CRAZY DAY




Karya:  MissKii

Ada banyak hal berbeda yang terjadi selama bulan Ramadhan. Hal-hal sederhana seperti makan bersama menjadi lebih berharga. Minum es buah yang sebenarnya bisa dilakukan kapanpun menjadi lebih nikmat. Dan masjid yang biasanya sepi mendadak ramai sampai jamaahnya meluap ke halaman parkir. Tapi ada satu alasan yang membuat bulan ramadhan begitu spesial, yaitu tunjangan hari raya alias THR. Tidak terkecuali aku. Aku dan semua karyawan di kantor sudah tidak sabar menerima amplop berisi uang mulus itu.


Tapi……..yang terjadi saat ini adalah aku sedang mencari keberadaan uang itu.
Aku duduk di atas motor, melihat ke depan di mana terdapat jalan  menurun dan berkelok dengan beberapa lubang yang siap menjatuhkan kami. Pamanku masih mengendarai motor matic ini dengan gaya kura-kura sementara mataku menjalar ke semak-semak. Sesekali aku harus menegurnya karena dia nyaris tertidur dan tidak fokus.
Ini adalah hari paling gila yang pernah ku alami seumur hidup.Aku pergi kesana kemari lalu mengacak-acak sampah dipinggir jalan dan bertanya pada hampir semua orang yang tinggal di sepanjang jalan dari rumah menuju bank.Padahal semalam rasanya aku tidak mimpi macam-macam. Sepulang tarawih aku menyelesaikan ronde ke dua acara makanku, menonton  tv sebentar lalu pergi tidur. Bahkan mimpiku luar biasa.Aku  bertemu dengan beragam hantu dari semua belahan dunia. Aku bertetangga dengan  Marq Marquez dan aku punya rumah sebesar Gelora Bung Karno.
Semuanya berubah ketika aku selesai makan sahur. Saat aku ingin menyiapkan tas kerja, aku merasa ada yang aneh. Tasku begitu ringan seakan isinya bukan beberapa ikat uang seratus ribuan.Aku sempat diam. Tak berani membayangkan hal buruk apapun. Tapi tanganku sudah meraba tas itu dan kesimpulannya aku tidak merasakan ada sesuatu yang besar disana.
Aku jadi takut.Sebelum aku membukanya, aku mengucapkan bismillah lebih dulu. Dan ketika tas itu kubuka, ketakutanku terbukti. Uangnya tidak ada.
Langsung saja aku melompat dari tempat tidur lalu membongkar kamarku.Bawah bantal, kolong ranjang, dibalik gantungan baju, bawah meja computer, lemari pakaian dan rak berisi tumpukan komik detective conan-ku.Hingga kamarku tak ubahnya kapal pecah, uang itu tetap tak kutemukan.
Aku mencoba tenang.Aku mengingat-ingat dimana kiranya aku meletakkan uang tersebut.Maka aku mengulang semua kejadian yang kualami sejak pagi. Aku berangkat ke kantor dengan motorku. Aku ke ruangan bosku dan kami membicarakan masalah gaji plus THR yang belum bisa cair karena dana dari kontraktor yang menyewa alat kami belum juga masuk. Setelahnya aku keluar lalu terpaksa menjawab satu persatu pertanyaan teman-teman kenapa gaji dan THR mereka belum dibayar. Semuanya memang tak terasa menyenangkan sampai akhirnya sekitar pukul dua aku mendapat info bahwa dana yang kami tunggu sudah masuk ke rekening. Maka setelah menyiapkan permohonan penarikan dana dan juga tanda tangan cek, aku bergegas ke bank yang jaraknya 35 km dari kantor. Aku tak sendiri.Kalau urusan uang, kalau urusan pencairan, harus ada laki-laki yang mendampingi. Dan orang itu adalah teman kerjaku yang sebenarnya adalah pamanku sendiri.
Sampainya di bank memang cukup mepet. Bank nyaris tutup dan aku adalah nasabah terakhir.Aku langsung maju tanpa antri karena hari sudah sore. Kemudian aku menerima uang itu yang dimasukkan ke dalam sebuah amplop coklat besar. Setelah itu aku berani jamin aku memasukkannya  ke dalam tas. Dan uang itu terpaksa kubawa pulang karena kantorkupun sudah tutup. Selama ramadhan, jam  pulang dimajukan  dari jam 4 ke jam 3 sore. Rencananya aku akan membagi uang itu hari ini. Tapi sekarang…dengan kenyataan bahwa uang itu tak ada, gaji dan THR yang mana yang bisa kubagikan?
Aku melewatkan sholat subuh karena terlalu panik. Ibuku yang belum  kuberitahu sempat marah karena aku tidak sholat. Tapi aku mengabaikannya. Aku terus mengingat-ingat apa kiranya yang terjadi selama aku keluar dari bank sampai tiba di rumah. Apa uangnya jatuh dijalan? Tapi tasku masih bagus, tidak sobek, resletingnya juga kuat.Apa dicuri? Tapi aku tak merasakan ada yang aneh. Mana mungkin uang sebanyak itu tidak terasa kalau ada yang menariknya?Tasku tidak kemana-mana, terus menggantung dibahu kananku. Jadi, apa uangnya diambil saat aku tidur? Ada maling saat kami pergi tarawih?Tidak juga. Aku sudah memeriksa seluruh sudut kamar dan rumahku dan tak ada tanda-tanda perampokan. Lagipula tak ada yang mengeluhkan barangnya hilang kecuali aku.
Untuk itu pagi-pagi sekali aku menjemput pamanku dan menanyakan perihal uang tersebut. Berita ‘gembiranya’ dia pun sama kagetnya. Bahkan lebih. Dia terdiam selama beberapa detik kemudian merespon.
“APAA?????”
Aku mengajaknya pergi. Kami menyusuri jalan dari rumah sampai ke bank untuk mencari kemungkinan bahwa uang itu tercecer. Tapi rasanya kami hanya melakukan hal yang sia-sia. Kalau uang itu jatuh, mustahil tak ada yang memungutnya. Dan kalau sudah ada ditangan orang lain, mana mau mereka mengembalikannya? Rejeki nomplok menjelang lebaran, siapa yang menolak?
Aku benar-benar frustasi. Bosku terus menelpon dan menanyakan kenapa aku belum tiba di kantor. Belum lagi sms dari teman-teman yang menanyakan apakah hari ini sudah gajian atau belum. Kepalaku ingin pecah membaca pesan mereka. Belum lagi ada telepon dari nomor tak dikenal.
Gimana, Ri? Udah gajian?”
“Dimana kamu?Kok belum nongol?Nggak sabar nih nyentuh uang merah.”
“Riri yang cantik, jangan mentang-mentang lagi pegang  uang banyak terus lupa ya sama yang di kantor. Kamu dimana? Bos uring-uringan di ruangannya.”
“Ban motormu pecah? Mau dijemput?”
“Ri, duitku sisa dua ribu, buat buka puasa nanti nggak cukup nih.”
Aku sudah tidak memikirkan diriku sendiri. Gaji dan THR-ku sudah kurelakan. Yang jadi masalah adalah apa teman-temanku  mau merelakan hak  mereka? Tidak. Sebagian mungkin akan  mengasihaniku begitu aku menceritakannya. Tapi sebagian aku yakin tidak percaya dan menuduhku memakai uang itu. Mereka akan  marah-marah. Apalagi ini bukan pertama kalinya aku kehilangan uang karena ceroboh. Aku kehilangan muka. Aku kehilangan nyali untuk berhadapan dengan mereka dan mengatakan bahwa uang mereka hilang.
“Kamu sudah cerita ke orang-orang di rumah?”
Aku menggeleng. Pamanku bertanya saat kami singgah di warung pinggir jalan untuk isi bensin eceran. Kulihat dia masuk sedikit ke dalam warung itu lalu keluar dengan segelas es teh. Dia memang tidak pernah puasa.
“Kenapa nggak cerita?”
“Takut. Kasihan juga kalo orang jadi ikut pusing.”
“Tapi kita berdua sudah keliling dan harusnya kita lapor aja ke polisi. Kamu juga tadi pake malu tanya ke orang bank. Siapa tahu ketinggalan disana.”
Nggak mungkin lah. Aku ingat betul uangnya kumasukkan ke dalam tas begitu keluar dari bank.”
Pamanku cuek. Dia kembali menghirup es tehnya dari sedotan dengan nikmatnya. Tingkat cueknya sudah diatas rata-rata. Sekalipun ada beberapa orang yang memandangnya miring, dia tak perduli.
“Dari pada pusing sendiri, mending beli minum sana! Minumnya di dalam aja biar nggak malu.”
Aku sadar beberapa kali aku menelan ludah karena bunyi sedotannya. Maka tanpa pikir panjang aku berdiri, lalu masuk ke dalam warung. Si ibu penjual tanpa basa basi menyodorkan segelas es teh. Mungkin pamanku memang sudah memesannya. Aku pun meraihnya. Kuaduk-aduk sebentar dan mengarahkan sedotannya ke mulut. Namun, tiba-tiba saja aku ragu. Kulirik ke arah ibu penjual itu dan dia tersenyum ramah padaku.
Nggak usah segan, Mba. Minum aja. Saya juga lagi halangan.”
Bukan! Bukannya aku malu minum di depannya. Aku juga sedang tidak kedatangan tamu bulanan. Aku hanya merasa ada yang salah disini.
“Cepat, Ri. Udah mau sore kita harus cari lagi uangnya! Kita coba pinjam ke Mba Erin siapa tahu dia punya simpanan,” seru pamanku dari luar. Aku menepuk pipiku dua kali. Sadar, Ri. Sadar! Tadi subuh dan siang  sudah tidak sholat, sepanjang hari kerjanya marah-marah dan sekarang mau batalkan puasa juga?
Aku menggeleng. Kudorong gelas itu menjauh lalu meletakkan selembar uang dua puluh ribu di dekatnya.
“Makasih, ya, bu!”
Loh! Mba? Nggak diminum?”
Tak kujawab pertanyaannya. Aku sudah menarik lengan pamanku dan mengajaknya segera ke kantor. Dia sempat ragu saat mendengar nama kantor dari mulutku. Tapi aku menggeleng yakin. Aku harus menemui bos dan semua orang yang ada disana untuk mempertangjungjawabkan kecerobohanku. Kalau setelahnya aku akan dimarahi, dibawa ke kantor polisi atau disuruh mengganti, aku pasrah.
Maka setengah jam berikutnya aku sudah tiba di depan pintu kantor. Kulihat semua wajah tersenyum lebar menyambutku. Orang pertama yang mendekatiku adalah Tono, si security bertampang kemayu.
Wah, wah, mukanya kucel amat. Kecapean bawa uang banyak, ya?”
Aku tak bisa menanggapi gurauan mereka. Aku justru tak bisa bayangkan apa reaksi mereka begitu tahu bahwa uang yang akan mereka gunakan untuk keperluan lebaran tak ada ditanganku.
Aku pun langsung berjalan menaiki tangga menuju  ruangan bos. Setiap langkah aku berdoa semoga Tuhan berkenan menyelamatkanku. Semoga Tuhan melenyapkan kemarahan bosku nantinya. Tapi rasanya bukan itu yang aku butuhkan. Aku bukannya tak sanggup menerima kemarahannya. Aku hanya tak tega merusak kebahagiaan teman-temanku dan aku tak bisa bayangkan dimana aku bisa mendapatkan uang 40 juta untuk menggantinya.
Hari ini aku seperti orang gila. Aku ke sana kemari. Jantungku seperti di pukul kuat-kuat dengan godam raksasa. Sekarang keringatku mengucur, jari-jariku tidak karuan mengetikkan pesan pada ibu sementara pintu ruangan bosku sudah di depan mata.
Aku berusaha tenang. Kulihat jam dihandphoneku dan rasanya seperti menghitung mundur waktu menuju kematian. Aku seperti orang tolol yang terdiam di tengah ruangan gelap dan hanya bisa menatap pasrah pada seseorang yang ada di depanku.
Satu
Dua
Tiga
Aku menunggu detik-detik kepalaku terpenggal.
Eh, Ri. Masuk. Masuk!”
Aku menghela nafas. Kupejamkan mata lalu duduk di depannya.
“Kenapa?”
Kuberanikan untuk menatapnya sebentar tapi kemudian aku menunduk lagi. Aku mencoba untuk merangkai kalimat yang tepat. Apa aku harus memulainya dengan permohonan maaf? Atau dari cerita tentang kepergianku ke bank kemarin siang?
“Ri, ada apa? Kenapa kamu datang telat? Anak-anak sudah nungguin kamu dari tadi. Saya takut kamu kenapa-kenapa.”
Ya! Saya memang kenapa-kenapa, pak. Saya kehilangan uang!
“Kenapa diam, Ri?”
Bosku bertanya sekali lagi dan akhirnya aku tak punya pilihan lain. Kuangkat kepala, lalu meluncurlah kalimat itu.
“Maafkan saya, Pak. Saya sudah teledor dan uang itu hi-“
Tok tok tok
Ada yang mengetuk pintu. Bosku menyuruhnya masuk dan Tono muncul dengan tergesa-gesa.
“Ada apa, Ton?”
“Maaf, Pak. Itu diluar ada yang cari Riri. Katanya penting. Soal uang.”
Soal uang? Aku berdiri. Tak kuhiraukan panggilan bosku dan meluncur cepat ke bawah. Di depan pintu, seorang pria muda berseragam satpam menungguku.
“Mba Indah Kenari, ya?” tanyanya. Dia tersenyum sambil menyerahkan sebuah amplop besar yang seketika membuat jantungku berdebar. Aku kenal benar amplop itu!
“Saya dari kemarin sebenarnya sudah kemari tapi kantornya sudah tutup. Lalu dari pagi teller dari bank kami terus menelpon  ke nomor handphone Mba Indah, tapi nggak diangkat. Tadi pagi saya juga kesini tapi kata temennya Mba Indah belum ke kantor. Saya takut kalau salah nitip. Jadi saya minta ijin lagi kemari untuk menyerahkan uang ini.”
Aku masih tak bisa mengatakan apa-apa meski uang itu sudah berada ditanganku. Aku masih berusaha menetralkan nafasku sementara dia menjelaskan kronologi bagaimana dia menemukan uang itu.
“Setelah keluar dari bank, saya lihat Mba Indah ke toko kue sebelah sama temannya. Terus amplop itu Mba taruh di atas meja. Mba Indah pergi dan lupa. Untung saya cepat mengamankannya. Tapi Mba Indah nggak dengar waktu saya panggil. Coba dihitung dulu, Mba. Siapa tahu ada yang hilang.”
Aku tak meresponnya. Aku langsung berbalik dan melesat ke lantai atas lagi. Kuperlihatkan amplop itu pada bosku sampai dia sendiri terheran-heran.
“Sebenarnya ada apa, Ri? Tadi kamu belum selesai ngomong.”
Aku kegirangan. Aku hampir saja memeluk bosku kalau saja tak sadar bahwa dia adalah pria beristri dengan dua anak remaja.
“Tadi uangnya hilang, Pak. Tapi sekarang sudah ketemu!” seruku saking senangnya.
“Apa? Hilang? Terus siapa yang nemuin?”
Aku diam. Otakku berpikir cepat dan akhirnya aku sadar sudah melakukan kebodohan lain. Aku turun lagi ke lantai bawah. Tak kutemukan lagi satpam  itu dan menurut Tono dia baru saja pergi. Aku pun keluar dengan tergesa-gesa untuk mengejarnya. Namun, yang kulihat hanya punggungnya. Dia sudah  pergi dengan sepeda motornya sementara aku belum mengucapkan terima kasih padanya.
Cowok ganteng dicuekin. Kamu sih tadi diam aja. Dia ngoceh panjang lebar lah kamu cumacengo terima uang,” sindir pamanku. “Eh, tapi kok dia bisa perhatiin kita sampe ke toko kue itu, ya?”
Aku melengos. Tak kuhiraukan pertanyaan itu dan sekali lagi melihat ke arah jalan. Besok pagi aku akan ke bank dan menemuinya secara pribadi. Dia susah payah kemari hanya untuk menerima sikap acuhku.
“Jadi, kita dapat gaji plus THR, kan?”
Aku tersenyum pada pamanku dan Tono bergantian. Kutatap amplop ditanganku dan mengucap syukur dalam hati.
Alhamdulillah.
***

Komentar

share!