Berkah Ramadhan





Karya:  Maulidatul Hassanah

Angin berhembus begitu kencang, semilir angin merasuk ke sukma ku, menusuk tulang-tulang rusukku. Aku pun berusaha membuka mata yang amat sempurna yang diberikan Allah, dengan dingin yang aku rasakan, ku dengar di luar sayup-sayup terdengar suara-suara yang menyerukan kami untuk bangun, yaa betul itu adalah suara penjaga keamanan yang membangunkan kami untuk segera bersahur.“Sahur, sahur, sahur, sahur”, begitu suara yang aku dengar dengan irama yang tegas namun mendayu. 


Aku masih belum beranjak dari tempat tidurku, entah mengapa aku dalam keadaan melamun. “Tok tok tok”, aku terkejut mendengar suara itu, aku membayangkan itu adalah sosok mahluk halus yang mencoba mengangguku, maklum saja karena rumah kami ini dulunya adalah rumah kosong yang tida terpakai. “Humairah, bangun Nak, waktunya sahur.” Suara itu membuat aku sadar,  ternyata itu Umi yang mengetok pintu kamarku, dan ku buang jauh-jauh pikiran ku pertama kali tadi.
“Ternayata Umi,hehe Humairah kira  . . ..” ucapku dengan gugup dan terlebih dahulu di potong Umi.
“Udah,udah jangan mikirin yang macam-macam.”Sahut Umi dengan sabar.
“Hehe iya Mi, Humairah minta maaf ya”, ucapku lagi sambil mencium tangan Umi.
Seperti ramadhan tahun lalu, semua anggota keluarga kami berkumpul. Namun, di ramadhan kali ini sangat istimewa karena adikku sudah di biasakan untuk berpuasa, namanya adalah Azam, ia baru berusia 4 tahun.
”Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan keimanan dan mengharap pahala (keridhoan) Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang terdahulu.”  (HR. Bukhari)
 “Abi, puasa itu apa?”,ucap Azam dengan mata yang masih sayup-sayup melihat.
“Puasa adalah rukun iman yang ke-3 , dimana semua umat muslim wajib menjalankannya.” Sahut Abi dengan jelas
“Lalu kenapa nggak minum dan gak makan”, ucap Azam lag]i dengan penasaran
“Ya beitulah caranya, kita dianjurkan untuk menahan hawa nafsu kita”
“Ooo gitu ya Bi, kalau Azam gak kuat gimna ?
“Dicoba dulu puasanya Azam smpe jam 12 ya,
"Nawaitu sauma ghadin an'adai fardu syahri ramadhana hadzihisanati lillahita'ala" 
*  *  *
Bulan ramadhan telah berlalu satu minggu lamanya, semua orang menyambutnya dengan hati suka cita. Ramadhan kali ini sangat menyenangkan dan berkah bagi ku, karena di ramadhan ini aku masih diberikan kesibukan oleh Allah.
“Kring kring”, bunyi telpon rumah sedari tadi memecahkan keheningan rumah, aku pun dengan segera mengangkatnya.
“Halo,assalamu’alaikum.” Ucap ku terlebih dahulu.
“Wa’alaikumsalam ya ukhti.” Sahut suara misterius itu.
“Maaf, ini siapa ya? Sepertinya aku mengenal suara ini.” Ucapku dengan penasaran.
“Haha,”  begitulah jawaban dari suara itu yang membuatku semakin gugup.
“Halo” ucapku lagi.
“Ra ,kamu apa kabar? Aku udah pulang lho. ” Sahut suara itu.
“Ha? Kamu Nabilla kan?”, ucapku senang dan gemetar. Aku sangat merindukannya selama ini, ini adalah sesuatu yang tidak terduga bahwa dia ada di Kota ku sekarang.
“Iya Ra, aku Nabilla, kamu pasti kangen sama aku kan?”, sahutnya dengan tertawa
“Kamu percaya diri banget sih Bel.” Ucapku dengan sinis.
“Haha yaudah, nanti aku ke rumah kamu ya.”
“Oke, aku tunggu kehadiran mu ya.”
Ini adalah satu kejutan lagi yang aku dapat di bulan ramadhan kali ini, betapa senangnya bisa bertemu sahabat kecil di bulan yang mulia ini.
*  *  *
“Ting, tong” suara bel rumahku terdengar dengan jelas. Aku pun dengan cepat menghampirinya dan bergegas membukakan pintu. Ku temui seseorang tengah menghadap membalik, yang ku lihat hanya bagian tubuh belakangnya, orang itu memakai jilbab syar’i, dengan baju muslim yang sangat indah menutupi seluruh auratnya. “Em, permisi. Assalamu’alaikum, anda siapa ya?”, ucapku dengan heran. Seorang gadis itu pun membalikkan badannya dengan perlahan.
“Masya allah, Bela subhanallah.” Ucapku dengan terkejut.
“Haha subhanallah kamu makin cantik ya, beda banget.” Sahut Bela dengan kagum.
“Oalah kamu pura-pura muji aku”, ucapku dengan menggoda Bela.
“Haha, oke aku khilaf.” Sahut bela dengan tertawa.
“Ya kan gak ikhlas tadi muji aku?”, ucapku dengan sinis.
“Haha ih kamu sensi banget, haha bercanda doang kok.” Ucap Bela dengan tersenyum.
Hari ini adalah hari khusus untuk kami berdua, aku mengajaknya jalan mengelilingi kota kecil ini dengan menggunakan sepeda motor. Aku mengajaknya berkunjung ke monumen-monumen atau objek pariwisata baru di kota kami ini. Sepanjang jalan, aku selalu bercerita kepadanya  begitu sebaliknya.
Sesungguhnya kebajikan yg utama ialah apabila seorang anak melanjutkan hubungan (silaturrahim) dgn keluarga sahabat baik ayahnya. [HR. Muslim No.4629].
*  *  *
Tak terasa sahur kali ini adalah sahur ke 20, berarti sudah 20 hari lamanya seluruh umat muslim menunaikan ibadah puasa. Suatu keistimewaan dan kejutan di bulan ramadhan ini adalah puasa yang dilaksanakan serentak oleh seluruh umat muslim di Indonesia, tanpa perbedaan awal puasa seperti tahun sebelumnya.
“Abi, Umi, Kak Ara ternyata puasa itu enak ya. ”Ucap Azam ketika di meja makan.
“Nah adek udah terbiasa kan puasanya”, ucap Abi dengan tenang.
“Puasa itu bikin sehat lho Zam, buktinya kakak gak ada sakit lgi.” Timbalku begitu saja.
“Selain sehat, juga di sayang Allah lho Nak.” Sahut Umi dengan tersenyum.
“Kakak bentar lagi ulang tahun kan?”, ucap Azam.
“Kakak sih gak ngerayain ulang tahun dek. ” Sahutku dengan tertawa.
“Masa sih?”. Ucap Azam lagi dengan polosnya.
“Iya, uangnya sih mau kakak pake buat ke panti asuhan, kan itu lebih berarti dek.” Sahutku lagi.
“Azam ikut ya Kak? Azam juga mau berbagi, Azam ada uang kok,tunggu ya.”ucap Azam sambil berdiri dan meninggalkan meja makan. Tidak berapa lama, tiba-tiba ia datang dan membawa uang berwarna abu-abu dengan bergambarkan Pangeran Antasari.“Kak, nih dari Azam”, ucap Azam lagi dengan tersenyum. Dan semua orang yang melihatnya hanya bisa tersenyum melihat ketulusan hati seorang hamba Allah yang tidak berdosa itu.
“Oo iya, nanti kakak sampein ya kalau ini dari Azam. Alhamdulillah, Azam harus rajin berbagi kaya gini ke orang lain yang membutuhkan” nasehatku kepada Azam.
*  *  *
Besok adalah hari yang di nanti-nanti karena besok jadwal kami berkunjung ke panti, ku siapkan semuanya, tanpa terlupa amanah yang diberikan Azam kepadaku.  Tapi tiba-tiba saja setetes cairan berwarna merah mengalir keluar dari hidungku. Aku pun bergegas membersihkannya, ku baringkan tubuh ini diatas kumpulan busa yang empuk. Tak berapa lama, aku merasakan kedinginan yang amat membuatku seperti berada di kutub utara, rasa itu menusuk ke kaki ku dengan perlahan namun pasti kakiku keram dan tidak bisa digerakkan.
“Katakanlah kepada hamba-hambaku yang melampaui batas kepada dirinya; janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni segala macam dosa. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs.az-zumar :53)
“Astagfirullahal adzim, ini kenapa?”, begitulah pertanyaan yang ada di hati ku saat ini. Ku coba untuk menggerakkannya, tapi semuanya percuma saja. “Apa aku kasih tau Umi dan Abi?”, pikirku. Tapi aku gak mau membuat Umi dan Abi khawatir. Aku pun berpikir positif, aku yakin kalau ini tidak apa-apa dan insya allah akan baik-baik saja.
“Tok tok tok”, itu suara pintu kamarku. “Siapa lagi yang datang?.” Ucapku dalam hati, aku bingung, jangan-jangan itu Umi. “Dek,bukain pintunya, ini Abang”, teriak Abang Riky, ia adalah abang sepupuku. “Oo iya, masuk aja Bang, gak dikunci”, sahutku dengan jelas. Ia pun membuka pintu kamarku, dan mata nya tercengang kepadaku “kamu kenapa dek?”, ucapnya dengan berbisik. “Kaki Ara gak  bisa digerakin”, sahutku lagi dengan pelan.
Tak hanya kaki, namun sekarang kepala ku sangat sakit, aku tidak dapat membuka mata ini, hanya bisa mendengarkan suara-suara tanpa melihat. “Dek, kamu kenapa? Kepalanya sakit?”, ucap Abang Riky dengan penuh ke khawatiran. “Iya Bang, tolong ambilin aku obat”, sahut ku dengan terbata-bata. Ia pun mengambil obat yang tersedia di meja belajarku.
Tak berapa lama, sakit itu semakin parah, semua anggota tubuhku tidak dapat digerakk]an. Aku tidak dapat melihat apa yang di lakukan Abang ku ini di sini, yang kudengar hanyalah suara merdu seseorang yang sedang melantunkan ayat suci al-qur’an, ia membaca surah yassin dengan baik, memperhatikan tajwid, dan hukum bacaan. Hingga aku terlelap tertidur.
*  *  *
”Bismillahirrahmannirrahim, Laa ilahailla anta subhanaka allahum astagfiruka lidzanbii wa as’aluka rahmatuka. Allaahuma zidnii’ilma wa laa tuzigh qalbi ba’da idz hadaitani wa hab lii min ladunka rahmatan, innaka antal wahhaab.” Ayat ini mengawali kegiatan ku hari ini, berkunjung ke sebuah panti asuhan yang ada di kotaku bersama kerabat-kerabatku.
“Ahlan wa sahlan, silahkan masuk.” Ucap pendiri panti asuhan tersebut dengan ramah, kami memanggil beliau dengan sebutan Umi.
“Syukran katsiran Umi. ” Sahut kami beramai-ramai.
“Ada perlu apa ini Nak?”, ucap Umi lagidengan tersenyum.
“Kami disini mau berbagi dan bersilaturahmi Mi”, sahut salah satu temanku yang mewakili tujuan kami kali ini.
“Oo iya, silahkan saja. Berbagi juga bukan berarti dengan uang nak, tapi berbagi juga bisa dengan ilmu. Jujur, disini tenaga pengajarnya kurang, sedangkan muridnya banyak. Mendirikan panti asuhan adalah hal yang sulit, karena jika Anak tidak berhasil, hati Umi sangat sedih.” Jelas Umi dengan panjang lebar.
“Sedekah tidak mengurangkan harta. Allah tidak melebihkan seseorang hamba dengan kemaafan-Nya melainkan kemuliaan dan tidak merendahkan diri seseorang melainkan Allah mengangkatnya.” (Muslim, ad-Darimi dan Ahmad)

Setelah bercerita dengan Umi, kami pun berkeliling menengok panti asuhan. “Masya allah, ini kakiku kenapa? kenapa gak bisa digerakan?.”Ucapku dalam bathin, dan berusaha berjalan dengan tangan meraba dinding. “Allahumma rabbanasi adzhibil ba’sa wasy fihu. Wa antas Syaafi, laa syifaa-a illa syifaauka, syifaa-an laa yughadiru saqomaaAkhirnya aku dapat berjalan lagi dengan baik. Matahari sudah berada di atas kepala, aku dan teman-teman pun memutuskan untuk pulang. Namun, sebelum pulang aku mampir dulu di rumah salah satu temanku, maklum lah lama tida bertemu karena libur sekolah.
“Ra, buka bareng yuk nanti.” Ucap Nisa.
“Iya tuh Ra, nanti aku teraktir, kan aku ultah.” Ucap Caca dengan tersenyum.
“Nah bener tuh, pucuk dicinta ulan pun tiba.” Sahutku dengan tertawa.
“Haha kita sih demen sama yang gratisan.” Sahut Nisa dengan senang    .
“Kring kring,” itu suara handphone ku, dengan perlahan ku lihat layar yang ada di handphone ku. “dr. Zahra nelpon? Ada apa ya?”aku membathin. Dengan perlahan dan diam-diam aku keluar untuk mengangkat telpon ini.
”Assalamu’alaikum,” ucapku mengawali pembicaraan.
“Wa’alaikumsalam Ra, kamu bulan ini belum cuci darah  kan,?” sahut dr.Zahra yang terdengar tengah panik.
“Astagfirullahaladzim, iya Dok Ara lupa,” ucapku dengan gugup.
“Nanti malam setelah terawih kamu ke rumah sakit ya, kamu harus cuci darah.” Tegasnya.
*  *  *
“Allahu akbar, Allahu akbar”, suara adzan maghrib pun telah berkumandang menandakan kami untuk segera membatalkan puasa hari ini. Kemudian kembali lagi suara adzan terdengar menandakan waktu shalat isya dan dilanjutkan dengan teraweh. Ketika taraweh, aku merasakan sakit kepala yang teramat membuat mata ku melihat sesuatu seperti berputar, kaki ku melemah, dan akhirnya aku jatuh tanpa sadarkan diri. Kedua orang tua ku bergegas membawa ku kerumah sakit.
“Dokter, suster. Tolong anak Saya, dr.Zahra tolong,” ucap Umi dengan berteriak dan panik. Begitu pula dengan dr.Zahra, beliau berlari menghampiri kami, dan membawaku ke ruang IGD.
“Dok,tolong anak saya, tolong sembuhin dia,” ucap Abi dengan sangat panik.
“Iya Pak, sabar.” Sahut dr.Zahra bergegas memasuki ruang IGD.
Setelah beberapa lama, dr.Zahra pun keluar menghampiri Umi dan Abi.”Maaf Pak, Bu.” Ucap dr.Zahra mengawali pembicaraan bersama kedua orang tua ku. “Maaf kenapa dok?”ucap Abi dengan bingung. “Dok, Ara kenapa?”ucap umi dengan air mata yang mengiringinya. “Sekarang Ara berada di dalam masa kritisnya.” Sahut dr.Zahra menangis, beliau adalah dokter yang sangat menyayangi ku. “Astagfirullahal adzim,”ucap Umi yang tertunduk lemas, dan hanya bisa menangis.
Setelah 3 hari lamanya tidak berada di alam sadar, kini aku sudah berada di alam sadar. Ku buka perlahan-lahan mata ku ini, ku lihat sosok seorang perempuan dan seorang laki-laki yang sangat menyayangiku berada di hadapanku sekarang. Mereka smembacakanku ayat-ayat suci al-qur’an dan setia menungguku.
“Alhamdulillah kamu sudah sadar Nak,” ucap Umi dengan senang walaupun berlinangan air mata. “Umi,” ucapku sambil tersenyum. Entah apa yang terjadi, selama aku koma, ada satu titik cahaya yang menerangiku, cahaya itu menyelamatkanku, cahaya seribu bulan yang membuatku kuat, yang ku yakini sebagai cahaya ramadhan, cahaya lailatul qadar. “Ya Allah, aku tau ini pasti kuasa mu, terimakasih ya Allah,” ucapku membathin dan penuh syukur.
“Nak,jangan lupa bersyukur kepada Allah, ini semua mukjizat dari Allah yang diberikan kepadamu.” Jelas abi kepadaku.
“Ya Allah terimakasih atas segala rahmat yang Engkau berikan kepada hamba, hamba sangat senang masih diberikan waktu dan kesembuhan di bulan Ramadhan ini. Engkau telah banyak memberikan rahmat dan berkah kepada hamba di bulan ramadhan ini, dan banyak kejutan yang tak terduga di bulan ramadhan ini. Tapi sebentar lagi ramadhan akan berakhir, kami sangat merindukannya. Jadikanlah kami golongan hamba-Mu yang bersyuku. Jalani semuanya dengan tabah dan ikhlas, karena dibalik itu ada suatu rahmat. Di balik kesusahan yang ditempuh akan membuka kan hati, dan dibalik itu juga akan mengenal Allah, Yang Maha Kuasa atas segala-galanya.Raihlah keberk]ahan Ramadhan dengan senang hati. ”(Mutiara Hati Penulis).

Komentar

  1. subhanallah... isi cerpennya menginspirasi ;)

    BalasHapus
  2. Subhanallah sangat keren dan menginspirasi

    BalasHapus
  3. Subahanallah... ^_^ ceritanya menyentuh, banyak hikmah & pelajaran yg bisa di ambil. Kereenn.. B-)

    BalasHapus

Posting Komentar

Silakan berkomentar :)

share!