Cut Paste Ramadhan




Karya: Dewi Sugiarti

Dari jauh sudah dapat kutebak kalau itu pasti senyuman manusia paling rempong sedunia. Lihat saja dari deretan gigi yang tidak rata itu, apalagi warnanya yang tidak putih dan tidak juga bisa dikatakan kuning, lumayanlah daripada tidak berwarna. Jaraknya masih sepuluh meter dari posisiku berdiri, hanya dengan hitungan detik saja ia sudah berada tepat di hadapanku dan akan langsung mengatakan.


“Pagi yang cerah untuk jiwa yang sepi, kau siap bro?” Itulah sapaannya di pagi hari kawan. Kalian dengar kan, betapa rempongnya dia kawan. Sapaannya membuatku muak berlapis-lapis. Darimana Bang Zul menemukan makhluk aneh ini. Kalau bukan karena perintah Bang Zul saja tak kan mau aku bekerja sama dengan orang aneh nomor dua itu. Tentu saja yang pertama adalah klienku yang selalu meminta hal-hal aneh untuk segera kami kerjakan. Mungkin mereka menganggap kalau kami adalah penyedia jasa pelayanan babu elit. Tapi menurutku ini adalah pekerjaan paling aneh yang pernah kulakukan.
Baru sebulan yang lalu aku didepak dari toko sepatu hanya gara-gara aku bilang kalau sepatu merah yang dipilih pelanggan saat itu sama sekali tidak cocok, dan itu membuat warna kulitnya jadi semakin gelap. Kupikir mereka orang-orang egois yang tak bisa menerima kenyataan dan kritik rasional seseorang. Apa boleh buat, seminggu bekerja menjadi pembantu sutradara lagi-lagi aku ditendang, bahkan ini lebih menyakitkan kawan. Aku kelepasan bilang cut selama shooting berlangsung, akhirnya pekerjaanku yang di cut.
Minggu berikutnya aku mencoba di salon kecantikan, hasilny lagi-lagi aku diusir lantaran menolak banci sebelehku , mengatakannya saja sudah merinding kawan. Beginilah nasib di rantau apalagi di kota besar seperti ini, segala macam pekerjaan sudah kucoba. Hingga suatu hari aku bertemu laki-laki tua setengah botak yang selalu mengelus-elus jenggot yang bisa dihitung dengan jari itu ketika ia bicara. Impiannya adalah memiliki gedung bertingkat dua dengan kolam renang di atap tertingginya. Sungguh mengesankan bukan.
Matanya langsung berbinar ketika melihatku keluar dari salon kecantikan dengan tidak terhormat sambil diseret keluar oleh banci sialan itu, kupikir Pak tua itu sedang putus asa sepertiku tapi ternyata ia mengajakku berbisnis. Awalnya aku tak percaya, sejak kapan ada orang yang rela menawariku pekerjaan yang kupikir menawan jika didengar dari penjelasan Pak tua itu.
Aku mengangguk karena sudah hampir putus asa, apa salahnya jika kucoba, toh kegagalan itu sudah biasa bagiku. Besoknya aku langsung bergegas menuju kantor beliau yang jika kulihat lebih tampak seperti gudang. Terhitung hampir satu tahun hingga sekarang aku harus terjebak dengan orang-orang aneh dan rempong di sini.
Kali ini Mahmud si rempong menunjukkan foto selfinya dua hari lalu di taman safari sambil memeluk kaki gajah. Dia tampak lebih bahagia di sana. Gigi-gigi itu tak henti-hentinya ia pamerkan. Aku tidak menanggapi, perasaanku masih kesal karena selepas subuh aku sudah bergegas meninggalkan kamar nyamanku untuk tugas hari ini. Yah .. satu jam kemudian baru manusia aneh ini menampakkan batang hidungnya.
Telponku berdering nyaring.
“Hallo Jong, sudah kau terima tugasnya?” Sahut suara parau di sebrang telepon.
“Tugas yang mana Bang? Tertawa bersama Mahmud kah?” Jawabku kesal dengan logat khas melayu.
“Pukul saja kepalanya Jong, penyakitnya kambuh lagi barangkali. Kau kan tahu sendiri kalau istrinya sudah dua minggu tidak jelas dimana sendalnya. Mengertilah Jong.” Jawabnya lembut berupaya merayuku. Dia tahu betul karakter kekesalanku.
“Iya Bang, kali ini jangan aneh-aneh ya. Abang kan tahu sendiri kalau akau ingin masuk surga. Jangan rusak ibadah puasaku Bang.” Jawabku tegas.
“Tenang saja Jong. Oh ya jangan lupa kau siapkan tissu untuk jaga-jaga kalau kau menangis nanti. Dan sebaiknya dari awal saja kau ucapkan terimakasihmu itu Jong.” Ucap Bang Zul terkekeh.
“Aku puasa Bang, batal jika menangis, lagipula malu aku dengan malaikat. Terimakasih karena sudah mengirim Mahmud Bang”  Jawabku sambil melihat Mahmud yang masih bangga melihat fotonya.
Kutarik lengan Mahmud, “Cepat seleaikan tugas hari ini dan cari istrimu.” Bisikku di telinga Mahmud. Seketika rautnya berubah, dan mengeluarkan selembar kertas. Kuambil dan kuperhatikan seksama. Jelas itu tulisan Bang Zul, yang bahkan melebihi tulisan dokter Mimi langgananku di sebelah kantor Bang Zul.
“Di persimpangan mana ini Mud?” Tanyaku sambil mencatat nomor telepon yang tertera di kertas itu.
“Persimpangan raja minyak Jong, setelah mencari sepasang sepatu kita harus mencari dengan merk yang sama di pasar dengan nomor 38.” Jelas Mahmud sambil menatap jauh ke depan. Ku akui memang aku punya banyak waktu untuk mengurusi urusan orang lain, bukan, tepatnya membantu orang lain. Lagi pula klien yang satu ini sungguh kurang kerjaan, sepatu sudah dibuang kenapa harus dicari lagi. Mungkin saja terbuang, berpikir positiflah batinku.
Tanpa banyak berpikir aku langsung bergegas, di persimpangan itu sungguh ramai. Hampir seluruh jalan padat dipenuhi para pedagang minyak. Minyak apapun yang kalian cari pasti ada di sini kawan. Di sudut jalan pertama arah taman mesiu ada satu tempat pembuangan akhir. Setidaknya ada empat titik lokasi tempat pembuangan akhir limbah rumah tangga di daerah ini. Titik pertama yang kusebut pertama tadi adalah tujuan pertamaku. Pasang masker, sarung tangan, topi dan akupun beraksi.
Hari menunjukkan pukul 2 siang, dua titik sudah kutelusuri. Untungnya sepatu itu sudah kutemukan sebelum lewat waktu sholat. Seusai sholat sembari melepas penat kupandangi sepatu itu lekat-lekat. Sepertinya aku pernah melihat sepatu itu sebelumnya, entahlah mungkin perasaanku saja karena sudah banyak tempat yang kudatangi dan beberapa banyaknya juga berurusan dengan sepetu. Mahmud hanya terbaring lemas di sudut masjid, sepertinya pekerjaannya lebih melelahkan dari aku. Dia harus mengawasiku, sekaligus memastikan daerah sekitar aman terkendali.
“Mud, ayo kita lanjutkan. Aku ada janji buka bersama, jika aku terlambat tak kan kumaafkan kau Mud.” Dengan nada pelan kuralat perkataanku, “Buka sendiri kok.”
Senyumnya langsung terurai, lagi-lagi gigi tingkatnya itu berjejer di depanku. Dilihatnya kertas yang tadi lalu mengalihkan pandang pada handponnya yang dari tadi sepertinya bergetar. Aku beranjak duluan, lalu terkejut karena sepatu yang tadi kuletakkan di sana sudah lenyap. Aku bingung, sambil mencari kesana-kemari dari sudut kesudut tapi tidak kutemukan, pasti dicuri ini.. Dalam hatiku “Mati aku, bisa tidak dapat THR kalau begini.”
“Bang Muluk mengambilnya tadi Bang” Gadis kecil berkata pelan seolah was-was.
“Bang Muluk siapa itu?” Tanyaku pelan pula sambil menunduk seolah mengerti. Ia memberitahuku tentang si pencuri itu. Ia mengantar kami, dan sampailah kami di sebuah tempat seperti penampungan anak yang tidak layak menurutku.
Kami bingung tidak menjumpai orang dewasa satupun. Lalu seorang anak laki-laki menghampiriku dengan wajah tertunduk.
“Maaf Bang, sepatunya sudah kujual. Aku terpaksa mencuri Bang, aku bingung dengan apa adik-adikku makan hari ini. Kalau aku masih bisa berpuasa Bang, bagaimana dengan yang lain. Jika Abang ingin menghukumku silahkan, kurasa Tuhan juga membenciku.” Ucapnya tegas sambil terus menunduk. Ada ketulusan yang kurasakan.
“Hey, Abang yakin Allah sayang pada kalian. Abang tidak marah, di mana kau jual sepatu itu Muluk?” Tanyaku ramah sambil memegang pundaknya.
Dia mengatakan tempatnya. Lalu aku bergegas pergi sambil memberinya uang dan menelpon Bang Zul untuk menghubungi beberapa panti untuk menampung anak-anak itu. Di zaman mudah seperti ini, masih juga ada anak-anak yang berjuang dalam kesulitan. Sungguh disayangkan.
Setelah menebus sepatu itu, aku langsung bergegas menuju tempat kedua sesuai petunjuk di kertas yang hampir lusuh karena seharian digenggam Mahmud.
“Ingat Jong, waktu kita tinggal 2 jam. Sebelum anaknya pulang sekolah ia ingin sepatu itu sudah ada di rumah. Aku akan ke ruang cctv memastikan kalau gerak-gerik dan posisimu aman. Ada 5 toko sepatu di sekitar sini, 20 menit untuk satu kesempatan.” Jelasnya dengan serius.
Aku mengangguk acuh. Tanpa ia beritahupun aku juga penuh perhitungan. Setahun sudah cukup bagiku untuk mempelajari situasi.
“Siang yang semangat my bro.” Ucapnya sambil menggenggam lenganku. Lalu bergegas menuju ruang cctv di lantai 2. Aku juga mulai beraksi. Badanku terasa panas dan bau sampah. Ya apa boleh buat, tugas ini harus kuselesaikan. Jangan heran kawan, kenapa aku mau karena bayarannya cukuplah untuk membeli beras dan rekan-rekannya yang banyak itu. Setidaknya aku tidak diusir lagi dari rumah selama hampir dua bulan.
Bang Zul sudah seperti saudara bagiku. Perhatiannya melebihi orang tuaku sendiri. Kadang uangnya habis hanya untuk mentraktirku, kemarin ia datang untuk buka bersama dengan  membawa sekotak ayam goreng dan pisang keju kesukaanku. Begitulah perhatian Pak tua yang masih ingin dipanggil Abang itu.
Aku bahkan tidak pernah bermimpi untuk pulang menemui keluarga, setelah Ibu cerai dan menikah lagi, berkurang sudah rasa hormatku untuknya. Biaya keluarga semakin sulit, aku harus mengalah untuk Sani, adik kecil yang begitu kusayangi. Usia sekolahku harus kuhabiskan mati-matian untuk menekan kebencian itu hingga akhirnya aku memutuskan untuk tinggal bersama Ayah, tapi lebih buruk karena Ibu tiri membuatku seolah-olah menjadi anak durhaka.
Dengan berbekal tekad dan tenaga, aku pergi mengarungi kota ini sendirian. Tak ada tujuanku kawan, harapanku hanya memiliki keluarga sendiri yang lebih baik dari keluarga Ibu dan Ayah. Bang Zul selalu menepuk pundakku ketika air mata itu mengalir dari pelupuk mata. Jangan salah kawan, Aku baru hidup selama 22 tahun di dunia ini. Laki-laki gagah sepertiku juga perlu menangis, selama tidak ada wanita di hadapanku.
Kurasa orang-orang di sekitarku mulai tidak nyaman dengan keberadaanku saat ini. Masa bodo lah, ini sudah kepalang tanggung. Banyak sepatu yang kulihat, dan tidak kutemukan model yang sama seperti yang kubawa. Beberapa detik aku jadi teringat Sani. Mungkin dia sudah SMA sekarang. Kalau saja ada harapan untuk bertemu dengannya, pasti akan kubelikan satu untuknya. Tiba-tiba seorang pelayan menanyaiku.
“Sepatu seperti apa yang ada cari Pak ?” Tanyanya ramah. Bapak ? Sejak kapan aku menikah dengan Ibumu, ujarku dalam hati.
“Tolong nomor 38 yang seperti ini.” Jawabku sambil menyodorkan sepasang sepatu. Dia berlalu untuk mencarikan pesananku.
“Jangan menoleh kebelakang Jong. Dokter Mimi ada di belakangmu.” Kata suara dari dalam telepon sambil terkekeh.
“Apa ? kok bisa, mati aku kalau bertemu dia dalam keadaan seperti ini. Ah.. dasar Pak tua itu, apa saja yang ia kerjakan di sana sehingga tidak tahu situasi seperti ini.” Gerutuku kesal.
“Jangan begitu Jong, berkurang amalan puasamu. Lagipula dokter Mimi kan sudah tahupekerjaanmu.” Sahutnya lagi dengan tawa yang sedikit panjang.
“Malu aku Mud…”Jawabku geram.
Pelayan sepatu kembali dengan menyerahkan sepasang sepatu persis dengan yang kutunjukkan.
“Hai Jong .. Itu kamu kan?” Sapa suara lembut dari sisi kiriku. Sudah pasti itu dokter Mimi. Hancur sudah harga diriku.
“Hai dokter, sepertinya anda mau membeli sepatu ?” Tanyaku kaku sambil tersenyum.
“Oh aku hanya mampir untuk mengunjungi sepupuku di sini. Kebetulan kita bertemu, temani aku berbelanja untuk buka hari ini Jong. Nanti kita buka bersama di kantor bagaimana?” Pinta dokter Mimi halus.
Aku tidak bisa menolak. Apalagi dengan senyum indahnya itu. Ya ampun, aku lagi puasa kawan. Hmm.. lagipula tugasku belum selesai. Terpaksa aku menyi-nyiakan kesempatan ini.
“Maaf dokter, aku harus mengantar pesanan. Besok saja kita buka bersama ya, aku yang traktir deh.” Jawabku sambil nyengir kuda, posisiku agak kugeser jauh dari dokter, aku tidak ingin dia mendeteksi bau sampah disekitarku.
“Baiklah aku mengerti. Aku tahu pekerjaan kalian adalah yang terpadat sepanjang waktu, dan terbaik tentunya.” Ucapnya dengan tertawa ramah. Sungguh semakin gugup aku dibuatnya. Dialah dokter yang selalu membantuku setiap waktu, bahkan setiap kali aku mengeluh sakit tulang karena berlari-lari seharian. Banyak saran yang ia beri untukku, terutama soal keluargaku. Setahun mengenalnya sudah cukup untuk aku bisa tersenyum setelah sekian lama mencari celah bahagia. Aku hanya tersenyum mengangguk mendengar perkataannya.
“Mandilah setelah sampai rumah Jong.” Ucapnya sambil berlalu pergi. Senyumnya kembali terurai. Aku terkejut dan merasa malu, tapi perasaan itu menyingkapnya. Aku masih terpana memandangi kepergian dokter Mimi, sungguh dokter idaman pasien.
“Hai Hai Hallo, berangkat lagi mas bro. Jam berapa ini ?” Teriak Mahmud yang terdengar jelas di telingaku. Aku tidak menjawab, aku berlalu dengan membawa sepasang sepatu itu di tanganku. Senyum itu masih melekat di bibirku, suara dokter masih memenuhi pikiranku. Lagi-lagi sadarkan aku kawan, aku sedang berpuasa. Tanpa sadar ku pukul wajahku untuk menghilangkan pikiran yang aneh-aneh.
Di depan sebuah rumah sederhana dengan taman hijau yang dipenuhi bunga krisan dan teman-temannya itu kami berdiri, sepertinya ini tugas terakhir. Tapi aku masih bingung, kurasa tugas ini terasa aneh. Tidak pernah sebelumnya Bang Zul menerima perintah yang ecek-ecek seperti ini. Setidaknya, dari tugas yang kukerjakan dua hari lalu aku harus membantu seorang nenek membuat ketupat dan menjualnya di taman safari. Lalu mencari suaminya yang terpisah selama 10 tahun dari panti jompo yang berbeda. Itu tidak mudah kawan, dalam dua hari kami menyelesaikannya. Kata Bang Zul itu adalah permintaan salah seorang anggota dewan yang tidak ingin status keluarganya diketahui orang. Kurasa ia juga bingung mau diapakan lagi uangnya, sehingga meminta kami membantunya. Aneh kan jika dibandingkan dengan tugas beratku sebelumnya.
“Hati-hati bro, kuharap kita bisa bertemu lagi setelah ini.” Ucap Mahmud sambil menggenggamku dengan ekspresi wajah mengiba.
“Apa-apaan sih Mud, aku hanya perlu memberikan sepatu ini saja tanpa harus terjun bebas. Kau ini kadang-kadang entahlah.” Jawabku sambil melepaskan genggaman tangannya. Dia hanya nyengir lebar lalu membaca pesan handponnya.
Lingkungan sekitar tampak sepi, hanya suara azan ashar yang mulai berkumandang. Aku tidak melihat siapapun setelah beberapa kali memencet bel. Di depan pintu aku meletekkan sepatu itu, kulihat lingkar jam di tangan menunjukkan pukul 4 kurang 5 menit. Aku berbalik pergi, tiba-tiba di hadapanku berdiri seorang perempuan berseragam menatapku lekat. Aku mengenalinya, mataku memerah, terkejut dan tak percaya, apa-apaan ini.
“Masuklah Nak, sudah dewasa kau rupanya, Irfan.” Sahut suara di belakangku. Di dunia ini, hanya keluargaku yang tahu nama asliku, tidak salah lagi dia adalah Ibuku. Sani menangis dan memelukku. Lalu di seberang telepon kudengar suara Pak tua menyebalkan itu.
“Bagaimana rasanya bahagia nak? Menyenangkan bukan? Setelah 5 tahun itu, Jangan tinggalkan keluargamu lagi. Ramadhan kali ini kau takkan sendiri di kantor butut ini, setidaknya kau tidak sahur dan buka sendirian lagi. Besok kenalkan aku pada Ibumu ya. Tidak ada kesempatan untukmu mengucapkan terimakasih padaku, karena sudah kuperingatkan di awal tadi nak.” Sahut suara tua itu, yang terdengar agak serak.
Aku banyak belajar untuk membuang hal buruk dan meletakkan banyak hal bahagia di tahun ini dan tahun-tahun berikutnya. Aku tersenyum kawan, benar-benar tersenyum. Terimakasih Pak tua, eh maksudku Bang Zul.

Komentar

share!