Cookies Coklat Pembawa Hidayah




Karya:  Intan Fatma Sari

Sebut saja namanya Ralin. Nama yang biasa didengar oleh anak-anak rohis di salah satu jurusan Universitas Negeri. Memang, akhir-akhir ini nama itu sering disebut oleh mereka yang sibuk di dunia rohis jurusan tersebut. Karena begitu aktifnya gadis satu ini dalam hal berdakwah dan kepanitiaan di bidang agama. Gadis yang cantik, supel, solehah ramah dan murah senyum. Tak heran jika banyak yang ingin berteman dengannya. Namun, dia bisa memilah-milah mana teman yang baik untuknya. Karena menurutnya lingkungan adalah satu hal yang sangat berpengaruh besar dalam hidupnya.


Ralin adalah salah satu teman dekatku. Sejak dari SD sampai saat ini kami masih sering berkomunikasi, ya meskipun jarang bertemu tapi setidaknya kami sering video call atau skypian.  Ketika SD Ralin sangatlah polos dan pendiam. Selian itu dia juga sangat pemalu. Dia merupakan anak pindahan dari desa yang merantau ke kota bersama kedua orang tuanya. Ralin sangatlah pandai berbahasa Inggris. Setiap pelajaran dan tes bahasa Inggris nilainya selalu diatas 9. Ketika masuk SMP, ternyata kami ditakdirkan untuk bersama lagi. Namun, Ralin tidak begitu senang. Karena dia harus menerima pahitnya hidup karena tidak diterima di SMP yang ia idamkan. Akhirnya mau tidak mau Ralin harus menerimanya. Awalnya memang sulit. Rasa tidak semangat belajar selalu menyelimutinya. Temannya yang kurang ramah lah, gurunya yang galak lah, semua itu jadi alasan Ralin ketika ditanya oleh orang tuanya mengapa nilainya selalu jelek. Waktu berjalan begitu cepat. Ternyata sudah satu tahun kami menjadi murid SMP. Dan aku masih ingat ketika itu kami sedang mengahadapi tes semesteran dan dia cerita padaku bahwa dia merasa tidak bisa mengerjakan. Tak heran, ternyata nilai Ralin kurang memuaskan. Ralin menangis, karena dia menegecewakan orang tuanya lagi. Apalagi, yang lebih parah, ada nilai merah di raportnya yaitu nilai matematika. Akhirnya ayah Ralin berusaha menemui guru Ralin, memohon agar Ralin diberi kesempatan untuk di remidi kembali. Awalnya guru Ralin tidak bersedia, namun karena perjuangan seorang ayah yang sangat keras akhirnya nilai Ralin bisa berubah karena lolos remidial. Nah dari situ Ralin menyadari dirinya salah. Dia memutuskan untuk memulai semunya dari awal. Alhamdulillah, saat kelas VIII Ralin masuk kelas favorit. Entah kenapa, Ralin juga bingung namun perlu kita ketahui rencana Allah itu tidak ada yang bisa menebak. Teman yang baik dan pandai. Ralin terbawa arus itu. Ia pun mulai mengepakkan sayapnya di bidang bahasa Inggris. Ia sering lomba-lomba dan tak jarang ia dapat penghargaan. Disisi lain, nilai akademiknya lambat laun mengalami peningkatan. Ketika kenaikan kelas IX Ralin harus berpisah dengan teman-temannya. Awalnya ia takut kalau tidak bisa mempertahankan semua itu, namun ia yakin Allah selalu disampingnya. Degan bekal itu Ralin pun lillahita’ala menjalani hari-harinya menjadi murid kelas IX.
Semester 1, ternyata Ralin mendapatkan peringkat paralel ke 2 dari 200an murid di sekolah tersebut. Orang tuanya sangat senang dan bangga. Hari demi hari cepat berlalu. Ternyata Ralin mengagumi seorang cowok. Ya, saat itu Ralin belum memakai jilbab dan pengetahuaan agamanya masih pas-pasan. Sayang, Ralin ternyata terperangkap dalam sebuah hubungan. Merekapun akhirnya pacaran.
Hubungan itu terus berlangsung hingga mereka memasuki SMA. Meskipun mereka di sekolah yang berbeda. Saat itu Ralin mulai memakai jilbab. Tapi sayang sekali, ternyata Ralin mendapat lingkungan yang kurang mendukung. Tidak ada yang mendekatkan dia kepada Sang Maha Kuasa. Hal tersebut berlangsung hingga kelas XI. Ralin yang dulu polos sekarang sudah punya pacar. Namun Ralin merasa enjoy saja dengan hidupnya saat itu. Hingga akhirnya ketika kelas XII ia bertemu dengan lingkungan baru lagi. Ya, yang satu ini sepertinya agak berbeda. Seiring berjalannya waktu Ralin merasa ada hal yang berubah dari dirinya. Teman yang baik, semakin rajin, dan hal yang sangat terlihat saat itu adalah ia mulai memakai jilbab double. Ralin memang sangat mudah terbawa arus. Tetapi, ternyata Ralin belum bisa memutuskan pacarnya. Entah mengapa, sangat susah katanya untuk memutuskan hubungan itu. Akhirnya hubungan tersebut berlanjut sampai ketika Ralin kuliah. Pacar Ralin sementara kerja karena belum rejekinya dapat perguruan tinggi. Sangat disayangkan, sholat malam tak pernah tinggal, rajin, suka membantu orang tua, begitulah Ralin. Namun ia harus terperangkap dalam jebakan setan.
Keputusan yang bagus dari Ralin, dia sudah jauh-jauh hari berencana agar ketika kuliah bisa mendapatkan lingkungan yang baik. Ternyata Allah mengabulkan doanya. Ralin tinggal disebuah wisma binaan yang sangat Islami. Dia bertemu dengan teman-teman yang baik dan ramah. Sebut saja salah satu namanya adalah Gita. Gadis itu cantik, solehah, pandai. Mereka pun menjadi sangat dekat dan akrab. Sering curhat dan sharing-sharing. Termasuk cerita tentang dirinya dan pacaranya. Awalnya Ralin enggan untuk bercerita. Namun Gita ternyata sudah bisa menebak tentang hubungan itu. Karena menurutnya Ralin sering memegang hp dan ada hal yang disembunyikan darinya.
Suatu ketika di bulan Ramadhan, mereka pergi berdua untuk mencari makan untuk buka puasa. Mereka mumutuskan untuk tidak mencari tempat yang ramai pengunjung. Mereka pun makan disuatu restoran yang tidak begitu ramai. Disitulah Ralin akhirnya mengungkapkan semua keluh kesahnya. Dilema dan bingungnya dia, mengapa sampai saat ini belum bisa putus. “Secuil rasa sayang pasti masih ada namun apakah kita tidak memikirkan betapa cemburunya Sang Maha Pencipta ketiak hambanya menduakan-Nya.” Itulah kata-kata yang terlontar dari mulut Gita. Sampai-sampai membuat Ralin menitikkan air mata. Gita pun memberi cookies coklat kesukaan dia kepada Ralin, untuk meredakan suasana.
“Agar kau ingat bahwa begitu banyak orang yang terlelap akan manisnya hidup, namun sebenarnya semua itu adalah ujian untuk kita”. Ungkap Gita.
Ya, ia baru sadar betapa sangat benar kata-kata yang diungkapkan Gita. Niat Ralin pun sudah bulat untuk memutuskan pacarnya. Ralin sadar betapa salahnya dia selama ini. Dia bersyukur di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, ia masih diberi cahaya untuk mengembalikan hatinya kepada Sang Pencipta. Sekarang, Ralin menjadi seorang muslimah sejati dan aktivis Rohis yang berjiwa kuat. Semangat dakwah tinggi yang selalu menyelimuti hatinya, untuk berdakwah dan selalu berada di jalan Allah. 

Komentar

Posting Komentar

Silakan berkomentar :)

share!