(BUKAN RAMADHAN)




Karya: Gelora Kalam

Santri itu sering menghabiskan sebagian bulan ramadhan di pondok,tapi baru sekarang pondok itu begitu bermakna baginya,karena peristiwa yang tak pernah terjadi sebelumnya,saat itu datang padanya,keluarga pondoklah yang menjadi saksi akan semuanya.ketika itu,dia sudah selesai ujian nasional di madrasah tsanawiyah.semua teman-temannya optimis dengan rencana mereka masing-masing.sedang dirinya berencana melanjutkan ke pondok pesantren mambaul ulum bata-bata.sementara itu umur adiknya hampir genap dua tahun yang kemudian di pasrahkan ke saudari ibunya karena akan menyusul sang ayah ke negeri malaysia.


Menjelang bulan puasa,dia berubah.tidak seperti biasanya,di kelas,di pondok,kamar,dan di tempat yang lain tidak seperti dulu lagi.seakan ada sesuatu di balik itu.kebingunganlah yang dia dapatkan,baik terhadap tingkahnya atau tingkah orang lain kepadanya.dia yang tak pernah menangis saat berdiskusi dan berdiri di hadapan teman-teman,entah mengapa air matanya menetes saat mengatakan hal-hal yang berkaitan dengan perjuangan di depan mereka.kemudian setelah kejadian itu,mereka enggan mendekatinya.
 Untuk menghilangkan kejenuhan yang dia alami,dan demi kesabaran hati terhadap masalah-masalah yang terjadi,dia pergi ke sumur tua,di tenggaranya pondok itu.malam yang sangat sepi,tapi dia tak peduli terhadap apa yang pernah di dengar dari santri-santri mengenai keanehan yang berlaku di sumur itu.di sana,sambil terlentang di atas tanah,dia menatap rembulan yang tersenyum padanya,mengadukan semua masalah pada yang maha kuasa sambil menikmati keindahan ciptaannya.mulai dari rencana kursus b.arab selama bulan puasa ke darul lughag,dan rencana mondok ke bata-bata,yang keduanya tertunda.sedangkan dia sudah menyampaikan hal itu kepada orang-orang terdekatnya.akhirnya dia merasa malu kepada mereka dengan keadaan itu,khawatir mereka menganggapnya tak dapat di percaya,pembohong,dan sebagainya.kemudian di tambah lagi dengan kedua orang tuanya yang sedang jauh merantau,membuat dia sering sedih dan melamun.terus adiknya yang masih batita terpaksa tidak menerima kasih sayang sepenuhnya dari sang bunda.kerena baginya kasih sayang bunda lebih berarti dan bernilai tinggi dari pada orang lain yang sedang mengasuh seseorang.malam semakin larut,akalnya mulai menerima terhadap apa yang terjadi,dan hatinya mulai sabar menghadapinya.dia berpikir tidak bisanya kursus,dan belajar di bata-bata sekarang,adalah jalan yang terbaik baginya,karena Allah tidak memberikan apa yang dia inginkan akan tetapi memberikan apa yang dia butuhkan,mungkin belum saatnya dia ke sana.sedangkan keberangkatan kedua orang tua adalah demi kebaikan bagi semuanya.bukan karena mereka berdua ingin menyakitinya,akan tetapi mereka ingin yang sebaliknya,yakni demi kakaknya yang sedang kuliah,dia yang hendak masuk madrasah aliyah,dan adiknya yang masih batita.ini adalah bentuk dari kasih sayang untuk memenuhi kebutuhan semua anak mereka.akhirnya,dia beranjak menuju kamar dengan memantapkan hati untuk mengambil hikmah dari semua cobaan ini.
Semua kelas sudah selesai dan santripun mulai kembali ke tempat mereka,siang itu dia hendak ke koperasi dengan temannya,sampai di tangga depan rumah paman kiai,dia bertemu dengan bibi adiknya nyai,bersama dengan neng keponakannya,mereka bertatapan.tampaknya, sebelum bibi itu menyapa,dia membisikkan sesuatu kepada neng itu. “tad rama mau pergi kemana?”sapa bibi padanya sembari tersenyum menunjukkan bercanda.dengan membalas senyum bibi itu dia menjawab “aku mau ke kopersi bi”.kemudian mereka pergi ke tujuan masing-masing.dan sampai sekarang dia penasaran dan bertanya-tanya tentang apa yang bibi bisikkan kepada neng itu,karena menurutnya beliau membisikkan sesuatu yang berkaitan dengan dia.
Beberapa hari kemudian dia mulai bingung lagi.ketika bulan ramadahan semakin dekat,lingkungan pondok itu semakin berubah bagi pandangannya,keanehan-keanehan mulai dia temui.dan diapun tak tentu arah.sat itu dia berpikir semuanya di sengaja oleh pengasuh pondok itu,paman kiainya.pokoknya pandangannya lain,bukan pandangan yang dulu,seperti bukan dia saja pada saat itu.salah satunya terjadi ketika hendak mengajar iktisyaf di kelas,dia menemukan tuisan yang menyinggungnya,dan dia tau siapa yang menulis.entah kenapa tulisan itu mengganggunya,yang seakan tak menghargai perasaannya.akhirnya,ketika malam tiba,dia menghanpiri penulisnya dan bertanya tentang hal itu,tentang hal yang menyinggungnya.“aku hanya ingin menjadi orang yang taqwa tad”dia mengakhiri pembicaraan dengan ustadz yang menulis di kelas itu.setelah kepergiannya,tampak ustadz itu heran dan bingung terhadap tingkah aneh santri itu,yang tidak seperti biasanya.
kemudian dia menuju tangga di madrasah aliyah,di sana dia melamun mengenai keanehan-keanehan itu,sedangkan listrik padam kembali,dan hampir setiap malam seperti ini.dan sebentar lagi akan berderu bunyi mesin diesel untuk menyalakan lampu di pondok itu.ini juga yang dia biarkan membebani pikirannya,menurutnya ini adalah kesengajaan untuk mencerobohinya.berperasangka seperti ini bukanlah dia yang dulu.walaupun hatinya tidak terima,tapi perasangka itu memaksa,dan memenuhi pikirannya,tak tahu apa yang menyebabkan dia seperti itu.
Malam berikutnya,Dia tertuntun untuk coba menemui embah nyai.dia berencana akan mengatakan hal yang sedang menimpanya.mulai dari dulu keluarga ini begitu perhatian kepadanya,selain karena kedua orang tua yang menitipkannya kepada mereka,juga karena mereka masih mempunyai ikatan keluarga dengannya.“assalamualaikum…”ucapnya di depan pintu.setelah tiga kali,barulah ada jawaban dari dalam“siapa?”suara dari dalam menghilangkan kekhawatirannya.kemudian dia menjawab “aku,embah nyai,,,ahmad ramadhan”.sambil keluar beliau bertanya apa tujuan dia pergi ke rumahnya,kemudian mulailah dia bercerita bahwa sedang bingung,dan pikiran tak tentu arah.“paman kiai dan bibi nyainya sedang keluar nak,dan untuk sekarang tunggu dulu”kata beliau sambil berjalan ke belakang.tidak begitu lama akhirnya beliau datang dengan gelas yang berisi air dan menyerahkan padanya dengan berkata “air ini minum dulu,nanti aku akan menyampaikan kepada paman kiainya”.akhirnya,dengan basmalah dia meminum dan berharap akan merasa lebih baik dengan kehendak yang maha kuasa.
Bulan puasa kurang satu hari lagi.Ketika dia sedang membantu teman-teman yang menggali sumur di depan pondok,yang mana canda tawa mereka berlangsung heboh dan seru,agar tetap semangat dalam bekerja.kemudian ada salah satu santri berkata bahwa dirinya di suruh pergi ke rumah embah nyai.akhirnya dia bergegas mengganti pakaian,dan merapikan penampilan.dirinya tetap sederhana,dengan jaket seragam perjuangan osis miliknya yang berwarna hitam,kaos yang terpotong di ketiaknya,dan jam yang di buat unik,yang pergelangannya mulai rusak,terus di ikat ke sleting yang tak terpakai,dan akhirnya menjadi kalung jam yang jelek dan aneh,tetapi cukup untuk di mamfaatkan menjaga waktu.sesampainya di sana,bibi nyai menanyakan tentang pembicaraan dengan embah nyai di malam sebelumnya.sambil duduk di sofa,dia tak menjawab tetapi hanya tersenyum.terus bibi nyai berkata “ini dia hanya tersenyum,pertanda sudah terkena sesuatu”.dia bingung mendengar ucapan beliau.dengan terpaksa dia meminum air yang di terima dari bibi nyai, setelah itu dia melemas dan tak ada kekuatan sama sekali untuk bergerak.tapi dia masih ingat saat di bawa oleh salah satu sopir paman kiai menuju rumah paman kiai.ketika di sana dia di bacai macam-macam,di mantrai,dan di laksanakan ritual-ritual berusaha untuk mengobatinya.seperti meliliti jemari kakinya dengan batang daun kelor yang di bentuk bulat.dia sedang mengamuk sejadi-jadinya.sedangkan bibi nyai mengucapkan bacaan dengan semakin keras,menutupi teriakan tak beraturan dari santri sekaligus keponakannya itu.sejak itulah keadaannya tersebar.
Kabar itu sudah terdengar di mana-mana,buah bibir masyarakat daerah itu adalah berita tentang stresnya seorang santri akibat amalannya.padahal bagi dia,ini bukanlah di sebabkan amal-amalan yang sering di bacanya sehabis shalat.karena dia sangat memahami terhadap apa yang dia baca,dan diapun memprolehnya bukan secara ghaib atau sebagainya.masih melekat di ingatan,ketika para gurunya menberikan amalan di kelas,atau dia yang meminta ke kamar gurunya.niatnya pun tidak melenceng dari ajaran agama,murni dia berdoa dan meminta kepada yang kuasa,tidak atas dasar yang macam-macam.jadi bagaiman mungkin bacaan itu dapat menyebabkan stres atau gila terhadapnya.dia hanya memohon yang semestinya di lakukan oleh seorang hamba.tidak mengamalkan hal-hal yang jarang,seperti bacaan agar bisa terbang atau menghilang,dan sebagainya,amalannya tidak seperti itu.
Di pondok itulah dia di rawat dan di usahakan untuk sembuh oleh paman kiai dan bibi nyainya,mereka membawanya ke tempat para ahli dalam bidang kestresan.dan sudah tiga tempat yang di datangi,tetapi belumlah ada hasil yang tampak mengenai penyakit santri itu.bahkan semakin mengkhawatirkan saja.
Siang itu saat yang lain berpuasa,dan beribadah pada yang maha kuasa,dia mencoba untuk lari ke tengah jalan sambil berteriak-teriak,tapi untunglah berhasil di cegah oleh bibi nyai yang mengasuhnya.kenormalannya mulai hilang.pernah dia telanjang di depan bibi nyai,ketika hendak mandi dengan air es,atas saran salah satu ahli yang sudah di temui sebelumnya.awalnya santri itu adalah pemalu,biasanya dia takkan berani melakukan tingkah yang demikian.karena di hari-hari sebelumnya dia sangat menghormati nyai itu,walaupun beliau masih bibi baginya.pernah juga suatu ketika dia buang air besar di rumah embah nyai,dan bibinya pula yang membersihkannya,padahal saat itu dia sudah tergolong dewasa.dan seandainya dia tidak sakit,maka dia akan membersihkan sendiri.
Keadaannya semakin mengkhawatirkan,dan memperihatinkan.bahkan paman kia pernah berkata bahwa dia adalah aib bagi pondok.sedangkan ada dari keluarga yang lain merasa kasihan dan iba terhadap dirinya,dengan menjenguk ke pondok itu.tetapi ada pula yang tak ingin kesembuhanya dan berkata “dia tak akan sembuh dari penyakitnya,dan dia akan terus gila disebabkan amalannya”.dia semakin bingung karena di sangka sedemikian rupa.selain sebelumnya sudah banyak pikiran tentang keluarga yang sedang merantau dan juga rencana yang belum terwujud,di tambah lagi dengan ucapan sebagai orang stres dan gila sebab amalan.bulan puasa yang dia lalui tak sesempurna sebelumnya,dia hanya berpuasa sekitar lima harian saja,tarawihnya tak begitu bermakna,tadarusnya pun demikian.dia tertekan dengan apa yang sedang terjadi.tak ada keindahan seperti di bulan puasa ketika diri dan lingkungannya masih normal,seakan bulan itu bukan ramadhan baginya.
Jumat ramadhan…
Siang itu..waktu hendak pergi ke tempat kiai yang ke empat dia tak lagi pergi ke masjid seperti biasanya,tetapi waktunya habis bersama penyakitnya,bahkan beberapa kali dia sudah pingsan dan di teriaki orang-orang di sekelilingnya,di sangka sudah menemui ajal.tetapi alhamdulilah,sesampainya di sana dia mulai menemukan ketenangan dan kenyamanan,pikirannya mulai teratur.yang sebelumnya dia seperti kesurupan dengan mata memerah.dan setiap anak kecil yang memandangnya akan menangis,atau anak kecil itu akan menjauh,karena takut pada tatapannya.sudah sering dia mengamuk,dan berteriak dengan kerasnya,bicara sendiri dan ngaur ke mana-mana tentang hal yang tak jelas.ketika pertama kali mengamuk baju gurunya sobek karena di terjang olehnya.sesungguhnya saat itu dia tak ingat apapun,dan tak menydari apa yang telah dia lakukan,jadi gurunya memaklumi hal itu.
Kamar itu akan di renovasi,makanya dia di pindah dari kamar sebelah rumah paman kiai menuju mushalla putri.dia menghabiskan sisa bulan ramadhan di tempat itu.dengan teman yang bergantian,kadang bibi nyai,kadang pula adik dari bibi nyai.kadang kakaknya dan terkadang keluarga yang lain.saat shalat tarawih hendak di mulai,dia secara tak sengaja menemui neng putri paman kiai di depan kamar mandi putri.dan siapa menyangka dia akan berani menyapanya dan bertanya-tanya tentang linkungan pondoknya yang di pamekasan.terakhir neng itu bertanya”sampean bagaimana yang mau mondok?”.“tidak  tahu neng,insyaallah ketika tiba waktunya”jawab dia sambil tersenyum semanis mungkin demi menarik perhatian sang neng.
Ramadhan memang benar-benar penuh hikmah.di balik cobaan yang terjadi,dia menerima anugerah yang tak terduga.yakni dia lebih dekat dengan keluarga di pondok itu,dan kesehatannya lebih terjaga.badannya begitu gemuk,tidak seperti biasanya orang sakit.semua kebutuhannya di perhatikan dan terpenuhi.secara itu,dia tak mungkin kekurangan gizi ataupun yang lain.karena keluarga ini sangat perhatian padanya.
Ada beberapa keluarga pondok itu yang hendak pergi berumrah ke tanah suci,dan pagi itu dia di ajak oleh bibi nyai untuk mengantar ke bandara juanda.“Mari ikut nak,ummi ingin ajak kamu refreshing”ucap beliau.Dia tak berani menjawab saat itu,karena dia mulai membaik.dan pikirannya mulai sempurna.perasaan malu sedikit demi sedikit mulai bersamanya,dan dia mulai kembali menghormati bibi nyai itu.
Sesampainya di bandara,mereka berjalan-jalan,ini adalah yang pertama kali.dan akhirnya,tibalah waktu dhuhur.mulai dari dulu dia canggung dengan keluarga ini,merasa salah tingkah dan tidak enak di dekat mereka,karena menurutnya walaupun masih keluarga,mereka tetap termasuk gurunya.ketika selesai shalat dia di suruh bersama bibi nyai yang sedang bersama neng putrinya.dia menunduk di atas sofa itu,sesekali menoleh ke arah lain coba mencari pemandangan untuk menenangkan perasaan.“ini kalau mau pakek”tawar neng itu kepadanya dengan memperlihatkan sebuah botol yang di pakainya tadi.“tidak,terimakasih”dengan seutas senyum dia menjawab penawaran itu.
ketika malam tiba,setelah selesai berbuka puasa semua pengantar beranjak pulang.tetapi rombongan mereka tidak langsung menuju pondok.bibi nyai berencana untuk menemui salah satu ahli yang ada di bangkalan.perjalanan ke tempat itu berlangsung lama,dan terdengar bahwa dia akan diterapi pikiran kepada ahli itu.sesampainya di sana mereka di terima dengan ramah tamah oleh keluarga kiai yang juga mempunyai ular besar.yang katanya datang sendiri kepadanya.Singkat cerita,kemudian kiai itu bertanya siapa yang akan terapi,akhirnya bibi nyai menyerahkan sang santri keponakannya.sang kiai mengambil ular miliknya,terus melilitkan pada santri itu,dia berteriak ketakutan.sementara sang pemilik membaca sesuatu sambil bersila,sedangkan ularnya terus bergerak di leher sang santri,yang kemudian masuk ke dalam rumah pemiliknya. rombongan itu melaksanakan ibadah sahur di sana.
Tanpa terasa sudah pertengahan bulan puasa.di masjid-masjid mulai shalat witir disertai doa qunutnya,begitupun di pondok itu.dan santri itu mulai merasakan nikmatnya bulan puasa dengan kedatangan kedua orang tua yang tanpa di sangka olehnya.malam ini mereka bersamanya.kemudian besok dia akan kembali ke rumah dengan mereka.
Pagi itu,saat semuanya berkumpul di rumah paman kiai,sebelum dia pulang kerumah.keluarga itu berbincang-bincang mengenai banyak hal,sampai tentang penyakit santri itu.bibi nyai berkata kepada ibu santri itu“alhamdulilah mbak,ramadhan sudah sembuh dari penyakitnya,dengan idzin yang kuasa.” “dan kejadiannya juga di bulan ramadhan”tambah beliau dengan nada bercanda. “siapa sih dik,yang mengatakan penyakit anakku takkan sembuh,mungkinkah dia tak percaya pada kekuasaan Allah?”balas sang ibu dengan intonasi pertanyaan yang tak memerlukan jawaban.lantaran jengkel pada orang yang beranggapan seperti itu.“biarlah mbak,kan yang penting ramadhan sudah membaik,dan kamu nak ramdhan,,,jangan sampai berani macam-macam,apa lagi kepada kami,karena kami sudah mengetahui tentang kamu,bahkan seluk beluk kamu”ucap bibi nyai,sambil tersenyum.dan yang lain ikut tersenyum.kemudian adik bibi nyai menambah “kami sudah tau bentuk dari punya kamu itu rama…”setelah mendengar itu,pembicaraan semakin hangat,dan mereka semua tertawa.sedangkan ramadhan hanya tersenyum dan tersipu malu.beberapa saat kemudian ayahnya berpamitan untuk pulang ke rumah.saat bersalaman,ramdhan dan neng putri paman kiai berpandangan,tetapi mereka saling malu,yang akhirnya hanya berbuah saling senyum.setelah selesai semua,berangkatlah mereka pulang ke rumah dengan kendaraan milik kakaknya.
Keluarga di rumah sudah menunggu kedatangan mereka.di sana mereka di sambut dengan hangat disertai hubungan kekeluargaan yang erat.begitu pula ramadhan,walaupun tidak pergi jauh sepeti kedua orang tuanya.tetapi kehadirannya juga di nantikan oleh keluarga ini.dan mulai saat itu dia hidup seperti biasanya,berinteraksi dengan normal kembali. lngkungannya juga mengetahui bahwa dia sudah membaik.sampai bulan puasa berakhir,di ikuti perayaan idul fitri,dan seterusnya.terkadang anugerah Allah tidak sesuai dengan harapan,tetapi sesuai dengan kebutuhan.akhirnya ramadhan semakin berhati-hati untuk menjadi orang yang lebih baik,dan tak ingin mengecewakan siapapun,bahkan dia ingin membahagiakan keluarganya,terutama kedua orang tua,dan keluarga di pondoknya.
Tegal,11 Ramadhan 1436 H

Komentar

Posting Komentar

Silakan berkomentar :)

share!