Bulan Mei Tahun 2016




Karya:  Orhie Tosca


Mataku melongo melihat tiga huruf diselingi koma pada layar laptop. Ya... mataku masih sehat, tidak ada sakit sedikitpun pada penglihatanku. Namun, yang kulihat sungguh diluar dugaan. IP sementaraku yang memegang teguh Magna Cum Laude  selama beberapa semester yang lalu tiba-tiba akhir semester ini berubah menjadi satuan nilai bulat tanpa angka setelah koma. IP ku Summa Cum Laude, atau sempurna. Beberapa sujud syukur dan ucapan hamdalah berkali-kali bapak panjatkan. Ingin rasanya langsung ku bersorak kegirangan melihat betapa tak terduganya hal ini. Ahhh... mimpi bodoh itu selalu bermunculan. Ya Allah.. 



“Ciyeee.. yang kamlod rek ipe ne..” Tiba-tiba adik kelas SD memergokiku setelah merapikan karpet mushollah selepas sholat subuh berjama’ah.

“Loh tau dari siapa Sin?” tanya saya sambil tersenyum kecut menahan gemas.

“Itu ibuk sampean ngasih tau.”

“Loh kapan?”

“Waktu aku sama mbak Bunga data zakat ke rumah pean. Ibuk pean yang ngasih tau kalo ipe pean segitu. Wah wah.. teraktiran e reek!!!” Hahaha... aku hanya bisa tertawa getir. Ahhh.. ibu berulah lagi.

***

Bagaimana ceritanya jika kedua orang tua kita suka gosip mengenai Aib anak mereka sendiri didepan saudara kita atau didepan keluarga kita yang lain? Setelah kita sadari beberapa orang pun menertawakan kita bahkan sempat beberapa kali menggoda tanpa kita tau apa gerangan yang sudah mereka dapatkan dan siapa dalang dari semua ini? Ini kisahku, perjalanan melow-nya nasib dan keberuntunganku.

Ada beberapa bagian kebahagiaan di dunia ini yang tidak bisa kita terima setelahnya, pertama kebahagiaan itu tidak dapat kita bagi kepada sesama, kedua kebahagian itu sendiri merelakan kita untuk tidak membaginya kepada orang lain. Aku mahasiswa rantau di PTS di kota Malang, meskipun hanya berbeda kota dan masih dalam satu propinsi di Jawa Timur.

“Buk, Aku gak bisa wisuda februari. Januari sampai februari aku masih ada KKN.” Suara medok diseberang pun hanya mengiyakan tanpa membalas dengan baik apa yang dapat kusampaikan. “In Shaa Allah wisuda Mei ya kalo emang bisa kalo enggak ya Agustus aja, doain loh.. awas!” imbuhku sambil mengancam ibu melalui sambungan luar kota itu beberapa minggu sebelum Ramadhan, ku sanggupi hanya melewati telfon dan beberapa pesan singkat. Beberapa sahabat pun juga menyanggupi demikian pada keluarga masing-masing.

“Loh udah pulang?” saya hanya menjawab dengan anggukan dan senyum seadanya menaggapi pertanyaan tetangga atau sanak keluarga. Beberapa lebih bertanya berapa lama waktu liburan untuk semester ini ketika mereka memergokiku beberapa kali melenggang keluar rumah meskipun hanya sekedar untuk sholat berjama’ah di mushollah terdekat diawal-awal Ramadhan.

“Wah sudah semester enam?” sebagian ada yang masih kaget mendengar penuturanku perihal semester berapa yang sudah ku tempuh.

“Loh iya ini mau wisuda Mei tahun depan, kuliahnya singkat gak sampai empat tahun.” Bukan kecewa wisuda diundur tiga bulan setelahnya, kali ini ibu malah semakin semangat mengolah kata semanis mungkin. Karena yang kukabarkan terakhir kali hanya IP sementara dengan nilai seadanya tanpa satu matakuliah belum terunggah. Argghh... orang tua macam apa ini.

Pernah juga suatu ketika kudapati pesan terkirim dari ponsel pribadi bapak yang mengatakan kepada paman terdekat bahwa nilaiku sempurna. Beberapa kali paman menyanggupiku bahkan menyuruhku untuk menimba ilmu lebih dalam lagi. Satu hal yang diinginkannya, keponakannya menjadi seorang dosen pertama di desa. Iya... meskipun desa kami tergolong besar dan tidak seperti kampung kebanyakan namun jumlah masyarakat disekitar mendominasi sebagai butuh pabrik dan petani. Meskipun ada beberapa yang menjadi tenaga pendidik namun tidak sama halnya dengan dosen sebuah universitas.

Untuk kali ini saya ingin berteriak histeris, mengetahui pengumuman orang tua kepada beberapa tetangga atau keluarga terdekat mengenai acara wisuda anak perempuan satu-satunya ibu bapak akan dilaksanakan bulan Mei tahun depan. Padahal mereka pun tidak akan pernah mengetahui dibalik Cum Laude tersebut ada semacam kegetiran yang menyala menjadi ketakutan dalam beberapa minggu awal Ramadhan, karena kenyataannya terakhir kali saat kulihat kartu hasil studi sementara via online pun cukup mencengangkan. Meskipun IP sementaraku menunjukkan angka diatas Magna Cum Laude dengan sederet huruf A berjejer rapi dari urutan kedua hingga terakhir matakuliah pun aku masih belum menyadari tentang nilai yang saya dapatkan. Saya masih belum yakin akan wisuda bulan Mei tahun depan. Masalahnya hanya satu matakuliah yang belum keluar, dan itu pun saya masih harus harap-harap cemas menanti terunggahnya nilai selanjutnya. Ketakutanku semakin menjadi ketika bayangan nilai akan ditangguhkan karena salah satu syarat keluarnya nilai tidak terpenuhi selama kuliah.

Alasannya,mungkin benar ketika salah satu syarat perkuliahan kita tidak terpenuhi maka nilai akan ditangguhkan atau tidak diunggah kedalam situs KSM online, dan hasilnya nilai akan keluar ketika semester genap tahun depan yang mana akhir tahun ajaran semester genap yang nyatanya melampaui bulan Mei meskipun telah  kuperbaiki syarat-syarat yang belum terpenuhi. Itu artinya aku akan menunda wisuda dan menunggu hingga bulan Agustus untuk wisuda dan itu termasuk salah satu ketakutan terberat bagiku. Bagaimana tidak? Orang tua sudah berkali-kali menyanggupi bahkan sudah mengatakan pada beberapa sanak famili bahwa wisudaku akan diadakan pada bulan Mei tahun depan. Dan itu artinya mau tidak mau semester ini harus tidak ada yang boleh terlambat satu matakuliah pun.

Ada sedikit kelegaan yang tersirat dihati, ketika Fitri temanku mengabarkan bahwa nilai satu mata kuliah kelasku belum semua keluar, dan hanya kelas Fitri dan beberapa teman yang berlainan kelas denganku yang sudah terunggah. Namun kekhawatiran masih tak dapat menghilang. Banyak doa dan harapan yangku panjatkan, hingga beberapa kali kutanyakan pada Fitri mengenai persyaratan nilai yang tertangguhkan.

“Nyantai Ia’, teman-teman lain malah banyak yang kurang memenuhi syarat pun nilainya tetap keluar.”

“Yakin Fit?” Beberapa kali Fitri meyakinkan. Meskipun masih ada kehawatiran namun beberapa doapun tak pernah putus dari mulutku karena kutau doa orang yang sedang berpuasa akan diijabahi oleh Allah.

Beberapa hari setelahnya, kudapati pesan dari teman yang lain bahwa nilai terakhir kelas kami sudah terunggah. Tanpa berpikir panjang meskipun masih memiliki sedikit ketakutan akhirnya kuberanikan diri melihat nilai via Online. Dan diluar dugaan, IP sementaraku berubah menjadi satuan nilai bulat tanpa angka setelah koma. IP ku secara ajaib berubah menjadi Summa Cum Laude, atau sempurna.

Akhirnya tidak lagi kekhawatiran mengenai pengumuman ibu yang menyatakan aku akan wisuda bulan Mei tahun depan. Namun, aku juga masih tak habis pikir mengenai betapa ceroboh dan tidak manusiawinya kelakuan orang tua meskipun itu semua memiliki unsur kebahagiaan dan doa.

***

“Loh cepet ya? Kok bisa cepet gitu?” Tanya kakak sepupuku ketika mengetahui bahwa aku sudah memprogram skripsi untuk semester ganjil setelah ini.

“Iya ini loh nilainya bagus-bagus, yang terakhir ini aja sempurna.” Wah.. wah gak bisa dibiarkan. Batinku melengos dan langsung menjauh menenangkan diri. Skripsi belum dikerjakan pengumuman wisudanya sudah dimana-mana dan kepada siapa-siapa.

“Buk, kalo aku kuliah lagi setelah ini meskipun dapat beasiswa tapi beasiswanya 60% gak apa ya?” tanyaku suatu ketika ditengah-tengah suapan nasi menu berbuka.

“Emmm... gak papa, yang penting dapat beasiswa.”  Sambil mengunya makanannya, kulihat raut wajah ibu sedikit memikirkan beberapa pertimbangan. Horeeeee !!! di dalam hati aku bersorak kegirangan, namun masih dalam kesan menanggapi dengan tenang.

Hasil ini pun tak pernah luput dari kesalahan demi kesalahan perjuangan selama kuliah satu semester. Bolak-balik memperjuangkan satu matakuliah lapangan dengan sebuah instansi pendidikan di kota Malang, bolak-balik menenteng laporan Praktikum kepada dosen pembimbing yang akhirnya hanya dicoret dan diperbaiki, ribuan kertas bahkan tak ternilai lagi jika di habiskan hanya dengan pengumpulan naskah, bolak-balik tinta printer habis, belum lagi ketika bocor dan harus mengganti dengan yang baru, uang habis di tengah bulan hanya untuk membeli kertas dan bolak-balik terjun lapangan untuk matakuliah lainnya. Nasibku juga sempat berujung pada pertaruhan nyawa, meskipun tak memiliki kendaraan bermotor dan kemanapun harus memakai jasa angkutan umum tak berarti aku tak pernah luput dari beberapa kecelakaan meskipun kecil. Hanya saja itu tak pernah menjadi masalah, menimang betapa ruwet dan kerasnya perjuangan yang tak pernah kukeluhkan piluhnya.

Setelah sampai rumah pun nasib baik masih setengah-setengah memihakku. Karena ketika Minggu kedua Ramadhan kesehatanku melemah selama satu minggu lebih, akibatnya sebagian badan terasa memiliki otot yang lebih pendek dari biasanya. Dari pinggang belakang hingga ujung kaki terasa ngilu, seringkali kumenangis malam hari ketika tak sadar bangun dari tidur dalam keadaan kesakitan yang teramat. Betapa malang nasib yang menimpaku, sambil beberapa kali tanganku tanpa sadar memijit-mijit daerah pinggang hingga betis kaki sambil menduga mungkin Allah bicara lain agar aku tetap bersyukur meskipun sudah berhasil mendapatkan rentetan huruf A. Beberapa hari dirundung kegalauan tentang nilai tersebut juga tentang sakit yang kuderita tak kunjung membaik. Beberapa doa kupanjatkan agar mendapat kesembuhan dan dapat diperbaiki nilai. Hingga keajaiban itu pun menjadi nyata. Sakitku terbayarkan dan tak pernah kuduga sebelumnya aku bisa meraihnya tanpa mengeluh. Karena kutahu Allah akan merangkul setiap mimpi-mimpiku untuk menjadi Sinar orang tuaku, karena arti namaku Sinar Keberhasilan.

Komentar

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus

Posting Komentar

Silakan berkomentar :)

share!