Buka Puasa Bersama di Kampung Terakhir Gunung Raung




Karya:  Rhoshandhayani KT

 Malam ini adalah malam terakhir menuju bulan Ramadhan. Aku dan teman-teman sedang berkumpul di Kafe Kopi untuk melaporkan kegiatan penyebaran 100 seragam dan buku tulis ke 10 SD marginal di pelosok Jember. Kami menyerahkan hasil dokumentasi sebagai bukti bahwa bantuan tersebut telah kami sampaikan dengan baik kepada pihak terkait. 



Sambil melihat-lihat foto di laptop milik Farid, aku tertegun ketika ada sebuah foto tentang sekolah yang berdinding kayu. Aku tidak percaya kalau di Jember masih saja ada SD  separah ini. Menurut pengalamanku berkeliling Jember untuk mencari SD-SD marginal dalam berbagai kegiatan, hampir seluruh SD sudah memiliki bangunan berdinding batu bata meski dengan jumlah kelas yang sedikit dan fasilitas yang kurang memadai.

“Farid, ini beneran bangunan SD?” tanyaku dengan rasa tidak percaya.

“Iya, benar. Itu di Slerok,” jawabnya singkat sambil menyeduh kopi toraja.

“Slerok? Di mana itu?” tanyaku lagi.

“Daerah Ledokombo, Ca…” sahut Yova sambil memainkan handphonenya.

“Ah, masa’ sih Yov?”

“Iya. Tepatnya di lereng Gunung Raung,” lanjut Yova.

“Oh, keren ya,” sahutku berceletuk. Bagiku, SD marginal yang keren adalah SD yang sulit dijangkau dan sangat terabaikan oleh pemerintah.

“Kamu ngantarkan seragam ke sana?” tanyaku penasaran.

“Yup, betul. Aku sama Farid ke sana hari Selasa kemarin,” jawab Zilla.

“Kita buber di sana yuk,” ajak Farid tiba-tiba.

“Buka puasa bersama?” tanya Arini memastikan.

Farid mengangguk pasti. Ia yakin akan mengadakan buka puasa di sana.

“Ayo,” sahut Holidi berapi-api yang disusul dengan anggukan kencang dari Udin.

“Aku sih iya-iya aja, asalkan ada yang boncengin, hehehe….” Kata Zilla.

***


Buka puasa di Slerok? Menarik sekali ya? Bisa mengecek langsung kondisi SD tersebut, apakah memang berdinding kayu dan apakah memang benar hanya memliki 2 kelas dan 1 guru? Siapa sih yang percaya? Di zaman yang serba ada ini, masih ada saja potret SD yang tidak layak seperti itu.

Rasa penasaran membuatku bergegas mengambil samartphone untuk browsing di internet. Seperti yang dikatakan Farid, nama SDnya adalah SD Slateng 2. Aku cari via google dan ternyata memang benar. Ada gambar-gambar sekolah yang berdinding kayu. Aku baca juga keterangan tentang sekolahnya.

Akupun penasaran dengan artikel yang membahas tentang SD tersebut. Ternyata artikel tersebut ditulis oleh Cak Oyong. Nama Cak Oyong familiar sekali di ingatanku. Ternyata dia juga relawan muda Jember, sama sepertiku. Kami pernah berdiskusi dalam rangka hari relawan internasional yang diadakan akhir tahun lalu.

Sudah ada bukti tersurat yang ditulis oleh Cak Oyong di internet tentang betapa mirisnya SD Slateng 2. Jika sekolah berdinding kayu terletak di daerah Sulawesi, Nusa Tenggara ataupun Papua, mungkin sudah menjadi hal lumrah sebagai bukti belum maksimalnya pendidikan jenjang sekolah dasar di Indonesia. Namun SD ini terletak di kota Jember yang memiliki banyak universitas swasta serta satu universitas negeri yang bernama Universitas Jember. Mungkin lebih terasa pedih apabila aku menyebutkan bahwa SD ini terletak 45 km dari Universitas Jember, tempatku menempuh pendidikan S1 sekarang ini.

Ah, rasa-rasanya berat jika berbicara tentang pendidikan. Pak Anies Baswedan baru setahun mengurus pendidikan negeri ini, tidak bisa menyalahkan beliau secara sepihak karena masalah pendidikan Indonesia adalah permasalahan seluruh rakyat Indonesia yang terdidik. Sebagai menteri,  beliau tidak akan sanggup menata pendidikan Indonesia apabila bekerja sendirian. Dibutuhkan para relawan yang siap jiwa raga untuk mengulurkan tangan membenahi pendidikan bagaimanapun caranya. Seperti semboyan yang sering dilontarkan beliau, “Melihat lalu lipat tangan atau melihat lalu turun tangan.”

***


“Aktivitas vulkanik Gunung Raung di Jawa Timur terus mengalami peningkatan. Saat ini PVMBG Badan Geologi telah menetapkan status gunung yang berada di perbatasan Banyuwangi, Bondowoso dan Jember menjadi Siaga III. BPBD meminta agar masyarakat tidak melakukan aktivitas di radius 3 km dari puncak kawah. Demikian laporan terkini yang dapat kami sampaikan.”

Aku langsung panik ketika mendengar kabar tersebut dari program berita yang disiarkan di televisi. Segera aku mengambil smartphone dan mencari kontak grup khusus buka puasa bersama di aplikasi whats app.

“Ini jadi ke Raung?” tanyaku di grup.

“Kan Raung cuma flu, Caaaa…” sahut Zilla.

“Yang siaga itu daerah yang radiusnya 3 km dari kawah. Sekolahnya 6 km dari kawah. Jadi aman-aman saja,” jawab Farid.

Hah? Aku kaget karena aku baru tahu kalau sekolahnya terletak 6 km dari kawah. Itu SD wujudnya bagaimana sih? Kok tragis sekali?

***


13.30 wib.

Seharusnya kami berangkat jam 1 siang tadi, namun apa daya masih banyak hal-hal yang harus kami bereskan secara matang agar tidak ada barang yang tertinggal. Untuk 7 orang, kami hanya menyiapkan 3 sleeping bad, 1 matras dan 1 selimut.

“Kita nggak butuh tikar?” tanya Holidi.

“Gampang, tinggal pinjam ke warga,” jawab Farid.

“Tenang, semua perlengkapan sudah diatur sama bos Farid,” celetuk Udin sambil bermain gitar.

Kami juga membawa nesting untuk memasak menu buka puasa dan sahur esok dini hari. Tomat dan cabe sekilo juga telah kami siapkan. Mie, telur dan 70 lele goreng telah masuk ke dalam tas. Perlengkapan yang kami bawa cukup banyak, seakan-akan menginap selama 3 hari di gunung. Padahal lokasinya masih dekat dengan pemukiman warga.

“Ayo berangkat,” seru Zilla.

Semua perlengkapan sudah beres dan tidak akan ada yang tertinggal. 1 sepeda motor trail dan  3 sepeda motor bebek siap menjadi alat transportasi kami menuju lereng Gunung Raung. Perkiraan durasi waktu perjalanan kami sekitar 100 menit apabila mengendarai dengan santai.

Jarak jalanan beraspal yang kami lalui dari pusat kota adalah sekitar 20 km sampai kecamatan Ledokombo. Ketika sampai di Slerok, aku terkejut ketika harus melalui pematang sawah. Memangnya separah inikah akses menuju SD Slateng 2? Ternyata jalanan pematang sawah tersebut adalah akses terdekat daripada harus berputar apabila mengikuti jalan aspal lanjutan. Dari pematang sawah tersebut, aku melihat dengan jelas Gunung Raung yang mengepul dengan asap hitamnya. Masya Allah…

Kami masih harus menempuh perjalanan sekitar 10 km untuk masuk ke wilayah hutan. Separuh jalan yang kami lalui masih terdapat banyak rumah sederhana, sampai separuh sisanya hanya berisi kebun tebu. Jalanan tidak beraspal, hanya tanah tandus dengan batu berserakan. Musim kemarau juga mendukung ketidaknyamanan perjalanan kami. Banyak debu yang serupa pasir sibuk berterbangan mengikuti kami sampai masuk ke kawasan gunung Raung. Namun hal ini tidak menjadi kendala bagi kami untuk tetap berpuasa di bulan ramadhan.

Dari jalur masuk Gunung Raung, kami disambut pohon pinus yang berjajar rapi dan rapat. Cuaca sudah mulai dingin dan jalanan semakin parah. Bertanah tandus, batu tak beraturan juga bertebaran sembarangan dan jalanan yang menanjak semakin menyulitkan perjalanan kami menuju SD Slateng 2. Aku harap-harap cemas kepada Holidi yang memboncengku selama perjalanan ini. Aku benar-benar khawatir, takut jatuh karena kalau jatuh, pasti sakitnya minta ampun melihat kenyataan jalanan berbatu seperti ini.

Setiap 2 km perjalanan, kami mendapati sebuah kampung yang terdiri dari belasan rumah. Rumahnya terbuat dari kayu, seperti pondok yang ada di dongeng Putri Salju. Aku baru melihat rumah kayu seperti ini secara real. Ternyata benar-benar ada di dunia nyata, aku serasa bangun dari mimpi.

Sampai akhirnya kami telah melewati 4 kampung, namun belum sampai juga.

“Nyantai, Caaaaa…. Sebentar lagi sampai kok,” teriak Zilla yang meyemangatiku.

Kami pun tetap melaju melewati jalanan berbatu yang tak tahu aturan. Pemandangan kanan kiri kami hanyalah pohon pinus yang diselingi dengan kebun kopi. Seharusnya Gunung Raung jelas terlihat di mata, namun pepohonan yang menjulang tinggi menjadi penghalang kami untuk melihat keeksotisan Gunung Raung secara dekat.

“Allahu Akbar… Allahu Akbar…”

Suara adzan ashar mulai terdengar, menandakan bahwa sedikit lagi kami sampai ke perkampungan. Aku berharap, semoga sebentar lagi adalah kampung yang di dalamnya terdapat SD Slateng 2.

Benar sekali! Mataku terpana tak kuasa ketika melihat sebuah kampung yang indahnya luar biasa. Terdiri dari belasan rumah unik yang berkayu. Kamipun berhenti di salah satu rumah warga untuk melepas lelah.

Ini adalah pertama kalinya aku datang ke sebuah kampung yang berjarak 6 km dari kawah gunung. Kampung ini juga disebut kampung terakhir. Halaman tengah yang dimiliki kampung ini sungguh sangat luas, biasanya digunakan sebagai lahan parkir mobil yang pemiliknya akan naik ke kawah melalui jalan setapak berbatu. Kampung ini juga bisa disebut pemberhentian terakhir menuju Gunung Raung melalui Kabupaten Jember.

Gunung Raung memang sedang siaga 3. Namun abu vulkanik tidak terasa di kampung terakhir ini karena angin membawa abu vulkanik ke arah timur, yaitu Banyuwangi. Aku bersyukur, kami tiba di kampung terakhir Gunung Raung dengan keadaan selamat dan tidak berkurang satupun.

Kini aku sedang berada di depan salah satu rumah warga yang sering bekerjasama untuk membantu segala aktivitas yang berkaitan dengan SD Slateng 2. Rumahnya hampir sama dengan rumah warga lain. Rumah-rumah di lereng Gunung Raung berdinding kayu, beralaskan tanah dan tidak memiliki jendela. Dinding rumahnya berwarna alami, yaitu warna kayu.

Listrik dari PLN tidak masuk ke kampung ini karena tidak terjangkau. Jadi warga harus menggunakan jenset sebagai alat penyuplai listrik yang bertahan hanya 6 jam dan dinyalakan saat malam hari. 

“Itu sekolahnya, Ca,” kata Farid sambil menunjuk sebuah bangunan sederhana berdinding kayu.

Aku sungguh terkejut, ternyata SD yang ada di foto itu memang benar-benar ada. SD Slateng II menjadi salah satu SD terjauh yang dimiliki Jember. Dindingnya berkayu, bercat kuning di dinding luar kelas dan bercat biru di dinding dalam kelas. Bangunannya hanya terdiri dari 2 ruangan yang disebut ruang kelas 1 dan 2. Masing-masing kelas dipenuhi kursi dan meja untuk siswa belajar. Papan tulisnya masih menggunakan papan tulis hitam, Tidak ada gambar penunjang pelajaran selain gambar Pak Jokowi dan Pak Jusuf Kalla tersenyum di atas papan tulis.

Kamipun berangkat ke musholla untuk melaksanakan sholat Ashar. Musholla ini adalah satu-satunya bangunan yang layak dan sengaja dibuat permanen. Hanya musholla ini yang berkeramik, berdinding batu bata dan berjendela kaca. Hal ini bertujuan agar para pendaki yang beristirahat di kampung tersebut dapat beribadah dengan maksimal.

Sekitar jam 4 sore, kami mulai berbagi tugas. Yova menghubungi guru SD Slateng 2 untuk mengabarkan bahwa kami sudah sampai di lokasi. Namun di kampung ini tidak ada sinyal handphone sama sekali, maka Yova harus turun ke kampung bawah sampai mendapatkan sinyal.

Farid mengurusi instalasi listrik karena sama sekali tidak ada penerangan di sekolah ini, padahal kami akan mengadakan buka puasa bersama di dalam kelas serta kami akan bermalam di sini. Kabel disalurkan ke rumah warga sebelah sehingga kami pun juga menumpang jenset. Tak hanya itu, Farid juga turun ke kampung bawah untuk membeli bensin sebagai bahan bakar jenset.

Aku, Zilla, Arini, Holidi dan Udin bertugas untuk menyiapkan menu buka puasa bersama. Zilla  meracik tahu dadar dengan telur yang kami sebut darhu ata dadar tahu. Holidi menggoreng dadar tahu dengan menggunakan nesting yang telah kami bawa sebelumnya. Arini bertugas untuk menggoreng tempe. Udin membuat sambal di cobek besar yang kami pinjam dari warga. Aku bertugas mondar-mandir ke rumah warga untuk menumpang menggoreng lele. Memang, lele yang kami bawa sudah berbumbu dan tergoreng, namun kami ingin lele yang kami sajikan nanti terasa hangat agar lebih lezat apabila dimakan. Nasi titipan kami sudah disiapkan oleh warga.

Pukul 5 sore, adik-adik SD Slateng 2 yang terdiri dari 15 putri dan 3 putra mulai berdatangan. Mereka datang dengan mengenakan baju terbaik yang mereka punya. Wajah polos mereka adalah wajah Indonesia di masa depan. Kita sebagai orang terdidiklah yang akan mengukir ingatan anak Indonesia, demi mewujudkan Indonesia yang lebih baik di masa mendatang.

Pak Okta, selaku guru SD Slateng 2 telah datang. Beliau adalah satu-satunya guru yang mengajar di SD marginal ini. Berbeda seperti yang pernah aku bayangkan sebelumnya bahwa gurunya berwajah tua, melainkan masih muda dengan status mahasiswa semester 4. Jika hari Senin-Jumat, dia mengajar di SD Slateng 2, sedangkan Sabtu dan Minggu dia kuliah di universitas swasta yang dimiliki Bondowoso. Perawakannya gempal, hitam dan seperti remaja lainnya. Mengenakan celana jeans pensil dan jamper abu-abu, membuat kami tidak menyangka bahwa beliau adalah pengajar di sekolah marginal ini.

“Ca, kamu kan mahasiswi FKIP, kamu mau nggak ngajar di sini kayak Pak Okta?” celetuk Arini kepadaku.

“Enggak. Aku bukan orang hebat yang sanggup mengajar di tempat seperti ini,” jawabku yang sangat kagum kepada Pak Okta.

Kemudian aku membantu Zilla menyiapkan tempat penyajian makanan buka puasa. Kami sengaja tidak menggunakan piring, melainkan menggunakan kertas minyak yang digelar di atas tikar. Kertas minyak ditata berhadapan dan berjajar memanjang karena konsep makannya adalah kebersamaan. Ia pun menyiduk nasi dan menatanya secara memanjang. Lauk tempe, darhu dan lele goreng diletakkan di atas nasi.

Siswa-siswi sudah mulai merapat masuk ke dalam kelas. Akupun mengajak mereka untuk duduk berjajar rapi di hadapan makanan yang telah kami siapkan. Ibu-ibu yang mengantar siswa-siswinya datang ke sekolah juga kami ajak untuk buka puasa bersama. Aku dan teman-teman juga merapatkan barisan untuk ikut makan bersama. Warga yang datang menengok sekolah kami juga ikut buka puasa bersama kami.

Pak Okta memulai acara buka puasa bersama dengan memberikan sambutan dan ucapan terima kasih untuk semua orang yang terlibat dalam kegiatan ini. Ketika Pak Okta selesai mengakhiri sambutan, terdengar suara adzan magrib. Alhamdulillah…

Sebelum memulai menyantap menu buka puasa, aku mengajak adik-adik untuk membaca doa berbuka puasa terlebih dahulu.

“Adik-adik sudah hafal doa berbuka puasa?” seruku sambil bertanya.

“Sudaaaaaah,” jawab adik-adik serempak.

“Siapa yang mau memimpin doa buka puasa?” tanyaku lagi.

Siswa-siswi saling berpandangan, tidak ada yang berani untuk memimpin doa di hadapan teman-temannya.

Aku tawarkan lagi pertanyaan yang sama, “Siapa yang bersedia memimpin doa buka puasa?”

Adik kecil yang duduk di samping kananku mengajukan diri.

“Namanya siapa, dik?”

“Siti Romlah,” jawabnya dengan tenang.

“Adik Siti Romlah, silahkan dimulai untuk membaca doa buka puasa.”

Ia pun memulai membaca doa, “Allahumma…” yang langsung disahut oleh teman-temannya secara bersamaan, “lakasumtu wa bika amantu wa a’la rizqika afthortu birohmatika ya arhamar rohimim…”

“Selamat berbuka puasa adik-adik….” seruku kepada adik-adik. Kami juga saling mempersilahkan makan kepada warga yang hadir.

Dinginnya cuaca pegunungan tidak terasa karena tergantikan dengan hangatnya kebersamaan yang menyelimuti kami. Tidak ada rasa sungkan di antara kami semua. Siswa-siswi SD Slateng 2 makan dengan lahap. Sambal mantap buatan Udin bergiliran diminta oleh warga sebagai pelengkap menu buka puasa. Kami merasa memiliki keluarga baru di sini.

Aku bersyukur berada di sini walau hanya semalam. Adik-adik manis nan menggemaskan, senyum ramahnya tak akan kulupakan. Sambutan dari warga yang bersedia menyiapkan fasilitas untuk kami bermalam membuat kami merasa sangat terbantu. Teman-teman yang mengajakku ke Gunung Raung dalam keadaan berpuasa dan ide brilian untuk berbuka puasa bersama adik-adik SD Slateng 2 dan para warga kampung terakhir, sungguh meninggalkan kesan mendalam bagiku. Semoga aku dan teman-teman bisa datang ke sini lagi di lain waktu untuk berbagi kebahagiaan dengan seluruh warga di kampung terakhir Gunung Raung.

Aku berdoa, semoga Gunung Raung lekas sembuh dari flunya agar masyarakat tetap merasa aman dan terlindungi berada di atas dadanya. Malam ini, aku memanjatkan banyak doa agar malam ini kami dilindungi dan besok pulang dengan selamat. Aku berharap, semoga adik-adik dan warga kampung terakhir merindukan kami untuk hadir di tengah-tengah mereka. 

-tamat-

Komentar

share!