Cinta Jupiter dan Venus Bersinar Di Bulan Ramadhan




Karya:  Muhammad Rizki Ali Saputra


Hilal yang sudah terlihat bukti bahwa esok hari jatuhnya puasa pertama di bulan ramadhan. Adzan maghrib sudah berkumandang menunjukan sore berganti malam, matahari kembali tertidur menyembunyikan cahaya terangnya dan membangunkan bulan dengan para bintang yang selalu mengikutinya. 


Semua orang terlihat senang dengan kedatangan tamu agung yang kembali datang terlihat dari mereka menyiapkan baju muslim, mukena, sajadah, al-qur’an dan peci semua tampak baru mungkin mereka senang  karena tidak semua umat Nabi Muhammad yang bisa berjumpa dengan bulan Ramadhan. Namun, berbeda denganku namaku Aldi aku hanya tertidur di kamar saat bulan Ramadhan tiba. Aku adalah seorang yatim piatu orang tuaku meninggal saat bulan ramadhan tahun lalu dalam sebuah kecelakaan lalu lintas aku tinggal dengan kakekku ayah dari ibuku dia adalah seorang Marbot Masjid.
“Aldi bangun ! ayo ke masjid sholat ! ” suara yang terdengar olehku dari luar pintu kamarku yang membuat aku terbangun dengan suara ketukan pintu yg pelan. “iyah..” aku menjawab dengan bantal yg menutupi wajahku. “Kakek tunggu depan rumah yh” terdenger suara agak menjauh dari kamarku. Aku bangun dengan begitu malasnya menuju kamar mandi untuk berwudhu. Aku kembali ke kamar mengambil sarung dan sajadah terlihat di atas lemari kecilku sarung dan sajadah baru. “kakek membelikanya untuku sepertinya” aku berbicara sendiri sambil memandang sarung dan sajadah baru itu. Tetapi, aku manaruhnya kembali dan memakai sarung lamaku dan membawa sajadah lamaku.
Aku keluar rumah terlihat kakek sudah menunggu di depan seperti katanya tadi. Aku mengunci pintu dan berangkat ke masjid dengan kakeku. Namun, aku agak jauh dari dia dan berjalan pelan. “Aku membenci bulan ini karena bulan ini aku kehilangan orang tuaku” kata-kata itu yang selalu dalam pikiranku menuju masjid yang ada di kampungku. Saat berjalan aku melihat langit seperti ada yang berbeda dari malam-malam biasanya terlihat bulan sabit dengan dua bintang berbentuk segitiga. Aku melirik melihat fonemena alam itu hingga pikiranku yang tadi hilang entah kemana.
“Aldi cepetan udah mau mulai tuh sholatnya” kakek berteriak dari kejauhan, “iyah..” aku menjawab pelan dan membuatku melangkah lebih cepat. Gerbang masjid sudah kulewati aku berhadapan dengan kakek, dia berkata “Aldi kenapa kamu selalu menjawab iyah ajah tidak bisa kah lebih banyak kata yang keluar dari mulutmu itu”. “iyah..” Aku selalu menjawab “iyah” saat kakekku berbicara kepadaku. Aku sekarang menjadi tipe yang pendiam sering mengurung karena rasa kehilangan yang mendalam masih ada di hatiku dan pikiranku.
Setelah sholat maghrib selesai semua jamaah pergi meninggalkan tempat suci ini. Seperti biasa aku menemani kakek merapihkan masjid, namun, seperti biasa juga aku hanya berbaring d teras masjid tanpa membantu kakek. Saat aku berbaring di teras, aku melihat seorang wanita cantik yang belum pernah aku lihat di kampung tempat tinggalku. Dia terlihat gugup tidak tahu arah dengan mata yang sedang memikirkan sesuatu sambil melihat tempat batas suci yang ada di masjid ini. Kakekku keluar dari dalam masjid dan mengahampiri wanita itu.
“sedang apa neng ?” kakeku bertanya kepada wanita asing itu,
“aku menaruh sendalku di sini tapi sekarang udah engga ada” jawab wanita itu dengan suara lembut yang keluar dari mulut indahnya.
“Aldi !” Tiba-tiba kakekku memanggilku.
“Iyah” jawabku dan aku mulai bangun dari tempat aku berbaring.
“Aldi tolong pinjamkan sendalmu sepertinya cocok dengan ukuran kaki neng ini” aku kaget mendengar kakek membujukku.
“hah yang bener ajah kek masa aku telanjang kaki waktu pulang nanti” mulutku terkunci namun hatiku berbicara
“nanti kamu pake sendal kakek saja walau kecil kan kamu laki-laki ga papa lah pake sendal yang kekecilan juga biar kakek yang engga pake sendal nanti pulang” kakeku mulai membujuku lagi.
“iyah udh” aku menjawab dengan berat hati
“yah udh tuh neng pake dulu nanti sholat tarawih di bawa ke sini lagi”  kata-kata kakek yang mengakhiri percakapan ini.
Namun, dia sepertinya sangat pemalu dia hanya mengangguk saja tanpa mengeluarkan kata-kata apapun mengucapkan kata terima kasih saja tidak sungguh membuat hatiku kesal. Kakek mengajak aku pulang karena aku tak tega melihat kakekku telanjang kaki akhirknya aku member sendalnya kembali dan aku yang tidak memakai sandal saat pulang.
Adzan Isya mulai berkumandang aku bersiap-siap sholat isya dan tarawih bersama kakek dengan niatan kembali mengambil sendalku yang di pinjam wanita tanpa ada rasa terima kasih itu. Saat berjalan ke masjid aku masih bisa melihat dua bintang dan satu bulan sabit membentuk segetiga entah kenapa aku kembali melihat fenomena alam itu terus menerus .
Aku melihat wanita kemarin dengan membawa plastic hitam di salah satu tanganya sepertinya dia membawa sendalku. Aku mendekati dia dan meninggalkan kakek jauh di belakang.
“hey” aku memanggil dia. Ini pertama kalinya aku memanggil seseorang sejak aku menghemat pita suaraku setahunan penuh. Tanpa menjawab salamku dia memberikan plastic hitam itu lalu pergi begitu saja menuju masjid. Aku tambah kesal dengan sikap diam wanita asing itu lalu aku diam menunggu kakek yang sudah kutinggal jauh di belakang.
“Kakek tau wanita itu ?” kata itu lah pertanyaan pertamaku sejak setahun tak bertanya kepada kakek.
“tau memang kenapa ? tumben kamu nanya ke kakek hahaha” kakek menjawab dengan senyuman bahagia lalu tertawa.
“kok kakek malah tertawa ?” aku heran melihat kakek tertawa
“ini pertama kalinya kamu bicara dengan kakek sejak kau terpuruk setahunan ini” dia menjawab dengan senyuman lagi
“ah… kakek, jawab dulu pertanyaanku tadi” aku kembali menjelaskan pertanyaan yang aku ucapkan tadi
“dia itu keponakan tetangga kita dia pasti menghabiskan bulan ramadhan di kampung ini bersama bibinya karena dia sama denganmu dia yatim piatu namun, agak berbeda denganmu dia di tinggal orang tuanya sejak duduk di bangku sekolah dasar. Dia menghabiskan hidupnya di pesantren. Kakek engga tau namanya siapa” kakek menjawab sambil berjalan menuju masjid bersamaku
“ouh pantas aku tak pernah melihatnya” aku menjawab dengan melihat dua bintang bersejajar di langit.
“kek lihat dua bintang itu berdekatan dan terlihat dekat, apa kakek tahu bintang apa itu ?” aku bertanya lain hal kepada kakek.
“engga tau, udah ayo cepat ke masjid” dia menjawab singkat
Sesampainya di gerbang masjid aku melihat wanita itu lagi, dia sedang melihat dua bintang yg bersejajar juga sepertiku tadi, entah mengapa dia melihatnya dengan senyuman yang lebar terlihat di raut wajahnya dia begitu bahagia melihat fenomena alam itu.
”Apakah dia anti sosial ?” kata itu mulai ada di pikiranku, hari hari yang dia lewati seperti tanpa ada komunikasi dengan orang-orang di kampung ini padahal sudah tradisi dia tinggal selama sebulan di sini selama bertahun tahun. “Selama bertahun tahun d sini apa dia seperti itu ?” timbul kembali pertanyaan di pikiranku.
Sholat telah usai semua kembali pulang. Aku pulang seorang diri karena kakek hurus berkumpul dengan para bapak dewan kemakmuran masjid. Di tengah perjalanan aku  melihat dua bintang yang masih bisa terlihat dengan kasat mata itu. “kamu suka juga melihat Jupiter dan venus itu berdekatan ?” dari belakang terdengar suara seorang wanita. Langsung saja aku menoleh kebalakang. Aku terdiam mengetahui ternyata suara tersebut berasal dari wanita yang membuatku kesal karena sepasang sandal saja. “eh maap” dia mengatakan dengan lembut dan pelan dan juga menunduk karena malu. “engga papa kok aku memang suka melihat dua bintang itu berdekatan dan sama-sama bersinar seperti dua orang yang bahagia karena kembali bersama” kata-kata yang keluar dari mulutku entah kenapa aku bisa berbicara seperti itu. “mereka itu Jupiter dan Venus” dia menjawab kata-kata ku. “iyah kah ? aku baru tau ku kira itu bintang biasa” aku menjawab sambil melihat Jupiter dan Venus itu. “iyah mereka terlihat beberapa tahun sekali” dia menjelaskan. “kita beruntung dong bisa melihatnya” entah kenapa aku mulai terbiasa kembali berbicara dengan orang. “aku sudah beberapa kali melihatnya” kata-kata yang membuatku kaget. “terus kenapa kau selalu melihat itu ? dan kenapa kau terlihat bahagia melihat dua bintang itu ?” aku bertanya. “eh kamu melihatku senyum melihat itu ?” dia kembali bertanya kepadaku dengan raut wajah dan nada yang malu. “iyah aku engga sengaja sih melihat kamu senyum melihat itu” aku menundukan wajahku. dia hanya diam tersipu malu karena aku melihat hal yang sudah dia sembunyikan dari orang banyak. Sudah terlihat rumah kakekku sebelum aku masuk ke rumah aku berkata pelan kepada dia “aku Aldi”. Di menunduk dan menjawab “aku Rika” dia langsung berlari masuk rumah bibinya.
Sesampainya di pintu aku melihat dia memperhatikanku sebelum masuk rumah bibinya itu. Aku langsung menuju kamar dan tertidur dengan senyuman yang menghiasi wajahku akupun tak tau senyuman ini berasal karena apa.
Karena berbicara dengan dia aku mulai berubah sudah beberapa hari aku tidak berbaring saja di tempat tidur melainkan selalu bercakapan dengan kakek atau dengan warga kampung lainya. Sekarang setiap aku berangkat sholat menuju masjid aku selalu bersama Rika. Aku berbicara dengan dia hanya saat berangkat ke masjid dan pulang dari masjid saja karena dia selalu berada di rumah bibinya itu dan jarang sekali keluar rumah.
Aku menunggu Rika di depan pagar rumah kakekku setiap adzan berkumandang. “yuk berangkat” Rika keluar dari rumah bibinya. “ayuk” aku menjawab dengan senyuman. Kami jalan bersama menuju masjid kita selalu melihat Jupiter dan Venus . Aku kembali bertanya tentang pertanyaan waktu beberapa hari yang lalu. “Rika kamu belum jawab pertanyaanku kenapa kamu sering melihat Jupiter dan Venus itu sambil tersenyum ?”. Rika menjawab “saat aku melihat mereka aku bisa merasakan ayah dan bundaku bisa melihatku dari atas sana mereka terlihat begitu bersinar seperti mengeluarkan aura kebahagiaan dari senyuman ayah dan bundaku Jupiter dan Venus itu membuatku bangkit waktu aku terpuruk di selimuti kesedihan saat aku duduk di sekolah dasar, jadi fenomena itu membuatku mengingatkan mereka”. “Pantas kamu senyum-senyum sendiri kalo lihat itu”  aku menggoda dia. “ih kamu ini” dia terlihat malu dan mencubit lenganku.
Keesokanya tiba-tiba kakekku sakit demam. Aku bertukar tugas dengan kakek aku sekarang yang menjaga dia. Aku takut melihat kakekku jatuh sakit aku selalu berpikiran dia akan pergi meninggalkan kenangan yang buruk di bulan ramadhan ini seperti tahun lalu. “udah kakek tiduran ajah dulu nanti Aldi yang beresin masjid menggantikan kakek” aku menenagkan kakek. “yakin kamu bisa hahaha” kakek menjawab dengan senyuman yang terlihat dari wajah pucatnya.
Sore tiba aku agak khawatir untuk makanan yang akan di makan nanti saat buka tiba. “assalamualaikum” tiba-tiba ada suara dari luar rumah kakek. “waalaikumsalam” aku menjawab sambil membukakan pintu. “Rika ?” aku agak kaget melihat di datang. Di datang dengan rantang yang ia pegang di tangan kananya. “Aldi kakek kamu sakit yh ? jadi aku tadi masakin buat kamu sama kakek kamu buat nanti buka” dia berbicara sambil memberi rantang yang ada di tanganya. “iyah nih kakek sepertinya demam. Ayuk masuk dulu” aku mengajak dia untuk berkunjung sekalian menjenguk kakek. “kakek, Rika datang nih pengen jengkuk kakek” aku dan rika sambil masuk kedalam kamar kakek. “aduh Rika jenguk makasih yah sudah jenguk kakek padahal sakitnya engga seberapa kok” kakek berkata pelan dengan senyuman.
Adzan maghrib berkumandang waktunya buka puasa kakek bangun dari tempat tidurnya dan duduk di meja makan sambil mengajak aku dengan Rika untuk berbuka puasa. “ayuk buka puasa dulu”. “kakek engga papa bangun dari tempat tidur ?” aku menanyakan kondisi kakek dengan nada khawatir. “engga papa ayuk buka dulu Aldi Rika duduk” kakek mengajak aku dan rika duduk di kursi. “aku buka di rumah bibi saja” Rika tiba-tiba berbicara. Namun, kakek membujuku dia untuk buka bersama kami “udah sini ajah sekalian kamu nemenin Aldi tuh”. Bujukan kakek berhasil membuat Rika buka bersama kami. Kami semua buka puasa dengan masakan yang dibuat oleh Rika semua masakanya terasa nikmat di lidah. Dari masakanya terlihat dia seperti sudah biasa masak. “Rika kenapa tinggal di pesantren ? engga di rumah bibi kamu ajah” aku bertanya di tengah-tengah kakek dan Rika memakan makanan mereka. “Aku sedang menambah ilmu agamaku dan memperkuat imanku supaya aku bisa menjadi anak yang sholeh dan bisa bertemu ayah bundaku di surga nanti” kata-kata yang keluar beserta sedikit senyuman dari mulutnya. Perkataan itu membuatku malu karena aku setahunan ini aku hanya terpuruk sendiri saja tidak mencoba bangkit seperti Rika.
Adzan Isya sudah berkumandang Rika pulang bersiap untuk kemasjid dan aku juga bersiap. “Kek aku pergi dulu yah” aku pamit sambil bersalaman dengan kakek. “tumben salim” kakek mulai meledekku kembali. “Rika ayo berangkat” aku mengajak Rika. “ayo” rika menjawab dengan senyuman yang selalu terhias di wajah cantiknya itu. Saat menuju masjid kita obrol seperti biasa. “Rik liat Jupiter dan Venus itu masih mengeluarkan cahaya indahnya” aku memulai pembicaraan. “hehe iyah mereka seperti seroang pasangan yang selalu bergembira saat berdekatan walau mereka jarang bertemu seperti itu tapi mereka tak pernah meredupkan cahayanya saat saling bertemu seperti tidak ada kata sedih saat menunggu waktu yang tepat bertemu”. ucapan Rika yang membuat hatiku terasa aneh tidak seperti biasanya.”Rik bentar lagi kan hari kemenangan hari yang fitri tiba apa kamu bakal kembali lagi ke pesantren ?” aku menanyakan sesuatu yang dalam dari perasaanku. “iyah aku akan kembali ke pesantren isnyallah bulan ramadhan tahun depan aku kembali lagi ke kampung ini” jawaban yang membuat hatiku merasakan perasaan yang aneh.
Sesampainya di masjid aku berpisah dari Rika aku menuju bagian tempat wudhu, di tempat aku wudhu aku masih memikirkan Rika yang sebentar lagi meninggalkan ku setahun penuh “kenapa aku memikirkan dia ? apa aku jatuh hati ke dia ?”. Selesai wudhu aku melaksanakan sholat. Sesudah sholat aku yang membersihkan masjid seperti yang dilakukan kakek setiap hari. Aku baru sadar setelah melakukan pekerjaan kakek yang ternyata begitu sulit di lakukan sendiri. Aku hanya duduk dan tiduran saja melihat kakek merapihkan dan membersihkan masjid yang besar ini. Selesai membersihkan aku keluar masjid ternyata rika masih menungguku di teras masjid sambil melihat Jupiter dan Venus yang terus mengeluarkan sinar yang tak pernah redup itu. “Rik kamu nungguin aku ?” aku bertanya pelan ke dia. Namun, dia menjawab dengan mengacuhkan pertanyaanku sebenarnya. “Liat mereka!, walau aku sering melihatnya berkali-kali entah kenapa kali ini mereka lebih terang dari biasanya, apa yang mereka sedang rasakan ? apa Venus merasa sepertiku yang begitu bahagia menemukan laki-laki yang sudah di tunggunya bertahun-tahun karena laki-laki itu membuatku berubah menjadi sering tersenyum, sering bahagia, sering tertawa, dan membuatku makin bersinar dari biasanya, bahkan sekarang aku peduli ke dia  sampai akupun memasak makanan demi dia hari ini. Iyahkan Jupiterku ?”. kata-kata itu membuat rasa sayangku menaiki tingkat yang makin tinggi. “iyah venus.. Aku sayang venus” aku menjawab sambil mengungkapkan perasaanku. “iyah.. aku juga sayang Jupiter” dia menjawab dengan snyuman yang belum pernah aku liat dia seperti mengeluarkan semua kebahagiaanya dengan senyumanya.
Suara takbir sudah terdengar esok adalah hari yang suci hari untuk kita saling memaafkan. Hari lebaran bulan Ramadhan kemarin aku tak begitu ingat mungkin ingatan itu mencapur dengan ingatan sedih yang kurasakan walau rika sudah pergi ke pesantrenya kembali aku tak merasa sedih. Sekarang aku menjadi sosok selalu tersenyum dan tak kenal kesedihan aku sudah menjadi Jupiter yang kuat yang siap untuk menghiasi langit saat waktunya tiba dan aku “Akan menunggu untuk bertemu Venus kembali dan mengeluarkan cahaya yang lebih terang”. 

Komentar

share!