Bulan Suci Menuju Hari yang Fitri




Karya:  Ayu Fatimahtu Zahro

Bedug kecil menyadarkanku dari tidur. Mereka berkeliling sekitar pukul setengah tiga waktu gelap gulita, membangunkan sahur setiap umat muslim untuk menjalankan ibadah puasa. Aku bergegas bangun dari ranjangku dan menyusul Ibuku yang sedang sibuk membolak balikan masakan dengan spatula kesayangannya di dapur. Ibuku adalah wanita hebat yang kupunyai, anugerah dari Allah yang sungguh luar biasa hebatnya.  Ibuku bukan hanya Ibu rumah tangga, tapi beliau juga berkerja. Aku dan adikku terbiasa dari kecil tidak memiliki pembantu, hanya saja sampai usia 7 tahun ada pengasuh di rumah. Kini usiaku beranjak 21 tahun, dan adikku satu-satunya Ni’mah To Zahro berusia 16 tahun. Ya, kami hanya berempat di rumah. Ibuku sangat cantik, meski sering masak di rumah dan menyelesaikan pekerjaan rumah juga berkerja di salah satu perusahaan besar, tangannya masih halus lembut dan tubuhnya seputih susu. mungkin Allah Yang Maha Penyayang memberikan jelmaan bidadari dari surga terbaiknya untuk keluarga kecilku ini. Ayahku sangat bersyukur memiliki isteri cantik, sabar, penyayang dan luar biasa hebatnya seperti Ibuku.


 Sahabat, Ramadhan selalu dirindukan umat muslim setiap tahunnya. Bulan ini memang luar biasa. Allah memberikan keistimewaan pada bulan ini, sehingga dunia dan seisinya mencintai bulan ini, termasuk aku. Sebagai seorang muslimah, aku patut bersyukur karena Allah menciptakan bulan seindah ramadhan. Aku bergegas mencuci muka dan membantu Ibuku menyiapkan santapan sahur. Mengisi tempat nasi dengan butiran nasi putih yang hangat dan bergizi yang sengaja Allah ciptakan di dunia ini, menyiapkan piring dan sendok  serta garfu yang bersih di meja makan, menyediakan tisu dan serbet, mengisi air putih ke dalam teko, dan membawa satu teko berisi teh manis hangat yang insyaallah menguatkan kita menjalani hari-hari  puasa, membawa piring-piring masakkan Ibuku, sementara Ibuku membangunkan Ayah di kamar.
Kami hanya berempat di rumah, Alhamdulillah meski berempat Allah memberikan kedamaian di rumah ini. Kadang terselip canda tawa saat sahur, apalagi ada saja yang dibahas di antara kami saat acara tv menemani sahur kami. Ya, Robb terimakasih karena cintaMu sungguh terasa di rumah ini. Semoga kebahagiaan ini selalu ada sampai aku tua nanti, dan izinkan kami selalu bersama di dalam surga terbaikMu nanti. Aaaaaamiin Ya Rabbal alamiin.
Di bulan ini, kita berpuasa, taraweh, dan tadarus. Bulan ini sungguh luar biasa mengajarkan kita untuk lebih dekat kepada Allah, Zat Pemilik langit dan bumi serta segala isinya dan Rosulullah SAW yang menuntun kita kepada jalan yang lebih baik . Ramadhan memiliki makna luar biasa yang mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik, mengajarkan kita untuk menahan lapar dan dahaga, bahkan menahan amarah dan hawa nafsu. Bulan ini sungguh bercahaya, karena Allah menyiapkan pahala berlipat ganda yang istimewa bagi hambaNya yang mempergunakan bulan ini dengan baik.
Aku berkerja sebagai seorang teller di sebuah Bank Swasta terbesar di Asia, dan bertugas di KCU Tanjung Priok, tepatnya di Jl. Enggano. Pagi ini, 26 Juli 2013, saat aku menuju ke kantor, aku melihat seorang Ibu setengah baya di halaman depan masjid di sekitar terminal Tanjung Priok sedang mengatur anak-anak kecil usia 4-5 tahun untuk berbaris, mungkin sedang ada acara pembelajaran islami untuk anak-anak kecil tersebut. Sungguh sangat repot menertibkan anak-anak kecil menggemaskan yang tingkah lakunya tak bisa diam, saling menjahili sesama, bercanda, berlari-larian ke sana kemari, melompat, bahkan ada di antara mereka yang sedang menangis. Ya, Tuhan .. pasti Ibu setengah baya yang aku lihat itu diberikan kesabaran yang ekstra oleh Allah untuk menjalankan amanah sebagai seorang guru TK. Subahanallah. Apalagi di bulan ramadhan ini, Ibu itu pasti lebih bersabar lagi dan lebih tulus lagi menertibkan mereka. Salut untuk guru-guruku.
Masih di hari yang sama, ramadhan rupanya mengundang lebih banyak nasabah, karena menjelang lebaran mereka mempersiapkan rekening yang siap menyimpan uang THR atau uang-uang yang mereka dapat Ied fitri nanti. Mereka mulai sibuk menabung, tarik tunai jumlah besar, atau bahkan perwakilan dari perusahaan untuk payroll gaji, dan payroll Tunjangan Hari Raya. Tapi, yang tidak bisa dijawab adalah mengapa kekuatan dan kefokusan aku di ramadhan ini lebih besar dari hari-hari biasanya. Subahanallah, ramadhan sungguh luar biasa cahayanya. Jam layanan Bank sampai dengan setengah 3 sore, namun karena banyaknya nasabah tutup counter jam 3 sore.
Sepulang kantor, menuju ke rumah aku melihat Pak pos dengan tas selempang dan helm yang masih terpasang di kepalanya, meninggalkan motornya di samping masjid dan masuk dari gang satu ke gang lainnya  mencari alamat seperti ayu ting ting. Subahanallah, sementara yang lainnya sibuk mempersiapkan hidangan berbuka, antre beli ta’jil, pak pos masih berusaha meyampaikan amanah yang diembannya. Ramadhan sebagai bulan yaang bercahaya tentunya akan memberikan cahaya kepada pak pos itu. Aaaaaamiin.
Biji salak saja bisa nikmat dan kenyal disantap di bulan ramadhan. Hehe .. . Semoga amal Ibadah kita semua diterima oleh Allah SWT aaaaaamiin.
Selama sebulan penuh umat islam berpuasa, tentunya  menanti-nantikan hari kemenangan, hari akbar yang memutihkan diri kita. Seperti kertas putih yang belum tergores tinta hitam, kita semua seperti lahir kembali di hari itu. Semoga kita pantas mendapatkannya.
Tahun ini aku sekeluarga mudik ke Jawa, tepatnya di Seragen, tempat kelahiran jelmaan bidadari surga Allah yang keluargaku miliki, Ibuku. Bukan hanya mudik, tapi melepas rindu kepada nenek dan kakek juga saudara-saudara di sana. Rumah nenek ku sangat sederhana, bahkan bisa dikatakan belum sederhana. Alas rumahnya masih tanah yang setiap pagi kakekku memercikkan air agar debu tak banyak di dalam rumah katanya, dindingnya pun masih anyaman bambu yang ketika hujan dinginnya menusuk tulang, kamar mandi berada di luar rumah, masih menggunakanan sumur bahkan agak jauh dan harus menggunakan senter ketika malam kebelet pipis. Jarak ke warung atau pasarpun sangat jauh, harus ditempuh dengan sepeda. Biasanya untuk beli es batupun di warung, sepupuku Risma menggoes sepeda pink tinggi yang warnanya sudah mulai tidak pink lagi karena tertimpa debu-debu di sana. Di sini aku benar-benar merasa alami. Sejuknya pepohonan yang rimbun, suara nyanyian burung setiap pagi yang saling menyahut, terik matahari yang hangat, bebek-bebek yang mengiring anaknya untuk mandi di kali, ayam yang dari subuh berteriak seperti alarm, suara gesekkan tali timbaan sumur yang selalu digunakan mbahku untuk memenuhi air di bak-bak kamar mandi. Dan kelinci-kelinci putih yang menggemaskan yang berlari lari kecil di rerumputan. Subahanallah, sungguh indah Ya, Allah ciptaanMu. Semua itu ku rindukan.
Kami sekeluarga naik Bus ke sana dalam waktu sehari semalam. Mudik itu seru, meski macet tapi tv di dalam bus menghapus boring kami. Setiap perjalanan mudik, ada saja anak kecil lucu yang juga merupakan penumpang lain yang menemani kami. Kebetulan, keluargaku memang suka anak kecil. Canda tawa tak pernah habis di setiap kebersamaan kami. Apalagi Ayahku, sosoknya yang bijak, dan dibalik kumisnya yang tebal yang selama ini orang-orang pikir sangar, sebenarnya mengandung sifat humoris dan harmonis. Dalam perjalanan, setiap bertemu terminal besar atau Pom Bensin besar tempat beristirahat, bukan hanya sekedar mengisi bensin. supir dan para penumpang bergegas turun untuk shalat,  ke toilet, beli makanan kecil, atau pop mie. Tapi biasanya, ibuku selalu masak sebelum berangkat untuk dibawa menjadi santapan saat di perjalanan.
Entah mengapa ramadhan dan Ied fitri memiliki hawa dan keharuman tersendiri di hati setiap muslim. Ramadhan dan Ied fitri memberikan kedamaian, kesejukkan yang luar biasa. Semoga kita semua masih bisa merasakannya ya sobat muslim. Aaaaaamiin
Tangis haru pasti selalu ada saat Ied fitri. Setelah shalat Ied keluarga kami selalu bermaaf-maafan. Takbir yang berkumandang semakin membuat hati bergetar liriiiih .... Butiran air hangat dari mataku tak dapat tertahan lagi, bergulir dan membasahi pipi ketika hidung ini mendarat di punggung tangan kedua orang tuaku. Mencium Ayah dan Ibu, memeluk dan mengucapkan terimakasih.
Semoga kita kembali putih bersih di hari raya setelah sebulan suci kita lewati, aaaaamiin ...

Komentar

share!