menu buka, pintu rumah ada yang mengetuk. Kami semua segera keluar melihat siapa tamunya.
Seorang Pria kurus dengan dengan wajah cemas tampak terlihat didepan pintu, gayanya terlihat sangat gugup dan setengah takut-takut.
" Maaf Pak, tadi siang saya habis mengantarkan buntelan berisi daging kesini, karna gak ada orang saya taruh buntelannya dimeja. Dan ternyata saya salah kirim, daging itu sebenarnya buat tetangga sebelah yang telah memesannya pada majikan saya." ujarnya diplomatis. " maaf apa dagingnya masih utuh? mau saya bawa lagi." tambahnya penuh harap.
Aku, Ilham dan Ayah hanya bisa celingukan menyingkapi keadaan tak terduga ini. Raut kekecewaan segera bergelantungan di hati kami bertiga. Kegembiraan buat berbuka dengan menu lezat seketika lenyap. Digantikan dengan kekecewaan yang menghampar.
Ayah masih setengah tak percaya, Impian asem-asemnya leleh begitu saja. Dengan senyum-senyum kecut Ayah terus memandangi tamunya, berharap tamunya itu adalah delusi.
Ilham menjatuhkan catatan rendangnya ke lantai, seketika wajah adekku berubah nampak seperti lelaki dewasa yang sedang patah hati. Sedang aku serasa habis kehilangan sesuatu yang sangat berharga.
Bumbu rendang udah siap diatas meja. bumbu asem-asem juga udah komplit, tinggal mengolahnya sebentar ini. Pisauku pun udah aku asah, siap buat memotong. Sementara terdengar suara air mendidih mengalun dipojok dapur.
Untung buntelan yang berisi daging itu belum tersentuh sama sekali, dan hampir saja. Akhirnya dengan berat, Ayah segera masuk kedalam guna mengambil buntelan berisi daging itu, lalu menyerahkannya pada si pengirim yang telah menunggu dengan gelisah.
Betapa leganya si pengirim itu, ketika menerima buntelannya ternyata masih dalam keadaan utuh. Lalu dengan sangat berterima kasih lelaki itupun pamit dengan gembira.
Sepeninggalan lelaki tadi, kami saling berpandangan dengan tatapan saling mengasihani. Tapi kekecewaan terparah sangat terlihat dimata adekku. Tanpa aba-aba dari siapapun dia segera menyeruak berlari masuk kedalam kamarnya. Ayah bermaksud menyusul buat menghiburnya. Namun sebelum maksud itu dilakukan, Ayah menghentikan langkahnya sejenak dan memandangku sekilas.
" Oya Jun, menurut Ayah, tadi sebaiknya kita pilih bikin rawon aja ia." celutuknya sambil berlalu.

Komentar

share!