CAHAYA RAMADHAN


Karya: LARASATI PUSPITANINGRUM NARENDRASWARI

Musim kemarau yang terlambat datang tahun ini tetap saja tak pernah melupakan keganasannya, terik membara di siang hari dengan debu yang berhamburan serta udara sedingin salju yang menyelimuti sepanjang malam. Awal kemarau tahun ini berbeda, yang biasanya berkemul di balik selimut kini berbondong-bondong mengais rahmat di bulan yang luar biasa ini.



Angin berlarian menerbangkan ujung jilbabku malu-malu. Lonceng yang tergantung di atas gereja mulai berdentang. Burung-burung beterbangan kebisingan. Beberapa anak kecil berlarian keluar dari sana, menari-nari dengan balutan dress warna-warni. Kemeja birunya terlihat rapi, kacamatanya memantulkan sinar mentari yang mulai membakar meski matahari belum sepenuhnya naik hingga ubun-ubun.
“Maaf, sudah membuatmu menunggu lama. Ada yang perlu ku bicarakan dengan pendeta tadi” ucapnya dengan senyum memohon maaf.
Senyum dan anggukan kepalaku sudah memberi jawaban padanya. Sebuah pesan singkat darinya yang membawaku ke tempat ini. Sudah hampir tiga minggu kami tidak berjumpa meski hanya saling menyapa. Skripsi membuat jarak kami akhir-akhir ini agak renggang. Kami berbeda, jurusan kami, latar belakang, hingga agama kami, namun kami saling belajar. Perbedaan itu justru membuatku ingin semakin melihat ke luar sana tentang apa itu keberagaman.
“Sudah makan? Aku lapar sekali” ucapnya sambil mengecek arlojinya.
“Sudah, jam tiga tadi!” balasku tersenyum.
“Oh God! Maaf aku lupa Sya, aku lupa kalau ini hari pertama Ramadhan” serunya terperanjat.
“Apa skripsi membuatmu tertutup dari dunia luar Ben? Biasanya kau yang pertama mengucapkan selamat puasa” candaku geli melihat tingkahnya.
“Ah kau ini!” serunya malu-malu.
Jalan setapak yang biasanya dipadati oleh mereka yang hanya bisa menikmati kota saat akhir pekan terlihat lengang. Hanya ada beberapa pejalan kaki yang terburu-buru atau pesepeda yang menjajakan majalah-majalah selebritis. Sepi. Menyisakan kesunyian, meninggalkan kami berdua duduk di bangku taman kota.
Sudah lebih dari tiga tahun aku mengenalnya. Kalau bukan karena tuntuan ospek, entah aku mengenalnya atau tidak. Banyak pelajaran baru ketika aku mengenalnya. Kami saling diam, hanya terdengar gemericik air mancur di samping kami. Angin kembali menyapa kami, rambutnya yang hitam bergerak tersapu angin.
“Apa puasa kali ini kau akan seperti tahun lalu? Berbuka bersama anak-anak panti dan jalanan itu Sya?” tanyanya memecah kesunyian.
“Apa untuk pertanyaan ini kau memintaku untuk datang Ben?” balasku balik bertanya.
“Katamu kalau seseorang bertanya, kau harus menjawabnya. Bukan justru balik bertanya!” ucapnya seolah-olah berekspresi sebal, namun tetap saja ia menahan senyumnya.
“Apa aku kini jadi seorang ahli yang setiap pernyataanku kau kutip ?” candaku menggodanya supaya sebalnya memudar.
“Ah kau ini, cukup jawab saja” tuturnya dengan senyum yang tak lagi disembunyikan.
“InshaaAllah Ben, aku akan melakukannya lagi” balasku.
“Apa tidak akan mengganggu skripsimu? Kau bilang masih banyak yang belum selesai” tanyanya lagi seolah ia detektif yang menyelidiki suatu kasus.
“Entahlah Ben! Saat aku masih mampu berbagi, kenapa tidak? Lagipula ketika aku bersama anak-anak itu rasanya ada sesuatu yang berbeda dan membuatku ingin kembali” tukasku.
“Bolehkah aku besok ikut membantumu memasak untuk mereka?” tawarnya seperti tahun sebelumnya.
“Bahkan sebelum aku mengajakmu, kau sudah menawarkan diri. Kau sungguh mulia Ben” pujiku yang tentunya membuatnya tersenyum.
“Ah kau ini! Lebih baik sekarang kita berbelanja” ajaknya.
*** 
Tentang waktu, di mana cahaya Ramadhan tak pandang menyinari siapa pun, seperti mentari kemarau ini. Bahkan cahanyanya menyinari hati-hati mereka yang awalnya tak peduli dan enggan untuk berbagi.
Sudah dua jam aku sibuk dengan kepulan asap dan berbagai racikan bumbu. Sibuk sendirian hingga yang seharusnya mulai dikemasi justru masih mengepul di panci-panci. Bahkan Ben yang katanya hendak membantu hingga kini belum terlihat sosoknya. Sungguh kesal!
“Aisya! Di mana kau? Hmmmm…. Wanginya! Apa sudah matang?” tanyanya merasa tak bersalah sedikit pun.
“Kenapa tak sekalian datang ketika semuanya sudah siap disantap!” dengusku kesal.
“Aku tak tahu kapan waktunya untuk memasak, tahun lalu saja kau tak memasak seawal ini Sya” ucapnya yang membuatku ingin melempar sendok-sendok ini.
“Aku bahkan sudah mengirim sms berkali-kali, kau masih mau berkata kalau tak tahu?” seruku kesal.
“Maaf… maaf, handphone ku mati sejak tadi pagi. Aku baru saja mengaktifkannya di depan” ucapnya memberi pembelaan.
“Alasan saja kau ini. Cepat kemasi nasi-nasi ini!” suruhku seolah aku bosnya.
Dengan tangannya yang cekatan ia mengerjakan apa yang kusuruh satu per satu. Semuanya selesai satu jam sebelum fajar mulai kembali ke peraduannya.
“Aahh! Akhirnya selesai” ucapnya lega.
“Kalau kau datang sejak tadi, pekerjaan ini lebih cepat selesai. Aku mau mandi dulu” celotehku sambil beranjak ke kamar mandi.
“Tunggu Sya! Ada yang ingin aku minta” ucapnya memberhentikan langkahku.
“Apa?” dengusku kesal.
“Maukah kau menemaniku berbuka puasa sebulan ini dan seterusnya?” tanyanya serius.
“Bukankah kau selalu ikut denganku ketika berbuka?” balasku bercanda.
“Bukan itu maksudku Sya! Aku ingin kau membantuku, membimbingku bertaubat. Aku ingin menjadi muallaf Sya! Aku bertaubat dari dalam hatiku, aku merasa mendapat cahaya. Aku telah ke sana ke mari mempelajari banyak hal, lalu ini keputusanku Sya.” ucapnya dengan sungguh semangat.
Air mataku berlinang, entah apa ini. Hanya tetesan air mata yang dapat ku lakukan, seolah mulutku terkunci rapat. Terharu, bahagia, bingung entah semuanya bercampur menjadi satu. Aku tersenyum dan mengangguk kepadanya.

Ramadhan sungguh menyimpan sejuta misteri. Bahkan cahayanya telah bersinar terang di awal bulan, memberikan sebuah sinar pada hati tiap orang. Ku kira hanya sebatas berbagi atau berlomba melafalkan ayat suciNya. Tetapi, Ramadhan sungguh istimewa. Ia menggetarkan hati tiap insan. Aku akan selalu merindukanmu.

Komentar

Posting Komentar

Silakan berkomentar :)

share!